Serka Davis mencintai adiknya, hal ini membuat sang mama meradang.
"Kamu tidak bisa mencintai Silvani, karena dia adikmu," cegah sang mama tidak suka.
"Kenapa tidak boleh, Ma? Silvani bukan adik kandungku?"
Serka Davis tidak bisa menolak gejolak, ketika rasa cinta itu begitu menggebu terhadap adiknya sendiri, Silvani yang baru saja lulus sekolah SMA.
Lalu kenapa, sang mama tidak mengijinkan Davis mencintai Silvana? Lantas anak siapa sebenarnya Silvana? Ikuti kisah Serka Davis bersama Silvani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Menemui Jeng Suci
Setelah menerima pengakuan Davis tadi, Mama Verli langsung terlihat murung, tubuhnya pun terhuyung. Dia tidak sangka Davis bakal mencintai Silva lebih dari sekedar saudara, padahal kalau dipikir, Davis dan Silva sudah bersama sejak kecil, bahkan ia melihatnya kasih sayang yang diperlihatkan Davis maupun Danis, layaknya seorang kakak pada adiknya.
"Ma, sudah, yuk. Mama sebaiknya masuk kamar dulu. Tenangkan pikiran Mama. Kalau Mama seperti ini dan memikirkan perdebatan tadi, Danis khawatir Mama malah sakit. Ayo, Danis antar Mama ke kamar." Danis meraih lengan sang mama lalu menuntunnya membawa ke dalam kamar.
"Tidak, biarkan mama di beranda ini, mama tidak mau ke kamar," tolak sang mama tidak mau diajak ke kamar. Danis patuh, ia melepas sang mama di sana.
"Baiklah, kalau begitu Danis ambilkan minum buat mama, ya, biar mama tenang." Danis segera pergi bermaksud mengambil air untuk sang mama. Mama Verli tidak menyahut, pikirannya masih pada perdebatan tadi, dan benaknya bertanya kenapa Davis bisa jatuh cinta sama Silva.
"Tidak ada yang tidak mungkin, Ma. Bukankah Mama pernah bilang, apalagi Davis dan Silva bukanlah saudara kandung, mereka tidak sedarah dan bukan saudara sepersusuan. Rasa cinta itu akan muncul seiring waktu. Jadi, wajar kalau ternyata Davis tiba-tiba mencintai Silva, karena mereka sudah terbiasa bersama, maka Davis menemukan kenyamanan pada diri Silva."
Kini perdebatan itu berlanjut dengan Papa Vero. Mama Verli seakan mendapat perlawanan dari sana sini, yang jelas ia tetap tidak mau Davis mencintai Silva. Mama Verli teguh pada pendiriannya, bahwa Silva tidak boleh berubah status, sekali anak tetap anak.
"Oleh karena itu, kita harus mencegahnya, Pa. Mama tidak mau mereka saling cinta. Mama hanya menyayangi Silva sebagai anak saja, perasaan mama hanya menyayangi dia sebagai anak," teguhnya begitu egois.
"Kita tidak bisa mencegahnya, Ma, kalau perasaan itu nyatanya sudah ada dalam diri mereka. Kalau Silva saudara persusuan Davis atau Danis, maka kita wajib mencegahnya, karena mereka sudah mahram dan haram dinikahi. Coba Mama bayangkan, setelah Silva beranjak semakin dewasa, lalu Mama bepergian keluar kota, misalnya dan terpaksa harus meninggalkan papa dan Silva. Apakah Mama tidak khawatir dengan keadaan kami di rumah yang ditinggal Mama pergi?"
"Ini hanya gambaran saja, papa tidak bermaksud apa-apa. Papa pun tidak mungkin melakukan hal yang tidak bermoral, karena rasa sayang papa kepada Silva sudah seperti ke anak kandung sendiri. Tapi, untuk menghindarkan hal itu terjadi, alangkah baiknya Silva dijadikan mantu saja. Papa juga tidak mau apabila suatu saat Silva tiba-tiba dapat lelaki lain, tapi ternyata lelaki itu berangasan dan tidak bertanggung jawab, apakah Mama tidak akan sedih melihatnya?" lanjut Papa Vero seakan memberi provokasi agar Mama Verli menyetujui keinginan Davis.
"Papa sama saja sama Davis. Papa justru mendukung Davis. Si Davis seperti tidak ada perempuan lain, kenapa harus jatuh cinta sama Silva. Si Silva juga, anak itu, kalau Davis masuk kamar selalu saja dalam keadaan berhanduk. Dan bodohnya lagi, pintu kamar kenapa tidak pernah dikunci, padahal sudah mama peringatkan berulang kali, kunci pintu-kunci pintu," omelnya kesal.
