NovelToon NovelToon
Melodi Yang Tidak Tersentuh

Melodi Yang Tidak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:661
Nilai: 5
Nama Author: Yumine Yupina

Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.

Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?

Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 – Pujian yang Menekan

Airi mulai menunggu akhir pekan tanpa sadar.

Bukan karena ada rencana besar, bukan karena ingin pergi ke tempat istimewa. Hanya karena di hari-hari itu, waktu terasa melambat. Tidak ada jadwal latihan. Tidak ada suara metronom. Tidak ada tatapan yang menunggu hasil.

Hanya dirinya, dan Takahashi.

Mereka sering bertemu di taman kota. Kadang duduk di bangku panjang di bawah pohon yang daunnya mulai jarang. Kadang masuk ke kafe kecil yang menghadap jalan, memesan minuman hangat dan berbicara tentang hal-hal yang tidak pernah masuk ruang latihan. Tentang kelelahan. Tentang mimpi yang sempat ia kubur. Tentang rasa takut yang tidak terdengar jika diucapkan di depan banyak orang.

Takahashi selalu mendengarkan.

Tidak terburu-buru memberi solusi. Tidak menyela dengan teori. Ia hanya mengangguk di waktu yang tepat, tersenyum ketika Airi berhenti bicara, dan berkata kalimat-kalimat yang membuat Airi merasa tidak aneh karena lelah.

“Kamu tidak lemah,” katanya suatu sore. “Kamu hanya terlalu lama bertahan sendirian.”

Kalimat itu seperti tangan yang diletakkan di punggung. Tidak mendorong. Tidak menarik. Hanya ada.

Dan Airi mulai percaya, bahwa mungkin selama ini ia memang salah paham.

Bahwa mungkin Takahashi tidak seperti yang dulu ia takutkan. Bahwa mungkin orang dewasa memang begini caranya peduli. Tenang. Konsisten. Hadir tanpa drama.

Hari itu, mereka masuk ke sebuah kafe kecil di tepi taman. Tempat yang hangat, dengan musik pelan dan aroma kopi yang menyamarkan dingin di luar. Airi duduk di kursi dekat jendela, membuka jaketnya sedikit.

“Tempat ini nyaman,” katanya.

Takahashi mengangguk. “Kamu kelihatan lebih santai di sini.”

Airi tersenyum, lalu matanya menangkap sesuatu di balik bar.

Ia membeku.

“Haruto…?”

Haruto sedang mengelap gelas. Ketika mendengar namanya, ia mendongak, dan raut wajahnya berubah seketika. Terkejut. Canggung. Seolah tidak siap bertemu di ruang yang salah.

“Oh,” katanya pelan. “Airi.”

Mereka saling menatap beberapa detik terlalu lama. Dunia kafe tetap berjalan, tapi ada ruang kecil yang terasa mengeras di antara mereka.

“Kamu kerja di sini?” tanya Airi.

“Iya,” jawab Haruto. “Cuma weekend.”

Sebelum percakapan itu berlanjut, Takahashi berdiri. “Aku ke toilet sebentar,” katanya ringan. “Pesan saja dulu.”

Ia pergi dengan langkah santai, meninggalkan Airi dan Haruto dalam jarak yang tiba-tiba terasa terlalu dekat.

Haruto menarik napas. Ia mengambil buku kecil di sakunya, berjalan mendekat ke meja Airi.

“Mau pesan apa?” tanyanya, profesional, tapi suaranya sedikit goyah.

Airi menyebutkan pesanannya. Tangannya menggenggam buku menu, jemarinya tidak tenang.

Beberapa detik berlalu. Haruto masih berdiri di sana.

“Airi,” katanya akhirnya, suaranya diturunkan. “Kenapa kamu ada di sini sama dia?”

Pertanyaan itu keluar lebih cepat dari rencananya.

Airi mengangkat kepala. “Maksud kamu?”

“Kamu dulu bilang… kamu enggak mau ketemu Takahashi di luar kampus.” Haruto berhenti sebentar. “Kamu bilang kamu enggak nyaman.”

Airi menghela napas. Ada sesuatu dalam dirinya yang langsung naik ke permukaan. Bukan marah, tapi defensif. Seperti seseorang yang merasa keputusannya sedang diadili.

“Mungkin dulu aku salah paham,” katanya. “Orang bisa berubah, Haruto.”

“Atau kita yang mengubah pandangan karena ingin merasa aman,” balas Haruto tanpa sadar.

Airi menegang. “Aku enggak bodoh.”

“Aku enggak bilang kamu bodoh,” cepat Haruto. “Aku cuma—”

“Kamu cuma enggak ngerti apa yang aku rasakan,” potong Airi. Suaranya mulai bergetar. “Untuk pertama kalinya ada orang yang benar-benar dengar aku tanpa menuntut apa pun.”

