NovelToon NovelToon
MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO

MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO

Status: tamat
Genre:Poligami / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Menikah Karena Anak / Tamat
Popularitas:80.3k
Nilai: 5
Nama Author: Julia Fajar

Hutang budi membuat Aisyah terpaksa menerima permohonan majikan sang ayah. Dia bersedia meminjamkan rahimnya untuk melahirkan anak Satria dengan Zahra melalui proses bayi tabung.

Satria terpaksa melakukan hal itu karena dia tidak mau menceraikan Zahra, seperti yang Narandra minta.

Akhirnya Narandra pun setuju dengan cara tersebut, tapi dengan syarat jika kesempatan terakhir yang dia berikan ini gagal, maka Satria harus menikahi Gladis dan menceraikan Zahra.

Gladis adalah anak dari Herlina, adik tiri Narandra yang selalu berhasil menghasut dan sejak dulu ingin menguasai harta milik Narandra.

Apakah usaha Satria dan Zahra akan berhasil untuk mendapatkan anak dengan cara melakukan program bayi tabung?

Yuk ikuti terus ceritaku ya dan jangan lupa berkarya tidaklah mudah, jadi kami para penulis mohon dukungannya. Terimakasih 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18. HAMPIR KEPERGOK

"Ayo masuk!"

Gladis pun mengikuti orang tersebut, berjalan masuk ke dalam rumah yang hampir tidak layak dikatakan rumah, tepatnya seperti gudang barang bekas.

Satria mengintip dari celah dinding yang terbuat dari papan. Satria kaget saat melihat ada beberapa orang yang sedang asyik menikmati barang haram.

"Mas, sebaiknya kita pulang dulu, aku takut mereka memergoki kita. Tempat ini rupanya markasnya para pemakai serta pengedar narkoba. Bahaya jika kita masih di sini."

"Iya Syah. Yuk..." ajak Satria.

Satria tidak mau mengorbankan Aisyah, lebih baik dia mengikuti omongan istrinya, ketimbang bahaya mengancam mereka.

Tanpa sengaja kaki Aisyah menginjak ranting kering yang tergeletak di dekat rumah tersebut hingga membuat seorang penjaga menoleh.

Saat melihat hal mencurigakan penjaga itupun bergegas, mencari dan menyelidiki di asal suara.

Untung saja Satria sempat menarik Aisyah ke arah semak belukar dan menutup mulutnya. Jika tidak, mereka pasti tertangkap.

Aisyah menyembunyikan wajahnya di dada Satria saat mendengar langkah kaki mendekat. Jantungnya berdegup kencang karena takut ketahuan jika mereka bersembunyi di sana.

Satria memeluk erat Aisyah, tapi dia tetap waspada dengan kemungkinan apapun yang bisa terjadi.

Syukurnya langkah itu menjauh dan mereka bisa bernafas dengan lega.

Satria menunggu sekitar sepuluh menit untuk melihat situasi dan setelah dirasa aman, diapun buru-buru mengajak Aisyah pergi dari tempat tersebut.

Setelah tiba di mobil, Satria pun merasa tenang, lalu mereka meninggalkan tempat tersebut.

Sebenarnya, Satria masih penasaran dengan Gladis yang terkait dengan orang-orang di dalam tadi dan kapan-kapan dia berencana akan kembali lagi kesana.

"Mas, apa hubungan Gladis dengan mereka ya? Apakah Gladis pemakai atau malah ikutan menjadi pengedar? Papa pasti sedih jika mengetahui hal ini. Beliau kan sangat menyayangi Gladis."

"Iya, aku juga masih penasaran Syah. Aku akan menyelidiki Gladis, siapa tahu masih bisa kita selamatkan."

"Oh ya Mas, apakah Mas sudah menghubungi Mbak Zahra?"

"Sudah, tapi nggak nyambung, barangkali dia sedang di daerah nenek yang sulit signal."

"Kita pulang saja ya Mas, aku ada pekerjaan yang mau diselesaikan, soalnya besok sudah harus masuk kantor."

"Kenapa nggak resign Syah? Biar aku saja yang penuhi kebutuhan mu," ucap Satria.

"Nanti aku jenuh Mas, di rumah tanpa kegiatan. Lagipula aku harus menabung untuk kebutuhan kami kelak jika pindah dari kota ini."

"Di sini saja Syah," pinta Satria.

Aisyah menggeleng lalu berkata, "Nggak mungkin Mas, aku nggak akan mungkin sanggup."

Hanya itu yang keluar dari mulut Aisyah, dan merekapun diam hingga sampai di rumah.

Saat masuk ke dalam rumah Aisyah terkejut, dia melihat Bibi sedang menangis.

"Bi, kenapa Bibi menangis? Ada masalah apa Bi? Apakah ada orang yang menyakiti Bibi?"

"Nyonya Non, Nyonya Herlina tadi kesini dan beliau marah-marah. Beliau mencari Non Gladis. Beliau mengancam akan menyakiti Non jika Non Gladis tidak ditemukan."

"Terus Bibi baru dapat kabar, jika anak Bibi yang di kampung kecelakaan. Bibi boleh izin pulang Non?"

"Begini saja Bi, biar Pak sopir yang akan mengantar Bibi pulang. Mengenai Tante Herlina dan Gladis, nanti akan kami urus. Sekarang Bibi bersiaplah biar saya hubungi Pak Sopir," ucap Satria.

"Lantas, teman Non Aisyah di sini nanti siapa Den, jika Aden menginap di rumah Tuan atau saat Non Zahra pulang. Saya kemungkinan lama di kampung."

