Mahesa Sura yang telah menunggu puluhan tahun untuk membalas dendam, dengan cepat mengayunkan pedang nya ke leher Kebo Panoleh. Dendam kesumat puluhan tahun yang ia simpan puluhan tahun akhirnya terselesaikan dengan terpenggalnya kepala Kebo Panoleh, kepala gerombolan perampok yang sangat meresahkan wilayah Keling.
Sebagai pendekar yang dibesarkan oleh beberapa dedengkot golongan hitam, Mahesa Sura menguasai kemampuan beladiri tinggi. Karena hal itu pula, perangai Mahesa Sura benar-benar buas dan sadis. Ia tak segan-segan menghabisi musuh yang ia anggap membahayakan keselamatan orang banyak.
Berbekal sepucuk nawala dan secarik kain merah bersulam benang emas, Mahesa Sura berpetualang mencari keberadaan orang tuanya ditemani oleh Tunggak yang setia mengikutinya. Berbagai permasalahan menghadang langkah Mahesa Sura, termasuk masalah cinta Rara Larasati putri dari Bhre Lodaya.
Bagaimana kisah Mahesa Sura menemukan keberadaan orang tuanya sekaligus membalas dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan di Tepi Kali Bugul ( bagian 3 )
"Bangsat kecil!! Punya sedikit kemampuan sudah besar kepala. Kakang Lowo Ijo, cepat habisi dia!! "
Lowo Ijo dan Mahesa Sura serta beberapa orang yang ada langsung menoleh ke sumber suara. Seorang perempuan cantik dengan dandanan serba minim melayang turun dari arah selama. Pakaian nya berwarna merah menyala serasi dengan pemerah bibir yang ia kenakan. Sorot matanya terlihat seperti pandangan mata seorang perempuan binal dari rumah pelacuran.
Sepasang pedang nampak tersandang rapi di kedua sisi pinggangnya yang ramping. Jika melihatnya sekilas, orang pasti akan mengira dia masih gadis belia tetapi sesungguhnya usia perempuan ini sudah diatas tiga setengah dasawarsa.
"Nyai Rampet, kenapa kau kemari? Bukankah tugas mu tidak disini? ", tanya Lowo Ijo sembari melayang turun ke samping perempuan berbaju merah menyala ini.
Ya, dia adalah Nyi Rampet seorang pendekar wanita dari wilayah Kalang yang dikenal dengan sebutan Si Sundal Beracun. Julukan ini didapatkan karena perempuan ini suka sekali bergonta-ganti pasangan tetapi setelah ia puas bermain, ia akan membunuhnya dengan racun. Sudah banyak sekali korban berjatuhan di antaranya putra dari Adipati Kalang, Lembu Pethak.
Kemampuan meracuni orang ini Nyai Rampet dapatkan dari gurunya Dewi Upas. Dia adalah salah satu dari 7 murid Dewi Upas yang digelari sebagai Tujuh Anak Racun.
Kehadiran Nyai Rampet ke Kotaraja Lodaya semata-mata atas perintah Singhakerta yang telah bersekutu dengan Adipati Kalang, Lembu Para. Bersama dengan Lowo Ijo, Ki Brajalepa dan Macan Ketawang, Nyai Rampet ditugaskan untuk menyusup ke Kotaraja Lodaya agar bisa mengacak-acak pertahanan Lodaya dari dalam.
Sejauh ini tugas ini cukup berhasil membuat Pemerintah Kerajaan Lodaya pusing tujuh keliling dengan banyaknya laporan dari masyarakat karena gangguan Lowo Ijo dan kawan-kawan di saat mereka harus menghadiri gempuran pasukan pemberontak di bawah pimpinan Singhakerta.
"Aku baru saja menganiaya Juragan Karsa si pedagang beras itu. Untuk sedikit beristirahat dari kejaran centeng centeng nya, aku keluar Kotaraja Lodaya.
Eh tidak tahunya malah melihat Kakang ada di sini. Cepat habisi bocah tengik ini, kita harus mulai rencana akhir kita disini", sergah Nyai Rampet segera.
Hemmmmmmmmmm...
"Akhirnya tujuan akhir kita berada disini hampir selesai. Aku bisa bebas mencari gadis-gadis muda lagi di wilayah pesisiran...
