Darah kakaknya masih basah di gaun pestanya saat Zahra dipaksa lenyap.
Melarikan diri dari belati ayahnya sendiri, Zahra membuang identitas ningratnya dan bersembunyi di balik cadar hitam sebagai Fatimah. Di sebuah panti asuhan kumuh, ia menggenggam satu kunci logam bukti tunggal yang mampu meruntuhkan dinasti berdarah Al-Fahri. Namun, Haikal, sang pembunuh berdarah dingin, terus mengendus aromanya di setiap sudut gang.
Di tengah kepungan maut, muncul Arfan pengacara sinis yang hanya percaya pada logika dan bukti. Arfan membenci kebohongan, namun ia justru tertarik pada misteri di balik sepasang mata Fatimah yang penuh luka. Saat masker oksigen keadilan mulai menipis, Fatimah harus memilih: tetap menjadi bayangan yang terjepit, atau membuka cadarnya untuk menghancurkan sang raja di meja hijau.
Satu helai kain menutupi wajahnya, sejuta rahasia mengancam nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Antara Logika dan Rasa
Namun, sebuah suara langkah kaki yang berat dari luar gua seketika menghentikan doa Fatimah dan membuat mereka berdua kembali berada di titik antara logika dan rasa. Fatimah segera memadamkan lampu minyak kecil yang sedari tadi menemani penjagaannya, membiarkan kegelapan mutlak menelan sosok mereka di balik dinding batu.
Tangan Fatimah bergerak cepat menutup mulut Arfan yang mulai mengerang dalam siumannya, memastikan tidak ada satu desah pun yang lolos keluar. Ia bisa merasakan hembusan napas Arfan yang panas di telapak tangannya, sementara jantungnya sendiri berdegup kencang seperti genderang perang yang ditabuh bertubi-tubi.
"Jangan bergerak atau bersuara sedikit pun, Tuan," bisik Fatimah tepat di telinga Arfan dengan getaran ketakutan yang nyata.
Arfan yang baru saja mendapatkan kembali kesadarannya merasa bingung sekaligus waspada saat merasakan telapak tangan halus menghalangi jalannya napas. Ia mencoba melihat dalam kegelapan, namun hanya siluet cadar Fatimah yang tampak sangat dekat dengan wajahnya, menciptakan jarak yang sangat intim sekaligus mencekam.
Ingatan akan pengakuan Fatimah tentang identitasnya sebagai Zahra semalam masih berputar di kepalanya, memicu amarah yang nyaris meledak kembali ke permukaan. Namun, suara gesekan sepatu di atas tanah berbatu di luar sana memaksa logika Arfan untuk menunda dendamnya demi keselamatan nyawa mereka.
"Siapa mereka? Apakah mereka orang-orang ayahmu?" tanya Arfan dengan suara yang sangat rendah, hampir tidak terdengar.
Fatimah tidak menjawab, matanya tertuju pada celah sempit pintu gua yang mulai tertutup bayangan hitam dari seseorang yang berdiri tepat di depan sana. Sinar senter yang tajam menyapu semak belukar di mulut gua, menciptakan garis cahaya yang membelah kegelapan seperti pedang yang siap menebas mangsanya.
Tangan Fatimah semakin erat memegang lengan kemeja Arfan, seolah mencari kekuatan dari pria yang sebenarnya sangat ingin membencinya itu. Ia tahu bahwa jika mereka tertangkap di tempat ini, maka sejarah akan tertulis dengan darah dan rahasia yang ia bawa akan mati bersamanya.
"Sepertinya mereka kehilangan jejak kita di dekat pohon besar tadi," suara seorang pria dengan nada serak terdengar dari luar sana.
Arfan merasa luka di perutnya kembali berdenyut perih saat ia mencoba mengubah posisi duduknya agar lebih stabil dan siap untuk menyerang jika diperlukan. Logikanya sebagai pengacara mulai bekerja, memetakan setiap kemungkinan jalan keluar jika orang di luar sana memutuskan untuk masuk ke dalam gua.
