Pernikahan bisnis yang sudah di rancang sedemikian rupa terancam batal hanya karna mempelai wanita kabur di hari pernikahan. Bintang, selaku kakak yang selama ini selalu di sembunyikan terpaksa harus menggantikan Lidya.
"Yang ku inginkan adalah Lidya! Kenapa malah dia yang menjadi mempelainya?!" Pekik Damian pagi itu.
"Kita tidak punya pilihan, hanya ada dia."Jawab sang ayah.
Damian menatap Bintang dingin, "Baiklah, akan ku perlihatkan padanya apa yang namanya pernikahan itu."Balasnya dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belanja
Setelah menyantap makanannya, sesuai dengan arahan Damian Bintang pun langsung segera bersiap siap untuk membeli pakaian seperti yang sudah di janjikan oleh pria itu, hanya membutuhkan lima belas menit bagi Bintang untuk bersiap siap. Karna cantiknya yang sudah menawan tanpa polesan make up, jadi dia tidak perlu menaruh terlalu banyak produk dan memilih untuk menonjolkan kulit aslinya.
"Udah selesai?"Tanya Damian saat melihat Bintang yang berjalan dengan sedikit terseok seok itu keluar dari kamarnya.
"Udah tuan."Balas Bintang. Gadis itu mengenakkan sebuah baju dingin kebesaran milik Lidya yang dia ambil dari Damian waktu itu.
Damian menatap Bintang dengan tatapan tak percaya, seharusnya dengan baju yang kebesaran itu Bintang terlihat tidak cantik sama sekali. Tapi anehnya, di mata Damian saat ini Bintang sudah sangat cantik dengan baju yang kebesaran itu.
Tak ingin berlama lama memikirkan Bintang, Damian pun langsung menggelengkan kepalanya. Berusaha untuk mengeluarkan fantasi liar yang menyuruhnya menerkam Bintang saat ini juga.
"Kalau begitu ayo kita berangkat."Ujar Damian, dia berjalan terlebih dahulu tanpa memperdulikan Bintang yang nampak masih sangat kesakitan di pangkal pahanya.
Hanya berjarak beberapa jengkal dari hotel mereka, Damian dan Bintang akhirnya sampai di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota itu.
"Bawakan baju yang seukuran dengan dia, tas, heels dan dompet."Ujar Damian kepada salah satu pelayan yang ada di salah satu store pakaian ternama. Bintang hanya diam saat mendapati Damian yang ingin mencarikan beberapa pakaian, agak sedikit bingung karna sebelumnya dia belum pernah di belikan pakaian bermerk seperti ini. Biasanya dia hanya akan memakai baju bekas Lidya atau baju yang di belikan oleh gadis itu, tidak terlalu mahal tapi masih bagus jika di pakai olehnya.
"Baik, tuan."Jawab si pelayan, beruntungnya store ini memang store langganan keluarganya jadi Damian tidak perlu bersusah payah untuk menggunakan bahasa mereka karna merekalah yang harus belajar bahasanya.
Tak menunggu lama, ap yang di minta Damian pun akhirnya sampai. Ada berbagai macam baju dengan berbagai macam gaya yang nampak sangat menawan di mata Bintang.
"Pilihlah, aku tidak mau jika nanti Papa dan Raisa berpikir jika aku menelantarkanmu dengan tidak membelikan baju yang layak."Ujar Damian dengan nada dingin.
"Tapi bagaimana saya harus menggantinya dengan apa, tuan?"Tanya Bintang takut takut. Selama ini jika dia ingin membeli sesuatu maka dia harus mengorbankan sesuatu dan yang paling sering adalah dia harus merelakan makannya karna jika tidak Bramono dan istrinya pasti akan menyiksanya.
Damian mengerutkan alisnya bingung, merasa heran kenapa Bintang yang notabenya hidup dan besar di keluarga terpandang harus menanyakan hal semacam ini, karna biasanya jika gadis yang di besarkan oleh keluarga yang berada pasti terbiasa dengan service seperti ini. Seharusnya Bintang tidak perlu menanyakan hal konyol seperti ini.
"Layani aku semalaman, bayar aku dengan itu."Balas Damian. Dia hanya asal memberikan jawaban tapi bagi Bintang yang sudah terbiasa dengan pertukaran keuntungan seprti itu tentunya menganggap apa yang di katakan oleh Damian adalah benar adanya.
Bintang mengangguk mengerti, "Baik, tuan."Balasnya, setelah itu dia pun lansgung melihat lihat pakaian dan juga barang yang sudah di siapkan oleh pelayan itu.
