Astra tak pernah mau meneruskan pekerjaan Ibunya. Di bandingkan menjadi dukun, dia ingin hidup normal sebagai gadis pada umumnya.
Demi bisa terlepas dari hal-hal gaib di desa, Astra nekat melanjutkan study nya di kota. Dengan beasiswa yang susah payah dia raih, dia memasuki sekolah terkenal di kota "High School" dari namanya saja sudah keren bukan?
Astra bermimpi untuk belajar seperti siswa pada umumnya, memiliki teman dan bekerja setelah lulus. Namun kenyataan menampar nya, High School tidak sebaik yang di pikir kan.
Kemanapun dia pergi, kabut gelap selalu terlihat di tubuh setiap orang...
Permainan gaib, nyawa dan kekuasaan menjadi mainan bagi mereka. Sisi baiknya, tidak ada satupun orang yang mengetahui hal gaib lebih baik darinya di sekolah ini...
#25Desember2025
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Unresolved End
"Bisakah kau menariknya keluar dari tubuh Greta?"
Makhluk itu mengangguk, lalu melakukan suatu gerakan hingga sesuatu terjadi. Ruang di sekitar bukan lagi rumah besar ataupun kamar Greta, ini ada sebuah ruang kosong.
"Aku menarik nya ke dalam ruang dimensi, namun Ratu Parewangan akan bisa lepas setelah beberapa waktu. Kau harus bergerak cepat, Nak!"
Astra mengangguk dan melihat ke arah sosok itu.
Dirinya dalam wujud jiwanya, adalah siluet yang samar di ruang dimensi astral ini, berhadapan langsung dengan sosok Ratu Parewangan. Entitas itu kini berdiri tegak, mengenakan mahkota dari tulang dan selendang dari kabut malam, kehadirannya memancarkan dingin yang lebih tua dari waktu. Ia tidak terlihat marah karena di tarik paksa namun terlihat menyeringai dengan penampilan menakutkan.
Di bawah, Khodam Samuel, sang Raksasa Bayangan, mengeluarkan geraman rendah. Zirah kristalnya mulai menunjukkan retakan halus, dan Khodam itu terhuyung, menahan tekanan entitas yang setara. Waktu Samuel hampir habis.
Astra tahu. Ia tidak punya waktu untuk drama. Ia memejamkan mata jiwanya. Bukan untuk mencari kekuatan, tapi untuk menarik kembali apa yang bukan miliknya. Ia tidak berniat menghancurkan, hanya mengusir. Seperti menutup pintu yang terbuka paksa.
Astra memfokuskan seluruh kehendaknya, menciptakan resonansi yang sangat spesifik, sebuah frekuensi yang hanya dikenal oleh entitas yang merasuki Greta. Itu adalah frekuensi penolakan.Tidak ada kilatan, tidak ada suara ledakan. Hanya tekanan dingin yang tak terlihat.
"Aaa--ghgg... A-apa? Kenapa! Siapa sebenarnya kau menusia? Ken
Sosok Ratu Parewangan itu bergetar hebat. Raungannya berubah menjadi desisan tajam, seperti bisikan kuno yang terputus. Makhluk itu merasakan kehendak murni Astra yang dingin dan mutlak, sebuah kekuatan yang tidak berusaha melawannya, melainkan mengusirnya dari dimensi ini.
Raksasa bayangan tidak bisa mempertahankan ruang dimensi lebih lama karena kekuatan tuan nya terbatas. Ruang itu hancur bersamaan dengan Ratu Parewangan yang terluka jiwanya.
Mereka kembali ke ruangan awal, Ratu Parewangan melihat sudah tidak ada penghalang. Lalu melesat-- berniat memasuki tubuh Greta lagi, namun Astra dengan tenang dan kesadaran penuh serta konsentrasi tinggi memusatkan perhatian nya pada tubuh Greta.
Tangan nya membentuk sebuah pola ke arah Greta, "usir!"
Duak!
Ratu Parewangan terpental seiring dengan cahaya biru bersinar dengan sekejap di tubuh Greta.
Ratu Parewangan sadar dia tidak bisa melawan ataupun menggunakan tubuh gadis itu untuk mengancam, dia mengambil keputusan paling klise namun cukup bijak yaitu kabur.
Astra mengikuti nya dalam wujud jiwa, namun tiba-tiba dia merasakan tarikan yang dingin dan familiar. Jiwanya kembali ke raga.
Astra membuka membuka matanya dan Samuel yang terengah-engah, segera menoleh. Khodamnya telah lenyap, dan Samuel hanya berdiri di sana, membelakangi Astra, menatap ke tempat sosok itu menghilang.
Greta terbaring tak sadarkan diri di lantai kamar nya.
Astra bangkit tanpa suara. Tubuhnya terasa berat, namun ia mengabaikannya. Ia berjalan melewati Samuel, ekspresinya datar, dan berlutut di samping Greta.
"Dia pingsan," kata Astra, suaranya rendah dan serak, memecah keheningan rumah besar itu. Itu adalah satu-satunya hal yang ia katakan setelah memeriksa kondisi nya.
Samuel berjalan ke belakang lalu menjatuhkan dirinya, bersandar pada dinding. Dia melihat keadaan sekitar, kemudian memejamkan mata seolah mengisi kembali energi.
Tuan Antonio, Nyonya Emily, Bastian, dan Anya yang sedari tadi membeku, kini bergerak. Mereka bergegas menghampiri Greta.
"Apa... apa sudah benar-benar selesai?" tanya Anya, suaranya bergetar saat menatap sekeliling ruangan yang kini terasa sangat sunyi.
