NovelToon NovelToon
Cinta Di Tapal Batas

Cinta Di Tapal Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Romansa pedesaan / Diam-Diam Cinta / Cintamanis
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.

"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."

"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."

Bagaimana kisah selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

"Ada apa ini?" Tanya Aksa ketika hendak masuk kendaraan memandangi Marini yang sedang menangis. "Marini" ulang Aksa.

"Tidak ada apa-apa, Pak" lirih Marini.

Begitu juga dengan Dini yang berdiri di samping Aksa pun menatap Marini banyak tanda tanya. Kenapa wanita yang biasanya membuat orang menangis itu kini terisak-isak.

Sepi, di dalam mobil tidak ada yang menjawab pertanyaan Aksa dari lima orang di dalam sana. Lusi membisu dengan wajah kesal, Handoko dan Cahyono saling pandang. Mereka tahu jika bu Lusi penyebab Marini menangis lantaran kalah dalam kompetisi.

Aksa beralih menatap Lusi yang sedang muram tidak melanjutkan pertanyaan. Dalam pikirannya sudah menebak bahwa Lusi marah karena hasil kompetisi membuatnya malu. Tetapi Aksa lebih baik membuka pintu depan lalu masuk. "Andai kamu mendengarkan kata-kata saya, Lusi" ucapan Aksa itu tentu tidak dilahirkan.

Sementara Dini duduk di pinggir pintu sebelah kiri tepat di belakang Aksa, Marini yang masih menangis di tengah-tengah, kemudian Lusi di pinggir kaca sebelah kanan menatap jalanan.

Semua tidak ada yang berkata-kata selain terdengar derung mesin. Seolah kegagalan Marini dan Handoko membuat hati mereka galau. Kecuali Dini justru kasihan kepada Marini. Rasanya ingin memeluk temannya itu memberi dukungan, tapi Dini khawatir ditolak mengingat selama ini Marini tidak suka kepadanya.

Mobil pun tiba di sekolah, Aksa bersama Lusi masuk ke kantor masih dalam kebisuan. Menyisakan empat remaja itu turun belakangan dan kembali ke rumah masing-masing.

Semenjak saat itu Marini merasa sendiri, semua teman seolah menjauhi dan menyalahkan. Justru Dini yang sering menyapa, padahal sering dia sakiti.

Hingga siang itu ketika bubar sekolah. "Dini... aku minta maaf, seharusnya kamu yang ikut lomba, bukan aku," Marini menatap Dini berkaca-kaca, ia rupanya mengikuti Dini dan Lestari yang berjalan ke tempat parkir. Ia kini menyadari bahwa dirinya ternyata memang bukan apa-apa jika dibandingkan Dini.

"Sadar juga akhirnya" Ketus Lestari. Tetapi lantas diam ketika jemarinya diremas Dini.

"Marini..." Dini yang hendak naik ke atas motor pun urung, ia dekati Marini yang akhir-akhir ini tidak pernah bergabung dengan tiga orang temanya

"Mar, yang kamu lakukan sudah paling baik, niat kamu hanya ingin membuat sekolah kita bangga, tapi jika pada akhirnya tidak berhasil itu namanya belum rezeki. Mar, begitulah yang namanya lomba, kalah menang sudah biasa" Dini genggam dua telapak tangan Marini yang berkeringat dingin.

"Dini..." Marini menghambur ke tubuh Dini, dia tumpahkan tangis di sana. "Tapi aku ternyata bodoh Dini" lanjutnya. Ia melepas pelukan menatap Dini dengan air mata mengalir.

"Air laut tak selamanya jernih Mar, begitu juga dengan otak kita. Sudahlah, jangan memikirkan masalah lomba lagi" nasehat Dini, lalu melanjutkan perjalanan.

Marini menatap motor Dini yang sudah menjauh, ia pikir Dini tidak mau memaafkan tetapi ternyata diluar dugaan.

