Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.
Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacaran?
Pukul 17.15, Ciara tiba di sebuah apartemen mewah yang sejak pandangan pertama sudah memberi kesan eksklusif. Gedungnya tinggi menjulang, dinding kaca berkilau memantulkan cahaya sore, dan area lobi dijaga ketat. Jelas, yang tinggal di sana bukan orang sembarangan.
Ciara memejamkan mata sejenak sambil menekan dadanya. Detak jantungnya tidak beraturan, naik turun seperti pikirannya sendiri.
“Kenapa Uncle Altair nyuruh aku ke sini, ya?” gumamnya lirih.
Dengan tangan sedikit gemetar, Ciara memasukkan PIN yang sebelumnya dikirim Altair lewat pesan singkat. Pintu apartemen itu terbuka perlahan, disusul aroma khas ruangan yang bersih dan maskulin.
“Masuklah,” suara Altair terdengar dari dalam.
Ciara melangkah ragu. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi klik pelan yang justru membuat suasana terasa makin sunyi. Apartemen itu luas, rapi, dan terasa dingin meski cahaya senja masuk lewat jendela besar.
Altair berdiri tak jauh dari sana, masih mengenakan kemeja kerjanya. Jasnya sudah dilepas, rambutnya sedikit berantakan. Tatapan matanya langsung tertuju pada Ciara, dalam dan sulit ditebak.
“Kau datang,” ucapnya pelan.
“Iya…,” jawab Ciara singkat. Ia menggenggam tali tasnya erat. “Uncle kelihatan serius di telepon. Ada apa?”
Altair tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, lalu berhenti dengan jarak yang aman. Tatapannya turun sebentar, seolah menata kata-kata yang sejak tadi berdesakan di kepalanya.
“Aku tidak ingin berbohong lagi padamu,” katanya akhirnya. “Dan aku juga tidak ingin kau terus diseret dalam kebingungan.”
Ciara menelan ludah. “Kebingungan soal kita?”
Altair mengangguk pelan. “Aku sudah mencoba menjauh. Aku sudah mencoba bersikap tegas, seperti yang Daddy kamu mau. Tapi perasaanku tidak bisa diatur sesederhana itu.”
Hening menyelimuti ruangan. Ciara merasa napasnya tertahan.
“Kalau gitu,” ucapnya dengan suara bergetar, “kenapa Uncle tetap manggil aku ke sini?”
Altair mengangkat wajahnya, menatap Ciara lurus tanpa menghindar sedikit pun.
“Karena aku ingin kau mendengarnya langsung dariku,” jawabnya tenang namun tegas. “Aku tidak ingin kau mengira aku pergi karena aku tidak peduli.”
Ciara mengepalkan jemarinya. Dadanya terasa penuh, campuran antara lega dan takut.
“Dan sekarang?” tanya Ciara pelan.
Altair menarik napas panjang. “Sekarang, aku ingin kita bicara jujur. Tanpa sembunyi. Tanpa orang lain.”
Ciara mengangguk perlahan. Ia tahu, sejak melangkah masuk ke apartemen ini, tak ada lagi jalan mundur. Apa pun yang akan dibicarakan Altair malam itu, semuanya akan mengubah arah hubungan mereka selamanya.
Altair melangkah lebih dekat. Tangannya terangkat, lalu meraih kedua tangan Ciara dan menggenggamnya erat, seolah takut gadis itu akan menghilang jika ia melepasnya. Hangat dan nyata. Membuat dadanya terasa sesak sekaligus lega.
Kedua matanya menatap netra Ciara dalam-dalam, tanpa topeng dingin yang biasa ia pakai.
“Ciara…” suaranya rendah, sedikit serak. “Aku sudah terlalu lama berbohong. Pada tuan Lorenzo, pada diriku sendiri… dan yang paling menyakitkan, padamu.”
Ciara menahan napas. Tatapan Altair membuat lututnya terasa lemas.