Astra hanya mengangguk kecil, tanpa menatapnya. Ia bangkit, membersihkan debu imajiner di pakaiannya, lalu menoleh ke arah Samuel.
"Angkat keranjang," perintah Astra singkat pada yang lain, merujuk pada Greta.
Tuan Antonio segera membopong Greta. Suasana rumah kini kembali tenang, namun sisa-sisa aura dingin masih terasa di sudut-sudut ruangan.
Astra berjalan menuju jendela, menatap kegelapan di luar. Tidak ada kata-kata tambahan, tidak ada penjelasan panjang lebar. Baginya, tugasnya malam ini sudah selesai. Sisanya adalah urusan keluarga Antonio untuk membereskan kekacauan fisik di rumah mereka.
Astra berhenti menatap jendela lalu berjalan dengan langkah tegas keluar, Anya yang melihat nya segera menyusul di ikuti Bastian.
Astra berjalan cepat hingga Greta memanggil nya, "Astra tunggu!"
Astra berhenti. "Gue gak ada urusan lagi, Greta udah balik. Tapi sampai tiga hari jangan biarin dia sendirian dulu." Ucap Anya berniat pergi.
"Anya, Greta udah sembuh?" Tanya Keluarga yang lain karena mereka sedang berada di tangga menuju lantai bawah.
Anya melihat Ayahnya bertanya, dia kemudian mengangguk. "Udah, Greta udah sadar."
"Syukurlah..." Mereka turut bahagia, mengucapkan banyak terimakasih dan pujian untuk Astra lalu ke atas ingin melihat.
"Bas, Papa titip Kakek kamu dulu." Bastian mengangguk dan Papanya naik ke atas.
"Gue juga mau ucapin terimakasih," Ucap Anya.
Astra akan berbicara namun Bastian terlebih dahulu bicara. "Makasih, makasih banyak! Mungkin lo gak akan tertarik sama uang, tapi gua janji, apapun masalah lo gua pasti bakal bantu!"
Astra terdiam sebentar, rasanya sekali-kali menerima kredit juga hal yang menyenangkan. "Sama-sama, tapi lo salah..." kepala Astar menoleh ke arah Bastian, "Gue tertarik kok sama uang," Ucapnya kemudian pergi.
Entah apa yang dia rasakan, namun sepertinya dia telah terkena efek kupu-kupu. Bibirnya tanpa bisa di cegah tersenyum lebar mendengar jawaban Astra, Astra telah pergi namun Bastian malah tertawa sendiri seperti orang gila dari sudut pandang Anya.
Di luar gerbang rumah Greta.
Astra terdiam kaku, dia membeku untuk sesaat. Melihat jalanan yang meskipun terang oleh cahaya namun sepi, lalu melihat handphone nya yang telah menunjukkan angka tengah malam.
Dia menoleh ke arah rumah megah itu, berpikir sesaat lalu menghela napas. "Siapa suruh sok misterius dan dingin." Ucapnya lalu berjalan melangkah pada keheningan jalanan.
Malam menelan siluet Astra, meninggalkan rumah megah itu pada kedamaiannya yang palsu. Ia berjalan di jalanan yang terang namun sepi, keheningan yang kontras dengan jeritan Ratu Parewangan di dimensi astral. Kengerian yang sesungguhnya bukanlah entitas yang ia usir, melainkan pengetahuan dingin yang kini ia pikul—sebuah rahasia yang terlalu berat untuk pundak mudanya.
Gumamannya yang lirih, "Siapa suruh sok misterius dan dingin," adalah retakan singkat dan manusiawi pada perisai yang ia kenakan, sebuah pengakuan lelah akan harga dari kekuatannya.
Pertarungan telah usai, tetapi pengalaman pertama kali meninggalkan raga adalah sebuah pintu yang kini terbuka, dan Astra tahu, ia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa batas antara dunia nyata dan astral itu tebal. Ia adalah seorang penjaga yang berjalan pulang dalam gelap, membawa beban yang tak terucapkan. Dunia mungkin berterima kasih atas 'kecelakaan' yang ia atasi, namun hanya Astra yang tahu bahwa ucapan terima kasih itu hanyalah topeng bagi kengerian yang mereka tolak untuk lihat.
Akhir :
"Aku ingin hidup seperti remaja pada umumnya?"
"Lalu kenapa kamu masih menjaga jarak dan tidak keluar dari ruang gelap mu?"
"..."
"Kamu sendiri yang menjauh dari kehidupan dan mendekati yang mati."
"Aku... Hanya perlu beradaptasi."
***
"Keinginan untuk hidup biasa hanyalah mimpi yang gagal, sebab jiwanya telah terlalu menyatu dengan kegelapan hingga cahaya dunia nyata tak lagi terasa seperti tempat untuk pulang."
END
Boncab dong Thor
semangat menjalani harimu
ayo up lagi malam ini.
aku suka banget ceritanya.
bagus
dan semakin bikin aku penasaran akan kelanjutannya.
ayooooooooo up lagiiiiiiiiiiiiiiii
kenapa kok gak ada semangatnya.
semoga author dapet ide-ide bagus buat lanjutin Babnya, biar gak terlalu pendek-pendek amat ceritanya kalo tamat😊🤭🤭🤣🤣🤣🤣
semoga semangat mubgak kendor ya thor. jangan putuskan hubungan ini... eh, novel ini di tengah jalan thorkuuuu....
semoga lolos ya thooor
🎶Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan🎶