NovelToon NovelToon
ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Dokter / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:646
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.

Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.

Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PELATIHAN TEMPUR DASAR 1

Setelah tiga minggu menjalani pelatihan dasar yang fokus pada kedisiplinan, kebugaran fisik, dan tata tertib militer, akhirnya tiba giliran Kelompok 3 untuk mengikuti modul pelatihan tempur dasar – salah satu bagian yang paling dinantikan namun juga paling menantang dalam masa pelatihan calon prajurit. Pada hari pertama modul ini, seluruh kelompok berkumpul di lapangan latihan khusus yang dilengkapi dengan area tembak dan fasilitas simulasi medan tempur, dengan suasana yang jauh lebih serius dibanding pelatihan sebelumnya.

"Perhatian semua calon prajurit!" teriak Letnan TNI Arif, instruktur yang akan membimbing pelatihan tempur dasar selama dua minggu ke depan. Pria berbadan tegap ini memiliki pengalaman bertugas di berbagai daerah dan mata matanya yang tajam menunjukkan bahwa ia akan menjalankan pelatihan dengan standar yang sangat tinggi. "Mulai saat ini, kalian akan belajar tentang hal yang paling mendasar bagi seorang prajurit – bagaimana melindungi diri sendiri, teman sekampung, dan negara dengan menggunakan senjata api dan menerapkan taktik tempur yang benar. Ingatlah – senjata adalah alat yang mematikan, dan hanya boleh digunakan untuk tujuan yang benar sesuai dengan hukum dan peraturan militer!"

Setelah sambutan singkat namun penuh makna, pelatihan dimulai dengan pengenalan tentang berbagai jenis senjata api yang digunakan oleh Angkatan Darat Indonesia. Evan bersama teman-temannya diajak ke ruang pameran senjata yang terletak di belakang area latihan, di mana berbagai jenis senjata mulai dari senapan serbu hingga pistol ditempatkan dengan rapi di atas meja yang dilapisi kain hijau.

"Ini adalah senapan serbu SS1 yang menjadi senjata utama bagi prajurit Angkatan Darat Indonesia," jelas Letnan Arif sambil mengambil salah satu senjata dengan teknik yang benar. "Setiap senjata memiliki karakteristik sendiri, dan kalian harus mempelajari dengan baik setiap detailnya – mulai dari cara merakit, membersihkan, hingga menggunakan dengan benar. Ingat – seorang prajurit yang baik harus mengenal senjatanya seperti mengenal bagian tubuhnya sendiri!"

Evan dengan cermat mengamati setiap gerakan instruktur. Meskipun ia pernah melihat senjata di acara kesatriaan atau di televisi, ini adalah pertama kalinya ia melihat dan akan menangani senjata api secara langsung. Rasa kagum bercampur dengan rasa tanggung jawab yang besar terasa dalam hatinya – ia tahu bahwa kemampuan untuk menggunakan senjata dengan benar akan menjadi bagian penting dari tugasnya sebagai prajurit kelak.

Selama tiga hari pertama, pelatihan difokuskan pada pengetahuan dasar tentang senjata api. Setiap calon prajurit diajarkan tentang komponen-komponen senjata, cara merakit dan membongkarnya dengan benar, serta prosedur keamanan yang harus selalu diterapkan setiap kali menangani senjata.

"Keamanan adalah hal yang paling penting setiap saat!" tekankan Letnan Arif setiap kali memulai sesi pelatihan. "Sebelum menangani senjata, pastikan selalu bahwa pelor tidak ada di dalam laras. Selalu arahkan laras ke arah yang aman dan jangan pernah menunjukkannya pada orang lain meskipun kamu berpikir senjata tidak terisi pelor!"

Evan bersama Rio, Siti, dan Bima dibagi ke dalam kelompok kecil untuk berlatih merakit dan membongkar senjata SS1. Meskipun awalnya kesulitan memahami nama dan fungsi setiap komponen, dengan latihan yang terus-menerus, mereka mulai bisa melakukan proses tersebut dengan cepat dan benar.

