"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20
Hujan di pesisir tidak lagi sekadar rintik, melainkan badai yang mengamuk, seolah mencerminkan kekacauan di dalam dada Kirana. Di dalam mobil yang melaju menembus kegelapan menuju kantor proyek, keheningan terasa begitu menyesakkan. Arka fokus menyetir dengan rahang yang mengeras, sementara Kirana meringkuk di kursi penumpang, masih terbungkus jas hitam Arka yang lembap namun hangat.
Sesampainya di kantor kontainer yang terisolasi, Arka membantu Kirana turun. Begitu pintu tertutup dan suara badai teredam, hanya ada mereka berdua di bawah temaram lampu darurat.
"Duduklah," perintah Arka pelan. Suaranya serak, sisa dari perkelahian tadi.
Kirana duduk di sofa kecil di sudut ruangan, tubuhnya masih gemetar, bukan karena dingin, tapi karena sisa ketakutan akan pengkhianatan Reno dan kehadiran Arka yang begitu dominan. Arka mengambil kotak P3K, lalu berlutut di depan Kirana.
Ia mulai membersihkan luka gores di lengan Kirana dengan kapas alkohol. Kirana meringis kecil.
"Sakit?" tanya Arka tanpa mendongak.
"Tidak sesakit dikhianati lagi, Arka," jawab Kirana dengan nada pahit.
Arka berhenti mengusap luka itu. Ia mendongak, menatap langsung ke mata Kirana. Jarak mereka begitu dekat hingga Kirana bisa mencium aroma hujan, tembakau, dan maskulinitas yang kuat dari tubuh Arka.
"Reno adalah pengecut. Tapi aku lebih pengecut karena pernah membiarkanmu merasa sendirian seperti ini," bisik Arka. Tangannya beralih dari luka di lengan Kirana menuju pipi wanita itu. Ibu jarinya mengusap sisa air mata di sudut mata Kirana dengan sangat lembut, sebuah kontras yang tajam dengan kepalan tangannya yang baru saja menghancurkan wajah Reno.
Kirana merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Sentuhan Arka membakar kulitnya, menyulut kerinduan yang selama ini ia kunci rapat di balik jeruji kebencian. Ia ingin mendorong Arka menjauh, namun jemarinya justru mencengkeram kemeja Arka yang basah, menarik pria itu lebih dekat.
"Kenapa kau tidak membiarkanku membencimu, Arka?" bisik Kirana, napasnya mulai memburu. "Kenapa kau selalu muncul dan merusak pertahananku?"
"Karena kau tidak benar-benar membenciku, Kirana. Kau membenci fakta bahwa kau masih sangat menginginkanku," balas Arka parau.
Arka berdiri, namun ia tidak menjauh. Ia justru mengurung Kirana di sofa, menumpukan kedua tangannya di sandaran sofa di kiri dan kanan kepala Kirana. Atmosfer di ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat panas dan bermuatan seksual yang kental.
Arka menunduk, bibirnya hanya berjarak beberapa milimeter dari telinga Kirana. "Aku melihat bagaimana kau menatap Reno tadi. Kau mencoba membohongi dirimu sendiri. Tapi malam ini, di bawah hujan ini... tidak ada orang lain. Hanya ada aku, pria yang paling kau benci, dan kau, wanita yang tidak bisa hidup tanpaku."
Kirana mendongak, menantang tatapan Arka dengan mata yang berkaca-kaca. "Kau sombong, Arka Mahendra."
"Aku tidak sombong. Aku hanya jujur," bisik Arka.
Tiba-tiba, Arka mencium Kirana. Bukan ciuman lembut yang penuh permintaan maaf, melainkan ciuman yang menuntut, kasar, dan penuh rasa lapar yang sudah lama terpendam. Kirana sempat meronta sesaat, memukul bahu Arka, namun rasa marah itu segera meleleh menjadi gairah yang meledak-ledak. Kirana membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, tangannya menjambak rambut Arka, menariknya lebih dalam.
