Raisa Swandi harus menghadapi kenyataan di gugat cerai suaminya Darma Wibisono, 11 tahun pernikahan mereka sirna begitu saja. Dia harus menerima kenyataan Darma yang dulu sangat mencintainya kini membuangnya seperti sampah. Tragedi bertubi-tubi datang dalam hudupnya belum sembuh Raisa dari trauma KDRT yang dialami dia harus kehilangan anak semata wayangnya Adam yang merupakan penyandang autis, Raisa yang putus asa kemudian mencoba bunuh diri locat dari jembatan. Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai tiba-tiba saja fazel-fazel ingatan dari masalalu terlintas. Sampai dia terbangun di kosannya yang dulu dia tempati saat masih Kuliah di Bandung di tahun 2004
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham Yang Harus Di Luruskan
Dia ingin mengejar Digta, tapi tidak bisa. Dia harus membantu Denna, jadi dia harus tetap bersama Darma sekarang.
"Kamu kenapa, Cha?" tanya Darma, masih penasaran dengan perubahan mimik wajah Raisa yang terlihat panik seperti ketahuan selingkuh.
"Ough, nggak apa-apa kok," jawab Raisa pelan sambil mencoba tersenyum.
"Silahkan, Kak,"
Tidak lama, pesanan mereka tiba.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku," kata Darma lagi, masih penasaran.
"Apa?" Raisa terlihat kurang fokus.
Dia tidak mendengar jelas maksud Darma.
"Kamu udah punya cowok?" tanya Darma sambil makan roti bakar.
"Euh...."
Raisa tidak bisa menjawab. Dia juga tidak nafsu makan roti bakar itu.
Tatapannya terlihat kosong.
"Hmm, gimana? Enak?" tanya Darma lagi.
"Eh..."
Raisa terkejut, langsung sadar dari lamunannya.
"Euh... Lumayan," jawab Raisa.
"Menurut aku, ini roti bakar terenak yang pernah aku makan," kata Darma, mencoba ngomong manis. Tapi Raisa tidak mengindahkannya.
"Kamu tau nggak kenapa?" kata Darma lagi, mencoba membangun obrolan.
Raisa hanya menggeleng-geleng sambil memaksa tersenyum.
"Nggak tau," jawab Raisa dengan nada malas.
"Karena ada kamu," ucapnya sambil menatap Raisa dengan tatapan dalam.
"Haaah"
Raisa menghela napas. Dia sudah tidak tahan lagi, ingin cepat-cepat pergi dari situ.
"Ooh...!" jawab Raisa dengan nada yang datar dan dingin.
Malam itu terasa sangat lama dan membuatnya lelah. Sampai akhirnya...
"Mau pulang?" Darma mengajak Raisa pulang.
Raisa hanya mengangguk.
"Kamu sakit ya?" tanya Darma lagi, terlihat khawatir.
"Eugh, iya," ucap Raisa pelan.
"Darma," lanjut Raisa.
"Iya?" jawab Darma dengan suara lembut.
"Maaf ya, kalo kamu jadi agak nggak nyaman," kata Raisa dengan basa-basi agar cepat selesai.
"Nggak apa-apa kok, justru aku yang minta maaf," kata Darma.
"Tunggu ya," ucapnya sambil pergi ke kasir. Tidak lama, dia kembali.
"Darma, aku naik taksi aja," kata Raisa.
"Oh, bentar, aku pesenin," jawabnya sambil mengambil HP.
"Nggak usah, aku udah nelpon tadi. Tinggal nunggu aja," jelas Raisa.
"Raisa, maaf ya, aku malah bikin kamu jadi sakit," kata Darma. Kali ini dia benar-benar merasa bersalah.
"Nggak apa-apa, ini bukan salah kamu. Aku emang lagi nggak enak badan," jawab Raisa sambil tersenyum tipis.
Tidak lama, Raisa mendapatkan telepon. Dia langsung mengangkatnya.
"Taksinya udah dateng," ucap Raisa sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Huff"
Darma langsung memegang lengannya Raisa, lalu menolong dia berjalan ke taksi.
"Hati-hati ya," ucapnya dengan suara lembut.
Dia membuka pintu taksi untuk Raisa.
"Nanti aku ke kosan," ucapnya. Raisa langsung panik.
"Nggak usah, kamu langsung pulang aja. Aku mau istirahat," kata Raisa.
"Aku anterin kamu dulu kalo gitu,"
"Nggak usah, aku bisa pulang sendiri,"
Jawab Raisa lagi sambil tersenyum, mencoba menolak Darma agar tidak perlu naik taksi bersama.
"Yakin?" tanyanya.
Raisa mengangguk cepat.
"Oke kalo gitu, hati-hati ya," ucapnya sambil menutup pintu taksi pelan-pelan.
"AKH... Akhirnya..."
Raisa bisa bernapas lega sekarang. Akhirnya tugasnya hari ini selesai.
"Pak, ke Ci Situ ya," kata Raisa ke supir taksi.
Supir taksi melihatnya lalu tersenyum.
"Baik, Dek," jawab supir taksi.
Taksi melaju, meninggalkan tempat itu.
"Hmm, Raisa, kamu pikir aku nggak tahu apa?" kata Darma sambil tersenyum licik, masih memperhatikan taksi yang di naiki Raisa.
"Digta,"
Pikiran Raisa sekarang hanya tertuju pada satu nama. Dia ingin menjelaskan semuanya, Raisa tidak mau Digta salah paham.
"Duuh, bales dong, Digta..."
Raisa mencoba mengirim SMS ke Digta, memberitahu bahwa dia sedang dalam perjalanan ke kosannya.
"Angkat dong, Digta," Raisa mencoba menelpon Digta, tapi tidak diangkat.
"Kenapa sih kamu nggak mau ngangkat telpon aku," Raisa terlihat sangat cemas.
Entah mengapa, dia sangat ingin bertemu Digta dan menjelaskan semuanya.
"Aku harus gimana? Dia marah sama aku,"
Kegelisahan di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
"Akh... Sampe juga,"
Akhirnya taksi tiba di depan gerbang kosan Digta.