Papa Vero hanya geleng kepala mendengar istrinya ngomel seperti itu.
"Ma, sudah. Mama jangan marah terus, nanti cantiknya hilang lho. Ayo, kita berebah saja, biar papa redam kemarahan Mama dengan pijatan papa," rayu Papa Vero tersenyum genit.
"Ih, Papa ini genit, tidak tahu ini masih sore, tapi kelakuan kayak pengantin baru. Padahal kita pengantin sudah basi. Mama mau pergi dulu ke rumah Jeng Suci. Dia pakai keceplosan segala, jadinya Silva terlihat murung tadi. Sepertinya Silva murung karena ucapan Jeng Suci," duganya sembari meraih kerudung dan jaket bulunya.
"Mama mau apa, mau labrak Jeng Suci? Kan dia sudah minta maaf kalau dia keceplosan. Jeng Suci tidak seperti Jeng Riana, Ma. Sepertinya dia memang hanya keceplosan," bujuk Papa Vero merasa khawatir sang istri akan kembali melabrak orang gara-gara tidak sengaja mengungkap siapa sebenarnya Silva.
"Tidak, mama bukan mau labrak Jeng Suci seperti melabrak Riana, tapi hanya mempertanyakan seperti apa kronologisnya. Mama tahu kalau Jeng Suci memang kadang latah. Sudah Papa tidak usah khawatir, mama juga tahu mana yang harus dilabrak dan mana yang tidak." Tanpa menggubris ucapan Papa Vero lagi, Mama Verli segera bergegas keluar dari kamar, dia akan menemui Jeng Suci yang tadi minta maaf melalui WA, karena merasa keceplosan.
Deru motor Mama Verli terdengar sampai ke lantai atas. Papa Vero geleng kepala melihat sang istri yang sudah pergi dengan tujuan menegur tetangganya itu. Tapi kali ini Papa Vero tidak terlalu khawatir atau sampai harus mengikuti Mama Verli, karena ia tahu Jeng Suci memang orangnya sedikit latah.
Motor Mama Verli tiba di depan rumah Jeng Suci, Dia langsung turun dan menuju pintu. Saat pintu dibuka, kebetulan dibuka oleh Jeng Suci. Jeng Suci terlihat gembira sekaligus kaget atas kedatangan Mama Verli tetangga di komplek itu.
"Silahkan Jeng masuk. Wah, ada apa nih seperti dinas banget. Atau jangan-jangan gara-gara pesan WA saya tadi? Aduh Jeng, sumpah itu benar-benar keceplosan. Itu tu sebelumnya saya baru saja nonton si Nana yang anak angkat. Jeng tahu film nasional itu, kan?" brebet Jeng Suci tanpa diminta dengan muka yang merasa bersalah.
"Iya sih Jeng, aku datang ke sini untuk menanyakan hal itu sama Jeng. Aku hanya ingin tahu seperti apa kronologinya sampai Jeng Suci bisa keceplosan begitu. Jadinya Silva tadi pas pulang terlihat murung dan sedih," beber Mama Verli seadanya.
"Begini Jeng, aku juga minta maaf sebelumnya, ya. Sumpah, aku tidak pernah bermaksud ikut campur masalah orang lain. Gara-gara habis nonton si Nana, jadi kebawa-bawa keceplosan deh di depan Silva. Awalnya ...."
Jeng Suci menceritakan kronologis kenapa ia bisa keceplosan seperti tadi.
"Begitu ceritanya Jeng. Aku tadi itu merasa tidak biasa melihat Silva pulang jalan kaki, kan biasanya suka bareng Mas Davis. Dan gilanya mulut aku ini, malah kepikiran anak angkat gara-gara nonton si Nana. Noh, kalau tidak percaya, aku ini baru nonton si Nana. Aku takutnya Jeng malah menuduh aku sengaja. Aku minta maaf, ya, Jeng. Coba tadi aku tidak ketemu Silva sepertinya mulutku ini tidak akan latah dan lancang seperti ini," jelas Jeng Suci menyesal.
Setelah mendapat penjelasan dari Jeng Suci, Mama Verli segera berpamitan. Saat Mama Verli berpamitan, Jeng Suci membekali Mama Verli bolu pisang pandan yang baru saja dibuatnya.
"Terima ini, untuk camilan di rumah, serta sebagai rasa sesal dan permohonan maaf aku sama Jeng Verli."
Dengan terpaksa dan senang hati, Mama Verli menerima bolus pisang pandan yang masih panas itu. Mama Verli pun pamitan, dan kasus keceplosan Jeng Suci dimaafkan.
akhirnya direstui juga...
nunggu Davis tantrum dulu ya ma
berhasil ya Davis 😆😆😆👍👍