“Aku selalu bersikap acuh. Dingin. Seolah kau tidak berarti apa-apa,” lanjut Altair. Ibu jarinya mengusap punggung tangan Ciara dengan gerakan kecil yang nyaris tak terasa. “Bukan karena aku tidak peduli. Tapi justru karena aku terlalu peduli.”
“Uncle…” suara Ciara nyaris berbisik.
“Kau masih SMA. Dunia mu masih panjang, masih penuh kemungkinan,” kata Altair lirih. “Sedangkan aku pria berusia tiga puluh tahun, dengan hidup yang sudah terlanjur rumit. Aku tahu betul bagaimana orang akan memandang kita. Aku tahu apa yang tuan Lorenzo takutkan.”
Altair menelan ludah, rahangnya mengeras sebentar sebelum kembali melunak.
“Tuan Lorenzo melarangnya. Dan aku memahaminya. Sebagai ayah, dia hanya ingin melindungimu.” Altair menghela napas panjang. “Karena itu aku memilih diam. Menjauh. Membuatmu membenciku, kalau perlu.”
Kedua mata Ciara mulai berkaca-kaca.
“Tapi aku gagal,” ucap Altair jujur. “Aku gagal setiap kali melihatmu tersenyum. Setiap kali kau memanggil namaku. Setiap kali kau menatapku seolah aku adalah tempat pulang.”
Altair sedikit menunduk agar sejajar dengan Ciara.
“Aku mencintaimu, Ciara,” katanya akhirnya, tegas namun penuh kehati-hatian. “Bukan cinta yang main-main. Bukan juga keinginan sesaat. Tapi cinta yang membuatku memilih menahan diri, meski itu menyakitkan.”
Air mata Ciara jatuh tanpa bisa ditahan.
“Aku tidak pernah berniat merusak masa depanmu,” lanjut Altair pelan. “Aku hanya ingin kau tahu satu hal. Semua jarak yang kuciptakan… semua sikap dingin itu… bukan karena aku tidak punya perasaan. Tapi karena aku punya terlalu banyak perasaan.”
Ia menggenggam tangan Ciara sedikit lebih erat.
“Apa pun keputusanmu nanti, aku akan menghormatinya. Aku hanya tidak ingin kau hidup dengan kebohongan, mengira aku menjauh karena aku tidak mencintaimu.”
Ciara terisak, namun bibirnya justru melengkung tipis. Di balik air mata itu, ada kelegaan yang akhirnya menemukan tempatnya.
“Terima kasih sudah jujur, Uncle,” ucapnya lirih.
Di dalam apartemen yang sunyi itu, pengakuan Altair menggantung di udara, berat, tulus, dan tak mungkin lagi ditarik kembali.
Altair menarik napas panjang, dadanya naik turun tidak beraturan. Sentuhan singkat itu sudah cukup membuat pikirannya berantakan, tapi wajahnya tetap ia paksa tenang. Ia melepaskan genggaman tangannya dari Ciara, lalu mundur selangkah, menciptakan jarak yang jelas di antara mereka.
“Ciara,” ucapnya lebih pelan, namun nadanya tegas. “Justru karena itu aku harus menghentikanmu.”
Ciara mengerucutkan bibirnya, masih dengan senyum kecil yang keras kepala. “Aku nggak nyesel.”
“Tapi aku yang harus bertanggung jawab,” balas Altair cepat. “Kau mungkin menganggap itu perasaan sederhana, tapi untukku… itu bisa menghancurkan banyak hal. Hidupmu. Hidupku. Bahkan hubunganmu dengan tuan Lorenzo.”
Ia mengusap rambutnya sendiri dengan frustasi, lalu menatap Ciara lagi. Kali ini tatapannya penuh rasa bersalah.
“Aku tidak menolak perasaanmu,” lanjutnya jujur. “Aku hanya menolak waktu yang salah.”
Ciara terdiam. Senyumnya memudar, berganti dengan ekspresi terluka namun juga dewasa, seolah untuk pertama kalinya ia benar-benar memahami beratnya situasi itu.
