Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.
Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?
Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Kesepakatan
“Tidak bisa dibicarakan disini saja?” Tanya Nareya.
Kala datang tepat saat Nareya menutup cafe. Masih mengenakan setelan kerjanya, dengan lengan kemeja sudah digulung setengah.
“Iya tidak bisa” jawab Kala singkat.
Sepanjang perjalanan, di kepala Nareya berputar skenario paling buruk yang bisa terjadi. Pikiran itu semakin memperburuk perasaanya. Dia sudah gusar, tangan ya sibuk memainkan lengan bajunya lalu sesekali menoleh ke jendela mobil. Tampaknya suasana hatinya sudah benar benar buruk, akhirnya dia menoleh ke Kala.
‘apa dia tidak tahu di dunia ini ada musik?’
Berbanding terbalik dengan Nareya, Kala selalu tampak tenang. Ketenangan dia itu justru membuat Nareya tidak lagi memikirkan bagaimana dia menghindari kemungkinan buruk yang akan terjadi. Nareya mulai menatap Kala, hanya diam dengan tatapan datarnya.
“Apa kamu?”tanya Kala
Caranya berhasil, tanpa harus dia yang memulai bicara. “Mau dibawa kemana sih aku? Aku pasti bayar kok hutangnya”
“Ngobrol saat berkendara itu berbahaya, saya mau fokus dulu ini.”
“Ya bicara soal hutang ngapain harus jauh-jauh.”
“Sudah sampai, belum makan kan kamu?”
Seketika mata Nareya membulat melihat tempat mobil ini berhenti. Nareya tahu restoran ini tempat para bintang besar di negara ini melakukan jamuan makan. Tampak depan saja sudah terlihat kalau tidak sembarangan orang yang bisa masuk. Hal pertama yang dia lakukan adalah melihat pakaian dia sendiri. Dia hanya mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam. Ah, rambut—bahkan sudah lepek seharian bekerja.
Kala sudah turun dari mobil, tapi Nareya justru menurunkan sun visor untuk melihat tampilanya. Dia melepaskan ikatan di rambutnya lalu mengambil dry shampo dari tasnya. Ah, utung saja benda itu masih dia terus bawa.
“Kamu! Saya harus membukakan pintu begitu?” ucap Kala saat membuka pintu Nareya. Dan yang terlihat justru dia sedang mengacak-acak rambutnya?
“Sebentar aja, aduh kenapa gak bilang mau ke restoran mahal si. Gue kan jadi keliatan dekil gini!” cerocos spontan.
Nareya menyelesaikan rambutnya lalu mencepol rapih. Kancing paling atas kemeja dia buka dan lenganya digulung sampai siku. Dia kembali menatap kaca, memikirkan langkah apa lagi untuk memperbaiki tampilanya. Mengoleskan lipstik, lalu dia masih mengaduk isi tasnya, ternyata ada ikat pinggang kecil. Dia memutuskan mengeluarkan kemejanya dari celana, lalu bekas kusut disana dia kencangkan dengan ikat pinggang. Bibirnya sedikit melengkung. Ini sudah sedikit lebih layak menurutnya.
Saat akan melangkah keluar dari mobil yang sudah dibuka pintunya oleh Kala, tampak pria itu berdiri tegak dengan tangan bersilangan didepan dadanya. Menatap tajam.
“Kan gak mungkin gue mau terlihat kucel sedangkan lo masih rapi, gak adil banget. Lagian cuma sebentar.”
“Siapa juga yang mau lihat kamu, stupid Nareya.”
Nareya sampai dibuat menganga dengan sebutan Kala . Apa katanya? Stupid Nareya, yang benar saja.
***
“Kita makan dahulu” ucap Kala
Menatap makanan dan tempat ini, Nareya terdiam. Pikiranya penuh.
“Makan ini, sudah saya potongkan.” ujar Kala.
“Sebenarnya mau kamu apa?” tanya Nareya. Masih duduk tegak dengan tangan bertumpuk di pahanya.
Menyelesaikan mencerna makanan yang sudah masuk ke mulutnya dengan perlahan menatap Nareya “Makan dahulu, saya juga pulang bekerja lapar”
“Aku gak bisa makan ini kalau aku belum tau maksud ini semua.”
