sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Setelah penyerbuan besar di kasino keluarga Lin, kami akhirnya menaiki pesawat jet pribadi keluarga Tong. Prototype pemindai itu kini sudah berada di tangan keluarga Tong.
setelah tiga puluh menit mengudara, kami tiba di Hongkong. White dan si kembar turun di sana.
"apa rencanamu kali ini, Kenzy? Bukannya terlalu berbahaya jika menyimpan prototype pemindai itu?" white bertanya sebelum turun dari pesawat jet pribadiku.
"aku sudah memikirkannya sejak awal, white. Tenangkan saja dirimu." aku meraih koper berisi lima batang emas. White yang tahu apa isi koper itu langsung menggeleng. Aku tidak terkejut mendapati white yang menolak bayarannya, karena dia anggap ini sebagai balasan karena telah membantunya dulu.
Setelah tersisa aku dan Edwin di pesawat, aku menyuruh untuk berangkat ke Manila. Edwin mengangguk lantas mengudara lagi sekitar lima belas menit.
pesawat jet mulus mendarat di bandara. Aku melangkah turun. Sedan hitam telah menungguku di hanggar pesawat. Aku punya kontak di berbagai negara. Lewat telepon singkat, mereka bisa menyiapkan kebutuhan logistik setiba aku disana. Aku mengemudikan sendiri mobil sedan itu menuju pusat kota Manila
Mobil yang kukendarai sudah masuk di jalur super padat kota Manila. Belasan rumah susun berdiri di sana, menggantikan kedai makanan dengan kepul asap dari kuali. Namun, selain itu sisanya sama. Jalanan sempit, aroma busuk parit, sampah menggunung, preman yang mengatur parkiran, anak anak jalanan yang berpakaian lusuh, gelandangan peminta minta dan loket peminjaman uang dengan bunga selangit. Tempat ini tidak pernah berubah sejak dulu.
Inilah Tondo, kota Manila.
Aku akan bertemu Salonga di sini.
...****************...
Sepagi ini, ruangan latihan menembak itu dipenuhi belasan pengunjung. Mereka mengenakan headset pelindung bising, kacamata, dan rompi penembak.
Aku melintasi bagian depan. Dua pemuda yang menjaga meja penerima tamu segera mengenaliku.
"Salonga ada di ruangan latihan belakang, tuan."
Aku mengangguk.
Salonga sudah pensiun dari profesi membunuh bayaran. Sudah sepuluh tahun terakhir dia banting setir dan membuka klub menembak di Tondo. Dia membeli lahan luas disana, kemudian menyulapnya menjadi tempat menembak terlengkap dan terbaik di seluruh Asia. Lulusan klub ini tercatat menjadi atlet tembak terkenal. Mulai dari anggota militer, kepolisian, satuan khusus, atau untuk menjaga diri. Klub menembak menerima murid resmi, memegang lisensi senjata api, dan taat atas regulasi.
Tapi itu hanya separuh gedung saja, sisanya Salonga masih punya kelas khusus untuk pemuda yang dia rekrut. Ruangan mereka ada di belakang, Salonga langsung yang menjadi instruktur nya, dibantu dua murid senior. Aku hampir setiap tahun mengunjungi Salonga. Aku sudah hafal bangunan klub menembak. Aku melangkah menuju ruangan dan mendorong pintu besi. Suara pintu terbuka terdengar halus. Suara tembakan terdengar bersahut sahutan. Ada delapan orang yang tengah berlatih menembak sasaran bergerak di dinding. Salonga berdiri di belakangnya sambil memakai seperti biasanya. .
Aku menahan tawa, melangkah lebih dekat.
"cukup! Hentikan tembakan kalian!" Salonga berseru kesal.
Suara tembakan langsung terhenti.
"kalian kira harga peluru murah, hah? Dua belas sasaran bergerak dan hanya kena empat? Kalian sudah mati dari tadi jika itu pertarungan sungguhan." wajah Salonga merah padam.
Aku kali ini tertawa. Membuat Salonga menoleh.
"halo Salonga." sapaku.
"ah ini kejutan yang menyenangkan. Kemari kau, Kenzy." Salonga berseru kepadaku, wajahnya yang merah padam berubah ceria.
Dia bukannya bertanya apa kabarku atau kapan aku tiba di Manila, melainkan langsung melemparkan pistol.
