"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal dari Bahaya
Sementara itu, Rendra pergi ke pangkalan ojek yang terletak di dekat balai desa. Ia berharap para tukang ojek memiliki informasi yang lebih akurat tentang orang asing itu, karena mereka sering mengantar penumpang ke berbagai tempat di desa.
"Permisi, Pak," kata Rendra kepada seorang tukang ojek yang sedang menunggu penumpang. "Saya mau tanya, apa Bapak pernah mengantar orang asing yang mengenakan pakaian serba hitam dan wajahnya tertutup topi?"
Tukang ojek itu mengangguk. "Oh, orang itu? Saya pernah mengantarnya kemarin sore. Dia minta diantar ke penginapan Melati yang terletak di dekat sungai."
"Penginapan Melati?" tanya Rendra dengan terkejut. "Apa Bapak tahu siapa namanya?"
"Saya tidak tahu namanya," jawab tukang ojek itu. "Tapi dia bilang dia datang dari kota dan sedang mencari informasi tentang Pulau Tengkorak."
Rendra merasa jantungnya berdebar kencang. Jadi, orang asing itu datang ke desa ini untuk mencari informasi tentang Pulau Tengkorak? Apa hubungannya dengan keluarga Handoko dan kutukan yang menimpa mereka?
Di sisi lain, Ayu dan Dina mencoba mencari informasi di kalangan anak muda desa. Mereka pergi ke warung internet (warnet) yang terletak di dekat sekolah, tempat anak-anak muda sering berkumpul dan bermain game online.
"Permisi, Kak," kata Ayu kepada seorang remaja yang sedang asyik bermain game. "Kami mau tanya, apa Kakak pernah melihat orang asing yang mencurigakan di desa ini?"
Remaja itu mengangkat wajahnya dan menatap Ayu dengan tatapan malas. "Orang asing? Ah, banyak orang asing datang ke desa ini. Mereka biasanya turis yang ingin melihat Pulau Tengkorak."
"Tapi orang asing yang kami maksud ini berbeda," kata Dina dengan nada mendesak. "Dia mengenakan pakaian serba hitam dan wajahnya tertutup topi. Dia terlihat seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu."
Remaja itu berpikir sejenak. "Oh, orang itu? Saya pernah melihatnya kemarin malam. Dia sedang mengobrol dengan seseorang di dekat jembatan."
"Dengan siapa?" tanya Ayu dengan nada penasaran.
"Saya tidak tahu," jawab remaja itu. "Tapi orang itu terlihat seperti salah satu warga desa."
Ayu dan Dina saling bertukar pandang. Jadi, orang asing itu berhubungan dengan seseorang di desa ini? Siapa orang itu? Dan apa yang mereka rencanakan?
Setelah mengumpulkan berbagai informasi dari berbagai sumber, Puri, Rendra, Ayu, dan Dina berkumpul kembali di pasanggrahan. Mereka menceritakan semua yang telah mereka dengar dan lihat, mencoba menyatukan kepingan-kepingan informasi yang terpecah.
"Jadi, orang asing itu menginap di penginapan Melati dan datang ke desa ini untuk mencari informasi tentang Pulau Tengkorak," kata Rendra dengan nada serius. "Dan dia juga bertemu dengan seseorang di desa ini."
"Itu berarti, ada seseorang di desa ini yang terlibat dengan semua ini," timpal Ayu dengan nada khawatir. "Seseorang yang tidak ingin kita mencari tahu tentang juru kunci makam keluarga Handoko."
"Kita harus berhati-hati," kata Puri dengan nada tegas. "Kita tidak tahu siapa yang bisa kita percayai di desa ini. Mungkin ada di antara kita yang sedang diawasi."
Tiba-tiba, Dina teringat sesuatu. "Tunggu sebentar," katanya dengan nada tiba-tiba. "Aku ingat, kemarin sore aku melihat Pak Kepala Desa pergi ke penginapan Melati."
Puri, Rendra, dan Ayu menatap Dina dengan tatapan terkejut. Pak Kepala Desa? Apa hubungannya dengan orang asing itu?
"Apa kamu yakin, Dina?" tanya Puri dengan nada tidak percaya.
"Aku yakin," jawab Dina dengan nada mantap. "Aku melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dia masuk ke penginapan Melati dan tidak keluar lagi."
Puri, Rendra, dan Ayu terdiam sejenak, mencoba mencerna informasi itu. Jika Pak Kepala Desa terlibat dengan orang asing itu, itu berarti mereka sedang menghadapi bahaya yang lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan.
"Kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi," kata Puri dengan nada tegas. "Kita harus pergi ke penginapan Melati dan mencari bukti."
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Rendra dengan nada khawatir. "Jika Pak Kepala Desa terlibat, dia pasti akan mencoba menghalangi kita."
"Kita harus menyelinap masuk ke penginapan Melati secara diam-diam," jawab Puri dengan nada penuh tekad. "Kita harus mencari tahu apa yang sedang disembunyikan di sana."
