Mikael Wijaya, putra milyuner dari Surabaya Wijaya Agra mengalami kecelakaan di Dubai setelah memergoki calon istrinya berselingkuh. Kecelakaan fatal itu membuatnya hilang ingatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18 Tragedi berbalut dejavu
Latifa tersenyum ketika orang orang yang dimintanya untuk mencari Kael berhasil menemukannya.
Mereka memang profesional, batinnya pu@s walaupun harus membayar dengan sangat mahal.
"Kami sudah mengosongkan sebagian tangki minyak rem mobil pemuda itu, nyonya."
"Bagus."
"Pengawal pengawalnya juga sudah kami amankan. Nyonya tinggal menunggu kabar baiknya saja."
Latifa tertawa bahagia.
Latifa seakan mendapatkan durian runtuh begitu tau apa yang terjadi dengan Kael nanti.
Anak tirinya itu rupanya masih hidup bahkan memiliki kedekatan dengan salah satu anak pewaris konglomerat.
Nasibnya selalu beruntung, batinnya kesal.
Tapi sekarang tidak lagi. Senyum sinis terkembang di bibir Latifa.
Setelah memutuskan telpon dengan orang suruhannya, Latifa segera menelpon putra bodohnya, Arsa.
"Ada apa, ma?"
Hatinya senang karena telponnya langsung diangkat putranya di dering pertama.
"Kamu sekarang sama siapa?" tanyanya ketus.
"Sendiri, mam."
"Tidak dengan model itu, kan?"
Terdengar helaan nafas Arsa.
"Tidak, mam."
Latifa mendengus.
"Mama sudah menemukan jodoh yang setara buat kamu."
Sunyi. Latifa tetap menunggu respon putranya
"Siapa, mam?"
Latifa tersenyum sumringah
"Adelia Riani Airlangga Wisesa."
"Mama kenal dengan keluarga Airlangga Wisesa?" Suara putranya terdengar ngga yakin.
"Mama ngga kenal. Tapi papa kamu kenal. Juga kakek nenek kamu. Kalo hubunganmu dengan Adelia berhasil, kakek nenekmu akan sangat senang." Latifa yakin, jika Arsa berhasil memikat Adelia, mertuanya pasti akan berubah pikiran dan mulai meyakini kalo putranya layak jadi pewaris grup Nugraha.
Kalo Kael berhasil dileny@pkan, Arsa juga bisa menjadi pewaris Pangestu. Karena dari keluarga mami kandung Kael, tidak ada pewaris yang lain. Kael anak satu satunya.
"Kenapa harus Adelia, mam? Aku rasa keluarga Airlangga masih punya anak perempuan yang lain."
Latifa tertawa renyah mendengar penolakan putranya.
"Karena kekasih Kael sekarang Adelia."
"Mama tau dari mana kalo kekasih Kael itu Adelia."
"Kan, sudah mami selidiki."
Sunyi.
"Mam, kenapa harus kekasih Kael?"
"Karena kemarin Kael mencuri kekasih kamu, kan."
Terdengar helaan nafas lelah Arsa.
"Itu, kan, keinginan mama."
"Juga keinginan kekasih tak setia kamu itu. Dia gampang tergiur dengan harta. Jadi lebih baik kamu tinggalkan model itu, nyari langsung yang kaya saja," omel Latifa agar putranya bisa lebih pintar.
Arsa tidak menjawab.
"Pokoknya kamu harus dekatin Adelia." Latifa memberikan ultimatumnya.
Setelah itu Latifa memutuskan sambungan telponnya. Dia merasa ngga ada gunanya lama lama berbicara dengan putranya.
Dia segera menelpon suaminya yang bisa membuka jalan jodoh putranya.
"Ada apa, sayang?" tanya suaminya yang juga cepat mengangkat telponnya di dering pertama.
"Aku sudah menemukan jodoh buat Arsa. Tapi kamu harus bantu," tukas Latifa tanpa basa basi
"Siapa?"
"Namanya Adelia Riani Airlangga Wisesa. Bisa kamu kenalkan putra kita pada orang tua gadis itu?"
Hening sesaat sebelum terdengar suara tawa suaminya.
"Anak siapa Adelia itu? Keluarga Airlangga Wisesa cukup banyak "
"Anaknya Fathan dari Merapi Steels dan Nidya Airlangga Wisesa."
"Oooh.... Aku kenal Alexander, adiknya Bang Fathan. Oke, nanti aku akan bicarakan dengan mereka."
Senyum Latifa terkembang lebar. Keinginannya dengan mudah tercapai. Tinggal menunggu saja dalam hitungan menit. Dia hampir saja melepaskan tawanya.
*
*
*
Kael tersenyum setelah memberi kabar pada Adelia. Gadis itu akan menunggunya di lobby perusahaannya, tempat mereka pernah bertemu dulu.
Tepukan Levi menyadarkannya.
"Mau pake mobilku saja? Aku antar. Gratis," tawar Levi yang masih khawatir dengan kondisi Kael.
Kael tersenyum.
"Ngga usah, dekat juga. Kamu langsung pulang aja. Kartika pasti nungguin kamu," tolak Kael.
"Ya, sudah, aku akan buntuti kamu aja."
"Terserah kamu." Kael membuka pintu mobilnya.
"Pengawal kita mana, ya. Ngga biasanya mereka pergi tanpa pamit." Levi melihat ke arah sekitarnya.
