NovelToon NovelToon
Surat Cinta Dari Langit

Surat Cinta Dari Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Ketinggian yang Sunyi

Navasari tidak pernah menjanjikan apa pun selain keheningan yang dingin. Dan bagi Alana, keheningan adalah satu-satunya obat yang tersisa setelah seluruh dunianya di Jakarta runtuh berkeping-keping.

Mobil tua itu terbatuk pelan sebelum akhirnya mati tepat di depan sebuah pagar kayu yang sudah melapuk kelabu, menyerah pada usia dan kelembapan bukit. Alana keluar, membiarkan pintu mobilnya terbuka. Ia menghirup udara yang begitu tipis dan tajam hingga paru-parunya terasa seperti diiris sembilu. Di sini, langit seolah menggantung begitu rendah. Seolah-olah jika ia berjinjit sedikit saja, ujung jarinya akan mampu menyentuh hamparan nila yang mulai menelan sisa senja.

Di depannya, rumah peninggalan kakeknya berdiri dengan angkuh sekaligus menyedihkan. Dinding kayu yang dulu gagah kini buram oleh debu bertahun-tahun. Sebuah menara kecil di bagian samping bekas ruang observasi pribadi kakeknya mencuat ke angkasa seperti tangan tua yang berusaha meraih bintang-bintang.

Alana menatap kunci berkarat di telapak tangannya. Logam dingin ini adalah satu-satunya harga diri yang ia bawa pulang. Kariernya sebagai kurator seni hancur dalam semalam. Skandal itu bukan salahnya, tapi di Jakarta, kebenaran sering kali kalah nyaring oleh gosip.

"Selamat datang di pengasingan, Alana," bisiknya. Suaranya segera hilang, dicuri oleh desau angin pinus yang menggigilkan kulit.

Dua jam ia habiskan untuk bergulat dengan debu dan memori. Setiap langkah di atas lantai kayu tua menghasilkan derit yang memecah kesunyian, menciptakan gema yang seolah memanggil kembali bayangan masa kecilnya. Kakeknya, seorang astronom eksentrik yang lebih banyak bicara pada teleskop daripada manusia, telah membekukan waktu di dalam rumah ini sejak lima tahun lalu.

Alana terduduk lemas di lantai ruang tengah. Peluh membasahi dahinya meski suhu udara di luar mungkin sudah merosot jauh. Matanya tertuju pada jendela besar yang menghadap lembah. Di sana, matahari mulai tergelincir, meninggalkan palet warna oranye dan ungu yang dramatis warna-warna yang dulu sering ia kurasi di galeri, namun kini terasa begitu asing.

Namun, sesuatu di halaman belakang menangkap perhatiannya.

Di antara semak belukar yang liar, berdiri sebuah tiang besi hitam menyangga kotak pos kuningan. Aneh. Pagar rumahnya hancur, namun kotak pos itu berkilau tertimpa cahaya terakhir matahari, seolah seseorang baru saja menggosoknya hingga mengilap beberapa menit yang lalu.

Rasa ingin tahu yang sudah lama mati di dalam diri Alana tiba-tiba berdenyut. Ia berdiri, mengabaikan kakinya yang pegal, dan melangkah keluar. Kakinya tenggelam di antara rumput tinggi yang membelai lututnya hingga ia sampai di depan kotak pos itu.

Di bagian depannya, terdapat ukiran halus berbentuk bintang jatuh dengan tulisan kecil yang meliuk: "Hanya Untuk Pesan yang Berasal dari Langit."

Alana tersenyum miris. "Kakek memang tidak pernah sembuh dari fantasinya," gumamnya. Namun, jemarinya tetap terulur. Saat ia menyentuh tuasnya, kotak itu terbuka dengan suara gesekan yang sangat halus, hampir menyerupai bisikan manusia.

Tidak ada debu. Tidak ada serangga mati.

Hanya ada satu amplop berwarna biru malam yang sangat pekat, hampir menyerupai hitam legam. Di atasnya, tertulis sebuah nama dengan tinta perak yang tampak berpendar redup di bawah cahaya remang senja.

Untuk Penghuni Baru Rumah Cahaya.

Jantung Alana berdegup kencang, menghantam rongga dadanya. Ia menoleh ke sekeliling dengan waspada. Hutan pinus sudah gelap, jalanan setapak di bawah sana sepi tak berpenghuni. Tidak ada kendaraan. Siapa yang tahu dia pindah ke sini hari ini? Bahkan ibunya pun belum tahu lokasi pastinya.

Dengan jari sedikit gemetar, Alana membuka amplop itu. Tekstur kertasnya asing dingin, halus, namun sangat berat, seolah seratnya mengandung logam bintang. Di dalamnya, terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan yang miring, tegas, dan sangat rapi.

> Selamat datang kembali ke bumi yang sunyi, Alana.

> Aku tahu perjalananmu dari kota sangat melelahkan. Aku tahu kau membawa beban yang lebih berat daripada kardus-kardus lusuh di mobilmu itu.

> Malam ini, jangan nyalakan lampu terlalu terang. Biarkan matamu beradaptasi dengan kegelapan, karena hanya dalam gelap, kau bisa melihat apa yang sebenarnya ada.

> Lihatlah ke arah Utara pada pukul sembilan malam nanti. Ada sebuah bintang yang sedang menunggu untuk menceritakan rahasianya padamu. Ia tidak pernah pergi, ia hanya menunggu kau punya cukup waktu untuk menengadah.

>  Langit.

> Alana merasakan bulu kuduknya berdiri. Ini bukan sekadar surat iseng. Orang ini tahu namanya. Orang ini tahu dia baru sampai. Dan yang paling mengusik hatinya kata-kata itu seolah memahami rasa sakit yang ia simpan rapat di balik ekspresi datarnya.

