NovelToon NovelToon
Magang Di Hati Bos Muda

Magang Di Hati Bos Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Keluarga / Teen School/College / CEO / Romansa
Popularitas:209
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Satu kesalahan di lantai lima puluh memaksa Kirana menyerahkan kebebasannya. Demi menyelamatkan pekerjaan ayahnya, gadis berseragam putih-abu-abu itu harus tunduk pada perintah Arkan, sang pemimpin perusahaan yang sangat angkuh.
​"Mulai malam ini, kamu adalah milik saya," bisik Arkan dengan nada yang dingin.
​Terjebak dalam kontrak pelayan pribadi, Kirana perlahan menemukan rahasia gelap tentang utang nyawa yang mengikat keluarga mereka. Di balik kemewahan menara tinggi, sebuah permainan takdir yang berbahaya baru saja dimulai. Antara benci yang mendalam dan getaran yang tak terduga, Kirana harus memilih antara harga diri atau mengikuti kata hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Rahasia di Balik Peti Kaca

Kirana menerjang Arkananta dengan sisa tenaga yang ia miliki hingga pria itu terdesak ke arah dinding baja yang sangat dingin. Tangan mungil Kirana mencengkeram kerah kemeja Arkananta yang sudah compang-camping, sementara matanya yang sembap memancarkan amarah yang sangat berkobar. Ia menunjuk ke arah peti mati kaca tempat ibunya terbaring tenang dengan napas yang dibantu oleh mesin-mesin kuno yang terus berdenyut secara teratur.

"Anda membohongi saya selama ini dengan mengatakan bahwa ibu saya sudah meninggal dunia di dalam kebakaran rumah sakit itu!" jerit Kirana dengan suara yang sangat parau.

Arkananta tidak melakukan perlawanan sedikit pun, ia membiarkan Kirana meluapkan seluruh emosi yang selama ini terpendam di dalam dadanya. Ia hanya menatap Kirana dengan pandangan yang penuh dengan rasa bersalah namun tetap menyimpan sebuah ketegasan yang sangat sulit untuk ditembus. Suasana di dalam brankas bawah tanah itu menjadi sangat mencekam, hanya diiringi oleh suara desisan oksigen yang keluar dari tabung pernapasan sang ibu.

"Jika saya memberitahu kamu sejak awal, nyawa ibumu tidak akan pernah bisa selamat dari kejaran orang-orang suruhan Bagas," jawab Arkananta dengan nada yang sangat rendah.

Kirana melepaskan cengkeramannya, ia jatuh terduduk di depan peti kaca tersebut sambil membelai permukaan kristal yang sangat halus dan sangat dingin. Ia melihat wajah ibunya yang tampak jauh lebih muda daripada ingatan terakhirnya, seolah waktu telah berhenti berputar bagi wanita yang sangat ia rindukan itu. Keheningan yang sangat menyiksa kembali menyelimuti ruangan tersebut sebelum akhirnya Kirana menyadari ada sebuah kabel merah yang terhubung ke arah jantung ibunya.

"Kenapa ada alat pelacak yang dipasang tepat di atas jantung ibu saya, Tuan Arkananta?" tanya Kirana sambil menoleh dengan tatapan yang sangat curiga.

Arkananta menarik napas panjang, ia menjelaskan bahwa alat tersebut bukan sekadar pelacak, melainkan sebuah kunci pemutus arus listrik terakhir. Jika jantung ibunda Kirana berhenti berdetak, maka seluruh sistem pertahanan di menara tinggi ini akan meledak dan menghancurkan semua data rahasia. Kirana terperanjat, ia menyadari bahwa ibunya bukan hanya diselamatkan, tetapi juga dijadikan sebagai sandera hidup demi menjaga keamanan perusahaan Dirgantara.

"Anda benar-benar pria yang sangat iblis karena tega menjadikan nyawa manusia sebagai tameng demi harta warisan!" maki Kirana dengan penuh rasa benci.

Tiba-tiba, suara alarm darurat kembali meraung dari arah luar pintu baja, menandakan bahwa pasukan Bagas telah berhasil meledakkan dinding luar ruang bawah tanah. Getaran hebat membuat debu-debu semen jatuh dari langit-langit ruangan, mengotori permukaan peti kaca yang sangat mewah tersebut. Arkananta segera menarik Kirana menjauh dari peti mati, ia mengeluarkan sebuah pistol perak dari balik jas mewahnya yang sudah sobek.

