Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.
Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.
Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Sore merambat pelan di desa itu. Cahaya matahari turun miring, menyentuh bunga-bunga di halaman yang kini tampak lebih diam dari biasanya. Setelah para tamu benar-benar pergi, rumah kembali pada sunyinya—sunyi yang berbeda. Bukan sunyi canggung, tapi sunyi yang baru saja berubah makna.
Nara masih berdiri di dekat jendela. Kebaya sudah ia ganti dengan daster rumah yang longgar. Tangannya refleks membelai perutnya, kebiasaan yang kini semakin sering ia lakukan, seolah memastikan segalanya masih nyata.
Di ruang tengah, Albi merapikan kursi satu per satu. Tidak terburu-buru. Tidak gelisah. Gerakannya sama seperti hari-hari sebelumnya, tenang, terukur.
“Aku buatkan teh,” kata Albi akhirnya.
Nara menoleh. “Biar aku saja—”
“Duduk,” potong Albi singkat, bukan keras. “Kamu capek.”
Nara menurut. Ia duduk di kursi kayu yang tadi dipakai ayahnya sebagai wali. Kursi itu masih terasa hangat, seolah menyimpan sisa-sisa keputusan besar yang baru saja diucapkan di atasnya.
Tak lama, Albi kembali membawa dua cangkir. Ia meletakkan satu di depan Nara, lalu duduk berseberangan. Jarak mereka tetap sama. Tidak ada upaya mendekat, tidak pula menjauh.
“Kita… tetap seperti biasa saja,” ucap Albi pelan. “Kamu nggak perlu berubah karena status.”
Nara mengangguk. “Aku juga nggak tahu harus berubah jadi apa.”
Albi tersenyum tipis. “Berarti kita seimbang.”
Kalimat itu sederhana, tapi membuat dada Nara terasa lebih lapang. Ia menyesap teh perlahan, menghangatkan tenggorokannya yang sejak siang terasa kering oleh banyak emosi yang ditahan.
“Mulai besok,” lanjut Albi, “kalau ada yang tanya, biar aku yang jawab.”
Nara menatapnya. “Tentang anak ini?”
“Terutama itu.”
Nara menarik napas panjang. “Aku takut… kamu merasa terjebak.”
Albi menggeleng pelan. “Aku masuk dengan mata terbuka.”
Hening lagi. Tapi kali ini tidak menekan, Albi datang dengah niat, tidak terpaksa ataupun terjebak seperti yang Nara ucapkan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Malam turun perlahan. Mbah Narsih masuk ke kamar Nara sambil membawa selimut tambahan, wanita paruh baya itu sangat perhatian, pada Nara dan juga calon anaknya.
“Ndoro, wengi menika adhem,” katanya lembut. “Yen butuh opo-opo, kandha wae.”
Nara tersenyum kecil. “Matur nuwun, Mbah.”
Mbah Narsih menatap Nara lama, lalu berkata lirih, hampir seperti doa, “Omah iki wis suwe sepi. Saiki dadi anget maneh.”
(Rumah ini sudah lama sepi. Sekarang jadi hangat lagi.)
Nara menunduk. Ia belum berani mengklaim kehangatan itu sepenuhnya, tapi ia merasakannya, pelan, tidak memaksa.
Saat Mbah Narsih keluar, Nara duduk di tepi ranjang. Pikirannya kembali ke ayahnya. Wajah lelaki itu yang menua, tatapan penuh sesal yang tak sempat diucapkan dengan kata-kata.
Di ruang lain, ayah Nara bersiap pulang. Ia berdiri di teras, menatap halaman yang kembali sepi. Albi menghampirinya.
“Terima kasih sudah datang,” kata Albi sopan.
Ayah Nara mengangguk. “Terima kasih sudah… berdiri di tempat yang seharusnya.”
Albi tidak menjawab. Ia hanya menunduk hormat.
Saat motor ayah Nara menjauh, lelaki itu menahan setetes air mata yang sejak tadi bergantung di sudut matanya. Ia sadar, sebagian luka anaknya tumbuh dari ketidakhadirannya sendiri. Dan hari ini, ia melihat seseorang memilih hadir, tanpa banyak suara.