Kala memahami Nareya pastinya banyak memiliki pikiran negatif dikepalanya. Karena mereka memang terhitungnya asing satu sama lain. “Kamu butuh energi yang cukup untuk berfikir dan membicarakan masalah kita. Makanlah, apapun yang kamu khawatirkan, pikirkan nanti.”
Kala kembali menatap Nareya yang belum juga menyentuh makananya, “Baiklah, tunggu saja sampai saja selesai makan.” ucap Kala.
Kala sebenarnya sudah membaca dari wajahnya, lelah dan lapar itu terlihat jelas. Jadi dia membiarkannya, berpikir kalau sebentar lagi juga Nareya akan menyerah dan memakan makananya.
Tapi nyatanya sampai selesai pun Nareya tetap pada pendiriannya.
“Saya sudah kenyang. Sekarang kita bicara–sebelum itu kamu yakin gak mau makan dulu?”
“Langsung bicara aja. Aku gak bisa bayar sesuai waktu yang kamu kasih, aku minta maaf. Tapi pasti aku ganti kok. Cuma aku minta perpanjangan waktu. Aku berniat meminjam ke bank pakai sertifikat rumah orang tuaku, tapi—yah cuma dapat lima puluh juta. Jadi kalau memang kamu mendesak banget uang itu harus aku kembalikan secepatnya ya—aku cuma bisa lima puluh dulu,” jelas Nareya.
“Gimana?”tanyanya
“Saya tawarkan pekerjaan saja gimana?”
“Apa itu?” tanya Nareya cepat. Dia berharap ada pekerjaan bagus untuknya supaya bisa cepat membayar hutang itu.
Kala justru menusuk potongan daging steak dan membawa ke depan mulut Nareya, “Buka dulu mulutmu. Baru saya jawab.”
Nareya mengernyitkan dahinya, tapi tak lama akhirnya membuka mulutnya. Ah, itu daging paling enak yang pernah dia makan ternyata. Tanpa sadar sampai menutup matanya, dan sedikit bergumam setelah kunyahan pertama.
“Lebih tepatnya saya mau ajak kamu menjadi partner saya.”
“Bisnis?”
Kala tidak langsung menjawab, tapi kembali menyodorkan sepotong lagi dan Nareya otomatis membuka mulutnya.
“Hem, bisa juga disebut bisnis kalau kamu setuju.”
Nareya sangat menikmati steak itu sampai akhirnya dia menyerah dan memakan steak itu sendiri. Sadar sedang ditatap saat dia lupa sudah beberapa suapan belum menanggapi ucapan Kala.
“Ini enak sekali, maaf. Boleh, bisnis apa?”
“Bisnis keluarga saya, kamu menikah dengan saya dan menjalankan bisnis itu.”
“Bisnis keluarga? Bisa.”
Tidak sadar dengan ucapanya Nareya menjawab terlalu cepat, “Heh, maksud lo menikah?”
“Iya menikah dengan saya. Istri saya yang berhak ikut mengelola bisnis keluarga saya. Kalau kamu jadi istri saya, kamu bisa melunasi lebih cepat.”
“Lo gila ya, jangan becanda deh.” ucap Nareya santai. Masih kembali menyuap steak itu lagi dan lagi. Bukan karena lapar, lebih karena meluapkan rasa kesalnya
“Saya tidak bercanda. Tentu saja karena kita belum betul-betul saling mengenal, saya tidak akan menuntut apapun. Mengenal tentu saja perlu waktu.”
“Hah! Lo gila. Enggak. Jawabanya enggak. Udah nanti gue cicil aja tenang gue orangnya gak mungkin ingkar.”
Berkali-kali Nareya mengatakan kata ‘gila’ hari ini. Karena memang benar ini gila, bagaimana bisa pernikahan disamakan dengan berbisnis?
“Ya terserah, pilihanya ada di kamu, saya bisa saja membuat laporan perdata soal piutang untuk ambil aset yang kamu punya secepatnya.”
“Hah?! Lo sebutuh itu tujuh puluh lima juta? Kalau lo emang sebutuh itu ngapain juga lo makan di tempat semewah ini?" ucap Nareya. Tanganya menunjuk makanan mewah di depanya.
