Binar tak menyangka ujian cintanya bersama sang suami hadir setelah menikah, masalah bertubi-tubi silih berganti menghampiri rumah tangga mereka.
Mertua dan ipar yang selalu mengganggu kenyamanannya, masalah orang ketiga pun juga ikut mendekati biduk rumah tangganya. Mereka selalu mencari celah, agar bisa merusak hubungan yang selama ini ia bangun bersama sang suami.
Saat batas kesabaran mulai di ambang batas dan tidak satupun orang percaya padanya, pantaskah Binar bertahan dengan semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MinNami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Keputusan sulit 2 -
“Saya disini Yah,” semua menoleh pada Albiru yang entah sejak kapan datang. Pria itu terlihat santai dengan pakaian kantornya, seolah tidak ada yang masalah.
Binar tampak terkejut, tidak menyangka Albiru akan menyusulnya. Tapi Binar tidak bisa menampik jika kedatangan Albiru memberinya kelegaan. Ya setidaknya Binar tidak akan berbohong pada orang tuanya mengenai Albiru.
“Biru, masuk nak.” Bunda Ina menyambut dengan hangat, tersenyum dengan lembut saat Albiru mencium punggung tangannya.
“Gimana kabar Ayah sama Bunda?” tanya Albiru setelah menyalimi mertunya.
“Alhamdulillah baik nak, cuma Bunda sedikt kangen sama kesayangan Bunda ini.” Jawab Bunda Ina seraya mencubit lembut pipi Binar.
“Ayah juga Alhamdulillah baik, kamu gimana kabarnya?” Ayah Ibra balik bertanya setelah mempersilahkan Albiru untuk duduk.
“Alhamdulillah baik juga Yah, hanya ada sedikit masalah.” Jawab Albiru yang Binar yakini masalah yang dimaksud suaminya itu ada pada rumah tangga mereka.
Binar sendiri hanya diam, masih memeluk Bundanya. Wanita itu bahkan enggan menatap suaminya yang saat ini sedang mencuri-curi pandang, keduanya tampak seperti remaja yang sedang merajuk.
“Biru baru pulang kerja?” tanya Bunda Ina yang baru menyadari pakaian Albiru.
Albiru tersenyum kecil sebelum menjawab, “iya Bun, Biru nggak sempat ganti baju. Tadi Fay nelpon bilang Binar sakit, jadi Biru buru nyelesain kerjaan dan langsung kesini.”
“Ya sudah kamu ganti baju dulu, ada baju Ayah yang bisa kamu pakai. Binar biar Bunda yang urus, anak ini kalau sakit haru sama Bundanya.” Ayah Ibra tersenyum hangat mempersilahkan menantunya untuk segera bersih-besih.
Melihat mertuanya yang begitu hangat sungguh Albiru merasa bersalah. Seharusnya dia sering mengajak Binar berkunjung, dia sungguh merasa egois membiarkan Binar memendam rasa rindu sendirian.
...****************...
Albiru masuk ke dalam kamar yang dulu di tempati Binar. Kamar yang didominasi warna pastel, tampak luas dan begitu rapi. Kamar yang Albiru yakini sangat dirindukan istrinya.
Di atas ranjang tampak Binar sudah tertidur pulas. Binar tidak berbicara dengan Albiru bahkan saat makan malam wanita itu hanya ingin disuapi Bundanya. Albiru sadar Binar menghindarinya, tapi dia tidak bisa berbuat banyak, Albiru hanya ingin memberi waktu untuk Binar.
Albiru mengambil ponsel berniat menghubungi Ibunya, dia bahkan lupa memberi kabar pada orang rumah. “Assalamu’alaikum Bu,” Albiru menyapa begitu panggilannya dijawab.
“Waalaikumsalam, kamu dimana Biru? Kok jam segini belum pulang, Binar juga belum pulang.”
Albiru semakin merasa bersalah sudah membuat Ibunya khawatir, bisa-bisanya dia lupa mengabari. “Maaf Bu, Biru lagi di rumah orang tua Binar.”
“Kok bisa Biru? Kamu ngapain disana?”
“Binar sakit Bu, dia kangen orang tuanya.”
“Tapi setidaknya ngabarin Ibu.”
“Biru lupa Bu, tadi Biru panik dapat telepon dari Fay bilang kalo Binar sakit dan minta izin pulang ke rumah orang tuanya.”
“Apa susahnya istri kamu itu ngabarin Ibu? Kamu juga kenapa disana bukannya pulang ke rumah, kamu ini bisanya buat Ibu khawatir saja.”
Albiru menghela napas, bebannya sekarang malah bertambah. “Bu, Binar lagi sakit jadi dia nggak mungkin kepikiran buat hubungi Ibu. Dan lagi istri Biru ini sakit Bu nggak mungkin Biru tinggalin dia disini sendirian.”
“Kamu itu semenjak menikah malah suka sekali belain istrimu. Sudah Ibu males berdebat sama kamu.”
Tanpa menunggu jawaban putranya, Ibu Siti segera memutus sambungan telepon. Albiru terdiam menatap nanar ponsel ditangannya. Yang Albiru tidak tahu ternyata Binar terbangun saat mendengar suara Albiru. Meski Binar tidak tahu apa yang dikatakan mertuanya tapi Binar yakin ada hal yang tidak mengenakan.
