"Kalau kamu cinta sama aku, buktikan dong! Kamu wanita pertama dalam hidup aku, Luna. Apa kamu tidak mau menjadikan aku lelaki pertama yang pernah tidur denganmu?"
Saat Noah meminta pembuktian cintaku padanya, aku bisa apa selain dengan bodohnya memberikan keperawananku padanya? Semua atas nama cinta. Cinta yang bagaimana? Cinta yang penuh dengan toxic?
Diilhami dari kisah nyata pergaulan anak muda jaman sekarang. Mohon bijak menyikapinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jajan di Malam Hari
Luna
Aku dan Noah saling pandang lalu memberi kode, bagaimana ini? Apakah rencana kami akhirnya gagal?
Melihat reaksi kami, Ariel tertawa dan tersenyum melihat kami yang agak khawatir dengan penolakannya. "Iya. Aku bantuin kok. Aku cuma bercanda aja, Lun. Tenang aja. Kalau Mama kamu telepon aku, nanti aku bilang kalau kamu perginya sama aku. Jangan lupa ya Lun oleh-oleh buatku sebagai uang tutup mulut." Ariel mengedipkan sebelah matanya sebagai tanda kalau ia mau diajak bekerja sama.
Aku dan Noah kini bisa bernafas lega. "Kamu ngagetin aku aja, Riel. Makasih ya. Nanti aku belikan oleh-oleh buat kamu."
Melihatku dan Noah akan segera pergi, Ariel pun pamit. Sebenarnya Ariel datang ke kamarku hanya ingin minta obat penghilang sakit kepala. Setelah obat yang ia butuhkan didapat, Ariel pun kembali lagi ke kamarnya.
"Sudah siap nih?" tanya Noah untuk yang kedua kalinya.
"Siap dong. Ayo kita pergi!"
Aku dan Noah berjalan keluar kamar. Aku mengunci pintu kamarku terlebih dahulu, sementara Noah membawa barang-barangku dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Lagi-lagi aku merasakan seperti ada yang mengawasi dan memperhatikanku.
Keadaan kostan saat ini sepi, siapa ya yang terus aja memperhatikanku seperti ini? Aku merasa seperti sedang di mata-matai saja. Memang aku tak melihat langsung, namun radar waspadaku bekerja. Aku pun cepat-cepat turun dan masuk ke dalam mobil Noah.
Aku tak menceritakan keraguanku selama ini tentang ada yang memata-mataiku pada Noah. Tak ada bukti yang kumiliki. Nanti Noah malah berpikir kalau aku terlalu berlebihan lagi.
Perjalanan kami ke Bandung cukup lama karena jalanan macet. Banyaknya kendaraan yang ingin berlibur dari Jakarta ke Bandung membuat macet dimana-mana. Noah sampai bosan bernyanyi karena sudah kelamaan di jalan. Berangkat siang hari dan kami baru sampai setelah adzan isya. Selain macet juga karena kami berhenti sebentar untuk mengisi perut yang lapar.
Noah membelokkan mobilnya ke sebuah hotel yang kemarin ia booking. Bak pasangan pengantin baru, Noah bersikap manis sekali padaku. Ia membukakan pintu mobil untukku dan menggandeng tanganku sementara tangannya yang lain membawakan tas milikku.
Setelah check in, kami langsung masuk ke dalam kamar. Pemandangan dari lantai atas memang berbeda. Kami seakan bisa melihat seisi kota Bandung dengan lampu yang bergemerlap menghiasi malam ini.
"Kamu suka kamarnya?" tanya Noah yang memelukku dari belakang.
"Suka dong. Bagus pemandangannya. Hotelnya juga bersih. Pokoknya pilihan kamu tak pernah salah deh," pujiku.
"Iyalah. Aku mempersiapkan semua ini untuk kita berdua. Aku mau menikmati liburan ini berdua sama kamu. Oh iya, kamu rutin mengkonsumsi pil KB yang aku berikan bukan?" tanya Noah.
"Iya dong. Setiap hari aku rutin meminumnya. Aku juga bawa agar tidak lupa," kataku.
"Bagus. Aku jadi tak perlu memakai pengaman lagi ya. Rasanya tak enak sekali, seperti ada karet yang membungkus milikku. Tak bisa leluasa."
"Maaf. Aku hanya berjaga-jaga jika aku sedang dalam masa subur. Sekarang, kita mau kemana?" tanyaku. Memang aku yang meminta Noah memakai pengaman kalau masa suburku tiba. Tak ada salahnya berjaga-jaga bukan?
"Kemana ya? Capek banget habis nyupir lama di jalanan macet."
"Kasihan. Mau aku pijat?" tawarku.
"Pijat plus-plus sih aku mau saja," jawab Noah seraya memainkan kedua alisnya.
"Katanya capek? Aku pijat malah minta yang lain," protesku.
"Iya, aku memang capek. Kamu tidak capek, bukan? Bagaimana kalau kamu yang aktif hari ini?" Noah mengecup pipiku. "Bau acem nih, kita mandi dulu sebagai pembukaan bagaimana?"
