Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.
Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.
Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan Tidak Terduga
Semburat jingga menyapu langit barat dengan warna merah tembaga saat sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan pilar-pilar kokoh garasi mansion. Di kursi kemudi, Kevin mematikan mesin, namun keheningan yang menyusul justru terasa lebih berat.
Dari kursi belakang, Jake terus menatap keluar jendela. Matanya yang dingin memindai barisan anak buahnya yang berjaga ketat di area pelataran. Ada kilat perhitungan di balik tatapan itu, seolah ia sedang menyusun ulang strategi di papan catur yang tidak terlihat.
“Pindahkan mereka ke luar gerbang,” suara Jake rendah, namun mengandung otoritas yang tidak terbantahkan.
Kevin tersentak. Tangannya yang baru saja hendak melepas sabuk pengaman tertahan di udara.
“Hah?” Ia menoleh cepat ke belakang, “Apa Tuan terlalu meremehkan gadis itu? Bagaimana kalau dia berhasil kabur?”
Jake tidak langsung menjawab. Ia masih menatap ke luar, ke arah bangunan mansion yang menjadi tempat di mana gadis itu disimpan.
“Dia tidak akan bisa melakukannya,” sahut Jake datar. Ia kemudian menoleh, menatap Kevin dengan intensitas yang mengintimidasi, “Selama aku ada, dia tidak akan pernah pergi dari tempat ini.”
Kalimat itu bukan sekadar pernyataan, tapi sebuah vonis. Tanpa menunggu balasan, Jake membuka pintu dan keluar dari mobil, meninggalkan Kevin dalam keheningan kabin yang membingungkan.
Kevin meremas setir mobil dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ada kecemasan yang merayap di dadanya, atau lebih tepatnya sebuah firasat buruk. Ia khawatir, entah bagaimana caranya, gadis itu bisa membawa efek buruk bagi tuannya.
“Apa yang kupikirkan?” gumam Kevin pada dirinya sendiri. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir keraguan yang tidak masuk akal itu, “Tuan sudah mengatakan bahwa keberadaan gadis itu tidak akan memengaruhi apa pun. Lalu apa yang harus kukhawatirkan?”
Ia melepas sabuk pengaman, keluar dari mobil, dan setengah berlari untuk menyusul langkah lebar Jake yang sudah hampir mencapai bangunan utama mansion.
“Tuan,” panggil Kevin setelah berhasil menyejajarkan langkah.
Jake hanya menoleh sekilas tanpa menghentikan laju kakinya, “Katakan.”
“Soal Tuan Ronald Asher, sudah kuselidiki,” lapor Kevin cepat, “Memang benar bahwa dia menculik gadis muda milik Tuan Alex. Tapi soal pembunuhan itu...”
Langkah Jake memelan. Ia menyipitkan mata, seolah potongan puzzle di kepalanya baru saja terpasang sempurna, “Alex sepertinya sengaja memanfaatkan gadis muda itu.”
Kevin mengernyit heran, “Maksud Tuan?”
Jake menghentikan langkahnya, lalu mendongak untuk menatap langit senja yang mulai menggelap, “Permainan ini... Alex memang sengaja membuat kita semua menjadi bidak caturnya.”
Kevin mengangguk pelan, mulai memahami arah pemikiran tuannya, “Lalu, apa Tuan masih berniat membantu Tuan Ronald?”
Jake kembali melangkah, kali ini dengan tempo yang lebih cepat dan penuh keyakinan.
“Kita lihat saja tawaran menarik apa yang bisa dia berikan,” ucap Jake, suaranya terdengar tajam seperti mata pisau, “Selama aku diuntungkan, aku bisa melakukan apa pun. Karena pada akhirnya, aku memiliki daya untuk mencuci tanganku sendiri.”
Barisan pria berseragam hitam yang semula siaga, serentak menundukkan kepala ketika Jake menginjak anak tangga. Dan seorang pengawal melangkah maju dengan wajah pucat pasi. Ia langsung membungkuk dalam, nyaris membentuk sudut siku-siku.
“Tuan, karena kelalaian saya, gadis itu hampir kabur. Tolong Tuan beri saya hukuman!” suaranya bergetar, memecah kesunyian senja yang mencekam.
Jake berhenti. Ia mengernyitkan dahi, memberikan tatapan yang sanggup menguliti keberanian siapa pun yang dipandangnya, “Apa yang terjadi?”
“Gadis itu menolak makanan yang saya bawa dan memanfaatkan kelengahan saya untuk keluar. Tapi semuanya gagal karena penjagaan di luar,” jelas pria itu tanpa berani menegakkan punggung sedikit pun.
Kevin yang berdiri hanya selangkah di belakang Jake, merasa instingnya terbukti. Ia mencondongkan tubuh, berbisik selirih mungkin di dekat telinga tuannya, “Benar kan, Tuan? Kita tidak boleh meremehkan gadis itu. Buktinya, meskipun ada pengawal di dalam, dia masih punya celah untuk kabur. Apalagi jika penjagaan dipindah ke luar gerbang.”