Namun, rasa sakit yang hebat membuatnya kembali tersandar lemas, sementara Fatimah dengan sigap menahan tubuhnya agar tidak terjatuh dan menciptakan bunyi yang fatal. Kehangatan tubuh Fatimah yang menyentuhnya membuat Arfan merasakan sebuah pertentangan batin yang sangat hebat antara benci dan kebutuhan untuk dilindungi.
"Kita tidak boleh tertangkap, aku masih harus menuntut keadilan untuk Luna atas apa yang kau lakukan," bisik Arfan dengan tatapan mata yang masih penuh luka.
Fatimah memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan perih yang mendalam di dadanya saat nama wanita itu kembali disebut sebagai alasan kebencian Arfan. Ia ingin sekali berteriak bahwa ia tidak bersalah, namun situasi saat ini menuntut kebungkaman total jika mereka masih ingin melihat matahari esok hari.
Langkah kaki itu perlahan menjauh, diikuti oleh suara deru mesin mobil di kejauhan yang menandakan para pengejar mulai memperluas area pencarian mereka. Fatimah melepaskan tangannya dari mulut Arfan, menghela napas panjang yang terasa sangat berat seolah-olah seluruh beban gunung baru saja diangkat dari pundaknya.
"Mereka sudah pergi, tapi kita tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi karena fajar akan segera menyingsing," ucap Fatimah sambil mulai membereskan barang-barangnya.
Arfan menatap Fatimah dengan pandangan yang sulit diartikan, antara ingin memercayai wanita ini atau tetap memegang teguh prasangka buruknya selama setahun terakhir. Ia melihat bagaimana Fatimah dengan telaten memeriksa kembali balutan lukanya, seolah-olah keselamatan Arfan adalah hal yang paling utama bagi wanita bercadar itu.
Ada sebuah ketulusan yang terpancar dari setiap gerak-gerik Fatimah, sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan karakter Zahra yang ia kenal sebagai putri manja seorang penguasa. Arfan merasa dunianya yang selama ini hanya hitam dan putih mulai dimasuki oleh warna-warna keraguan yang menyesakkan dadanya sendiri.
"Mengapa kau tidak membiarkan mereka menangkapku saja agar rahasiamu tetap aman selamanya?" tanya Arfan dengan nada yang lebih tenang namun tajam.
Fatimah menghentikan gerakannya, menatap Arfan lurus-lurus di bawah cahaya rembulan yang mulai memudar dan berganti dengan semburat merah di ufuk timur. Ia tidak perlu berpikir lama untuk menjawab pertanyaan itu, karena hatinya sudah memberikan jawaban jauh sebelum logika mampu merumuskannya dengan kata-kata.
Keyakinannya sebagai seorang wanita yang telah berhijrah mengajarkannya bahwa nyawa setiap manusia adalah suci dan tidak boleh dikorbankan demi ego pribadi. Ia sudah kehilangan segalanya, mulai dari harta hingga nama baik, maka ia tidak ingin kehilangan kemanusiaannya hanya karena rasa takut akan penjara.
"Karena aku tidak ingin menambah daftar dosa yang harus aku pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan nanti," jawab Fatimah dengan nada suara yang bergetar.
Arfan terdiam, kata-kata Fatimah barusan masuk ke dalam hatinya seperti anak panah yang tepat sasaran, meruntuhkan sebagian tembok pertahanan yang ia bangun. Ia teringat akan Luna yang juga memiliki sifat lembut dan religius, sebuah kemiripan yang mendadak membuatnya merasa sangat bersalah sekaligus bingung.
Suasana di dalam gua mendadak menjadi sangat canggung, hanya suara tetesan air dari atap gua yang memecah keheningan di antara dua jiwa yang sedang terluka itu. Fatimah membantu Arfan untuk berdiri, meskipun setiap pergerakan membuat pria itu harus menggigit bibir bawahnya demi menahan teriakan kesakitan yang membuncah.
"Pegang bahuku, kita harus berjalan melewati jalur tikus di balik bukit ini agar tidak berpapasan dengan mereka lagi," perintah Fatimah dengan tegas.