"Untuk sementara, saya akan cari pengganti Bibi dulu. Pokoknya Bibi tenang saja, jangan khawatirkan kami. Oh ya Bi, ini ada sedikit dana untuk membantu biaya perobatan anak Bibi. Semoga nantinya dia cepat sembuh."

"Terimakasih Tuan, Non. Bibi mau bersiap dulu."

Satria langsung menghubungi Sopir kantor agar secepatnya datang mengantar Bibi. Lalu dia mencoba mengirim pesan kepada Gladis agar segera pulang.

Namun pesan yang dikirim Satria masih centang satu. Berarti Gladis menonaktifkan ponselnya.

"Mas, apa kita beritahu Tante Herlina saja ya, tentang keberadaan Gladis."

"Tidak sekarang Syah, bahaya jika Tante sampai ke sana. Kita nggak boleh gegabah, itu salah satu markas gembong mafia. Jadi kita harus melibatkan pihak kepolisian."

"Kita tunggu hingga malam, jika Gladis tidak juga pulang, aku akan menghubungi polisi."

Nggak lama Bibi pun muncul sambil menjinjing tas bekalnya.

Non, tadi sudah Bibi masakin sup, jadi Non Aisyah tinggal memanaskannya saja.

"Terimakasih ya Bi. Jika ada apa-apa telepon kami ya Bi, siapa tahu kami bisa berkunjung ke sana," ucap Aisyah.

"Baik Non. Bibi berangkat dulu ya Non, Den. Itu Pak sopir sudah sampai."

Satria dan Aisyah mengangguk, lalu merekapun mengantar Bibi hingga keluar.

Kini rumah jadi sepi, Satria harus mencari pengganti Bibi untuk sementara. Lagipula kasihan Aisyah jika tidak ada pembantu, apalagi saat dia sudah aktif bekerja.

"Ayo kita istirahat dulu Syah, nanti sore aku akan mengajakmu menjenguk Bapak. Sejak menikah kita belum ada menjenguk Beliau."

"Eh iya Mas, aku rindu Bapak. Apalagi kata Papa, Bapak juga tidak masuk kerja karena sedang demam."

Keduanya pun bergegas ke kamar, tapi belum sempat Satria mengganti pakaiannya, ponselnya pun berdering. Ternyata panggilan dari Zahra.

Satria buru-buru mengangkatnya, karena dia rindu serta mengkhawatirkan Zahra yang beberapa hari tidak bisa dihubungi.

"Hallo Sayang, kamu kemana saja? Aku kangen. Kenapa susah sekali menghubungimu, hape mu non aktif terus?" tanya Satria.

"Maaf Mas, aku ke tempat Nenek. Mas sehat kan? aku juga rindu."

"Pulanglah Sayang, apa kangen sekali. Kamu tega banget ninggalin aku terlalu lama."

Zahra tersenyum melihat suaminya manyun, tapi dia senang Satria masih merindukannya meskipun sudah ada Aisyah.

Mereka pun mengobrol banyak hal-hal romantis hingga Satria lupa jika dia sedang berada di kamar bersama Aisyah.

Aisyah sedih, dia tidak diberi kesempatan untuk ngomong dengan Zahra dan dia merasa menjadi penonton di sana. Penonton kemesraan Satria dengan Zahra.

Daripada hatinya makin sakit, Aisyah pun pelan-pelan pergi meninggalkan kamar. Dia memilih ke taman, membersihkan rumput liar yang mulai tumbuh di antara tanaman.

Meski hari panas, Aisyah tidak peduli, daripada hatinya yang panas, terbakar rasa cemburu yang seharusnya tidak boleh ada dalam pernikahannya.

Entah mengapa rasanya begitu sakit, hingga Aisyah menitikkan air mata.

Kebahagiaan yang baru saja dia nikmati, rasanya sirna dalam sekejap. Apalagi saat tadi mendengar Satria mengatakan jika dirinya sangat merindukan Zahra. Dan meminta Zahra untuk segera pulang.

Aisyah harus sadar, harus bangun dari mimpinya. Mimpi memiliki cinta dan dicintai oleh Satria.

Bodoh rasanya, karena kemaren Aisyah sempat yakin jika Satria sudah mulai mencintai dirinya.

Ucapan, canda mesra serta ciuman jarak jauh yang Satria lakukan bersama Zahra terus saja terngiang-ngiang di telinganya, hingga airmata Aisyah pun tidak berhenti menetes.

Bersambung....

1
Dwi ratna
kesian ais
Dwi ratna
upik abu jd Cinderella ya syah
Dwi ratna
kebanyakan ma gladis tuh jd antagonis ya
Dwi ratna
berarti ssatria mw dnikahin sm sepupuny apa?
Dwi ratna
komen ah msa cm bca doang, kesian othorny...
Alya Yuni
Mati aja kau Zahra jdi prmpuan ko trllu bodoh
Alya Yuni
In yg buat ak mls bca npa penulis membuat sya mlas bca
Cinta Suci
alloh irham
neny
wa'alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh,,mohon maaf lahir dan batin ya kak othor 🙏😘
neny: aamiin yra 🤲🤲
total 2 replies
Uchi Hafiz
lanjut
Puput pujiati
mantab
Uchi Hafiz
lanjut
neny
kerasa banget euy sakit nya di hati aq ,,,bentengi hati mu aisyah,,km harus kuat,,
Uchi Hafiz
lanjut
Avatar
Semangat..kak..
mama oca
mampir thor.. cerita yang bagus..semangat kakak
neny
cerita nya sangat menarik,,sy senang membaca nya,,semangat kak othor untuk menghasilkan karya terbaik,,tetap sabar dlm mencapai kesuksesan,,krn semua itu tdk instan,,,pokok nya semangat 💪💪💪😘😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!