"Siapa kau?" tanyanya pada angin malam.

Tidak ada jawaban. Hanya suara jangkrik yang mulai bersahutan secara ritmis. Alana menggenggam kertas perak itu di dadanya, merasakan dinginnya kertas itu meresap ke dalam kulitnya. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia tidak merasa sendirian.

Tepat saat ia hendak berbalik masuk, lampu menara observasi di bagian samping rumah yang seharusnya sudah mati selama bertahun-tahun karena tidak ada aliran listrik tiba-tiba berkedip sekali.

Cahaya putih terang yang hanya menyala sedetik, lalu padam kembali dalam kegelapan yang pekat.

Alana membeku. Kunci rumah di tangannya terjatuh ke rumput. Seseorang, atau sesuatu, sedang menunggunya di atas sana.

 

Alana menahan napas, matanya terpaku pada menara observasi yang kini kembali tenggelam dalam kegelapan pekat. Jantungnya berdentum hebat, suaranya seolah memenuhi rongga telinga. Antara logika dan rasa takutnya kini sedang beradu hebat; seharusnya menara itu mati total, kakeknya sudah lama tiada, dan ia adalah satu-satunya jiwa yang menginjakkan kaki di tanah ini hari ini.

Ia berjongkok, jemarinya meraba-raba di sela rumput basah mencari kunci rumah yang terjatuh. Dinginnya embun mulai meresap ke pori-pori kulitnya, tapi rasa dingin itu tak sebanding dengan desiran aneh yang mengalir di punggungnya.

"Hanya korsleting, Alana. Hanya kabel tua yang sekarat," gumamnya meyakinkan diri sendiri.

Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu rumah ini tidak sesederhana itu. Ia berdiri kembali, menggenggam kunci peraknya erat-erat hingga pinggirannya membekas di telapak tangan. Surat biru malam itu masih terselip di balik jemarinya, terasa berat dan seolah memiliki denyut nadinya sendiri.

Alana tidak segera masuk. Ia justru melangkah mundur, menatap kotak pos kuningan yang tadi berkilau. Di bawah cahaya rembulan yang mulai muncul malu-malu di balik awan, kotak itu kini tampak lebih gelap, lebih sunyi.

Jangan nyalakan lampu terlalu terang, pesan dalam surat itu terngiang kembali.

Ia menelan ludah. Alana memutuskan untuk tidak masuk melalui pintu depan yang megah namun rapuh. Ia berjalan memutar, melewati samping rumah tempat menara itu berdiri. Menara observasi itu terbuat dari batu dan kayu jati tua, menjulang sekitar sepuluh meter ke langit. Di puncaknya, kubah besi yang bisa berputar tampak seperti kepala raksasa yang sedang mengintai cakrawala.

Sesampainya di dalam rumah, Alana hanya menyalakan sebuah lilin kecil yang ia temukan di atas meja dapur. Cahaya kuning yang lemah mulai menari-nari di dinding, menciptakan bayangan yang panjang dan meliuk-liuk. Ia duduk di kursi kayu goyang milik kakeknya, meletakkan surat misterius itu di atas meja.

Pukul delapan lewat empat puluh lima menit.

Lima belas menit menuju janji sang "Langit".

Suasana di Navasari berubah drastis saat malam benar-benar berkuasa. Suara angin yang tadinya hanya desau pelan, kini terdengar seperti rintihan panjang yang menyusup lewat celah-celah jendela. Alana memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan pikirannya yang kalut. Bayangan galeri seni di Jakarta, wajah-wajah rekan kerja yang menghujatnya, dan kekosongan hidupnya di kota sejenak memudar, digantikan oleh rasa penasaran yang membakar.

Siapa pun pengirim surat itu, dia tahu Alana butuh sebuah pelarian. Dia tahu Alana sedang mencari sesuatu yang lebih besar dari sekadar tempat persembunyian.

Tepat pukul sembilan malam, Alana berdiri. Ia berjalan menuju beranda belakang, tempat langit terbuka luas tanpa halangan pohon pinus. Ia menengadah, mencari rasi bintang di arah Utara sesuai instruksi.

Awalnya, hanya ada bintik-bintik cahaya yang biasa. Namun, perlahan, matanya yang mulai terbiasa dengan kegelapan menangkap sesuatu yang mustahil.

Salah satu bintang di Utara tidak berkelip seperti yang lain. Bintang itu bersinar dengan warna biru elektrik yang tajam, dan seiring Alana memperhatikannya, bintang itu seolah bergerak perlahan, membentuk lintasan cahaya yang halus di angkasa.

Bintang itu tidak sedang diam. Bintang itu sedang menulis sesuatu di langit malam.

Mulut Alana ternganga. Ia merasa dunianya seolah jungkir balik. Di saat yang sama, dari dalam menara observasi di belakangnya, terdengar suara gesekan logam yang berat—suara kubah teleskop yang sedang berputar terbuka secara otomatis.

Alana menoleh dengan cepat ke arah menara. Pintu kayu menara yang tadinya terkunci rapat kini terbuka sedikit, menyisakan celah gelap yang seolah mengundangnya untuk masuk.

"Kakek...?" bisiknya lirih, meski ia tahu itu mustahil.

Tanpa sadar, kaki Alana mulai melangkah menuju menara itu. Ia tidak lagi peduli pada rasa takutnya. Ia hanya ingin tahu apakah "Langit" yang mengiriminya surat adalah sosok manusia, ataukah sesuatu yang selama ini kakeknya sembunyikan dari seluruh dunia di ketinggian yang sunyi ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!