"Semoga di pernikhanmu yang kedua kamu bahagia ya Nak," gumamnya layaknya doa yang sudah lama tidak ia panjatkan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Malam semakin larut. Albi berdiri di depan kamar Nara, tangannya terulur untuk mengetuk, namun ia urungkan lagi, hingga kemudian ia mantap untuk mengetuk pelan,
“Ra,” panggilnya. “Aku tidur di ruang depan. Kalau kamu butuh apa-apa, panggil saja.”
Nara membuka pintu sedikit. “Albi…”
“Iya?”
“Terima kasih… sudah jaga batas.”
Albi mengangguk. “Batas itu penting. Supaya kita tetap utuh.”
Pintu ditutup pelan. Nara kembali ke ranjangnya. Tidak ada kegugupan malam pertama. Tidak ada harap yang dipaksakan. Hanya rasa aman yang perlahan mengendap, seperti embun yang turun tanpa suara.
Ia membaringkan tubuhnya miring, membelai perutnya.
“Kita aman,” bisiknya pelan. “Pelan-pelan saja.”
Dan malam itu kembali larut membawa mimpi bagi seorang ibu yang belajar untuk membuka masa depan demi anak yang saat ini masih berada di dalam kandungan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Pagi datang dengan cara yang sama seperti kemarin, ayam berkokok, angin menyentuh daun, bunga-bunga bergoyang pelan. Nara melangkah ke teras rumah, udara sejuk menyehatkan pernapasan pagi ini, serta tanaman yang berjajar warna-warni selalu memanjakan penglihatannya.
Namun ada yang berbeda. Saat Nara melangkah ke jalan depan rumah, seorang ibu menyapa dari kejauhan.
“Enjing, Mbak.”
Nara tersenyum. “Enjing, Bu.”
Sapaan itu terasa lebih ringan. Tidak ada tatapan menimbang. Tidak ada bisik yang tertahan, seperti sebelumnya, dan hal itu benar-benar membuat suasana hati Nara berwarna sama hal nya dengan pemandangan yang saat ini tengah ia nikmati.
Sementara itu. Di dapur, Albi sudah menyiapkan sarapan, ketika Nara masuk Ia menoleh sebentar.
“Kamu mau nasi atau bubur?”
Nara tersenyum kecil. “Bubur.”
Albi mengangguk. Tidak ada kata sayang. Tidak ada panggilan baru. Tapi di pilihan sederhana itu, Nara tahu.ia sedang dipelajari, diperhatikan, dijaga.
"Ra, ini buburnya, kamu duduk saja, aku mau berangkat dulu ya ke ladang, hari ini kebun bungaku panen, doakan saja, semoga hasilnya melimpah," ucap Albi dengan sumringah.
"Aamiin, semoga hasilnya melimpah ya Bapak," ucap Nara, seolah mengajarkan anak yang ada di dalam kandungannya itu.
"Iya, Nak, doakan Bapak sehat dan banyak rejeki ya," pinta Albi sambil mengusap perut Nara yang mulai menonjol.
Dan entah kenapa sentuhan pertama Albi membuat janin yang ada di rahim Nara beraksi. "Bi, dia gerak," ujar Nara takjub.
Albi tersenyum sumringah. "Itu berarti aku sehati dengannya," ujar Albi.
"Iya dong, kan kamu bapaknya," ujar Nara, kali ini dengan senyum yang lepas.
"Makasih ya, udah percayakan aku, untuk dia," ujar Albi.
Nara tertunduk," Aku memilihmu, karena aku percaya kau mempunyai hati yang luas, untuk anakku," ungkap Nara.
"Kita sudah lama saling kenal, aku tahu gimana sendirinya kamu waktu itu, dan kamu pun tahu bagaimana sendirinya aku dulu," ujar Albi.
"Iya karena sejatinya kita, adalah jiwa yang sendirian," sahut Nara.
"Maka dari itu, aku gak mau membiarkan anakmu hidup dalam kesendirian, ayo kita bangkit, saling belajar, menjadi orang tua yang utuh untuk calon anak kita," pungkas Albi.
Nara memejamkan mata sejenak, bukan karena penuh, tapi karena merasa aman. Dan di rumah kecil di desa yang penuh bunga itu, pernikahan mereka tidak dimulai dengan cinta yang membara.
Ia dimulai dengan kehadiran. Dan dari kehadiran itulah, sesuatu yang lain akan tumbuh tanpa di sadari.
Bersambung.
Kak pada kemana nih, dari kemarin kok sepi amat,