bagaimana jika kalian ada di posisi ku, dimana aku di jodoh kan oleh orang tua yang posesif dengan seorang lelaki yang pernah kalian liat tengah bercumbu dengan wanita lain, dan parahnya lagi dia adalah seorang psikopat
rumit amat hidup ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18,Minggu Yang Hujan
selamat membaca😍😘
Ini adalah hari minggu dan Diana kini tengah asik menonton TV di apartemen Cherly, semalam adalah malam yang indah menurut diana membuat diana kini melamun.
"Woy, lagi nonton juga, ngelamun mulu lu mah, " ucap Cherly yang mengagetkan Diana sambil tertawa, sementara diana hanya menatap kesal pada Cherly.
Kini Cherly duduk di samping Diana.
"Semalam lu kemana?, gue tidur sendiri" sambung Cherly dengan mata yang fokus pada TV.
"Kepo, " balas diana sambil menatap Cherly, dan tersenyum malu.
"Kampret memang, " malas Cherly sambil memakan kripik yang ia bawa.
"Oh iya semalam si Juan pulang kapan? " tanya Diana.
"Emang dia kesini gitu? , gue gak tau, " balas Cherly sambil menatap diana.
"Serius loh gak tau? , orang semalam dia kesini kok, apa jangan jangan dia gak mau bangunin lu deh, gak tega, " balas Diana sambil membalas tatapan Cherly.
"Mungkin, " kini Cherly memalingkan kembali tatapannya.
Tok tok tok.
"Buka sono!" suruh Cherly pada Diana.
"Iya gue buka, " kini Diana berjalan membuka pintu nya, setelah membuka pintunya ternyata dia adalah Julian.
Dan lagi lagi Julian masuk begitu saja, menabrak Diana yang masih di depan pintu, serasa rumah sendiri kali, kini Julian dengan sombong nya duduk di sofa dengan satu kaki ia angkat ke atas kakinya satunya lagi.
Sementara diana hanya bisa bernafas kasar melihat kelakuan Julian.
"Ganti baju, " dingin Julian pada Diana tanpa ekspresi sama sekali.
"Mau kemana? " tanya Diana kesal, selalu saja Julian bersikap dingin padanya.
"Ganti aja kenapa sih, " sinis Julian.
Sementara Cherly hanya menatap aneh mereka, harusnya kan pacaran itu mesra-mesraan, ini mah apa berantem mulu.
Kini Cherly kembali memalingkan pandangan nya pada mereka, sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya aku ganti baju, " kesal Diana sambil berjalan menuju lemari punya Cherly.
"Gue pinjam baju yah? " ucap Diana pada Cherly sambil memasang muka memelas.
"Hm" singkat Cherly tanpa menatap Diana.
Diana mulai mencari baju yang akan ia pakai, setelah menemukan pakaian yang menurutnya sudah pas kini ia berjalan menuju kamar mandinya, dengan segala sumpah serapah nya terhadap Julian.
Setelah selesai mengganti baju kini ia berjalan menuju Julian, dengan muka yang cemberut,
"Udah, " sinis Diana, yang kini berada di depan Julian.
Tanpa menjawab ucapan Diana Julian hanya menatap Diana dari atas hingga bawah, setelah selesai ia berdiri dan menarik tangan Diana.
"Eh mau kemana? " tanya Diana pada Julian yang tiba-tiba menariknya.
"Ikut aja, gak usah banyak tanya, " ucap Julian dengan suara beratnya.
Ini Cherly yang melihat mereka hanya bisa kembali menggelengkan kepalanya.
Kini Diana dan Julian sudah berada di luar apartemen nya.
"Mau kemana sih? " tanya Diana sekali lagi, sungguh ia sangat tidak mengerti jalan pikiran Julian.
Julian tidak menjawab ucapan Diana ia hanya merangkul Diana dengan sambil terus berjalan.
"Kok gak naik mobil sih? " kesal Diana.
"Kan lebih enak jalan kaki, " ucap Julian datar.
"Tapi kan capek, ".
"Kan ada aku, kalau kamu capek, nanti aku gendong, " ucap Julian manis.
"Emang kuat kamu gendong aku? " tantang Diana sambil tersenyum dan menaikan satu alisnya.
"Wah pacar aku udah mulai berani nantang aku, aku kan udah bilang aku gak suka di tantang, " ucap julian sambil langsung menggendong Diana dan berjalan menelusuri kota.
