Dewi seorang istri yang di tinggal merantau suaminya Abi ke Kalimantan dan harus tinggal di kampung merawat mertua dengan uang kiriman seadanya dari sang suami, Dewi pun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan sang mertua.
Hingga suatu ketika Dewi mendapati sebuah rahasia besar dari teman Abi, ternyata Abi diam-diam menikah lagi, hati Dewi hancur dan dia pun nekat ke Kalimantan untuk memastikan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundae safiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
obat untuk mertua 2
Setelah menerima uang dari Bu Mandor, Dewi pun segera memasukkannya ke dalam tas.
"wi...suami kamu bagaimana, apa dia ada kirim uang bulan ini?" tanya Bu Mandor dengan rasa penasarannya, selama ini Bu mandor sering di ajak berkeluh kesah sama Dewi, jadi sedikit banyak Bu Mandor pun tau kalau bagaimana kondisi keluarga Dewi.
"Sudah Bu Bos, kebetulan tadi pagi kirim uang, ya lumayan lah untuk nambah beli obat ibu mertua nanti" jawab Dewi dengan senyum di wajahnya.
"Wi ...wi, kamu ini kasihan banget sih, suami merantau bukanya semakin enak hidupnya ini malah semakin menderita, bukan apa-apa tapi kok ibu ngerasa ada yang nggal beres sama suami kamu itu" ucap Bu Mandor berpendapat.
"Ah Bu Bos ini ngomong apa sih, saya percaya sama suami saya kok, yah mungkin ini memang sudah jadi rejeki kami harus seperti ini jalannya. Tapi saya yakin suami saya baik-baik saja di sana" jawab Dewi dengan sangat yakin.
"Hah semoga saja memang seperti apa yang kamu pikirkan wi, cuman kalau ibu yang sudah berpengalaman ini kok ngerasa memang ada yang nggak beres, tapi ya sudah lah, berdoa saja semoga itu hanya pikiran ibu saja yang nggak bener, ibu hanya ingin kamu waspada dan tidak di manfaatin sama suami kamu wi, ibu percaya Allah pasti akan melindungimu di setiap langkahmu" ucap Bu Mandor dengan tulus dan penuh harap.
"Aamiin Bu Bos, terima kasih sudah mengingatkan, tapi saya yakin semua baik-baik saja, oh iya kalau gitu Dewi pamit dulu ya Bu Bos mau ke apotik dulu soalnya nanti keburu tutup" pamit Dewi pada Bu Mandor.
"Ya sudah, kamu pulang aja sana, hati-hati di jalan, salam buat ibu mertua kamu, besok jangan lupa datang lagi karena besok ada banyak pesanan" jawab Bu Mandor sembari tersenyum.
Dewi pun langsung pergi meninggalkan toko bu Mandor dan mengambil sepeda ontelnya kemudian bergegas pergi ke apotek untuk membeli obat yang biasa di minum ibu mertuanya sesuai dengan resep dari dokter.
Tak berapa lama kemudian Dewi pun sampai di apotek yang letaknya tak jauh dari area pasar.
Setelah memarkir sepeda di depan apotek Dewi pun menyapa petugas apotek yang sedang melayani pembeli lainya.
"Mbak Astri...." sembari tersenyum Dewi pun menghampiri wanita yang umurnya sepantaran dengannya itu.
"Eh mbak Dewi, mau ambil obat buat mertua kamu ya?" balas Astri dengan ramah.
"Iya nih mbak, udah telat sehari obatnya" jawab Dewi sembari menghela nafas.
"Nggak papa kok mbak Dewi, nggak akan ngaruh juga meski telat sehari, sebenter ya aku ambilin dulu obatnya" ucap Astri pada Dewi, kemudian Dewi pun menunggu di kursi tunggu sembari mengelap keringat yang menetes di dahinya.
"Nah...ini obatnya mbak...seperti biasa 500 ribu" ucap Astri sembari mengulurkan bungkusan plastik kecil di tangannya setelah beberapa saat.
Dewi segera membayarkan sejumlah uang tersebut kemudian mengambil obatnya dan kembali pulang.
Sisa uang kiriman dari suaminya itu tentu saja tak akan cukup untuk makan bersama sang mertua, maka dari itu mau nggak mau Dewi pun harus keluar cari uang tambahan meski harus jadi kuli panggul di pasar yang penting halal dan bisa ngasilin duit.