Rampet, bantu aku untuk mempersempit ruang gerak orang ini. Gerakannya sungguh gesit, sulit untuk ditaklukkan dengan cepat".
Mendengar permintaan Lowo Ijo, Nyai Rampet mengangguk cepat dan segera memasukkan jari jemari tangannya ke lengan bajunya. Saat tangan nya keluar, sela-sela jari nya terdapat senjata rahasia berupa jarum berwarna hitam. Jelas ini adalah senjata beracun.
Setelah itu, Nyai Rampet langsung mengayunkan tangan kirinya. Empat jarum beracun langsung melesat cepat ke arah Mahesa Sura.
Shhrriiiinngg shhrriiiinngg shhrriiiinngg!
Dengan gesit, Mahesa Sura berjumpalitan ke kanan hingga senjata rahasia milik Nyai Rampet menancap di batang pohon pisang. Seketika batang pohon pisang ini langsung layu yang membuktikan bahwa racun yang ada pada jarum ini sangat mematikan.
Melihat itu, Mahesa Sura langsung merogoh balik bajunya dan cepat menelan sebutir pil berwarna putih. Ini adalah Obat Penawar Segala Racun yang dibuat oleh gurunya Nini Rengganis. Dengan ini ia tidak perlu khawatir lagi dengan racun yang mungkin mengenai tubuhnya.
Saat yang bersamaan, Lowo Ijo memapak pergerakan Mahesa Sura dengan serangan mematikan nya. Empat gelombang angin tajam setipis pedang menderu kencang kearah murid Lembah Embun Upas ini.
Whhuuuttt whhuuuttt whhuuuttt whhuuuttt!!
Kembali Mahesa Sura berkelit dengan bergerak ke arah yang berlawanan. Nyai Rampet terus mengepung, mempersempit ruang gerak pendekar berbaju biru gelap itu. Kerjasama dua pendekar itu benar-benar merepotkan pergerakan Mahesa Sura.
Sepuluh jurus berlalu begitu saja...
Mahesa Sura yang baru lolos dari sergapan Nyai Rampet bergerak cepat ke samping kiri. Saat itulah, Lowo Ijo datang dengan serangan tapak tangan kanannya.
"Modar kowe bocah keparat!!! ", maki Lowo Ijo sambil menyeringai lebar.
Tak punya ruang menghindar lagi, Mahesa Sura yang diam-diam merapal mantra Ajian Tapak Wisa ajaran Nini Rengganis, menyambutnya dengan tapak tangan kanan berselimut cahaya putih berbau busuk.
Dan...
Blllaaaaaaaaaaaaammmmmm!!!!
Tubuh keduanya terpental ke arah berlawanan setelah beradu ilmu kesaktian. Lowo Ijo yang terlempar ke arah timur hampir saja jatuh ke dalam Kali Bugul andai Nyai Rampet yang melihatnya sedang kesulitan untuk menghentikan laju pergerakan tubuh, cepat menyambar tubuh Lowo Ijo dan mendarat di bibir Kali Bugul.
Mata Lowo Ijo dan Nyai Rampet melebar melihat tangan kanan Lowo Ijo menjadi putih seperti mayat dengan bau busuk yang menyengat. Mereka tahu ini adalah akibat dari sebuah ilmu yang telah menghilang puluhan tahun terakhir di dunia persilatan.
"Ajian Tapak Wisa.. ! Ini Ajian Tapak Wisa, Kakang Lowo Ijo..
Bocah ini apakah ada hubungannya dengan Dewi Segala Racun? ", teriak Nyai Rampet mulai ketakutan. Sementara Lowo Ijo langsung menotok beberapa urat nadi di tangan kanan nya untuk mencegah penyebaran racun.
" Ini memang ilmu keparat itu, Rampet! Dan pasti si nenek peyot Rengganis itu yang mengajarinya", tukas Lowo Ijo seraya menatap tajam ke arah Mahesa Sura yang sedang berjalan ke arah mereka berdua.
"Kita harus secepatnya bisa pergi dari tempat ini, Kakang Lowo Ijo. Ilmu itu bukan tandingan kita", Nyai Rampet mulai gemetar ketakutan.
