Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 : Keputusan Serah
Pagi itu seluruh pelayan baru yang mulai hari ini akan melayani Serah, calon Ratu kerajaan Mathilda di masa depan sudah berkumpul. Mereka berbaris rapi, dengan Beatrice mengawasi. Namun, ia menyadari kekosongan Helena.
"Di mana gadis itu?" Tanyanya dengan nada dingin namun tegas berwibawa.
Wanita itu menatap ke semua enam gadis yang hanya mampu berani menunduk. Namun, Cristine akhirnya angkat berbicara.
"Sejak awal dia memang sudah tidak datang," jawabnya memberi penjelasan.
"Keterlaluan!" Beatrice tentu saja marah. Suaranya langsung naik satu tingkat dengan hembusan napas kasar ketika ia berbicara.
"Kalian tunggu di sini sebentar." Entah apa yang mau dilakukannya, Beatrice langsung berjalan keluar. Kemungkinan dia berniat untuk mencari gadis itu.
Para gadis muda bangsawan yang berkumpul itu langsung bergosip. Mereka mulai berbisik-bisik mengenai tingkah-laku Helena yang dinilai sangat tidak sopan dan dianggap sebagai pembangkangan.
"Kamu lihat wajah Lady Beatrice tadi?" Ujar Anastasia yang memulai pembicaraan di antara mereka. "Menyeramkan sekali...," imbuhnya dengan perasaan dingin saat mengingat wajah Beatrice yang langsung mengeras saat mendengar Helena tidak ada.
Gadis lainnya mengangguk, sependapat dengan Anastasia. Kemarahan Beatrice terlalu jelas untuk ditutupi sekalipun ia bersikap datar tadi.
"Aku masih bingung, kenapa dia bisa dipilih oleh Raja Louis sebagai hadiah istimewa?" Di sini mulai muncul rasa iri yang timbul dari Rose. "Aku dengar dia berasal dari kalangan bangsawan atas, tapi sikapnya tidak mencerminkan hal itu." Rose, dia gak segan mengkritik Helena habis-habisan.
"Tapi yang jadi masalah bukan itu 'kan," sela Brigatte ikut angkat bicara. Ia melirik ke arah semua gadis di ruangan tersebut. "Kita semua bisa terkena dampaknya dan dicap buruk oleh orang luar kalau sampai masalah ini bocor! Lalu, bagaimana nanti tanggapan Putri Serah dengan kejadian ini??"
Ucapan Brigatte membuat gadis-gadis lain merasa cemas, termasuk Cristine. Padahal baru kemarin dia diberi kepercayaan langsung oleh Ratu, tapi sekarang Helena sudah menghilang dan terlambat. Ini bisa mencederai kepercayaan Ratu kepadanya. Wanita itu meremas kedua tangannya dengan perasaan gelisah, berharap Helena segera ditemukan, dan masalah keterlambatan ini akan dia bicarakan kepada Serah dan meminta langsung nantinya.
.
.
Ternyata Helena yang dikira terlambat atau sengaja menghilang itu sudah berada lebih dahulu di ruangan kamar Serah.
Gadis itu entah sejak kapan sudah ada di sana dan sedang berbicara kepada Serah seolah-olah gadis-gadis lain sedang bermalas-malasan dan terlalu sibuk mempercantik diri.
"Apa benar yang kau katakan itu, Lady Helena?"
Serah terlihat sedang duduk di atas kasur megahnya yang berselimut kain lembut nan hangat dari wol domba berwarna putih. Ia menatap seolah sedang mencari kebenaran dari Helena yang sedang berdiri di depannya dengan kepala menunduk.
"Itu benar, Yang mulia," jawab Helena dengan suara yang dibuat-buat seolah ia sedang ketakutan. "Saya tiba di sana namun tak ada satu pun yang datang. Mereka hanya sibuk mencari gaun dan perhiasan yang indah untuk diperlihatkan ke orang-orang," ujarnya mengadu, memberikan informasi yang salah.
Namun, Serah tentu saja sudah tau sejak awal mengenai Helena. Ia tak bisa ditipu dengan mudah begitu saja, apalagi dengan cerita murahan seperti yang dikatakan oleh Helena.
Serah menghela napasnya lalu berdiri dengan tegak. Awalnya ia ingin berbicara sesuatu kepada Helena namun rombongan para gadis-gadis itu sudah datang dan memasuki ruangan kamarnya dengan Beatrice yang berada paling depan.
"Selamat pagi, Yang mulia," ucap Beatrice sebagai komando lalu membungkuk yang diikuti dengan para gadis di belakangnya.
Mereka membungkuk sesaat kemudian kembali berdiri. Gadis-gadis itu mengikuti gerakan Beatrice terlebih dahulu.
Awalnya Beatrice ingin mengatakan sesuatu mengenai Helena yang menghilang, tapi kata-kata itu kembali tertelan saat dia melihat Helena ternyata sedang berdiri di sebelah Serah, menunduk, sedang menyembunyikan seringai kecilnya. Tatapan Beatrice berubah tajam. Ia baru berniat untuk memberi peringatan, akan tetapi sudah didahului oleh Brigatte yang langsung menegur Helena
"Rupanya kau ada di sini? Kenapa kau pergi seenaknya begitu tanpa memberi tahu?" Brigatte terlihat kesal. Caranya memandang Helena saja sudah berbeda.
"Habis, kalian lama sih, makanya aku pergi duluan," jawab Helena yang masih berani berbohong bahkan terkesan santai saja.
"Apa maksudmu bicara seperti itu?" Anastasia tampaknya juga tak bisa diam. Ia ikut berbicara setelah Brigatte. "Justru kau yang tidak ada di tempat sejak awal," ujarnya dengan pandangan tak mengerti kenapa Helena melakukan semua ini.