"Gak mungkin kan, lo licik!”
“Hey menikah itu bukan permainan yang seenaknya bisa dilakukan begitu saja.”
Kala tetap diam menatap Nareya menunggunya selesai bereaksi. Anehnya, dia tetap sambil menghabiskan steak yang justru semacam hiburan untuk Kala.
Menelan daging terakhir itu Nareya kembali melanjutkan kalimatnya “Pasti ada solusi lain, selain menikah. Lo gak bermoral banget memanfaatkan ini.”
“Sebetulnya ini win-win solutions. Kamu membutuhkan uang cepat dan saya bisa membantu mendapatkannya segera selama ada status. Sama halnya dengan bisnis, pernikahan itu sebuah kesepakatan,” tawar Kala.
“Ini tidak mengerikan seperti yang otakmu sedang katakan. Bukan transaksi, ini kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak. Tidak ada kerugian di sini kan?”
“Lo sengaja memanfaatkan kelemahan gue! Itu kerugian buat gue,” geram Nareya. Sengaja mengecilkan suaranya khawatir menjadi pusat perhatian, tapi saat menoleh ke belakang, tidak ada satu pun customer lain. Hanya mereka berdua di restoran sebesar itu
Nareya sepertinya langsung menyesali keputusannya hari itu untuk tidak menceritakan masalah ini dengan Agis. Nyatanya dia sekarang tidak bisa mendapat solusi masalah ini.
Seketika Nareya terpikir saran Agis, benarkah dia harus mengambil jalan ini?
“Yaudah si, ambil cara licik juga kalau orang yang temen lo hadapi licik. Kalau punya kemungkinan dimanfaatkan ya cari celah buat manfaatkan balik.”
"Oke gue setuju" ucap Nareya dengan cepat. Kedua matanya terpejam erat. Tanganya mengepal kuat di pangkuan.
Nareya jelas tau ini kesalahan. Tapi dia tidak punya pilihan lain menghadapi manusia tidak bermoral di hadapanya.
Bibirnya melengkung seolah mengatakan ini kemenangan, menjulurkan tanganya untuk bersalaman "Oke, sepakat?" ucap Kala.
"Nanti dulu, gue punya syarat. Pertama gue mau selama kesepakatan ini gue kebutuhan gue dipenuhi dan hutang gue lunas."
"Iya"
"iya? tuh kan lo tuh... argh lo bajingan!"
"Bajingan itu hanya untuk laki-laki tidak bertanggung jawab. Saya bukan salah satunya—and watch your attitude!" ucap Kala tak kalah keras dengan nada rendah.
"Your attitude!"ucap Nareya balik menunjuk Kala.
"argh... yang kedua, gue mau kita pisah kamar setelah menikah."
"Ketiga tidak ada yang boleh mencampuri urusan masing-masing."
"Untuk syarat yang ketiga, nantinya ada penyesuaian yang mungkin saya akan mengatur kamu. Tapi kalau kepentingan kamu saya tidak akan ganggu. Saya setuju."
"Bisa gak kasih gue waktu berfikir dulu? gue gak bisa gini. Ini salah."
"Saya sudah kasih kamu waktu tiga hari kan? Saya selamatkan kamu dari ibu-ibu itu, yang saya yakin mereka gak segan seret kamu dan keluarga kamu ke jalur hukum."
Nareya terdiam.
"Sudah saya katakan, ini solusi yang tidak merugikan siapapun." ucap Kala dengan yakin.
Nareya mengulurkan tanganya, "Gue nggak ada pilihan lain" ucap Nareya lirih.
"Sepakat"
"Baiklah, steakmu sudah dimakan habis. Masalah kita sudah mendapat solusi."
Kala mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya, "Sekarang pakai ini."
Kala memasangkan cincin berlian itu, "Nah, sudah. Agenda terakhir hari ini, bicara dengan orang tua kamu. Ayo kita pulang, saya mau bicara dengan orang tua kamu." ucap Kala.
Nareya sekali lagi dibuat menganga oleh Kala. Semuanya yang terjadi ini sama sekali tidak masuk akal.