" Jangan bodoh, Rampet.. Apa kau pikir, bocah ini akan melepaskan kita begitu saja? Dengarkan baik-baik.. "
Lowo Ijo membisikkan sesuatu di telinga Nyai Rampet. Perempuan berpakaian merah menyala ini langsung tersenyum seperti mendapatkan sesuatu yang membahagiakan. Dengan cepat ia mengibaskan tangannya ke arah Rara Larasati.
Shhrriiiinngg shhrriiiinngg!!
Melihat pergerakan aneh Nyai Rampet, Mahesa Sura sadar bahwa lawan mengincar Rara Larasati untuk mengalihkan perhatiannya. Dia segera menendang sebuah potongan kayu yang tergeletak di dekatnya. Kayu ini langsung terbang dan memotong pergerakan dua jarum beracun dari musuh.
Chhrreeeepphhh..!!!
Sementara itu, setelah melemparkan jarum beracun nya, Nyai Rampet dan Lowo Ijo bermaksud untuk kabur. Tetapi gerakan Mahesa Sura melesat ke arah mereka, keduanya langsung berpencar. Tetapi Mahesa Sura tidak terkecoh dan mengayunkan cakar tangan kiri nya ke arah Lowo Ijo yang terbang diatas Kali Bugul.
Shhrraaaakkk...
Chhrraaaasshh chhrraaaasshh!!
Byyuurrrrrrrrr...!!!!!
Tubuh Lowo Ijo terpotong-potong menjadi beberapa bagian dan jatuh ke dalam Kali Bugul. Bisa dipastikan bahwa lelaki tua bertubuh ceking ini tewas karena beberapa potongan tubuh nya mengambang di derasnya arus sungai kecil itu.
Hari itu, sepak terjang Lowo Ijo sebagai pendekar pemetik bunga berakhir di tangan Mahesa Sura. Momok menakutkan bagi para gadis di wilayah Lodaya dan Wengker ini terbunuh dengan badan terpotong-potong menjadi beberapa bagian.
Sementara itu, tangan kanan Mahesa Sura dengan cepat terayun ke arah Nyai Rampet yang telah jauh melarikan diri. Sebuah pisau belati kecil berlumur cairan hijau melesat cepat dan menancap di punggung kiri perempuan ini.
Chhrreeeepphhh Ooouugghhh!!!
Nyai Rampet langsung jatuh ke arah rimbun pepohonan dan menghilang dari pandangan mata Mahesa Sura.
"Kau tidak mengejarnya, Sura? Tumben banget.. "
Celetukan Tunggak ini langsung membuat Mahesa Sura berjingkat karena kaget. Andai bukan kawan lama, ia pasti sudah memukuli nya.
"Dia terkena Racun Penghancur Hati ku. Paling lama ia akan hidup 10 hari saja. Tak usah payah mengejar, ia akan mati sendiri dengan rasa sakit yang melebihi batas", jawab Mahesa Sura enteng.
" Benar-benar sadis... Tapi aku sependapat dengan mu agar kejahatan mereka dihukum dengan cara terburuk.. "
"Jangan banyak bicara. Ayo kita lanjutkan perjalanan.. "
Mendengar omongan Mahesa Sura, Tunggak tak membantah dan bersama-sama dengan Tumenggung Dandang Pengaron, Rara Larasati dan Mantri Mpu Teja menyeberangi Kali Bugul yang terletak di barat Kotaraja Lodaya.
Sementara rombongan Mahesa Sura bergerak menuju ke arah Istana Lodaya, Nyai Rampet terhuyung-huyung berjalan ke arah selatan. Meskipun tubuhnya terasa seperti hancur akibat racun yang mulai menjalar di tubuhnya, perempuan cantik itu terus menguatkan diri bergerak menuju ke arah Simping.
Tepat di dekat gapura rumah yang ada pinggiran Alas Simping, seorang perempuan muda berbaju hijau muda yang melihat kedatangan Nyai Rampet dengan kondisi yang memprihatinkan, perempuan muda berbaju hijau ini segera bertanya,
"Kangmbok Rampet, apa yang terjadi padamu?"
Bukan lagi menunggu waktu berbuka 🤭
Mugi urang sadaya dipaparin kasalametan dunya sareng akherat, kabarokahan rizki sareng yuswana.
Aamiin. Yaa Robbal Aalamiin.. 🤲🏽🙏🌹💐
SMG upnya jgn di tunda trs