Jake melirik tajam ke arah Kevin. Tatapan itu begitu dingin hingga sang tangan kanan seketika terdiam, “Patuhi saja perintahku,” desis Jake, tajam dan final.
Tanpa memedulikan pengawal yang masih membungkuk, Jake melangkah melewatinya begitu saja. Namun, rasa takut yang luar biasa justru membuat si pengawal nekat bersuara lagi.
“Tuan, bagaimana hukuman saya?”
Jake terus melangkah menuju pintu utama, “Tembak kepalamu sendiri,” ucapnya tanpa menoleh. Ia langsung memutar kunci, mendorong pintu yang berat itu, dan masuk ke dalam kemegahan mansioannya.
Kata-kata itu jatuh seperti petir di siang bolong. Pengawal itu bahkan menunjukkan wajah lemas, “Tuan! Ampuni saya! Tuan!” jerit pengawal itu. Ia mencoba mengejar, namun kedua lengannya segera dicengkeram kuat oleh rekan-rekannya sendiri yang bertindak seperti mesin tanpa perasaan.
Kevin berhenti sejenak di samping pengawal itu. Ia menatap pria yang kini sedang meratapi nasibnya itu dengan tatapan datar, seolah sudah terbiasa melihat eksekusi seperti ini.
“Itulah kenapa kau tidak seharusnya meminta hukuman,” ucap Kevin dingin, “Bawa dia pergi.”
Dengan satu perintah itu, Kevin kemudian menyusul Jake ke dalam, meninggalkan suara rintihan yang perlahan hilang ditelan jarak.
Di dalam mansion, Jake melangkah masuk dengan langkah berat, matanya menyapu setiap sudut dengan tatapan tajam. Hidungnya mencium aroma samar masakan yang kini dingin, dan pandangannya langsung terpaku pada makanan yang berserakan di atas lantai dekat area meja makan. Sebuah amarah mulai bergolak di dadanya. Ia mengepalkan tangan, rahangnya mengeras, dan tanpa membuang waktu lagi, ia berbalik, segera melangkah cepat menuju tangga yang menjulang, berniat menuju ke lantai atas.
“Tunggu, Tuan!”
Panggilan dari Kevin berhasil menghentikan langkah Jake yang sudah mencapai anak tangga pertama. Pria itu pun berbalik cepat, tatapannya menyiratkan ketidaksabaran, “Ada apa?” tanyanya dengan suara tajam.
“Gadis itu...” Kevin menunjuk ke arah sofa di ruang tamu.
Alis Jake berkerut. Ia melangkah kembali ke area ruang tamu, dan pandangannya langsung jatuh pada sosok Shasha. Gadis itu terlihat meringkuk, dan tubuhnya melengkung seperti udang dengan mata terpejam rapat. Wajahnya terlihat pucat di bawah pantulan cahaya sore yang samar-samar menerobos jendela yang masih tertutup tirai.
“Hei, bangunlah!” bentak Jake, suaranya menggelegar ke seluruh mansion.
Namun, tidak ada pergerakan. Shasha tetap diam dan tidak terusik. Kevin pun mendekat, “Apa dia pingsan?”
Jake melirik lagi ke arah makanan yang tercecer di lantai. Dugaan terlintas di benaknya bahwa Shasha tidak memakan apa pun sejak pagi, sehingga membuatnya tidak sadarkan diri. Dengan gerakan ragu, ia membungkuk dan menyentuh pipi gadis itu, lalu menepuknya pelan.
Masih tidak ada respons.
“Demam?” gumam Jake, sebuah pertanyaan lebih kepada dirinya sendiri setelah menyentuh pipi gadis itu. Ia lalu meletakkan punggung tangannya ke dahi Shasha. Dan benar saja, suhu tubuh gadis itu terasa sangat panas, jauh di atas normal.
Seketika, ekspresi Jake berubah. Kekejaman yang terpancar sebelumnya kini tergantikan oleh sesuatu yang lain. Dan tanpa membuang waktu, pria itu dengan cepat menyelipkan satu tangan di bawah leher Shasha, dan satu lagi di bawah lututnya. Dengan gerakan mulus, ia mengangkat gadis itu ke dalam gendongannya.
“Panggil dokter pribadiku. Cepat!” perintahnya, suaranya kini mendesak. Ia juga tidak menunggu jawaban dan langsung membawa gadis itu menaiki tangga dengan langkah terburu-buru.
Kevin terpaku di tempatnya, menatap punggung tegap Jake yang menghilang di belokan tangga. Kepedulian sang tuan barusan seperti sebuah pukulan tidak terduga. Jake yang kejam, yang baru saja memerintahkan pengawalnya untuk menembak kepalanya sendiri, kini menggendong seorang gadis tidak berdaya dengan hati-hati. Kontras itu begitu mencolok dan begitu membingungkan.
Kevin menggelengkan kepala cepat, berusaha mengusir segala spekulasi yang mulai berkecamuk di benaknya. Ia merogoh ponsel di saku jasnya, mencari kontak dokter pribadi Jake. Ada banyak hal yang tidak ia pahami tentang tuannya, dan mungkin, memang tidak seharusnya ia berusaha memahaminya.