"Bisa aja deh kamu. Oke. Ayo kita mandi!"
****
"Aku lapar nih, Sayang. Makan yuk!" ajakku seraya membangunkan Noah yang tertidur lelap setelah permainan kami yang dahsyat.
"Aku ngantuk. Pesan lewat telepon saja!" kata Noah dengan suara serak. Ia pun kembali tertidur.
Huft ... ini sih ke Bandung bukan mau jalan-jalan tapi mau ngamar terus. Aku bosan. Aku sudah puas tertidur di jalan tadi dan sekarang aku mau mencari makanan karena perutku kerucukan minta diisi.
Aku pun bangun dari tempat tidur. Kucuci mukaku dan mengganti lingerie yang kukenakan dengan jaket hodie dan celana panjang. Pasti di luar udara agak dingin.
"Aku pergi beli makan dulu ya, Sayang," pamitku pada Noah yang tak menjawab. Ia tertidur pulas sekali.
Aku mengambil kunci kamar dan membawa ponsel serta dompet lalu berjalan menuruni lift. Udara Bandung ternyata sudah tidak dingin seperti dulu. Agak gerah malah. Mungkin karena sudah banyak bangunan dan polusi kendaraan yang membuat udara tak sedingin dulu.
Aku melihat ke kiri dan ke kanan, seingatku tadi ada tempat makanan yang lumayan rame di dekat hotel. Ternyata benar. Di sebelah kanan hotel ada banyak tukang jajanan dan ramai oleh pembeli. Aku pun berjalan ke sana seorang diri.
Ternyata banyak makanan yang dijual. Pilihanku jatuh pada seblak, makanan khas Bandung yang terbuat dari kerupuk, aneka bakso, daging ayam dan memakai kencur yang menjadi ciri khasnya.
"Pak, pesan seblaknya satu ya, yang pedas!" pesanku.
"Siap, Neng. Makan di sini atau dibungkus?" tanya penjual seblak padaku.
"Makan di sini saja." Aku memilih tempat duduk dan menunggu seblakku datang. Aku sengaja tidak bungkus dan makan di kamar. Noah tak suka ada bau yang menyengat di kamar. Bisa-bisa aku diomeli nanti.
Rupanya area tempat jajanan ini lumayan rame juga. Aku beruntung mendapatkan tempat duduk, telat sedikit saja pasti aku tak kebagian tempat duduk.
Sambil menunggu seblakku dibuat, aku memainkan ponsel milikku. Ada pesan masuk dari Mama yang mengucapkan selamat liburan dan tak lupa menasehatiku untuk makan makanan yang bergizi.
Aku membalas pesan Mama dengan mengirimkan stiker bertuliskan, siap Bos. Aku membaca pesan berikutnya. Kali ini pesan di group kelas yang sedang bergosip. Aku biasanya tak membaca hal seperti ini, selalu aku skip. Entah kenapa kali ini aku ingin membacanya.
"Gaes, masa sih kata anak jurusan teknik, dia dengar suara cewek lagi mendesaaah di kamar mandi Gedung C. Menurut kalian gimana?"
Deg ....
Kamar mandi Gedung C? Jangan-jangan ....
"Salah dengar kali. Sepi tau di sana. Banyak jurig, jangan-jangan suara jurig."
"Justru sepi cuy, bebas untuk berbuat mesum. Jurig melulu difitnah, doi gak salah, jangan difitnah terus. Kejadiannya siang hari. Kalian tahu sendiri kalau Gedung C memang sepi. Enak tuh buat indehoy. Kalau sudah enak begitu sih mana mikirin jurig, yang ada jurig malah demen liat kayak begituan. Bioskop gratis, live pula."
"Serius lagi indehoy. Ada bukti gak?"
"Nah itu, tuh anak belum ambil bukti. Dia dipanggil sama temennya. Pas dia balik, udah sepi. Padahal dia udah nyiapin kamera buat gerebek pelaku mesum enggak modal itu!"
Ya ampun ... benar itu aku. Bagaimana ini? Ada CCTV tidak ya di Gedung C? Bagaimana kalau aku dan Noah ketahuan?
Aku kembali membaca beberapa komentar miring dari anggota group. Ada yang mengatai kumpul kebo, ada juga yang bilang udah enggak tahan, enggak modal, sudah rusak dan perkataan menyakitkan lainnya.
Aku mengusap wajahku. Tanganku mulai dingin. Untung saja saat mahasiswa itu kembali aku dan Noah sudah turun. Kalau sampai kami ketahuan bagaimana?
"Permisi, Mbak. Ada yang duduk di sini tidak? Boleh saya duduk di sini?"
****
terimakasih kak author..sukses u karya2 selanjutnya🙏💐
keren sih jadi cowok 😁
kaget pas bilang mantan narapidana🙃
sirik aja kamu Zah, klu udh pikirannya negatif yaa susah deh🤦♀️
Rina jg fun2 aja sama Luna, Bahri jugaa..loe aja yg sirik Zizah
sskarang aja bilang kesepian ga ada teman..telat Pak🤪