Mereka mulai berjalan keluar dari gua, merayap di antara rimbunnya pohon-pohon besar yang masih diselimuti kabut pagi yang sangat dingin dan menusuk tulang. Arfan terpaksa menggantungkan seluruh berat tubuhnya pada bahu Fatimah, merasakan kekuatan yang luar biasa dari seorang wanita yang secara fisik tampak sangat lemah.
Setiap langkah yang mereka ambil membawa mereka semakin jauh dari kejaran para pengawal keluarga Al Fahri, namun semakin dekat dengan sebuah kebenaran yang menakutkan. Fatimah tahu bahwa dengan membawa Arfan bersamanya, ia telah menyerahkan kunci kotak pandora yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat dari dunia.
"Jika nanti terbukti kau tidak bersalah, apa yang akan kau lakukan pada ayahmu?" tanya Arfan di tengah napasnya yang mulai memburu kembali.
Fatimah terhenti sejenak, menatap jalan setapak yang menurun tajam menuju lembah di mana panti asuhan tempatnya bernaung berada di bawah sana. Pertanyaan Arfan adalah sebuah dilema besar, karena bagaimanapun jahatnya Pratama, pria itu tetaplah orang tua kandung yang telah memberinya kehidupan.
Namun, bayangan wajah Luna yang tidak ia kenal dan penderitaan Arfan membuat nuraninya menuntut sebuah pertanggungjawaban yang adil tanpa memandang bulu. Ia ingin ayahnya berhenti melakukan kejahatan, meskipun itu artinya ia harus menjadi orang yang menyeret pria itu ke balik jeruji besi yang dingin.
"Aku akan mengikuti apa pun yang menjadi ketentuan hukum dan keadilan sejati, meskipun itu harus menghancurkan silsilah keluargaku," tegas Fatimah.
Arfan merasa kagum dengan keteguhan hati Fatimah, sebuah sifat yang sangat jarang ia temui pada klien-klien kaya yang biasanya ia bela di kantor hukumnya dahulu. Tanpa sadar, ia mulai melihat Fatimah bukan sebagai Zahra si pembunuh, melainkan sebagai seorang pejuang yang sedang mencari jalan pulang menuju cahaya.
Lampu-lampu dari perkampungan penduduk mulai terlihat di bawah sana, memberikan harapan baru bagi mereka setelah melewati malam yang penuh dengan teror dan tumpahan darah. Namun, saat mereka hampir mencapai tepi hutan, sebuah mobil hitam besar tiba-tiba meluncur dengan kecepatan tinggi dan berhenti tepat di depan mereka.
Fatimah menarik Arfan untuk bersembunyi di balik pohon besar, namun pintu mobil itu terbuka dan keluarlah sosok yang paling tidak ingin mereka temui saat ini. Seorang pria dengan setelan jas rapi namun memiliki tatapan mata sedingin es berdiri di sana sambil memegang selembar foto usang yang tampak sangat mencurigakan.
Pria itu adalah Haikal, tangan kanan kepercayaan Pratama yang dikenal tidak pernah gagal dalam menjalankan tugas-tugas kotor untuk menyingkirkan lawan bisnis tuannya. Ia menatap ke arah semak-semak tempat Fatimah dan Arfan bersembunyi, seolah-olah ia memiliki indra keenam yang mampu mendeteksi keberadaan mereka berdua.
Fatimah memeluk erat kotak obatnya, sementara Arfan sudah menggenggam sebuah batu tajam di tangannya, siap untuk melakukan perlawanan terakhir demi melindungi wanita di sampingnya. Udara pagi yang segar mendadak berubah menjadi sangat menyesakkan, penuh dengan aroma ancaman yang membuat bulu kuduk mereka meremang seketika.
"Zahra, aku tahu kau ada di sana, kembalilah sebelum aku terpaksa melakukan cara-cara kasar yang akan merusak kerudungmu yang lusuh itu!" teriak Haikal dengan suara menggelegar.