Di ulang tahunnya yang ke-20, Eriza Ravella mendapat hadiah berupa tiket pesawat liburan ke New Angeles dari bibinya. Bersama sepupunya, Sienna Aeris, keduanya berangkat. Kedua gadis itu menikmati liburan mereka dengan menyenangkan.
Suatu sore, tanpa sengaja mereka bertemu dengan pemandu wisata yang membawa rombongan mahasiswa dari perkumpulan misteri yang menyebut diri mereka Blue Rose. Kedua gadis tersebut diajak sang pemandu mengunjungi lokasi wisata horor terkenal di kota tersebut.
Perjalanan dimulai. Tidak hanya deretan bangunan kosong yang menjadi daya tarik, ternyata dibalik lokasi tempat wisata tersebut menyimpan sebuah kisah kelam di masa lalu yang masih menyisakan misteri hingga saat ini. Terutama dengan kemunculan sosok pemuda yang tidak hanya mencampur-adukkan perasaan Eriza namun keberadaannya juga penuh teka-teki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Singkat
Aku duduk di depan meja belajar sembari menyiapkan buku yang menjadi bahan kuliah besok. Yah, liburan sudah selesai. Saatnya kembali ke kehidupan nyata. Deringan keras ponsel mengagetkanku. Aku mengambilnya dan mematikan nada dering pesan yang nge-rock itu. Aku harus menggantinya nanti.
Aku membuka pesan yang muncul di layar ponsel. Hem, ternyata pesan dari Alex.
📨[Hai Riza, apa kamu sudah tidur? Aku hanya mau bilang aku senang sekali bisa jalan-jalan denganmu hari ini. Lain kali kita pergi bersama-sama lagi, ya!]
Aku menyunggingkan senyum sambil membaca pesan itu. Kemudian mulai mengetik beberapa kalimat.
📨[It's ok! Mungkin kita bisa pergi di hari libur, tapi tidak naik ratusan anak tangga lagi. Karena aku pikir kakiku pasti akan pegal keesokan harinya. Tidak akan lucu di hari pertama kembali kuliah harus berjalan dengan kaki pincang, bukan?!]
Dan kirim ....
Tidak lama ponsel kembali berbunyi. Balasan dari Alex.
📨[Itu karena kamu menolak tawaranku untuk menggendong mu. Hehehe .... Kalau begitu maaf membuat kakimu pegal. Andai aku di sana, aku mau memijatnya untukmu. Baiklah aku tidak mau mengganggumu lagi. Istirahatlah supaya besok bisa bangun dengan semangat. Good night and sweet dreams!]
Aku tak membalas pesan Alex lagi. Ku letakan kembali ponsel ke atas meja dan melanjutkan kesibukan yang tadi sempat tertunda. Akhirnya selesai. Aku pun naik ke tempat tidur.
Dari jendela kamar yang tirainya masih terbuka. Aku bisa menatap langit dengan bintang-bintang yang berkilauan. Ini alasan aku lebih suka tidur sendirian di sini daripada berbagi kamar dengan Sienna di bawah.
Twinkle twinkle little star ....
Sambil bersenandung lagu Twinkle Twinkle, kutunjuk bintang itu satu persatu. Kemudian sampai pada sebuah bintang yang cahayanya lebih terang dari bintang lainnya, tanganku berhenti. Wajahnya muncul lagi. Wallace ....
Aku sudah berbaring di atas tempat tidur, tapi sulit sekali rasanya memejamkan mata. Jadinya bangun kembali dengan posisi telungkup. Aku mengambil buku harian yang ada di bawah bantal tidur. Membuka lembar kosong dan mulai menuangkan isi hatiku.
┌──❀*̥˚──◌──────────◌──❀*̥˚─┐
...9 June 2013,...
...Diantara semua bintang yang ku lihat di langit hanya ada satu yang paling terang sinarnya. Dan diantara semua orang yang dapat ku temui, hanya dirimu yang tak mampu ku raih. Kamu yang bersinar paling terang tapi sangat sulit untuk bisa ku gapai. Sebenarnya aku tidak suka memikirkanmu. Karena itu membuatku tersiksa. Tapi bagaimana aku bisa berhenti memikirkanmu? Jika bintang selalu muncul setiap malam!? Aku hanya berharap ada jawaban dari hati yang masih terus berharap....
└◌───❀*̥˚───────────◌───❀*̥˚┘
...********...
Huaaa .... Kakiku benar-benar pegal. Sebelum berangkat ke kampus aku mengoleskan kakiku dengan krim pereda nyeri dan pegal. Itu memberi efek sejuk sehingga sedikit mengurangi rasa pegal. Meskipun tidak cukup ampuh menghilangkan pegal sepenuhnya. Rupanya Sienna juga bernasib sama denganku. Walau begitu perjalanan pulang dan pergi ke kampus tetap kami lakukan dengan penuh semangat. Hanya saja mungkin akan lebih banyak duduk diam saja hari ini.