"Turunin Julian, " teriak Diana histeris, meminta Julian menurunkannya.
"Tadi nantang, " balas Julian sambil tersenyum,
"iya aku tau kamu kuat, udah turunin aku, " ucap Diana.
Kini Julian kembali menurunkan Diana, dan berjalan kembali sambil saling merangkul, kini mereka sudah jalan cukup jauh, ternyata Julian membawa diana pada sebuah taman.
Kini mereka sudah sampai di taman yang begitu indah.
"Ngapain kamu bawa aku kesini? " tanya Diana sambil menatap Julian heran.
"Kenapa, gak suka? " ketus Julian.
"Aku cuman nanya Julian, " ucap Diana dengan penuh penekanan.
"Aku tau, " datar Julian.
"Duduk di sana yuk, " ajak Diana sambil menunjuk bangku kosong di samping mereka
Kini Julian mengiyakan ajakan Diana, dan mereka pun duduk di sana.
Diana memang benar-benar merasa tenang saat ada di sana, hembusan angin udara segar, begitu menusuk pada dirinya.
Kini Diana merentang kan tangannya, sambil menutup matanya, ia ingin merasakan angin yang berhembus perlahan melewati tubuhnya, ini juga waktu baru pukul 9 pagi.
Namun cuaca sangat mendung, bahkan langit sudah berawan.
"Kayaknya mau hujan deh, " ucap Diana sambil menatap ke arah langit.
"Ya udah neduh yuk, nanti ke hujanan, " ajak Julian pada Diana, Julian dan Diana berjalan pada sebuah rumah kecil yang tidak jauh dari sana.
Benar saja baru saja mereka sampai di sana, hujan deras telah turun membasahi bumi yang kering.
Namun seperti nya Diana sedikit kehujanan, kini cuaca semakin dingin, diana yang sedang duduk dengan Julian di kursi pun sesekali mengelus pundaknya kedinginan.
Sementara Julian yang tidak bisa melihat gadisnya kedinginan langsung membuka sweater nya dan di berikan pada Diana.
"Pakai ni, supaya gak terlalu dingin, " lembut Julian sambil menatap hangat diana.
Kini Diana mengambil sweater yang di berikan Julian dan langsung memakai nya, ia memang kini sedang benar-benar kedinginan.
"Julian, " Panggil Diana sambil menatap Julian.
"Apa? " datar Julian yang juga menatap Diana.
"Aku laper, " balas Diana sambil tersenyum malu sebenarnya ia malu berkata seperti itu namun apa daya, karena perutnya saat ini lebih penting daripada rasa malunya.
"Gue mau cari makanan kemana? , ujan Diana," balas Julian.
"Aku gak nyuruh kamu cari makanan kok, aku cuman bilang aku laper aja, " ucap Diana dengan muka yang sudah pucat,
"Lu sakit? " khawatir Julian yang sudah melihat muka Diana begitu pucat.
"Gue gak sakit kok, " ucap Diana pelan.
kini Julian memegang tangan dia ia menggenggam tangan Diana lalu ia gosok-gosokkan tangan nya yang sedang memegang tangan Diana.
Kini Diana malah menatap Julian, ia tersenyum melihat Julian begitu perhatian padanya, bagaimana bisa seorang Psikopat bisa peduli pada gadis urakan seperti Diana.
"Ya udah lu tunggu di sini, gue cari makan dulu yah, " ucap Julian sebelum pergi mencari makanan untuk Diana.
"Gak usah, aku kuat kok, " ucap Diana sambil menarik tangan Julian, ia tidak ingin Julian pergi dari sana.
"Lepasin, aku gak bisa lihat gadisku mati kelaparan, " ucap Julian sambil melepaskan tangan Diana di tangannya.
Kini Julian berlari menembus hujan, kini seperti nya ia tengah mencari penjual makanan di sekitar sana.
Sementara Diana yang melihat Julian yang kini berlari ke sana ke mari, hanya bisa tersenyum, entah lah hati Diana saat ini begitu bahagia, ia sendiri tidak tau perasaan apa yang ia rasakan sebenarnya.
Diana kini masih duduk di kursi dengan kaki yang ia angkat ke kursi karena dingin dengan tangan yang masih memeluk diri sendiri.