Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: PELARIAN DI ATAS SALJU
BAB 21: PELARIAN DI ATAS SALJU
Ledakan di gudang tua itu menyisakan telinga yang berdenging dan aroma belerang yang mencekik. Asap hitam membubung tinggi, menyamarkan pandangan Aryan Malik dan anak buahnya yang berada di luar. Di dalam kekacauan itu, Aarohi merasakan sebuah tangan kekar mencengkeram lengannya dan menariknya paksa menuju pintu keluar belakang.
"Lepaskan aku, Deep!" gertak Aarohi, meski suaranya teredam oleh suara reruntuhan yang terbakar.
"Diam dan lari jika kau tidak ingin menjadi abu!" balas Deep dengan nada memerintah yang tidak bisa dibantah.
Mereka berdua melompat ke dalam sebuah mobil Jeep tua yang tersembunyi di balik semak-semak. Deep menghidupkan mesin dengan kasar, dan mobil itu menderu, membelah salju yang kini turun semakin lebat. Di belakang mereka, lampu-lampu mobil anak buah Malik mulai terlihat mengejar seperti mata serigala yang lapar di tengah kegelapan.
Aarohi duduk di kursi penumpang, napasnya memburu. Ia masih memegang hard drive berisi rekaman kematian Vivan Malik dengan erat. Di sampingnya, Deep menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menahan luka di lengannya yang kembali terbuka akibat perkelahian tadi.
"Kenapa kau membantuku?" tanya Aarohi dengan nada penuh kecurigaan. "Bukannya kau sudah bersekutu dengan Aryan untuk menghancurkanku?"
Deep tertawa getir, matanya tetap fokus pada jalanan pegunungan yang licin dan berkelok. "Aryan Malik tidak mengenal kata sekutu, Aarohi. Dia hanya mengenal budak. Begitu dia mendapatkan rekaman itu, dia akan melenyapkanku sama seperti dia mencoba melenyapkanmu. Aku lebih baik bertaruh nyawa dengan wanita yang membenciku daripada dengan ular yang tidak punya kehormatan."
Mobil Jeep itu berguncang hebat saat sebuah peluru menembus kaca belakang. Aryan Malik tidak main-main; ia memerintahkan anak buahnya untuk menembak mati tanpa ragu.
"Ambil senjata di laci itu!" perintah Deep. "Tembak bannya, bukan orangnya. Kita hanya perlu mengulur waktu sampai kita mencapai perbatasan distrik!"
Aarohi membuka laci dan menemukan sebuah senapan serbu ringan. Ia merayap keluar melalui jendela, melawan angin dingin yang menusuk wajahnya. Dalam hitungan detik, ia melepaskan serangkaian tembakan. Di bawah cahaya lampu jalan tahun 2026 yang redup, ia berhasil mengenai ban depan mobil pengejar pertama. Mobil itu melintir, menabrak pembatas jalan, dan meledak, menciptakan rintangan bagi mobil-mobil di belakangnya.
Setelah beberapa menit pengejaran yang mematikan, mereka berhasil masuk ke dalam hutan pinus yang lebat, di mana jalur mobil menjadi sangat sempit dan sulit dilacak. Deep mematikan lampu depan mobil dan perlahan-lahan menghentikan kendaraan di bawah naungan pohon raksasa.
Keheningan seketika menyergap. Hanya terdengar suara napas mereka yang tidak teratur dan suara mesin mobil yang panas bersentuhan dengan salju dingin.
Aarohi langsung menodongkan senjatanya ke arah kepala Deep. "Sekarang, berikan aku satu alasan kenapa aku tidak membunuhmu di sini?"
Deep tidak bergerak. Ia menyandarkan kepalanya di kursi, menatap Aarohi dengan tatapan yang sangat lelah—tatapan yang tidak pernah Aarohi lihat sebelumnya. "Kau ingin keadilan untuk orang tuamu, kan? Kau pikir aku yang memerintahkan pembakaran rumah itu."
"Aku punya rekamannya, Deep! Suaramu ada di sana!" teriak Aarohi, air mata kemarahan mulai menggenang.
"Suara itu asli, Aarohi. Tapi perintah itu bukan datang dariku," ucap Deep dengan suara yang sangat pelan. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah foto usang yang setengah terbakar—foto yang selama ini ia sembunyikan bahkan dari brankas hitamnya.
Dalam foto itu, terlihat Ayah Deep berdiri di samping seorang pria yang wajahnya sangat mirip dengan... Aryan Malik.
"Ayahku dan Ayah Aryan adalah rekan bisnis yang sangat dekat. Ayahku yang memberikan perintah itu di bawah tekanan keluarga Malik karena ayahmu, sang jaksa, menemukan bukti perdagangan manusia yang mereka jalankan bersama," Deep menatap Aarohi dalam-dalam. "Aku hanya seorang remaja saat itu. Aku mencoba menghentikannya, tapi aku terlambat. Rekaman yang kau dengar... itu adalah usahaku untuk menyelamatkanmu, bukan untuk membunuhmu."
Aarohi terpaku. Dunianya seolah berputar. Selama bertahun-tahun, dendamnya terpusat pada satu nama: Deep Raj Singh. Namun sekarang, kebenaran baru menunjukkan bahwa musuhnya jauh lebih besar dan lebih berakar daripada yang ia bayangkan.
"Jika kau berkata jujur, kenapa kau tidak mengatakannya saat di penjara?" tanya Aarohi, suaranya bergetar.
"Karena aku mencintaimu dengan cara yang salah, Aarohi," bisik Deep. "Aku pikir dengan menjebakmu, aku melindungimu dari Tara dan keluarga Malik. Aku pikir jika kau membenciku, kau akan tetap hidup. Tapi aku salah. Aku menghancurkanmu lebih parah daripada yang mereka lakukan."
Tiba-tiba, suara helikopter terdengar di atas mereka. Lampu sorot besar menyapu hutan pinus, mencari keberadaan mereka. Aryan Malik telah mengerahkan kekuatan udaranya.
"Mereka tidak akan berhenti," kata Deep sambil menyalakan mesin kembali. "Rekaman di tanganmu itu adalah kunci untuk menghancurkan tiga generasi keluarga Malik. Itu sebabnya mereka menginginkannya lebih dari nyawa mereka sendiri."
Aarohi menatap hard drive di pangkuannya. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi hanya bertarung untuk dirinya sendiri. Ia memegang senjata yang bisa membersihkan seluruh Shimla dari kegelapan.
"Ke mana kita akan pergi?" tanya Aarohi, kali ini tanpa nada permusuhan yang tajam.
Deep mengarahkan mobil menuju jalan setapak yang menuju ke arah biara tua di puncak gunung. "Ke tempat di mana Abhimanyu sudah menunggu. Kita akan membuat rencana terakhir. Jika kita harus mati malam ini, kita akan memastikan keluarga Malik jatuh bersama kita."
Di bawah langit Shimla yang bersalju di tahun 2026, sebuah aliansi yang tidak mungkin telah terbentuk. Aarohi dan Deep, dua jiwa yang saling menghancurkan, kini terikat oleh satu misi yang sama. Pelarian ini bukan lagi tentang melarikan diri dari masa lalu, melainkan tentang mengejar keadilan yang selama ini tertutup oleh lapisan duka dan dusta.
.