"Saya tidak menyangka bahwa merakit senjata bisa begitu kompleks," ujar Siti saat sedang mencoba memasang laras senjata dengan hati-hati. "Setiap bagian harus dipasang dengan tepat, jika tidak bisa membahayakan pengguna sendiri."

Rio mengangguk setuju sambil membersihkan bagian dalam laras menggunakan alat pembersih yang disediakan. "Benar sekali. Ini mengajarkan kita tentang pentingnya ketelitian dan kesabaran – hal yang juga sangat penting dalam dunia kedokteran."

Evan sendiri menemukan bahwa teknik yang diajarkan Kakek Darmo dalam menangani senjata tajam tradisional ternyata memiliki prinsip yang sama dengan menangani senjata api – fokus yang tinggi, kehati-hatian dalam setiap gerakan, dan pemahaman yang mendalam tentang alat yang digunakan. Ia sering berbagi pengalamannya ini dengan teman-temannya, yang membantu mereka lebih cepat memahami dan menguasai materi yang diajarkan.

Setelah mahir dalam merakit dan membongkar senjata, selanjutnya adalah pelatihan tentang cara menangani dan menyimpan senjata dengan benar. Setiap calon prajurit diajarkan tentang prosedur penyimpanan yang aman, cara memeriksa kondisi senjata sebelum digunakan, serta tindakan yang harus diambil jika menemukan kerusakan atau masalah pada senjata.

Pada akhir modul pertama, setiap calon prajurit harus lulus ujian praktik tentang merakit dan membongkar senjata dalam waktu tertentu. Evan berhasil menyelesaikan ujian dengan waktu yang sangat baik, bahkan mampu membantu beberapa teman sekelompok yang mengalami kesulitan dalam beberapa bagian.

"Bagus sekali, Evan!" pujian Letnan Arif setelah melihat hasil ujiannya. "Kamu menunjukkan pemahaman yang baik tentang senjata dan teknik yang benar dalam menangannya. Ini menunjukkan bahwa kamu belajar dengan sungguh-sungguh dan memahami pentingnya setiap langkah yang kamu lakukan."

Setelah menguasai pengetahuan dasar tentang senjata api, tiba giliran untuk melanjutkan ke modul latihan menembak di area tembak yang telah disiapkan dengan aman. Pada hari pertama latihan menembak, seluruh kelompok berkumpul di depan area tembak yang memiliki sasaran dari jarak 25 hingga 100 meter.

Sebelum memulai latihan, Letnan Arif memberikan arahan yang sangat rinci tentang teknik menembak yang benar, posisi tubuh yang tepat, cara menyesuaikan pandangan, serta pentingnya mengendalikan napas saat menarik pelatuk.

"Posisi tubuh harus stabil seperti pohon yang kokoh di atas tanah," jelasnya sambil menunjukkan posisi berdiri yang benar. "Kaki harus selebar bahu, satu kaki sedikit di depan yang lain. Bahu harus rileks namun tetap tegak, dan pipi harus menempel erat pada bagian belakang senjata untuk mendapatkan pandangan yang stabil."

Ia kemudian menunjukkan cara menyesuaikan pandangan pada sasaran. "Ada tiga titik yang harus kamu padukan – ujung laras senjata, bagian tengah pandangan, dan sasaran yang akan ditembak. Saat kamu sudah menemukan titik temu yang tepat, ambil napas dalam-dalam, hembuskan sebagian, lalu tarik pelatuk dengan perlahan saat kamu sedang menahan napas."

Evan dengan cermat mengikuti setiap instruksi yang diberikan. Ia menemukan bahwa teknik pernapasan yang diajarkan dalam ilmu beladiri oleh Kakek Darmo ternyata sangat membantu dalam mengendalikan ketegangan dan mendapatkan stabilitas saat menembak. Ketika gilirannya tiba untuk menembak pertama kalinya, ia merasa hati berdebar kencang namun tetap bisa menjaga fokusnya.