Bintang mengamati baju itu satu persatu kemudian terkejut saat melihat price tag yang ada di hampir semua baju dan juga barang barang itu. Harganya sangat mahal, bahkan tidak ada yang di bawah lima puluh juta.
Setelah memikirkannya cukup lama, Bintang akhirnya memutuskan untuk mengambil satu baju paling murah, tas yang juga paling murah dan heels yang juga ada di kategori yang sama.
"Saya ambil ini saja, tuan."Ujar Bintang dengan nada pelan, mendengar suara gadis itu yang sudah mengudara. Dia pun langsung mengangkat kepalanya dan kembali mengerutkan alisnya bingung.
"Hanya itu?"Tanya Damian tak percaya, dia pikir Bintang akan mengambil sebanyak banyaknya tapi ternyata gadis itu hanya mengambil tiga buah.
Bintang mengangguk, dia kemudian mendekat ke arah Damian dan sedikit berbisik, "Di sini pakaiannya mahal mahal sekali, buang buang uang tuan."Ujar Bintang dengan nada pelan dan berbisik.
Damian menghela nafasnya, merasa sedikit sakit hati karna Bintang sepertinya mengukur kekayaannya, "Kamu lupa jika WS Company itu adalah gurita bisnis di negara kita? Mereka semua yang kerja di sini bahkan belajar bahasa Indonesia hanya untuk melayaniku, aku bahkan bisa membeli mall ini jika aku menginginkannya."Ujar Damian dengan penuh kebanggaan.
"Iya saya tahu tuan, anda memang sangat kaya. Tapi saya tidak, jika saya ambil lebih dari ini berapa jam saya harus melayani anda? Yang ada kaki kaki saya akan lemas."Jawab Bintang dengan nada pelan.
Damian menghela nafasnya kesal, dia kemudian mengangkat tangannya dan memberikan isyarat kepada pelayan itu untuk segera mendekat dan menghampirinya.
"Bungkus semuanya, baju, tas dan juga heels itu. Ah ya, aku juga mau flatshoes, perhiasan dan juga beberapa make up yang paling bagus di mall ini."Ujar Damian pada akhirnya.
Bintang yang mendengar itu hanya bisa melongo, dia tidak mengerti kenapa Damian melakukan hal yang berlebihan seperti ini.
"Nggak usah tuan, banyak banget."Ujar Bintang yang berusaha menahan Damian.
"Nggak usah banyak omong, kamu sekarang adalah istri dari keluarga Wicaksono. Jika pakaianmu jelek maka semua orang akan menghinaku."Ujar Damian. Meskipun pernikahan mereka tidak sungguh sungguh, tapi dia tetap harus mendandani Bintang dengan layak karna bagaimana pun semua orang tahu jika Bintang adalah istrinya.
Tak bisa membantah lagi, Bintang pun hanya bisa diam dan mengikuti apa pun yang di inginkan oleh Damian sambil diam diam meratapi nasibnya yang mungkin akan mati lemas karna melayani Damian malam ini.
Setelah membeli beberapa perlengkapan dan juga membiarkan mereka mengantar barang itu ke hotelnya. Bintang dan Damian tak langsung pulang, mereka menghabiskan beberapa saat untuk mengelilingi mall yang nampak sangat megah itu. Hingga pada detik tertentu, mata Bintang jatuh pada stand ice cream yang nampak sangat menggiurkan.
"Mau ice cream?"Tanya Damian dengan nada pelan karna dia juga tak sengaja melihat Bintang menatap stand itu cukup lama.
"Boleh, tuan?"Tanyanya dengan antusias.
"Sekarang turun salju dan kamu juga bukan anak kecil lagi, jadi kenapa harus membeli ice cream? Buang buang waktu saja."Ujar Damian dengan nada pelan, dia menatap Bintang dan menyadari ada raut ke kecewaan di wajahnya.
"Baik, tuan saya mengerti."Balasnya singkat.
Damian menghela nafasnya tak tega, "Yaudah ayo, kamu udah tua masih aja kayak anak kecil."Ujar Damian, dia mengomel tapi langkah kakinya tetap menuntun Bintang untuk segera masuk ke dalam stand ice cream yang sejak tadi mencuri perhatian gadis itu.
"Terimakasih banyak tuan, anda baik sekali."Ujarnya, setelah itu keduanya pun akhirnya menghabiskan waktu dengan menikmati ice cream sebelum akhirnya mereka pergi dari sini dan kembali ke hotel.