Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.
Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.
Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Pukul delapan pagi, Dian sudah mulai disibukkan dengan pesanan para pelanggan. Tangannya cekatan menyiapkan satu per satu orderan yang sebentar lagi akan dijemput kurir. Beberapa pesanan lainnya sengaja ia simpan terpisah, karena hari ini ia berencana mengantarkannya sendiri.
Sekalian, ia ingin mengajak Naya keluar rumah—sekadar berjalan-jalan sebentar. Setelah hari-hari yang padat dan melelahkan, Dian merasa Naya juga butuh udara segar, tawa kecil, dan waktu berdua yang sederhana namun berarti.
POV Sinta
Hari ini suamiku libur. Kami memutuskan jalan-jalan ke Malaysia selama dua hari, sekadar melepas penat. Malamnya, kami makan di salah satu tempat di sekitar Kuala Lumpur. Suasana ramai, lampu kota berkilau, orang lalu-lalang dengan urusan masing-masing.
Tiba-tiba pandanganku tertahan pada seorang pria di sudut sana. Jantungku seperti berhenti sepersekian detik. Aku kenal wajah itu.
Itu Andi.
Suami Dian.
Namun bukan Andi yang membuatku tercekat—melainkan perempuan di sampingnya. Tangan mereka saling menggenggam, sikapnya begitu akrab, terlalu dekat untuk sekadar teman. Aku tak mengenal perempuan itu, tapi caranya menatap Andi… jelas bukan rekan kerja.
Tanpa ragu, tanganku meraih ponsel. Beberapa foto kuambil cepat, jantungku berdegup keras menahan amarah.
Kurang ajar kamu, Ndi. Tega betul kamu sama Dian, gerutuku dalam hati, panas.
“Mah, kenapa kok ngomel sendiri?” suara suamiku menyadarkanku. Ia sedang menyuapi putri kami, wajahnya heran.
“Itu tadi ada suaminya Dian, Pah,” jawabku kesal. “Dan dia bawa cewek lain.”
Suamiku melirik ke arah yang kumaksud, lalu berkata pelan, mencoba menenangkan,
“Sabar, Mah. Siapa tahu itu cuma rekan kerjanya.”
Aku langsung menoleh tajam.
“Iih, Papah… rekan kerja mana yang gandengan tangan begitu?”
Dadaku sesak. Pikiranku melayang ke Dian—ke wajahnya yang selalu berusaha kuat, ke ceritanya yang sering ia pendam sendiri. Tanganku mengepal, menahan emosi.
Dian harus tahu. Dia tidak boleh terus dibodohi, batinku, penuh tekad.
Pagi harinya, pikiran Sinta masih saja tertuju pada Dian. Bayangan wajah sahabatnya itu terus muncul, membuat hatinya gelisah sejak bangun tidur.
Saat mereka sarapan, suaminya akhirnya angkat bicara, seolah membaca kegundahan di wajah Sinta.
“Mah, jangan terlalu ikut campur urusan rumah tangga orang lain,” ucapnya hati-hati. “Kadang niat baik malah jadi masalah.”
Sinta terdiam. Ia paham maksud suaminya. Ia tahu batas, tahu kapan harus melangkah dan kapan menahan diri. Namun di benaknya, perasaan tidak tenang itu belum juga hilang.
Aku tidak boleh gegabah, batinnya. Belum tentu Dian siap mendengar ini.
Sinta mengangguk pelan, berusaha meyakinkan diri sendiri. Untuk saat ini, ia memilih diam. Foto-foto itu masih tersimpan rapi di ponselnya, menjadi rahasia yang belum waktunya dibuka.
Nanti saja, tekadnya. Sesampainya di Batam, aku akan cari tahu semuanya dengan jelas. Kali ini aku menunggu… tapi bukan berarti aku lupa.
Ia menatap ke luar jendela, melihat pagi Kuala Lumpur yang cerah, sementara hatinya masih dipenuhi kegelisahan—antara ingin melindungi sahabatnya dan menjaga agar semuanya tidak semakin rumit.