"Kau sengaja mau membuat kami terlihat buruk di depan Putri Serah?" Sambar Brigatte tak bisa lagi menahan diri dan langsung menuduh Helena.
"Kenapa kalian menuduhku? Aku tau sejak awal kalian tidak menyukaiku karena aku diistimewakan oleh Raja Louis, makanya kalian kompak menuduhku 'kan?" Helena mundur mendekati Serah seolah meminta perlindungan dengan wajah ketakutan.
"Kau...!" Brigatte terlihat yang paling emosional. Napasnya sampai naik-turun karena melihat ulah Helena. Gadis itu licik, seperti ular.
"Nona-nona, hentikan perdebatan kalian sekarang." Beatrice tentu tak tinggal diam melihat pertengkaran itu. Dengan cepat ia mengambil alih situasi.
Semua gadis langsung terdiam begitu mendengar suara tegas dari Beatrice. Ia melempar pandang ke semua orang, lalu melihat ke arah Serah.
"Maaf Yang mulia atas semua keributan ini," ujarnya sambil membungkuk dalam.
"Tak perlu khawatir, ini hanya kejadian kecil." Serah tersenyum dan meminta Beatrice berdiri. "Aku mengerti, tampaknya Lady Helena memang sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan ku." Ia menatap Helena yang sepertinya sedang merasa bingung dan melempar senyum tipis penuh makna.
Helena yang masih menunduk dan memainkan peran sebagai 'korban' perundungan mengernyitkan alis, berusaha memahami maksud Serah.
"Apa maksudnya dia bicara seperti itu? Ah, dia tidak percaya ucapanku atau mereka?"
"Masalah ini tak perlu dibahas lebih panjang," sambungnya, "aku berterimakasih kalian hadir dan mulai sekarang kalian semua adalah pelayan pribadiku tanpa kecuali." Serah mengedarkan pandangannya ke semua gadis. "Lalu Cristine, dia akan menjadi kepala kalian mulai dari hari ini. Perintahnya adalah perintahku, dan apapun yang dia katakan jangan dibantah."
Setelah mendengar itu Beatrice terlihat lega. Ia berdiri tegap dan menarik napas dalam dengan semburat senyum tipis.
Sementara para gadis berkumpul mengucapkan selamat pada Cristine yang akan menjadi kepala mereka. Tapi Helena masih merengut di belakang Serah. Ia menatap gadis-gadis itu dengan kesal, juga Serah.
"Yang mulia, tapi mereka hari pertama saja sudah terlambat!" Helena tak diam saja. Dia akhirnya bersuara membahas masalah tadi.
"Apa kau tidak dengar apa yang dikatakan Putri Serah??" Beatrice angkat bicara memarahi Helena.
"Aku dengar tapi aku tak mengerti," ucapnya dengan jujur.
Gadis-gadis lain tertawa kecil setelah mendengar jawaban Helena yang langsung membuat gadis paling muda itu menatap mereka dengan kesal bercampur bingung.
"Kau ini masih saja membalas ucapanku." Beatrice menghela napas, rasa lelah tampak di wajah wanita itu.
"Tapi, kata Raja Louis aku adalah hadiah yang paling istimewa. Seharusnya aku yang dipilih menjadi kepalanya, atau Yang mulia Serah mengabaikan itu semua?" Helena mulai memainkan perannya menyinggung soal 'keistimewaan' yang diberikan oleh sang Raja kepadanya.
Semua orang terdiam, termasuk Beatrice. Fakta itu memang benar, tapi bagaimana dengan Serah? Apa yang akan dia katakan?
Para gadis lain menanti dengan cemas termasuk Cristine. Apakah Serah akan mengubah keputusannya?
"Aku tau itu Lady Helena," ucap Serah dengan tenang. Helena tersenyum merasa dirinya akan menang dan Serah akan menjadikannya kepala pelayan khususnya. Tapi harapannya pupus saat Serah berkata, "kau memang yang istimewa dari Raja Louis tapi Cristine, adalah pilihanku karena dia lebih berpengalaman." Senyum Helena seketika sirna. Ia mengepalkan tangannya keras merasa dipermalukan. Sementara Cristine ia merasa lega dan bangga karena sang Ratu benar-benar membelanya.
"Aku harap kau melanjutkan latihan mu dengan Lady Beatrice setiap pagi," ujarnya kepada Helena yang amarahnya jadi bertambah dua kali lipat.
Serah menatap tegas ke arah Helena yang memasang wajah marah yang tampak nyata tanpa bisa ditutupi. "Baik, Yang mulia," jawab gadis itu datar sambil membungkuk asal dan mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.
"Lady Beatrice...." Serah kali ini menatap ke arah Beatrice.
Beatrice hanya mengangguk seakan memahami apa maksud dari Serah.
"Lady Helena, ikut aku sekarang," ujarnya menunjukkan sebuah dominasi yang tak bisa terbantahkan.
Helena berjalan dengan langkah kesal mengikuti Beatrice.
Serah menatap kepergian Helena dengan senyuman yang merekah.
"Kalian duduklah, aku akan memberi catatan khusus nanti kepada Cristine untuk dipelajari," ujarnya menatap kembali kepada enam gadis lain.
"Baik Yang mulia, Serah," ucap para gadis secara bersamaan dengan perasaan riang yang jelas terdengar dari nada suara mereka.
ato lewat hutan, tinggalkan sj dia😁
serah akan sukarela menyerahkan louis pdmu
jgn ampe louis jd sm serah, gk rela qu
jadi tumbal Louis buat muja kerang ajaib