Hari pertama kembali ke kampus cukup menyenangkan. Semua berjalan lancar seperti hari biasanya. Dan yang pasti pekerjaan rumah siap-siap menumpuk. Karena ini akhir semester jadi harus belajar lebih giat lagi.
Begitu tiba di rumah aku langsung melemparkan tubuhku ke atas sofa. Rasa pegal di kaki masih belum juga hilang. Sienna juga sudah terkapar di sampingku.
"Benar-benar pegal," keluhnya sambil memijat kakinya.
"Iya. Aku mau tidur sebentar, semoga nanti hilang," kataku segera membawa buku-bukuku ke atas.
Begitu sampai di kamar aku langsung berbaring dan tertidur dengan cepat. Begitu nyenyaknya hingga bunyi ponsel yang berdering beberapa kalipun tidak mampu membangunkan ku.
Aku terbangun saat hari sudah petang. Kamarku sudah gelap gulita. Aku bangun untuk menyalakan lampu dan mandi. Kemudian makan malam bersama Sienna dan bibi. Kami mengobrol beberapa saat di ruang tamu. Sampai pukul 8 malam aku kembali masuk ke kamar. Kakiku sudah tak begitu pegal lagi.
Kuraih ponsel. Ada empat panggilan tidak terjawab dan sebuah pesan. Tiga dari Alex dan satu dari private number. Kubuka pesan dari Alex.
📨[Hi Riza, bagaimana hari pertama kembali kuliah? Kuharap menyenangkan! Bagaimana kakimu? Apa terasa pegal? Seharian ini Mandy terus mengeluhkan kakinya yang pegal. Bahkan meminta Justin memijatnya. Lucu sekali! Kalau kamu melihatnya pasti akan tertawa.]
Aku tersenyum sendiri membaca pesan dari Alex. Kemudian memencet tombol balas dan mulai mengetik.
📨[Kakiku sudah agak mendingan setelah tidur siang tadi. Ku kira dia kuat karena dia yang sampai di puncak duluan. Hahaha .... Dia pasti jera dan tidak akan ke sana lagi.]
Kemudian kirim. Tak lama balasan Alex datang.
📨[Anggapanmu salah karena dia sangat menyukai Green Hill. Jadi, tidak mungkin akan jera. Oh ya, sekarang kamu sedang apa? Apa aku mengganggu?]
Aku kembali membalas pesannya.
📨[Tidak. Kebetulan tidak ada pekerjaan rumah jadi aku hanya perlu mempersiapkan buku pelajaran untuk besok saja.]
Balasan Alex sampai lagi dengan cepat.
📨[Oh, sebenarnya aku ingin menelponmu. Tapi sudah malam, mungkin lain kali saja. Kamu istirahatlah! Supaya besok lebih semangat, oke! Good night and sweet dream!]
Aku tak membalasnya lagi. Ku letakkan ponsel kembali di atas meja. Aku naik ke tempat tidur. Jendela yang ada didepanku sengaja tak ku tutup tirainya agar aku bisa melihat bintang di langit malam. Tapi malam ini tidak nampak ada bintang. Langit menjadi sangat gelap, sepi, seperti hatiku.
Aku mengeluarkan buku harian dari balik bantal kemudian mulai menulis.
┌──❀*̥˚──◌──────────◌──❀*̥˚─┐
...10 June 2013,...
...Malam tanpa satupun bintang nampak di langit. Meski tak nampak bukan berarti mereka tak ada. Kadang awan menutupinya sehingga ia seperti menghilang. Seperti bintang pujaanku, meskipun aku tak dapat melihatnya, tapi ia selalu hidup di hatiku....
└◌───❀*̥˚───────────◌───❀*̥˚┘
Ku tutup buku harian dan menaruhnya kembali di bawah bantal. Lalu segera tidur.
...★━━━━PoV Wallace━━━━★...
Ditengah malam yang sunyi, saat semua telah terlelap ke dalam mimpi. Eriza pun telah tertidur pulas. Dari dalam kamar0 tirai jendela bergoyang sendiri seperti tertiup angin. Dan entah darimana tiba-tiba Wallace sudah berdiri di samping tempat tidur Eriza. Matanya menatap gadis yang tertidur pulas itu dengan sangat lekat. Perlahan tangan dinginnya membelai kepala Eriza. Saat Eriza bergerak merasakan sentuhannya ia menarik kembali tangannya. Namun gadis itu tetap tak sadar.
Wallace menghembuskan nafas berat. Melihat gadis yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama tertidur dengan pulas. Ia ingin sekali membangunkan gadis itu untuk mengajaknya ngobrol, ingin melihatnya tersenyum, tapi ia tidak bisa melakukan semua itu. Gadis yang tertidur pulas di depannya itu pasti akan kaget jika melihatnya berada di kamarnya. Wallace hanya bisa menatapnya diam-diam. Dia tahu hatinya tersiksa tapi ia tak bisa melawan takdir.
"Takdir memang kejam!" gumamnya hampir tak terdengar. Kemudian ia pun menghilang tanpa jejak.
bersambung ....
keren thor