"kau perlihatkan pada delapan murid bodohku ini, bagaimana menjadi seorang penembak yang baik."
Aku cekatan menangkapnya
"sekarang?"
"tentu saja sekarang, Kenzy! Aku tidak punya waktu berdiri di sini sepanjang hari."
Aku nyengir lebar. Aku hanya bergurau, senang menggodanya. Baiklah, sambil memegang pistol, aku meletakkan tas punggung, melepas jas, lalu menyampirkannya di kursi. Aku mengambil posisi dan menggenggam pistol lebih erat. Setelah melambaikan tangan memberi kode, salah satu murid senior menekan tombol. Dua belas target bergerak cepat di dinding. Tanganku tidak kalah cepat mulai menarik pelatuk. Suara letusan terdengar susul menyusul, dua belas sasaran itu bertumbangan.
Enam detik. Ruangan latihan kembali lengang.
"bagus sekali, Kenzy." Salonga terkekeh. "nah, kalian lihat! Seperti itulah penembak yang menggunakan otaknya. Cepat, akurat, bahkan tidak berkedip menghabisi sasarannya. Nasib. Aku harus mengajari kalian setiap pagi. Matan hati, stres."
8 murid salonga terdiam wajah mereka tertekuk . Aku tahu rasanya dimaki-maki seperti ini . Mereka masih lebih baik karena di Maki ramai-ramai , aku dulu harus mengunyah kalimat kasar dan menyakitkan dari salonga sendirian .
"ikuti aku, Kenzy temani orang tua ini sarapan."
salonga sudah melangkah menuju pintu besi , dua murid senior segera menggantikan .
Aku mengikutinya.
Lima menit, kami sudah duduk di teras lantai 4 . Menatap kawasan Tondo yang super padat . Klub menembak salonga terjepit Rumah Susun dan bangunan-bangunan lain .
"ini bukan jadwalku seperti biasa, ada apa Kenzy?" salonga tanpa basa-basi bertanya sambil tangannya menyeduh kopi . Piring-piring berisi kue khas Manila tertata rapi di atas meja kayu .
Aku ikut menyeduh kopi , "hanya masalah kecil, Salonga"
Salonga menatapku datar ."kau tidak pernah membawa masalah kecil ke rumahku . Bahkan saat kau masih sepantaran murid-muridku tadi kau sudah menjadi masalah serius bagiku ."
Aku tertawa , menyeruput kopi dengan rileks sambil mengambil sepotong kue .
"tauke besar punya masalah dengan keluarga Lin, tadi malam aku menyelesaikannya. Kepala keluarga Lin tewas."
"kenapa kau membunuh kepala keluarga Lin?"
"mereka mengambil benda yang sangat penting milik kami sebuah Prototype teknologi terkini . Aku mengambilnya kembali . Itulah Alasannya kenapa aku tiba-tiba mengunjungimu . Aku ingin kau menyimpannya sementara waktu hingga semua keributan berakhir . Hanya itu ."
"itu tidak pernah 'hanya itu', Kenzy" Salonga menggeleng. "dua tahun lalu, kau juga menitipkan benda berharga di sini, kau bilang 'hanya itu'. Apa yang terjadi kemudian? Kami harus bertahan dua hari dua malam dari serbuan puluhan orang tak dikenal. Aku kehilangan empat muridku."
"tapi itu menyenangkan, bukan?" aku menyeringai, "kau tidak pernah meninggalkan masa lalu, Salonga. Merasakan sensasi berada dalam pertarungan saat menghadapi musuh Kau boleh saja mengaku Sudah pensiun tapi kau merindukan masa-masa terbaik itu . Murid-murid khususmu juga menyukainya mereka jadi punya kesempatan berlatih dalam pertempuran "
"kalau soal itu, kau benar, Kenzy" Salonga terkekeh.
Aku meraih tas punggung, dia sudah setuju. Tawa Salonga menyiratkan kesediaannya untuk menyimpan prototype pemindai. Aku meletakkan tas punggung itu di atas meja. Salonga meliriknya tidak peduli. Dia kembali meraih gelas kopi, menyeruputnya nikmat.
Mendadak ponselku berbunyi, aku mengangkatnya. Lantas mengangguk. aku harus segera kembali ke ibu kota sekarang.