Judul: "LOVE IS NOT BASED ON BIBIT BEBET BOBOT" [Linbo BBB]
Pada umumnya, cinta selalu memandang harta, tahta, dan kasta. Lalu, bagaimana dengan Khumaira? Seorang gadis biasa, tidak kaya, dan berasal dari keluarga yang amat sederhana. Yang tengah patah hati lantaran bibit-bebet-bobot yang tidak sepadan. Adakah kiranya seseorang yang akan mencintai dia tanpa melihat latar belakangnya?
Dari sinilah, kisah "Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot" bermula ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oot Nasrudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu di Dada Ibu dan Pilu di Wajah Bapak
...☕🍜Hidup memang tak selalu tentang apa yang kita inginkan. Tapi tak dipungkiri, kita selalu ingin berada di tempat di mana kita dihargai 🍜☕...
Matahari mulai mendongak. Semilir angin membawa aroma sisa hujan semalam. Dini hari tadi seorang gadis berusia 26 tahun telah menapakkan kaki di kampung kelahirannya.
Sebuah desa terpencil, yang berada di bagian utara kabupaten berslogan Beriman. Sebuah desa yang sangat asri. Didominasi berbagai pepohonan.
Di sepanjang jalan dari terminal menuju rumahnya, di samping kanan dan kiri jalan, banyak ditemukan pohon-pohon yang rindang. Juga persawahan yang membentang.
Di musim penghujan ini, sawah dipenuhi tanaman padi. Sebagian warnanya sudah mulai menguning, dan sebagian yang lain masih berwarna hijau. Meliuk-liuk indah diterpa angin. Sekilas seperti ombak di pantai. Mengagumkan dan sangat menyenangkan memandangnya.
Maira menikmati kopi pertamanya di kampung halaman. Duduk di kursi antik terbuat dari rotan, di beranda rumahnya.
Aminah—Ibunya, sedang sibuk di dapur. Zidan, sudah berangkat sekolah lepas subuh tadi. Sekolahnya cukup jauh, berada di kota. Jaraknya berkilo-kilo meter dari rumahnya. Ia berangkat naik angkot hingga terminal. Meski di desa, namun padat akan penduduk. Sehingga transportasi umum sudah tersedia sejak puluhan tahun silam.
Kabarnya, ojek online pun sudah mulai masuk kawasan desa tersebut. Sesampainya di terminal, Zidan menyambung menggunakan bus mini menuju sekolahnya.
Agenda Maira hari ini, lepas menuntaskan kopinya, ia hendak pergi ke rumah Abdullah—Bapaknya. Terletak di tempat yang lebih pelosok lagi. Jalannya masih terjal, belum diaspal.
Di musim penghujan ini jalannya sudah dipastikan licin. Maira akan pergi ke sana menggunakan ojek. Yang sudah tak diragukan lagi kemahirannya melewati jalanan yang curam itu.
Sebuah anugrah. Pagi ini matahari sudah mendongak lebih dari 7 hasta. Walau tak akan mengurangi curamnya jalan, setidaknya Maira bersyukur sebab tidak hujan.
Dengan berat hati, Maira meninggalkan Ibunya. Walau baru dini hari tadi Maira datang, tapi wanita berusia lebih dari setengah abad itu merelakan gadisnya berkunjung ke rumah sang bapak.
Seulas senyum menggantung di bibirnya yang kering. Gurat sedih menyelimuti wajahnya yang menua. Maira tahu, kerinduan masih dan selalu bermusim di dada Ibunya.
Maira gadis yang kuat, lahir dari rahim seorang wanita yang juga kuat. Dia tak ingin Ibunya melihat buliran air menjuntai dari kedua matanya. Begitu pula Aminah. Dia tak ingin gadisnya melihat hujan yang kerap deras membasahi pipinya.
Adakah yang lebih berat dari rindu yang tak mampu diungkapkan? Adakah yang lebih menggetarkan dari kerinduan seorang ibu kepada anaknya? Adakah yang lebih mengharukan dari rindu seorang anak kepada Ibunya?
Air hujan memang mampu menenggelamkan sebagian kota Jakarta. Namun, air mata lebih mampu menenggelamkan seluruh hati yang merindu.
Ibu, atas nama membahagiakanmu. Berkilo-kilo jarak dan beribu-ribu tetes air mata, menjadi taruhannya.
***
"Padahal Bapak cuma sakit biasa, kok, sampai pulang segala, Nduk." Suara berat itu milik Abdullah.
Setelah menempuh jarak yang tak mudah, satu jam lamanya. Maira telah sampai di rumah yang sudah tua, tempat tinggal bapaknya.
"Nggak papa, Pak. Toh, setelah lebaran, baru sekarang Mai sempat pulang lagi," jawab Maira, tangannya sibuk membuatkan teh untuk Abdullah.
"Piye kabare usahamu?"
Maira menghampiri Abdullah dengan membawa teh di tangannya. Ia meletakkan di meja.
"Alhamdulillah baik dan lancar, Pak." Maira duduk berseberangan dengan Abdullah.
Laki-laki berusia lebih dari setengah abad itu terdiam. Matanya melihat ke arah luar, saat siang hari pintu rumahnya selalu terbuka.