********
Hari ini, Andi dan Tasya bersiap kembali ke Batam setelah puas menikmati liburan singkat mereka di Kuala Lumpur.
“Makasih banyak ya, sayang,” ucap Tasya manja sambil tersenyum.
Andi menoleh sekilas lalu menjawab ringan, “Iya, sayang.”
Tasya tampak begitu bahagia. Sepanjang perjalanan, Andi tak henti memanjakannya—membelikan oleh-oleh, menuruti permintaannya, dan memperlakukannya seolah tak ada beban apa pun di hidupnya. Tasya sengaja memilih hadiah terbaik untuk mamanya dan Bu Minah, yakin hal itu akan semakin menguatkan posisinya di hati mereka.
Baginya, status Andi tak lagi penting. Ia tak peduli Andi masih beristri, tak peduli ada Dian dan Naya yang menunggu di rumah. Selama Andi menurut, selama ia merasa diprioritaskan, itu sudah cukup. Hatinya mengeras oleh rasa menang—seolah dunia berpihak padanya.
Sementara itu, tanpa Tasya sadari, benih masalah kian tumbuh. Apa yang ia anggap kebahagiaan, perlahan berubah menjadi luka yang kelak akan mencari jalannya sendiri untuk terungkap.
*********
Hari ini benar-benar menguras tenaga. Hampir setengah hari Dian dan Naya berada di luar rumah, berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mengantar pesanan pelanggan. Panas, lelah, dan kantuk bercampur jadi satu, namun melihat wajah Naya yang ceria membuat langkah Dian tetap bertahan.
Sesampainya di rumah, Dian duduk bersila di lantai sambil membuka catatan kecilnya. Satu per satu ia menghitung uang hasil jualan, memisahkan modal dan keuntungan.
“Alhamdulillah, epok-epok laku banyak,” lirihnya pelan, seolah bersyukur hanya pada dirinya sendiri.
Meski tubuhnya letih, hati Dian sedikit lega. Setidaknya untuk hari ini, ia tahu esok masih ada harapan. Ia kembali menatap Naya yang sudah terlelap, lalu menghela napas panjang—lelahnya terbayar oleh tekad untuk terus bertahan, apa pun yang terjadi.
Dian menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit kamar yang mulai temaram. Di kepalanya, rencana demi rencana tersusun rapi, bukan karena ambisi, tapi karena ia harus bersiap untuk apa pun.
Nanti kalau ada lebihan, aku sama Naya ke Batam aja lah, batinnya. Udah lama juga nggak jalan jauh sama Naya.
Bukan sekadar jalan-jalan, itu caranya memberi Naya kenangan—tentang ibu yang berani melangkah, bukan hanya menunggu.
Untuk sementara, Dian memutuskan satu hal lebih dulu. Nanti ke rumah Arif aja, gumamnya pelan. Setidaknya ia perlu tahu alamat mes Bang Andi. Bukan untuk ribut, bukan pula untuk membuat keributan. Dian hanya ingin jelas—ingin melihat dengan mata kepala sendiri apa yang selama ini terasa ganjil di hatinya.
Ia menoleh ke arah Naya yang tidur pulas, jemari kecil itu menggenggam ujung bajunya. Dian tersenyum tipis, lalu berbisik,
“Kita pelan-pelan aja ya, Nak. Ibu nggak akan gegabah. Tapi ibu juga nggak mau terus dibodohi.”
Malam pun berjalan, membawa tekad baru yang semakin menguat di dada Dian.
Beberapa hari berlalu. Hari ini Dian memutuskan libur jualan. Stok cilok dan cireng masih cukup, dan tubuhnya pun butuh jeda. Bukan jeda dari tanggung jawab—melainkan jeda untuk bernapas.
Sejak pagi Dian sudah bersiap. Ia memakaikan Naya baju yang rapi dan nyaman, menyisir rambut putrinya dengan hati-hati. Hari ini ada sesuatu yang ia tunggu: Sinta akan datang ke Pinang. Mereka sudah janjian bertemu di salah satu hotel, sekadar untuk refreshing—melepas penat, menertawakan hal-hal kecil, dan mungkin, tanpa disadari, saling menguatkan.