Sementara itu di tempat lain, Bu Raminah sedang merebus air untuk mandi, beliau merasa tubuhnya agak kurang enak seharian ini dan ingin mandi dengan air hangat.
"Dewi kok belum pulang juga sih, apa aku angkat sendiri saja ya, kasihan kalau harus ngerepotin anak itu terus" ucap Bu Raminah lirih, kemudian Bu Raminah pun meletalkan tongkatnya dan setelah itu mengambil kain lap untuk mengangkat panci tempat beliau merebus air supaya tidak kepanasan.
Dengan perlahan Bu Raminah pun mengangkat panci yang berisi air mendidih itu dan menuangnya ke dalam ember yang sudah di siapkannya sedari tadi.
"Hah...bisa juga akhirnya, kalau gini kan nggak perlu ngerepotin Dewi terus" ucap Bu Raminah dengan perasaan lega, kemudian perlahan air dalam ember pun di tentengnya dan dengan langkah tertatih-tatih Bu Raminah berjalan menuju kamar mandi.
Tiba-tiba.....!
Bruuukkkk!....
"Aaaahhhhhhhhhh!!!!"
Bu Raminah terjatuh karena salah satu kakinya tak sengaja tersandung kaki meja dan air panas dalam ember pun tumpah mengenai langsung pada tubuhnya.
"Wiiiiiii Dewiiiii.... Tolong....toloooongggg!!!" jerit Bu Raminah meminta tolong karena merasakan sakit pada sekujur tubuhnya.
Braaakkkkk!!!
"ibuuuuuuuuk!!!"
Dewi yang kebetulan baru saja sampai di depan rumah dan mendengar teriakan sang mertua pun langsung membanting sepedanya begitu saja dan berlari ke dalam rumah, di sana Dewi melihat Bu Raminah sudah pingsan, Dewi pun langsung menghampiri tubuh wanita paruh baya yang tergeletak di lantai.
"Bu....bangun bu, ibu kenapa, buuuuuu!!!" Dewi menepuk-nepuk pipi Bu Raminah supaya sadar namun sepertinya tubuh Bu Raminah terlalu lemah.
Dewi pun kembali meletakkan tubuh sang mertua dan kemudian langsung mencari bala bantuan untuk mengangkat tubuh Bu Raminah.
Beberapa saat kemudian para tetangga pun berdatangan untuk melihat keadaan Bu Raminah.
"tolong pak bu, tolong mertua saya hikz...hikz...hikz!" isak tangis Dewi tak tega melihat keadaan sang mertua.
"Ayok...ayok kita bawa ke rumah sakit!" ucap salah satu tetangga Dewi, kemudian tubuh Bu Raminah pun langsung di bawa dengan mobil desa, bersama beberapa tetangga dekat yang ikut mengantar ke rumah sakit.
Di dalam mobil Dewi terlihat sangat cemas, takut terjadi apa-apa sama sang mertua dan apa yang harus di katakannya pada suaminya nanti, Dewi takut suaminya akan marah dan mengiranya tak becus mengurus orang tua.
"Sabar Wi, berdoa saja semoga semua akan baik-baik saja" ucap Bu Kokom tetangga yang ikut mengantar Bu Raminah ke rumah sakit.
"Iya Bu Kokom...tapi saya tetep takut bu, bagaimana saya menjelaskan pada suami saya nanti bu, saya nggak becus merawat orang tua" keluh kesah Dewi.
"Bilang saja apa adanya, kamu itu sudah bertanggung jawab, kamu itu sudah baik banget lowh, apa lagi kamu masih kerja banting tulang buat makan sehari-hari, kalau yang lain aku rasa nggak akan ada yang sekuat kamu itu" ucap Bu Kokom supaya Dewi lebih tenang.
"Entahlah bu, saya hanya ingin yang terbaik untuk keluarga saya" jawab Dewi yang sudah pusing tuju keliling.
"Sudah jangan di ambil pusing nanti kamu stres sendiri" ucap Bu Kokom sembari menepuk bahu Dewi.
Tak berapa lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit, Bu Raminah segera di bawa ke UGD, team dokter pun segera menangani Bu Raminah.
Dewi dan yang lain pun dengan cemas menunggu hasil pemeriksaan dari team dokter.
cinta boleh wi gobloogg jangan