Kael juga ikut mencari lewat tatapan matanya.
"Mungkin sudah di dalam mobil. Tuh, mobilnya masih ada," tunjuk Kael.
Levi mengangguk. Dia memang melihat ada orang di dalam mobil pengawalnya. Kemudian dia memasuki mobilnya dan mulai menjalankan mobilnya mengikuti Kael yang sudah lebih dulu melaju di depannya.
Kael tersenyum sepanjang perjalanan. Dia sudah membeli bunga mawar lagi buat Adelia. Kali ini dia memilih mawar yang berwarna putih. Walaupun masih ada ganjalan di hatinya tentang foto foto yang ditunjukkan Levi.
Apakah dia memang sudah punya kekasih? Tapi mengapa dia sama sekali ngga bisa mengingatnya? Bahkan melihat foto foto itu saja perasaannya datar saja.
Kalo gadis itu muncul bagaimana nanti dia menghadapinya?
Kepalanya mulai berdenyut lagi. Sebelum tiba di perusahaan Adelia, dia harus melewati jalan menurun yang cukup tajam. Sebenarnya ngga ada masalah, tapi Kael kaget ketika kakinya menginjak rem untuk mengurangi kecepatan, laju mobilnya tidak berkurang.
Kael terus menginjaknya lebih dalam, tapi tetap saja tidak ada pengaruhnya, sementara denyutan di kepalanya mulai makin kerap terasa.
Kael kaget ketika mobil di depannya semakin dekat jaraknya. Dia mulai banting stir ke kiri. Sebuah ingatan muncul di kepalanya, seakan dejavu.
Di depannya malah Kael akan adu banteng dengan sebuah bis. Kael terus memutar stir ke kiri karena melihat ada space kosong yang. masih bisa dia lewati.
Tapi karena kecepatannya yang terus meningkat, Kael mulai sulit mempertahankan posisi amannya. Dia berhasil menghindari tabrakan dengan bis. Tapi pinggiran mobilnya harus bergesekan dengan pembatas jalan.
Kejadian berlangsung sangat cepat, mobil terlalu cepat melaju hingga senggolan dengan sebuah mobil di depannya tidak bisa dihindari. Mobil Kael berputar di tengah jalan. Mobil mobil lain berusaha menghindar tapi tabrakan beruntun tetap saja terjadi.
Pada saat kritis, di pelupuk mata Kael malah muncul bayangan samar seorang wanita cantik empat puluhan, tersenyum manis padanya.
"Kael....."
Kael memejamkan mata. Tubuhnya terasa remuk akibat mengalami banyak hentakan kuat. Dia sudah p@srah.
Maaf, aku terlambat, bisiknya sebelum benar benar sudah tidak sadarkan diri.
*
*
*
Baim dan Jetro mendengarkan dengan seksama penjelasan sekuriti apartemen.
"Nama kekasih nona Nafa, Mikael Wijaya, tuan muda. Nona Nafa juga sudah tidak menempati apartemen ini sejak kejadian enam bulan yang lalu."
"Mikael Wijaya?" Baim mengulang nama yang pernah dia dengar.
"Benar, tuan muda. Tuan muda Mikael Wijaya, anaknya konglomerat Wijaya Agra Nugraha. Enam bulan yang lalu, pernikahannya batal dengan nona Nafa. Mungkin setelah kejadian itu," jelas sekuritinya lagi.
"Kenapa kamu ngga pernah cerita kalo ada kejadian seperti ini?" Jetro mulai menginterogasi dengan nada kesal.
"Maaf, tuan muda. Ini permintaan mamanya tuan muda Mikael Wijaya." Sekuriti yang usianya tidak terpaut jauh dengan Jetro, menundukkan kepalanya.
Baim dan Jetro saling pandang. Mereka merasa ada keanehan besar yang ditutupi oleh keluarga Mikael.
"Ternyata namanya Kael." Baim tersenyum miring.
Jetro mengangguk.
Del, sudah ketahuan identitas calon suamimu. Dia masih single, batinnya sambil menyeringai.
*
*
*
Fathan yang sedang bekerja dengan laptopnya tiba tiba berseru kesal.
"Ada apa?" tanya istrinya Nidya yang sedang menemani Fathan di ruangannya.
"Saham kita baik baik saja," tukas istrinya heran, merasa ngga ada yang perlu membuat suaminya berekspresi sekesal itu.
"Aku sudah ingat orang menyebalkan itu."
"Maksudnya?" Nidya tambah heran mendengar ucapan suaminya.
"Orang menyebalkan yang mirip dengan Kael," decak suaminya, masih diliputi perasaan kesal.
"Siapa?" Nidya menyunggingkan senyumnya.
"Si Agra. Wijaya Agra Nugraha," dengus Fathan.
"Yang dari Surabaya itu?" Benak Nidya mulai dipenuhi dugaan tentang hubungan Kael dan Agra, si tukang selingkuh itu.
Jangan jangan? Dia kini dapat merasakan kekesalan suaminya.
"Kael mungkin anaknya Agra," pungkas Fathan yakin.
Nidya hanya bisa menatap wajah suaminya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
dijamin rencana nafa nggak bakal terlaksana,, apalagi kael di rawat di rs keluarga adelia
aku malahan nggak sabar menanti aksi mak tirinya kael,, biar cpt masuk penjara