Axeline tumbuh dengan perasaan yang tidak terelakkan pada kakak sepupunya sendiri, Keynan. Namun, kebersamaan mereka terputus saat Keynan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.
Lima tahun berlalu, tapi tidak membuat perasaan Axeline berubah. Tapi, saat Keynan kembali, ia bukan lagi sosok yang sama. Sikapnya dingin, seolah memberi jarak di antara mereka.
Namun, semua berubah saat sebuah insiden membuat mereka terjebak dalam hubungan yang tidak seharusnya terjadi.
Sikap Keynan membuat Axeline memilih untuk menjauh, dan menjaga jarak dengan Keynan. Terlebih saat tahu, Keynan mempunyai kekasih. Dia ingin melupakan segalanya, tanpa mencari tahu kebenarannya, tanpa menyadari fakta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Keynan menggendong Axeline dalam posisi bridal, membawanya keluar dari kamar dengan langkah tegas. Napasnya sedikit memburu, amarah masih membara dalam dadanya.
Di luar, Andrian sudah menunggu bersama dua bodyguard yang mencengkeram lengan Mita dan pria bejat itu. Wajah Mita pucat, sementara pria yang tadi hampir mencelakai Axeline hanya bisa merintih ketakutan.
"Bawa mereka. Aku sendiri yang akan memberi mereka pelajaran," perintah Keynan.
"Baik, Tuan."
Tanpa menoleh lagi, Keynan mengalihkan perhatiannya ke Axeline yang tampak lemas dalam dekapannya. Namun, ada sesuatu dalam sorot mata wanita itu yang membuat Keynan merasa tidak tenang, seolah ia sedang berusaha menahan sesuatu.
Tidak ingin mengambil risiko, Keynan mempererat pelukannya dan melangkah lebih cepat keluar dari bar itu. Musik di bar masih menggema, menghantam gendang telinga dengan keras. Namun tiba-tiba, suara lirih terdengar dari Axeline.
“Kak!”
Keynan hampir tidak bisa mendengarnya, tetapi begitu tangan Axeline meraih kerah jasnya, langkahnya terhenti. Dahinya mengerut saat menatap Axeline.
"Ada apa?" tanyanya, mencoba menangkap ekspresi wanita itu.
Namun, bukannya menjawab, Axeline hanya menatap bibir Keynan yang sedikit terbuka, membuat sorot matanya berubah. Perlahan, tanpa peringatan, Axeline mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman.
Keynan tertegun. Ia membeku, namun membiarkan Axeline mencium bibirnya. Awalnya lembut, tetapi semakin lama, ciuman itu semakin buas, seolah ada sesuatu yang mengendalikan wanita itu.
Keynan mengerang pelan, bukan karena menikmati, melainkan karena ia sadar ada yang tidak beres dengan Axeline.
Ketika ia mencoba menarik diri, Axeline berbisik dengan suara hampir tidak terdengar, tetapi Keynan bisa membaca gerakan bibirnya dengan jelas.
"Aku menginginkanmu, Kak. Rasanya tidak nyaman."
Darah Keynan berdesir.
"Sial," umpat Keynan. Dengan cepat, ia membopong Axeline lebih erat, menembus kerumunan dan keluar dari bar. Langkahnya terlihat terburu-buru saat menuju mobilnya. Tidak peduli apa yang terjadi malam ini, ia harus memastikan Axeline baik-baik saja.
Keynan membuka pintu mobil dan dengan hati-hati menurunkan Axeline ke kursi penumpang. Setelah memasangkan seatbelt untuknya, ia menutup pintu dengan cepat, lalu mengitari mobil untuk mengambil posisi di belakang kemudi.
Begitu duduk, pandangannya langsung tertuju pada Axeline yang mulai menyentuh pahanya, jemarinya bergerak perlahan seolah mencari sesuatu yang bisa menenangkan gejolak dalam dirinya.
Keynan memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Dengan cepat, ia menyingkirkan tangan Axeline dari pahanya. "Duduk yang benar, Axeline."
Namun, bukannya menurut, Axeline justru semakin menjadi. Dengan gerakan cepat, ia menarik kerah kemeja Keynan dan kembali mencium bibirnya, kali ini lebih dalam, penuh hasrat yang menggoyahkan pertahanan pria itu. Bibir Axeline kemudian turun ke leher Keynan, meninggalkan jejak panas di kulitnya.
Rahang Keynan mengatup erat. Ia mengepalkan tangannya di atas setir, menahan dorongan yang mulai menguasai tubuhnya. Sensasi yang Axeline berikan terlalu nyata, dan sangat berbahaya.
"Kak, rasanya tidak nyaman," bisik Axeline dengan suara yang bergetar.
Keynan menarik napas dalam, mencoba tetap berpikir jernih. Ia menoleh, menatap wajah Axeline yang mulai kehilangan kendali atas tubuhnya.