Dengan rencana yang sudah tersusun, Puri, Rendra, Ayu, dan Dina bersiap untuk menghadapi tantangan baru. Mereka tahu, mereka sedang memasuki wilayah yang berbahaya, dan mereka harus berhati-hati agar tidak ketahuan. Tapi mereka tidak akan menyerah. Mereka akan terus berjuang, sampai kebenaran terungkap dan kutukan Pulau Tengkorak berakhir.
Malam itu, di bawah lindungan kegelapan, Puri, Rendra, Ayu, dan Dina menyelinap keluar dari pasanggrahan dan menuju ke Penginapan Melati. Meskipun dari luar tampak tenang, mereka bisa melihat beberapa kamar yang lampunya masih menyala, menandakan ada tamu yang menginap. Mereka tahu, mereka harus sangat berhati-hati.
Puri memberi isyarat kepada teman-temannya untuk tetap waspada. Mereka menyusuri jalan setapak di samping penginapan, mencari titik lemah. Mereka menemukan sebuah jendela di bagian belakang yang tidak tertutup rapat, mungkin lupa dikunci oleh petugas penginapan.
"Sepertinya kita bisa masuk lewat sini," bisik Rendra, menunjuk ke jendela.
Dengan perlahan dan hati-hati, Rendra mencoba membuka jendela itu. Untungnya, jendela itu tidak terkunci dan bisa dibuka dengan mudah. Mereka berempat menyelinap masuk ke dalam.
Mereka berada di sebuah lorong sempit yang menghubungkan dapur dengan ruang depan penginapan. Lorong itu remang-remang, hanya diterangi oleh lampu redup di ujung lorong. Mereka bisa mendengar suara televisi dari salah satu kamar di dekatnya.
"Kita harus cari tahu kamar berapa orang asing itu menginap," bisik Puri. "Jangan sampai kita salah masuk kamar orang."
Mereka berjalan mengendap-endap di sepanjang lorong, memperhatikan nomor kamar di setiap pintu. Mereka melihat beberapa kamar yang pintunya tertutup rapat, dan lampu di dalamnya mati. Namun, ada juga beberapa kamar yang pintunya terbuka sedikit, dan mereka bisa mendengar suara orang berbicara atau tertawa di dalamnya.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah kamar di ujung lorong yang lampunya mati, tetapi mereka bisa mendengar suara dengkuran halus dari dalam. Nomor kamar itu adalah 07.
"Mungkin ini kamarnya," bisik Ayu. "Tapi kita tidak bisa yakin."
Puri mendekati pintu kamar itu dan mencoba mengintip melalui lubang kunci. Namun, lubang kunci itu tertutup.
"Kita harus masuk ke dalam," kata Puri dengan nada pelan namun tegas. "Tidak ada cara lain untuk memastikan."
Rendra mengeluarkan sebuah penjepit rambut dari sakunya. "Biar aku coba membuka pintunya," bisiknya.
Dengan cekatan, Rendra memasukkan penjepit rambut itu ke dalam lubang kunci dan mulai mengutak-atiknya. Setelah beberapa saat, terdengar bunyi "klik" pelan.
"Berhasil!" bisik Rendra dengan nada lega.
Puri membuka pintu kamar itu dengan hati-hati. Kamar itu gelap gulita, dan mereka bisa mencium aroma rokok yang kuat. Mereka masuk ke dalam dan menutup pintu kembali dengan pelan.
Setelah mata mereka terbiasa dengan kegelapan, mereka bisa melihat siluet perabotan kamar: sebuah tempat tidur, sebuah meja kecil, dan sebuah lemari pakaian. Mereka juga bisa melihat seorang pria yang sedang tidur nyenyak di atas tempat tidur.
"Itu dia!" bisik Dina, menunjuk ke arah pria yang sedang tidur itu. "Itu orang yang sama yang aku lihat di pasar."
Puri mendekati pria itu dengan hati-hati. Ia melihat wajahnya yang tertutup sebagian oleh topi. Ia juga melihat sebuah tas ransel yang tergeletak di lantai dekat tempat tidur.
"Kita harus mencari tahu apa yang ada di dalam tasnya," bisik Puri. "Mungkin ada bukti yang bisa kita gunakan."
Dengan perlahan, Puri meraih tas ransel itu dan membukanya. Ia mengeluarkan isinya satu per satu: pakaian, perlengkapan mandi, dan sebuah buku catatan kecil.
Puri membuka buku catatan itu dan mulai membaca. Tulisan di dalam buku catatan itu menggunakan bahasa yang tidak ia mengerti. Tapi, ia mengenali beberapa kata yang berhubungan dengan Pulau Tengkorak dan keluarga Handoko.
"Ini dia!" bisik Puri dengan nada terkejut. "Ini yang kita cari."
Tiba-tiba, pria yang sedang tidur itu bergerak dan membuka matanya. Ia melihat Puri sedang memegang buku catatannya.
"Siapa kalian?" tanya pria itu dengan suara serak. "Apa yang kalian lakukan di kamarku?"
Puri, Rendra, Ayu, dan Dina terkejut dan panik. Mereka tahu, mereka telah ketahuan. Mereka harus bertindak cepat sebelum pria itu memanggil bantuan.
"Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di kamarku?" suara serak orang asing itu memecah kesunyian kamar.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*