Haruto mengerutkan kening. “Airi, itu bukan kedewasaan. Itu ketergantungan.”

Kalimat itu jatuh terlalu keras.

“Apa?” Mata Airi melebar. “Kamu bilang aku enggak dewasa?”

“Aku bilang ini enggak logis,” Haruto mencoba memperbaiki. “Kamu berubah terlalu cepat. Kamu berhenti dengar orang lain.”

“Karena orang lain selalu ribut!” Airi berdiri sedikit dari kursinya, suaranya meninggi sebelum ia sempat menahannya. “Kamu selalu merasa paling tahu. Selalu merasa harus ngatur.”

“Aku peduli,” jawab Haruto, suaranya ikut naik. “Dan kamu enggak bisa lihat itu.”

Airi tertawa pendek, pahit. “Kalau kamu enggak tahu apa yang aku rasakan, mending kamu diam saja, Haruto.”

Kalimat itu seperti pisau tipis.

“Dan kalau kamu terus ikut campur urusanku sama Takahashi sensei,” lanjut Airi, matanya berkaca tapi nadanya keras, “aku akan mundur dari vokalis.”

Haruto terdiam.

Kata-kata itu tidak pernah ia bayangkan akan keluar dari mulut Airi. Ancaman yang bukan ditujukan untuk menyakiti, tapi untuk melindungi sesuatu yang sedang ia pegang erat.

“Airi…” suaranya melemah.

Saat itulah Takahashi kembali.

Ia berhenti beberapa langkah dari meja, matanya cepat membaca situasi. Ketegangan. Wajah Haruto yang pucat. Bahu Airi yang naik turun.

“Ada apa?” tanyanya lembut.

Airi langsung memalingkan wajah. Rasa tidak nyaman menjalar cepat. Ia tidak ingin ini dilihat. Tidak ingin dijelaskan.

“Aku enggak nyaman di sini,” katanya cepat. “Aku pengen pindah kafe.”

Takahashi tidak bertanya. Tidak memaksa penjelasan. Ia hanya mengangguk. “Baik.”

Ia menatap Haruto sebentar. Tatapannya netral, tapi ada sesuatu di sana yang membuat Haruto merasa lebih kecil dari sebelumnya.

Mereka pergi.

Pintu kafe tertutup, dan udara dingin masuk sebentar sebelum kembali tenang.

Haruto berdiri di tempatnya, tangannya gemetar. Ia tidak tahu apakah ia baru saja melakukan hal yang benar atau menghancurkan sesuatu yang seharusnya ia jaga.

Malam datang pelan.

Setelah jam kerja selesai, Haruto duduk di kamarnya dengan lampu redup. Ia membuka ponsel, menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menelepon grup.

Tanpa Airi.

Ren mengangkat lebih dulu. Disusul Yukito. Mei. Lalu Hinami.

“Ada apa, Haruto?” tanya Ren, suaranya waspada.

Haruto menceritakan semuanya. Dari awal hingga akhir. Tanpa dramatisasi. Tanpa menyembunyikan bagian di mana ia mungkin salah bicara.

Di ujung sana, hening.

“Itu… ekstrem,” kata Mei pelan.

Hinami menarik napas panjang. “Airi enggak pernah ngomong kayak gitu.”

“Itu yang bikin aku takut,” jawab Haruto. “Dia kayak orang lain.”

“Aku mau tanya langsung ke dia,” kata Hinami tegas.

“Jangan,” potong Ren. “Sekarang bukan waktunya.”

“Ren—”

“Kita ikuti alurnya dulu, Hinami,” lanjut Ren, suaranya tenang tapi tegas. “Kalau kita serbu sekarang, kita malah dorong dia lebih jauh.”

Yukito akhirnya bicara. “Berarti kita cari cara lain. Bukan konfrontasi.”

Mei mengangguk meski tak terlihat. “Kita jaga dia. Dari jauh dulu.”

Hinami terdiam. Ia tidak suka diam. Tapi malam itu, ia mengerti.

Mereka menutup telepon dengan satu kesepakatan rapuh.

Tidak ada yang akan bertindak sendiri.

Musim dingin di luar semakin dingin.

Dan di suatu tempat, Airi duduk di ujung ranjangnya, mendengarkan Takahashi berbicara di balik teleponnya dengan suara yang selalu tepat, merasa dimengerti… tanpa menyadari bahwa setiap pujian yang menenangkannya juga sedang mengikat langkahnya sedikit demi sedikit.

1
Esti 523
suemangad nulis ka
mentari anggita
iihh hati aku ikut panas dan sesak. Amarah Ren kerasa nyata, tapi lebih sakit lagi waktu dia harus berhenti demi Airi dan orang tuanya. 😭
Huang Haing
Semangat kak, penulisan nya bagus banget! 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!