Maira juga terdiam. Dia tahu pikiran berkecamuk yang memenuhi pikiran Bapaknya.
"Firman. Pamanmu, Nduk." Abdullah kembali membuka suara. Pandangannya kini melihat ke arah putrinya, "Dia yang berulah, tapi, Bapak yang harus bertanggung jawab." Abdullah mulai bercerita. Bibirnya sedikit bergetar.
"Bapak iki wong ndesa, ora ngerti blas soal pinjaman-pinjaman online." Wajah yang mulai berkeriput itu tampak memerah menahan amarah.
"Dari dulu dia tak berubah. Selalu membuat masalah! Tanah peninggalan kakekmu dulu sudah ludes untuk membayar hutang-hutangnya. Ku kira setelah dia pergi ke kota, dia sudah berubah. Sekian lamanya tak pernah pulang. Yang ada dia malah memulangkan orang untuk menagih hutangnya padaku …." Napasnya mulai tak beraturan. Bibirnya juga bergetar hebat. Matanya berkaca-kaca.
Maira tetap diam. Menelan ludah. Turut merasakan apa yg dirasakan oleh Bapaknya.
"Bapak sudah tak punya apa-apa lagi untuk membayar hutang-hutang pamanmu, Nduk." Suara berat itu terdengar parau. Buliran air yang sedari tadi bertengger di pelupuk mata, pun mulai jatuh bersusulan. Abdullah mengusap air mata di pipinya dengan kasar. Malu dilihat oleh putrinya.
Maira berdiri, ia mendekat pada Abdullah. Mengusap bahu renta itu, berusaha menenangkannya.
Firman adalah adik bungsu Abdullah. Mereka lima bersaudara. Abdullah adalah anak sulung. Sebagai kakak pertama, Abdullah memiliki tanggung jawab yang besar atas adik-adiknya.
Namun, hanya Firman adiknya yang tak waras. Usia Firman sudah mencapai kepala empat. Terakhir, sebelum ia pergi ke kota, Firman masih membujang. Kesehariannya adalah lontang-lantung tak jelas. Hanya menjadi sampah masyarakat.
Dia pergi dengan meninggalkan masalah. Ia mencuri kambing milik tetangga. Setiap ada kerusuhan di desa itu, penduduk sudah tahu pelakunya tidak lain adalah Firman. Dan Abdullah yang selalu dimintai pertanggungjawaban.
Setelah bertahun-tahun lamanya meninggalkan kampung halaman. Firman belum pernah kembali. Tapi akibat dari ulahnya, debt colector pinjaman online yang berpulang.
Layaknya semua pinjaman, jika nasabah tidak bayar maka akan ada tindakan penagihan. Penagihan tidak akan dilakukan jika nasabah membayar tepat waktu.
Ada persepsi, karena ini adalah pinjaman online, jika nasabah tidak bayar maka tidak akan ada proses penagihan dan hanya dilakukan reminder via email serta sms.
Tentu saja, ini tidak sepenuhnya benar. Dalam website dan informasi di perjanjian, jelas bahwa nasabah yang tidak bayar akan ditagih oleh perusahaan pinjaman online. Baik via email, sms, atau langsung didatangi ke kediaman nasabah.
Beberapa hari lalu, dua orang berpakaian rapi dengan wajah tegas mendatangi rumah Abdullah. Menagih hutang milik Firman yang menggunakan identitas Abdullah.
Hutang membengkak dengan beban bunga setiap bulannya. 50 juta adalah angka yang sangat besar bagi Abdullah. Terlebih lagi dia sudah tak punya apa-apa. Tabungan Maira masih belum cukup untuk membayarnya.
Melihat gurat luka, sedih, dan kecewa di wajah sang Bapak. Membuat dada Maira seolah ditimpa beban yang sangat berat. Ia juga ingin menangis. Tapi, itu sama sekali bukan solusi. Yang harus dia lakukan adalah mencari cara bagaimana membayar hutang sebanyak itu. Jika tidak, maka hutang akan terus membengkak.
Maira tetap tabah. Dia tetap menerima meski hatinya patah.
***
__________________________________
*nduk: adalah sebutan untuk anak perempuan dalam bahasa jawa
*piye kabare (bahasa jawa): apa kabarnya
*bapak iki wong ndesa, ora ngerti blas .... (bahasa jawa): bapak ini orang desa, tidak tahu sama sekali ....
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
menimang alias menggendong..
meminang kan tugasnya juan
malah curcol
calon author famous
jadi inget sama novel lawas..yg percakapannya emang dikit dan lebih bnyk narasinya...tapi setiap kalimatnya bermakna banget....
nyari judulnya susah, gak inget full judulnya,, yg ke inget cuma bibit, bebet, bobot😆 syukur Alhamdulillah ketemu🥺
kk othor bikin karya lain Napa di noveltoon ini🙏😍, sungguh cara penyampaian ceritanya 👍 the best.
ya udah segitu aja deh cuap2 nya
sehat2 ya kakak author 🤗🌵
salam dari green💚🌵
assalamu'alaikum 🙏🤗