8 tahun yang lalu, seorang anak perempuan menatap penuh binar bahagia pada pangeran impiannya. Selalu mengingat apa yang pria idaman nya itu katakan.
"Tumbuh lah menjadi wanita cantik, karena aku tidak suka wanita jelek!!!"
Wanita itu pun tumbuh dengan baik, bahkan terlalu baik. Tumbuh yang ia yakini malah menjadi salah arti, setiap hari ia mengkonsumsi makanan yang menurutnya mempercepat pertumbuhan. Ya... Ia tumbuh... Tapi tumbuh menjadi besar dan lebar.
"You know me?"
Erlangga Saputra.
"Om Ganteng..."
Mia Sophia Adinata.
follow my ig @ismi_kawai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Kawai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CBT 18
Farel memandang Mia dengan binar bahagia. "Beneran lo udah maafin gue?"
"Ya, gue udah maafin lo." Mia tersenyum tipis, wajah sembabnya malah membuat Mia semakin cantik. Farel tertegun sesaat.
Mia mengibaskan tangannya di depan Farel. "Hello, kok bengong?"
"Gak apa-apa, lo cantik,"
"Seriously? Bukannya gue jelek, gendut terus ngabisin tempat ya?"
Hati Farel mencelos, mendengar semua perkataan buruknya dari Mia benar-benar membuatnya sakit. Farel terdiam, Mia menyadari kesalahannya. Semua itu terucap tanpa sengaja.
"Jika dengan menukar hidup gue, gue bisa menghapus semua sikap buruk gue ke lo. Gue rela." Farel berkata serius membuat Mia bergidik ngeri.
Yang benar saja menukarnya dengan nyawa. Ini udah gak lucu!
"Apaan seh, gak lucu tau!"
"Gue serius!"
"Ok, gue minta maaf udah ngungkit. Tapi beneran gue gak ada maksud nyindir lo! Klo kenyataan ngapain gue marah, jangan bawa-bawa nyawa lagi, gue gak suka!"
"Gue juga serius bilang lo cantik, karena emang nyatanya lo cantik. Mia!"
"Fine, gue cantik dan lo ganteng. Udah ya, jangan bahas ini lagi!" Mia sudah malas berdebat.
Sedangkan Farel yang di bilang ganteng oleh Mia langsung menyunggingkan senyum. "Jadi menurut lo gue ganteng?"
Oh God, kapan ini berakhir. Aku cuma mau sendiri menenangkan diri, tapi ada aja gangguan.
"Gantenggg banget." Dengan senyum terpaksa ia berkata, dari pada panjang urusan.
Wajah Farel memerah, ia tersipu malu-malu. Mia yang melihat ekspresi Farel hanya bisa memutar bola mata malas.
Mia merapikan coklat yang dibawanya. Ia hendak pulang karena hari sudah larut. Mata Farel terus mengikuti pergerakan Mia.
"Lo mau pulang?"
"Iya lha, masa gue nginep disini. Nanti ketemu Mbak Susana bisa berabe."
"Mbak Susana?"
"Googling aja klo penasaran." Sahut Mia.
Farel menangkap pergelangan tangan Mia. "Gue anter ya, please jangan nolak klo lo beneran udah maafin gue!"
Mia hanya menganggukkan kepalanya, yang ia pikirkan adalah tempat tidur. Tubuhnya sudah lelah, sudah tidak ada lagi tenaga untuk beradu mulut dengan siapa pun.
🌷🌷🌷
Mulut Farel menganga ketika sampai di depan rumah Mia, dia tidak menyangka jika Mia adalah anak orang kaya. Rumahnya di kawasan elit, rumah Farel juga besar tapi tidak sebesar Mia. (Tidak hanya tubuh, ternyata rumahnya lebih besar Mia. 🤣🤣)
"Mingkem bang!" Mia menyadarkan Farel yang masih terpana dengan rumah di depannya.
"Eh, iya. Hati-hati." Ucap Farel kikuk.
"Ngapain hati-hati lagi? Kan udah sampe rumah." Mia tidak menyangka Farel yang terkenal dingin dan bad boy itu bisa bersikap konyol.
"Iya, ya." Farel makin salah tingkah, matanya tertuju pada kantong plastik yang tertinggal di dalam mobilnya.
Mia sudah turun dari mobil, hendak memberikan jaket Farel yang tadi ia kenakan.
"Makasih jaket dan tumpangannya."
"Iya, hm ini ketinggalan." Farel menyodorkan kantong plastik itu.
"Buat lo adja, di dalem masih banyak. Ok, gue masuk dulu ya. Bye!" Mia melambaikan tangan dan segera berjalan memasuki rumah. Farel hanya terdiam dan melihat isi dari kantong plastik itu.
"Coklat... Coklat dari Mia." Gumam Farel sambil senyum-senyum sendiri. (Cieee... baper.)
🌷🌷🌷
"Sayang, kamu dari mana aja? tumben telat." Maya langsung menghampiri anak sulungnya, memindai tubuh Mia dari atas sampai bawah.
"Aku gak apa-apa Mom, aku tadi ada kerja kelompok." Bohong Mia.
Maya menangkupkan pipi Mia menghadap padanya. Terlihat jejak air mata disana.
"Don't lie to me! Jika ada sesuatu tolong ceritakan pada Mommy. Mommy siap jadi pendengar yang baik."
lengkungan indah diberikan Mia pada sang Mommy, Mia tidak mau membuat Mommy-nya khawatir. Ia ingin menyelesaikan masalah sendiri kali ini. Mia butuh waktu.
"Percaya sama aku Mom, aku bisa atasi ini sendiri. Bukan berarti aku tidak mau berbagi dengan Mommy. Just, trust me! Ok."
Siapa yang kangen Farel?? (Author seh yang kangen 🤭🤭🤭)
Visual si Bad Boy, aku lagi suka sama Hero. Dan menurut aku dia cocok banget jadi Farel
btw ceritanya seruu....