Saat ia menarik pelatuk, suara ledakan yang keras terdengar dan senjata memberikan hentakan yang cukup kuat ke bahunya. Meskipun sedikit terkejut, ia tetap menjaga posisi tubuhnya dan terus menembak sesuai dengan teknik yang diajarkan. Setelah sekelompok pelor habis ditembakkan, ia mendekati sasaran untuk melihat hasil tembakannya – sebagian besar pelor mengenai area tengah sasaran, dengan beberapa yang sudah mendekati titik pusat.

"Bagus untuk pertama kalinya!" ujar instruktur pembantu yang melihat hasil tembakannya. "Kamu memiliki kontrol yang baik dan pandangan yang akurat. Dengan latihan lebih banyak, kamu bisa menjadi penembak yang sangat baik."

Rio, Siti, dan Bima juga menunjukkan kemampuan yang baik dalam latihan menembak. Siti meskipun awalnya sedikit kesulitan dengan hentakan senjata, dengan cepat bisa menyesuaikan diri dan menunjukkan ketepatan yang luar biasa. Bima dengan karakteristiknya yang humoris bahkan berhasil membuat suasana menjadi lebih rileks, meskipun tetap sangat fokus saat menembak.

Selama tiga hari berikutnya, latihan menembak dilakukan secara teratur dengan berbagai variasi – mulai dari posisi berdiri, jongkok, hingga terlentang. Setiap calon prajurit juga diajarkan tentang cara menembak pada sasaran yang bergerak dan bagaimana menyesuaikan teknik menembak sesuai dengan kondisi medan yang berbeda.

Pada hari terakhir modul latihan menembak, diadakan tes ketepatan menembak yang akan menjadi bagian dari penilaian akhir pelatihan tempur dasar. Evan berhasil mendapatkan nilai yang sangat baik, dengan sebagian besar pelor mengenai area pusat sasaran dari berbagai jarak.

"Saya merasa bahwa teknik pernapasan yang saya pelajari dari leluhur saya sangat membantu dalam hal ini," ujar Evan kepada Letnan Arif saat membahas hasil tesnya. "Dia mengajarkan saya bagaimana mengendalikan napas untuk mendapatkan fokus dan stabilitas yang maksimal."

Letnan Arif mengangguk dengan minat. "Itu adalah keahlian yang sangat berharga, Evan. Banyak prajurit yang kesulitan mengendalikan napas saat menembak, namun kamu sudah memiliki dasar yang baik dalam hal ini. Ini bisa menjadi keuntungan besar bagi kamu di masa depan.".

Setelah menyelesaikan modul tentang senjata api dan menembak, selanjutnya adalah modul tentang taktik tempur dasar yang akan diajarkan oleh Mayor TNI Prasetyo – seorang ahli taktik yang memiliki pengalaman bertugas di berbagai operasi lapangan.

"Senjata saja tidak cukup untuk memenangkan pertempuran," jelas Mayor Prasetyo saat membuka sesi pelatihan. "Kalian harus tahu bagaimana menggunakan senjatamu dengan efektif dalam kelompok, membaca medan tempur, dan mengambil keputusan yang tepat dalam waktu singkat. Dalam pertempuran, setiap detik dan setiap keputusan bisa menentukan hidup atau mati – baik bagi dirimu sendiri maupun bagi teman sekampungmu!"

Modul taktik tempur dasar mencakup berbagai materi mulai dari formasi tempur dasar, cara bergerak dalam medan yang berbeda, hingga strategi untuk menyerang dan bertahan diri dalam situasi yang berbeda. Seluruh pelatihan dilakukan di area simulasi medan tempur yang dirancang untuk meniru kondisi alam yang sebenarnya – dengan rimbunan pepohonan, parit buatan, dan berbagai rintangan lainnya.