Arka mengangkat tubuh Kirana, membawanya ke atas meja kerja yang penuh dengan cetak biru proyek. Kertas-kertas berserakan di lantai, namun tak ada yang peduli. Arka mencium leher Kirana, meninggalkan jejak panas yang membuat Kirana mendesah pelan, sebuah suara yang sangat jarang keluar dari bibir sang CEO yang dingin.
"Katakan kau membenciku..." desis Arka di ceruk leher Kirana, tangannya mulai merayap di lekuk tubuh Kirana yang terbalut gaun basah.
"Aku... membencimu..." rintih Kirana, kepalanya mendongak ke belakang saat bibir Arka menemukan titik sensitifnya.
"Lagi..." Arka menatap mata Kirana dengan gairah yang menyala-nyala. "Katakan lagi sambil kau memohon padaku."
Kirana merasa harga dirinya hancur berantakan, namun tubuhnya berkhianat. Di bawah pengaruh adrenalin dan rindu yang menyakitkan, ia menarik wajah Arka kembali ke arahnya. "Diamlah... dan lakukan saja," bisik Kirana kasar sebelum kembali melumat bibir Arka.
Di tengah gemuruh badai di luar, di atas meja yang menjadi simbol persaingan bisnis mereka, mereka bercumbu dengan penuh amarah dan cinta yang cacat. Setiap sentuhan terasa seperti luka yang disembuhkan sekaligus luka baru yang digoreskan. Ini adalah puncak dari rasa gregetan yang selama ini menyiksa mereka berdua, sebuah penyatuan dua jiwa yang saling menghancurkan namun tidak bisa bernapas tanpa satu sama lain.
Beberapa saat kemudian, ketika napas mereka mulai teratur, Kirana segera mendorong Arka menjauh. Ia merapikan gaunnya yang berantakan dengan tangan yang gemetar. Cahaya lilin yang hampir habis memberikan bayangan yang panjang di dinding.
Arka mencoba menyentuh bahu Kirana, namun Kirana menghindar.
"Jangan," ujar Kirana dingin. Matanya kini kembali tajam, meski bibirnya masih bengkak karena ciuman Arka. "Apa yang terjadi di sini... ini bukan berarti aku memaafkanmu. Ini hanya... kelemahan sesaat."
Arka berdiri, merapikan kemejanya yang kusut. Ia menatap Kirana dengan senyum pahit. "Kau bisa menyebutnya apa pun, Kirana. Tapi kau tidak bisa menghapus fakta bahwa kau baru saja menyerahkan dirimu padaku di atas meja proyek yang sangat kau banggakan ini."
Kirana berdiri, mencoba mengembalikan martabatnya sebagai seorang CEO. "Besok pagi, kita kembali menjadi rival. Aku akan mengurus masalah Reno secara hukum. Dan kau... tetaplah di posisimu. Jangan pernah menganggap kejadian malam ini sebagai tiket untuk masuk kembali ke hidupku."
Kirana berjalan menuju pintu keluar ke kamar mandi untuk membersihkan diri, meninggalkan Arka sendirian di tengah ruangan yang kini berantakan.
Arka mengambil selembar kertas cetak biru yang terjatuh di lantai, kertas yang tadi menjadi saksi bisu keintiman mereka. Di sana ada noda air hujan dan jejak lipstik Kirana. Arka meremas kertas itu dan melemparkannya ke tempat sampah.
"Kau boleh mencoba lari lagi, Kirana. Tapi malam ini aku sudah membuktikan satu hal," gumam Arka pada kegelapan. "Kau tetaplah ikan di dalam pukatku. Dan kali ini, aku tidak akan pernah melepaskan jaringnya."
Pagi hari yang dingin menyambut mereka dengan kenyataan yang lebih keras. Saat matahari terbit, rahasia Reno terbongkar ke publik, namun di antara Arka dan Kirana, ada sebuah rahasia baru yang jauh lebih berbahaya, sebuah api gairah yang kini telah menyala kembali dan siap membakar habis sisa-sisa profesionalisme mereka.
...----------------...
**Next Episode**....