Pagi hari udara di lingkungan sekolah terasa hangat disorot sinar Matahari. Seorang wanita berseragam SMA tengah menarik kunci motor. Dia melepas ransel di bahu, kemudian memasukan kunci ke dalamnya. "Lestari mana ya?" Dia putar kepala mencari sosok sahabat di antara siswa lain yang berpakaian sama tapi tidak menemukan yang ia cari. Ketika hendak melanjutkan perjalanan ke kelas terdengar suara motor berhenti.

Bibirnya tersenyum indah ketika tatapannya tertuju kepada pria yang sedang parkir motor di sebelah motornya. Si pria merapikan rambut di kaca spion sungguh menawan. "Wajahnya ganteng sekali pak guru yang satu itu, tapi sayang sekali sudah bertunangan dengan wanita lain." Dini menggerutu sambil berlalu.

"Dini..." panggil si pria yang tak lain adalah Aksa, ia melangkah lebar sepertinya ingin cepat tiba di dekat Dini.

"Ada apa ya, Pak" Dini paling bisa menyembunyikan ekpresi wajahnya yang sebenarnya senang dipanggil Aksa.

"Tidak ada apa-apa" jawab Aksa membuat Dini kecewa. Dia pikir gurunya itu ingin menyampaikan sesuatu yang penting.

Dengan rasa hormat Dini menyilakan gurunya berjalan lebih dulu, tapi Aksa justu berhenti. "Kamu jalan dulu."

"Bapak dulu" Dini menggerakkan tangan ke depan. Karena tidak ada yang berjalan keduanya tertawa dan akhirnya melangkah bersama-sama.

"Pak, saya boleh bertanya yang sifatnya pribadi?" Dini tampak ragu.

"Mau tanya apa?" Aksa melirik Dini penuh tanda tanya.

 "Bapak kan tunangan Marini, tapi kenapa tidak membelanya? Padahal saat ini ia sedih karena semua orang menyalahkan."

"Tunangan?" Aksa kaget tiba-tiba langkahnya berhenti berhadapan dengan Dini.

"Marini itu sudah berusaha Pak, jika pada akhirnya kalah lomba bukanya sudah biasa?" Dini melanjutkan perjalanan.

"Jadi kamu mengira saya tunangan dengan Marini?" Aksa bukan menjawab pertanyaan Dini, tapi justru balik bertanya.

"Bukanya berita ini sudah diketahui anak-anak kelas Ipa 1, dan Ipa 2 Pak" Dini yakin jika Aksa hanya pura-pura, padahal Dini sering mendengar penuturan Marini kepada teman-temannya.

"Mana mungkin saya tunangan dengan bocah" Aksa pun melanjutkan perjalanan.

Ucapan Aksa itu membuat kaki Dini sulit untuk melangkah, perasaannya campur aduk. Senang jika Aksa memang bukan tunangan Marini, tapi kata 'bocah' tadi sama saja menyindir dirinya.

"Dini, ayo" Aksa menoleh Dini yang masih berdiri melamun.

"Iya Pak, iya..." Dini berlari-lari mengejar Aksa hingga berjalan bersebelahan.

"Marini itu rumahnya tidak jauh dari rumah Ibu saya, Dini" Aksa pun akhirnya menceritakan jika Marini dekat dengan ibunya, sering main ke rumah dan membantu memasak.

"Oh gitu..." Dini sekarang tahu jika yang dikatakan Marini tidak benar. Namun, semenjak kalah dalam kompetisi, Marini tidak lagi mengaku-ngaku jika Aksa tunangannya.

Dini Marini dan Lestari justru menjadi sahabat, sering belajar bersama. Tentu saja tidak ada halangan bagi Dini untuk berdekatan dengan Aksa, walaupun sejauh ini masih sebatas murid dan guru.

***************

Waktu terus berganti, cinta Dini kepada Aksa semakin bersemi, walau tidak jarang hatinya dibuat cemburu oleh Lusi yang selalu minta perhatian Aksa.