"Cepat masuk ke dalam celah di bawah lantai ini, Kirana, bawa kunci ini dan lari menuju pelabuhan rahasia!" perintah Arkananta sambil menyerahkan sebuah kunci tembaga kuno.

Kirana menolak untuk pergi tanpa membawa ibunya, ia mencoba mencari cara untuk membuka tutup peti kaca yang terkunci dengan sistem kode angka yang sangat rumit. Namun, pintu baja utama mulai melengkung ke dalam akibat hantaman benda tumpul yang sangat besar dari arah koridor gelap. Arkananta menghalangi pandangan Kirana, ia berdiri dengan posisi siaga tepat di depan pintu yang nyaris jebol tersebut dengan wajah yang sangat pucat.

"Jangan bodoh, Kirana, peti ini tidak akan bisa dipindahkan tanpa bantuan tenaga mesin yang sangat berat!" teriak Arkananta sambil mendorong Kirana masuk ke lubang pelarian.

Dari balik pintu yang mulai terbuka, muncul sosok Bagas yang membawa sebuah gergaji mesin besar yang masih berlumuran darah segar. Bagas tertawa terbahak-bahak melihat Arkananta yang sudah terpojok bersama gadis magang yang selama ini selalu berhasil lolos dari genggaman mautnya. Ia mengarahkan gergaji mesinnya ke arah peti kaca tempat ibu Kirana berada, mengancam akan menghancurkan segalanya jika mereka tidak segera menyerah.

"Selamat malam, Pengantin Kecil, mari kita lihat apakah ibumu masih bisa bernapas setelah saya membelah kristal ini menjadi kepingan!" seru Bagas dengan sangat kejam.

Kirana melihat Arkananta mulai melepaskan tembakan ke arah Bagas, namun pria tua itu menggunakan sebuah tameng baja yang sangat tebal untuk melindungi dirinya. Di tengah kekacauan tersebut, Kirana melihat tangan ibunya di dalam peti kaca tiba-tiba bergerak sedikit, seolah sang ibu mendengar suara jeritannya. Jantung Kirana berdegup-degup sangat kencang, ia merasa harus melakukan sesuatu yang sangat nekat untuk menghentikan kegilaan pria yang sudah kehilangan akal sehat ini.

"Berhenti! Saya akan memberikan sandi brankas pusat itu kepada Anda, Bagas, asalkan jangan sentuh ibu saya sedikit pun!" teriak Kirana sambil keluar dari lubang pelarian.

Arkananta terkejut mendengar tawaran Kirana, ia mencoba memperingatkan gadis itu bahwa memberikan sandi tersebut berarti menyerahkan seluruh dunia kepada seorang psikopat. Namun, Kirana sudah tidak peduli lagi dengan harta atau jabatan, baginya nyawa ibunya adalah satu-satunya hal yang paling berharga di alam semesta. Bagas mematikan gergaji mesinnya, ia mendekat ke arah Kirana dengan senyuman yang sangat memuakkan dan penuh dengan kemenangan yang sangat kotor.

"Pilihan yang sangat bijak bagi seorang gadis magang yang sangat berbakti kepada orang tuanya," ujar Bagas sambil mengulurkan tangan yang sangat kasar.

Kirana mendekati Bagas, ia membisikkan sesuatu ke telinga pria itu yang membuatnya langsung terbelalak kaget dan tubuhnya mendadak menjadi sangat kaku. Tanpa menunggu waktu lama, Kirana menancapkan pisau lipat kecil yang ia sembunyikan di balik seragam sekolahnya tepat ke arah leher Bagas. Darah menyembur keluar, membasahi wajah Kirana dan jas mewah Arkananta, menciptakan sebuah pemandangan yang sangat mengerikan di dalam ruangan yang sunyi tersebut.

Bagas jatuh tersungkur sambil memegangi lehernya, namun tangannya yang gemetar sempat menekan sebuah tombol merah yang ada di pinggangnya sebelum ia benar-benar tewas. Suara desisan gas mulai terdengar dari lubang udara, namun kali ini gas itu berwarna hijau dan berbau seperti belerang yang sangat menyengat. Kirana melihat ke arah peti kaca dan menyadari bahwa sistem pendukung hidup ibunya mulai mati satu per satu karena pasokan listriknya diputus secara paksa oleh Bagas.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!