"Aku tahu," gumamnya, suaranya lebih rendah dari biasanya. "Jadi kau harus menahannya, oke?"
Tanpa membiarkan Axeline semakin larut dalam kondisinya, Keynan segera menyalakan mesin mobil dan melesat meninggalkan tempat itu. Ia berusaha mengabaikan godaan yang hampir membuatnya kehilangan akal.
Di sepanjang perjalanan, Axeline terus meraba tubuh Keynan, jemarinya bergerak liar seolah mencari kehangatan dan kenikmatan yang bisa meredakan gejolak dalam dirinya. Setiap sentuhan yang ia berikan bagaikan bara api yang membakar kendali Keynan sedikit demi sedikit.
Namun, meski tubuhnya mulai bereaksi, Keynan tetap menggenggam erat kemudi dan fokus pada jalanan di depannya. Ia harus tetap sadar dan membawa Axeline ke tempat yang aman sebelum semuanya lepas kendali.
Hingga akhirnya, Keynan membawa Axeline ke apartemen yang sudah lama tidak ia tempati. Ia melepas seatbelt dan menoleh, menatap wanita di sampingnya yang sudah begitu kacau, wajahnya memerah, napasnya memburu, dan matanya berkabut, seolah benar-benar kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
"Maaf, Lin. Aku terpaksa membawamu kemari," ucapnya lirih. Tanpa membuang waktu, Keynan turun dari mobil, mengitari kap depan, lalu membuka pintu untuk Axeline. Ia membantu wanita itu keluar, tetapi sebelum sempat berdiri tegak, Axeline kembali melebur dalam dekapannya.
"Kak, aku menginginkanmu," bisiknya serak, wajahnya semakin mendekat, bibirnya hampir menyentuh Keynan.
Namun, sebelum itu terjadi, Keynan dengan cepat memalingkan wajahnya. Rahangnya mengatup erat, menahan napas sejenak untuk meredam dorongan yang semakin kuat dalam dirinya.
"Kau akan mendapatkannya, Lin," bisiknya dalam, suaranya sedikit bergetar. "Tapi tidak di sini. Jadi, bersabarlah."
Tanpa memberikan kesempatan lagi bagi Axeline untuk melanjutkan aksinya, Keynan segera menggendongnya ala bridal dan melangkah cepat menuju apartemen, berusaha mengabaikan keinginan yang semakin bergejolak dalam dirinya.
Sesampainya di apartemen, Keynan langsung membawa Axeline ke dalam kamar. Dengan hati-hati, ia membaringkan wanita itu di atas tempat tidur, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, berharap Axeline bisa beristirahat dan mengatasi efek obat yang menguasai tubuhnya.
Namun, sebelum Keynan sempat menjauh, Axeline justru meraih lengannya dan menariknya hingga tubuhnya terjatuh, menindih tubuh wanita itu.
Tanpa peringatan, Axeline menekan bibirnya ke bibir Keynan, ciumannya begitu buas, seolah ingin melampiaskan gejolak yang tertahan dalam dirinya.
"Lin, stop! Jangan seperti ini!" Keynan segera menjauhkan wajahnya, napasnya memburu saat ia menatap Axeline yang kini menatapnya dengan tatapan penuh hasrat.
"Aku tidak tahan, Kak. Aku menginginkanmu," bisik Axeline dengan mata yang berkabut. Ia kembali menarik leher Keynan, hendak mencium bibirnya lagi. Namun, Keynan berusaha menahan diri, tangannya dengan lembut menahan bahu Axeline.
"Kau sedang dalam pengaruh obat, Lin. Aku akan mencari cara untuk menghilangkan efeknya," ujar Keynan tegas. Ia mencoba menegakkan tubuhnya, tetapi Axeline kembali menariknya, lalu membalikkan posisi mereka. Kini, ia berada di atas Keynan dan menatapnya penuh harap.
"Aku tahu, Kak. Untuk itu, tolong bantu aku," ucap Axeline terdengar putus asa.
Perlahan, pertahanan Keynan runtuh. Sejak tadi, ia telah berusaha keras untuk menahan diri, untuk tetap sadar di tengah situasi yang begitu sulit. Namun, saat menatap mata Axeline yang memohon, ada sesuatu dalam dirinya yang goyah.
Dengan gerakan cepat, ia menarik tengkuk Axeline, lalu menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang lebih dalam dan lebih menuntut.
Ia membalikkan posisi mereka, sehingga Keynan bisa lebih leluasa menyalurkan keinginan yang sejak tadi tertahan.
Dan, malam itu terulang kembali, dimana malam yang panjang, mereka lalui bersama dengan penuh kehangatan dan kenikmatan, yang tidak akan pernah mereka lupakan.
jadi penasaran
thor jgn lama2 up nya