Begitu juga Aksa, seiring berjalannya waktu semakin dekat dengan Dini, tapi keduanya tidak ada yang terbuka dengan perasaan masing-masing. Pandai menyembunyikan isi hati mereka hingga 6 bulan kemudian, Dini sudah naik kelas tiga.

"Karena kamu sudah mendapat juara umum, saya ingin memberimu hadiah" ucap Aksa memberikan bunga mawar di tapal batas ketika pertama kali mereka bertemu.

Dini terkejut, dadanya berdebar kencang menatap bunga di tangan Aksa, tangannya gemetar untuk menerima. "Bunga mawar bukankah lambang cinta? Apakah Pak Aksa sudah mulai mencintai aku?" Tanya Dini dalam hati.

"Kamu tidak menerima pemberian saya."

"Bapak memberi saya hadiah ini hanya karena saya juara?" Dini berharap Aksa pun membalas perasaannya.

"Memang kamu ada prestasi yang lain?"

"Emmm... tidak-tidak" Dini gugup. Wajahnya berpaling dari wajah Aksa, lalu menatap tiga tangkai bunga mawar di tangan gurunya.

"Terima kasih Pak" tangan Dini akhirnya bergerak ambil bunga mawar tersebut. Dia amati mawar, sedetik kemudian menciumnya. Apapun maksud Aksa memberikan hadiah itu tapi hatinya saat ini sedang berbung-bunga.

"Sama-sama, sekarang kamu ikut saya."

"Kemana, Pak?"

"Ayo, makanya."

...~Bersambung~...

1
Darti abdullah
luar biasa
Eka ELissa
knpa tu Lusi..... entahlah hy emk yg tau.....
Buna Seta: Jangan jangan bunting
total 1 replies
Attaya Zahro
typo kak..yang memberi Burhan bukan Ringgo
Attaya Zahro: Iya kak 😍😍
total 2 replies
Ita rahmawati
ada apa nih dg bu lusi
Ita rahmawati
polisi dateng,,apakah 22 nya ditangkep 🤔
Eka ELissa
nah lohh.... Burhan Ringgo msuk bui.,. tu bersiap udh di jmput mo di bawa ke hotel 🏨🏨🏨 prodeo 😄😄😄😄🤭
Buna Seta: Kapok dia 😁
total 1 replies
neng ade
aku hadir disini thor .. 🙏😍
Buna Seta: Lanjut ya
total 1 replies
Ita rahmawati
aksa kah yg dateng atau orang lain
vj'z tri
🫣🫣🫣🫣 semoga selamat 🫣🫣
Eka ELissa
Lusi pa Ringgo.....yg culik....dini... entahlah hy emak yg tau...
Eka ELissa
aduh....Bu ..dini....di culik tau ...smoga GK knpa2....yaaa......🤦🤦🤦
Bu Kus
lanjut
Fitriah Fitri
pleazee thor ... 2 bab tudey. nti sore up lg kan dr kmrn 1 bab trs up nya
Buna Seta: Lagi galau say, retensi buruk 😭
total 1 replies
vj'z tri
sabar Mak sabar tanya pelan pelan jangan langsung gas 🤭🤭🤭🤭
Ita rahmawati
siapa ya yg nyulik,,lusikah atau ringgo kah atau ada lg orang baru 🤔
Eka ELissa
dini....pak....msih inget kan kmu...😡😡😡
Ita rahmawati
hadeuh siapa nih yg bekap dini
Attaya Zahro
Jangan² nih kerjaan si Bu Lusi,.dan malah membuat Aksa jadi salah paham ma Burhan..
Attaya Zahro
Waduh..Dini di culik..tolong Dini Bang Aksa
Bu Kus
lebih baik jujur aja dini kan Aska gak tahu dengan kamu jujur pasti akan bertindak jangan main curiga nanti kamu nyesel lho
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!