“Jadi… aku harus nunggu?” tanya Ciara lirih.
Altair terdiam cukup lama sebelum menjawab. “Jika nanti kau sudah benar-benar dewasa. Jika suatu hari kau masih memilihku dengan kesadaran penuh, tanpa paksaan, tanpa pemberontakan… maka aku tidak akan lari lagi.”
Ia menatap Ciara dalam-dalam.
“Tapi hari ini, aku harus menjadi orang yang mundur.”
Sunyi menyelimuti apartemen itu. Bukan sunyi yang dingin, melainkan sunyi yang sarat dengan perasaan yang belum menemukan tempatnya.
Dan untuk pertama kalinya, Ciara tidak membantah.
“Jadi, sekarang status kita apa? Pacaran, kan?” tanya Ciara memastikan. Ia tidak ingin terlalu percaya diri, makanya ia memilih bertanya, meski kedua pipinya merona.
Altair menatap wajah Ciara beberapa detik sebelum menjawab. “Yang kamu mau apa?” justru balik bertanya.
“Ya pacaran lah. Masa iya jadi HTS-an terus. Nggak seru dong,” jawab Ciara dengan bibir menjebik manja.
“Kamu nggak takut kalau nanti Daddy kamu tahu tentang kita?” Altair mengingatkan, suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya.
“Enggak. Selama uncle ada, nggak ada yang perlu aku takutin. Lagian selama ini Daddy juga nggak terlalu peduli tentang aku. Bahkan diam-diam Daddy juga nikah lagi dan nggak pernah ngasih tahu aku. Aku cari tahu sendiri.”
Altair terdiam. Alisnya berkerut mendengar pengakuan itu.
“Mungkin Daddy kamu takut kalau kamu akan marah saat tahu dia sudah menikah lagi,” ucapnya pelan.
“Harusnya nggak gitu. Itu sama aja berbohong, kan?” sahut Ciara cepat.
Altair mengangguk pelan. Ia menghela napas panjang, lalu tanpa sadar meraih Ciara dan menariknya ke dalam pelukan singkat. Pelukan itu tidak lama, hanya sebentar, seolah ia sendiri sedang menahan sesuatu di dalam dadanya.
Namun tak sampai beberapa detik, Altair melepaskan pelukan itu. Ia memegang bahu Ciara, menatapnya serius.
“Ciara, dengarkan aku baik-baik,” katanya tegas tapi lembut. “Aku nggak bisa menyebut ini pacaran seperti yang kamu bayangkan.”
Ciara menegang. “Kenapa?”
“Karena aku nggak mau melukai masa depan kamu,” jawab Altair jujur. “Aku nggak mau perasaanmu hari ini berubah jadi penyesalan suatu hari nanti.”
Ia mengusap rambutnya sendiri, frustasi.
“Aku mau kita jujur satu sama lain. Aku peduli sama kamu, tapi aku juga harus jadi orang yang paling menjaga batas.”
Ciara menatap Altair cukup lama. Matanya berkaca-kaca, tapi kali ini ia tidak menangis.
“Jadi aku harus nunggu?” tanyanya lirih.
Altair mengangguk.
“Kalau nanti kamu sudah benar-benar dewasa, dan perasaan itu masih ada… aku akan berdiri di depan Daddy kamu sendiri.”
Ucapan itu membuat Ciara terdiam. Dadanya terasa hangat sekaligus nyeri.
“Berarti sekarang… aku bukan siapa-siapa buat uncle?” tanyanya pelan.
Altair menggeleng.
“Kamu bukan ‘bukan siapa-siapa’. Kamu seseorang yang sangat berarti. Justru karena itu aku nggak mau salah langkah.”
Sunyi kembali menyelimuti ruangan itu. Bukan sunyi yang canggung, melainkan sunyi yang penuh perasaan tertahan.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak geessss❤️❤️