Pada hari pertama modul taktik, seluruh kelompok diajarkan tentang formasi tempur dasar seperti formasi garis lurus, formasi kolom, dan formasi segitiga – masing-masing memiliki kegunaan dan kelebihan tersendiri sesuai dengan kondisi medan dan tujuan operasi.

"Formasi segitiga adalah salah satu formasi yang paling sering digunakan karena memberikan keuntungan dalam hal pengawasan dan mobilitas," jelas Mayor Prasetyo saat menunjukkan formasi tersebut. "Satu orang menjadi titik depan yang menjadi pemimpin, sementara dua orang lainnya berada di belakang dan di sisi untuk memberikan perlindungan dan dukungan tembak yang efektif."

Evan bersama Rio, Siti, dan Bima dibentuk menjadi satu tim kecil untuk berlatih menerapkan berbagai formasi tempur. Mereka dengan cepat bisa bekerja sama dengan baik, memanfaatkan keahlian masing-masing – Siti sebagai pemimpin yang mampu mengambil keputusan cepat, Rio sebagai penembak yang akurat, Bima sebagai ahli navigasi yang bisa membaca medan dengan baik, dan Evan sebagai anggota yang mampu memberikan dukungan di berbagai posisi.

Selanjutnya adalah pelatihan tentang cara bergerak dalam medan yang berbeda – mulai dari medan terbuka, hutan lebat, hingga daerah perkotaan simulasi. Setiap calon prajurit diajarkan tentang cara menggunakan perlindungan alam, bagaimana bergerak dengan diam-diam tanpa terdeteksi, serta cara berkomunikasi dengan teman sekampung menggunakan isyarat tangan yang telah ditentukan.

"Komunikasi adalah kunci dalam taktik tempur," tekankan Mayor Prasetyo. "Ketika suara tidak bisa digunakan karena khawatir akan terdeteksi oleh musuh, isyarat tangan menjadi alat komunikasi yang sangat penting. Kalian harus mengingat setiap isyarat dengan baik dan bisa menggunakannya dengan cepat dan tepat."

Evan menemukan bahwa pelatihan ini memiliki banyak kesamaan dengan teknik penyamaran dan pergerakan yang diajarkan Kakek Darmo dalam ilmu beladiri tradisionalnya. Ia sering berbagi teknik-teknik ini dengan teman-temannya, yang membantu mereka lebih cepat menguasai materi yang diajarkan.

"Teknik yang kamu tunjukkan sangat efektif, Evan!" ujar Bima setelah berhasil menyelinap melalui area simulasi tanpa terdeteksi oleh instruktur yang berperan sebagai musuh. "Bagaimana kamu bisa berpikir untuk menggunakan cara seperti itu?"

"Saya belajar dari Kakek saya tentang bagaimana bergerak dengan diam-diam dan menggunakan lingkungan sekitar sebagai perlindungan," jawab Evan dengan senyum. "Dia mengatakan bahwa dalam setiap situasi, kita harus bisa beradaptasi dengan lingkungan dan menggunakan segala sesuatu yang ada di sekitar kita untuk keuntungan kita."

Pada hari terakhir modul taktik tempur dasar, diadakan simulasi pertempuran kecil yang melibatkan seluruh kelompok. Setiap tim harus menyelesaikan misi tertentu – mulai dari menjaga posisi pertahanan, menyerang posisi musuh, hingga menyelamatkan korban yang terkurung di area tertentu.

Tim Evan yang terdiri dari dirinya sendiri, Rio, Siti, dan Bima diberikan misi untuk menyerang posisi musuh yang berada di atas bukit dan menyelamatkan korban yang berada di dalam area tersebut. Dengan kepemimpinan Siti yang baik, mereka berhasil merencanakan serangan dengan cermat – menggunakan medan sekitar untuk menyelinap mendekati posisi musuh, menggunakan formasi tempur yang tepat, dan bekerja sama dengan sangat baik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!