Naya tampak ceria, mondar-mandir kecil di ruang tamu.
“Tante Sinta mau datang, Bu?” tanyanya polos.
“Iya, Nak. Nanti Naya main sama adek ya,” jawab Dian sambil tersenyum.
Di dalam hatinya, Dian merasa hangat. Di tengah hidup yang terasa berat, masih ada teman yang datang tanpa menghakimi, tanpa menuntut. Ia melirik ponselnya—menunggu kabar dari Sinta—lalu menghela napas pelan.
Hari ini aku nggak mau mikir yang berat-berat dulu, batinnya. Cukup aku, Naya, dan sedikit bahagia yang sengaja kucari.
Tak lama kemudian, suara motor terdengar dari depan rumah. Dian berdiri, menggenggam tangan Naya. Senyum kecil terbit di wajahnya—hari ini, ia memilih memberi ruang untuk dirinya sendiri.
Siang hari, Dian akhirnya bertemu dengan Sinta. Mereka sepakat masuk ke kamar hotel terlebih dahulu agar Naya dan Jelita bisa tidur siang, karena sejak pagi keduanya sudah kelelahan.
“Kita di kamar dulu ya, biar Naya sama Jelita tidur. Tadi aku juga sudah ajak sus Jelita. Nanti aku mau ngajak kamu ke salon dulu,” ujar Sinta sambil tersenyum.
Dian mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa ada jeda untuk bernapas dan memanjakan diri, meski hanya sebentar.
“Ini beneran nggak apa-apa Sin? Aku nggak enak sama kamu,” ucap Dian lirih, masih merasa sungkan.
“Aman,” jawab Sinta singkat sambil tersenyum. Tangannya sudah meraih ponsel, lalu menghubungi sus Jelita yang tadi turun untuk makan siang.
“Sus, nanti tolong jaga Jelita sama Naya ya. Mereka lagi tidur. Aku sama Dian mau keluar sebentar.”
Telepon ditutup. Sinta menoleh ke arah Dian.
“Udah, jangan mikir macem-macem. Sekali-kali kamu juga harus santai. Kamu itu capek terus,” katanya tegas tapi hangat.
Dian tersenyum kecil. Di dalam hatinya, ada rasa haru—sudah lama tak ada yang begitu peduli pada keadaannya tanpa menghakimi.
Hal pertama yang mereka lakukan adalah SPA. Sinta sengaja memilih paket relaksasi agar Dian benar-benar bisa melepas lelah. Aroma lavender memenuhi ruangan, musik lembut mengalun pelan. Dian memejamkan mata saat pijatan hangat menyentuh bahunya.
“Ya Allah, enak banget,” gumam Dian tanpa sadar.
Sinta terkekeh kecil. “Makanya, kamu itu kebanyakan mikir. Badan sama hati capek semua.”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Dian merasa napasnya ringan. Tak ada omelan, tak ada tuntutan, tak ada rasa takut salah. Hanya dirinya, ketenangan, dan rasa hangat yang perlahan mengendurkan semua beban.
Selesai SPA, mereka lanjut ke salon. Rambut Dian dipotong rapi, sedikit dirapikan ujungnya, lalu di-creambath. Wajahnya juga dirawat sederhana—facial ringan yang membuat kulitnya kembali segar.
“Lihat tuh,” ujar Sinta sambil bercermin, “kamu cantik, Dian. Dari dulu juga cantik. Cuma kebanyakan sedih aja.”
Dian tersenyum samar menatap pantulan dirinya. Ada sesuatu yang berbeda—bukan hanya di wajahnya, tapi juga di matanya. Ada nyala kecil yang sempat redup, kini perlahan kembali.
Sementara di kamar hotel, Naya dan Jelita masih terlelap, dijaga sus Jelita dengan tenang. Hari itu bukan sekadar tentang SPA atau salon—hari itu tentang Dian yang kembali mengingat bahwa dirinya juga berhak bahagia.