“Jadi, aku salah lagi?” tanya Binar membuat Albiru menoleh kaget.
Albiru segera mendekat, mengecek suhu tubuh istrinya. “Hei, sayang sudah enakan?”
“Aku tanya apa aku salah lagi dengan pulang ke rumah orang tua ku?” Binar kembali bertanya tidak memedulikan raut khawatir suaminya.
“Kenapa kamu ngomong gitu? Kamu nggak salah sayang, Ibu cuma nanya kita dimana kenapa belum pulang. Aku tadi terlalu panik sampai lupa ngabarin orang rumah.”
“Aku salah karena nggak ngabari orang tua kamu kan?”
“Bi, bukan gitu maksud Ibu.”
“Sudah ya Bi, aku capek selalu disalahin. Berantem sama Ella aku yang salah, pulang ke rumah orang tuaku sendiri aku juga salah. Padahal aku pulang juga sudah minta izin sama kamu.”
Binar segera memejamkan matanya kembali, bersikap menolak untuk berbicara lebih lanjut pada suaminya. Sedangkan Albiru hanya bisa menelan kembali kata-katanya, dia selalu dibuat untuk memilih salah satu diantara Ibu atau istri.
...****************...
Binar sudah terlihat lebih sehat, wanita itu bahkan dengan penuh semangat membantu Ibunya untuk menyiapkan sarapan. Beruntung hari ini hari sabtu jadi dia tidak perlu pergi bekerja, begitu pula dengan Albiru.
“Kamu sudah sehat Bi?” tanya Ayah Ibra ketika melihat betapa semangatnya Binar.
Binar mengangguk dengan senyum manisnya, “sudah mendingan Yah, Binar kangen masak bareng Ibu.”
Albiru diam, dia tahu ada maksud dari kalimat Binar barusan. Istrinya itu terlihat lebih ceria bersama orang tuanya. Dia yakin Binar pasti benar-benar merindukan orang tuanya.
“Ayo mulai sarapannya, Binar ambilin buat suami kamu.” Suara dari Bunda Ina menyadarkan Albiru dari lamunanya.
Binar sudah duduk manis disamping Albiru, bersiap mengambil sarapan untuk sang suami.
“Maksih sayang,” ucap Albiru begitu Binar meletakan sepiring nasi goreng dihadapannya.
Binar hanya menoleh sekilas dengan senyum kecil. Albiru tahu istrinya itu masih marah, tapi berusaha untuk tidak diketahui orang tuanya.
“Jadi, kalian sampai kapan disini? Boleh nggak kalau lama-lama tinggal disini?” Bunda Ina memulai percakapan.
“Bunda, nggak baik ngomong seperti itu.” Tegur Ayah Ibra membuat Bunda Ina menekuk wajahnya. Wanita paruh baya itu berpikir tidak ada yang salah dengan permintaannya.
“Kalau Binar sih masih mau disini, Binar masih kangen sama Bunda dan Ayah.” Binar menjawab dengan nada penuh harapan.
“Tuh Yah, Binar masih kangen sama kita. Nggak ada salahnya kan kalau masih mau tinggal disini lebih lama.” Bunda Ina melebarkan senyumnya merasa senang Binar berpihak padanya.
“Kalau Binar kangen nanti sering-sering nginap disini saja. Akhir pekan lebih baik, kan lumayan ada waktu dua hari disini.” Tutur Ayah Ibra dengan bijak.
“Tapi sekarang Binar masih mau sama Bunda, Ayah nggak boleh ngelarang.” Binar merengek sambil memeluk tubuh Bundanya.
Melihat itu Albiru semakin bingung, dia baik-baik saja jika tinggal disini tapi bagaimana dengan Ibunya? Albiru yakin sekali Ibunya pasti tidak akan setuju jika dia lebih lama tinggal disini. Tapi jauh dari lubuk hatinya dia hanya ingin melihat Binar bahagia, dan kebahagian Binar itu ada bersama orang tuanya.
Albiru tersenyum kecil sebelum ikut bersuara, “kita tinggal disini sampai minggu depan. Nanti Biru pulang ambil baju dan untuk kedepannya Biru rasa nggak masalah kalau akhir pekan kita menginap disini.”
Mendengar ucapan sang menantu, Bunda Ina tersenyum bahagia. Seandainya dari kemarin mereka seperti ini pasti akan lebih membahagiakan. Tapi dia tetap bersyukur memiliki waktu untuk bersama putri kesayangannya ini.
Sedangkan Binar menatap tak percaya pada suaminya, dia pikir Albiru akan menolak mentah-mentah usulan itu tapi ternyata tanpa pikir panjang Albiru malah menerima dengan lapang dada. Dan sekarang yang Binar pikirkan adalah reaksi Ibu mertuanya, apakah Ibu mertuanya itu setuju dengan keputusan ini?
TBC
Terima kasih untuk yang sudah mampir. Sambil menunggu novel ini update aku punya rekomendasi cerita seru karya Smiling27
Judul : Heavanna
Karena penghianatan pacar dan sahabatnya, Zianna memutuskan untuk pindah sekolah. Namun siapa sangka kepindahannya ke SMA Galaxy malah mempertemukan dirinya dengan seorang cowok bernama Heaven. Hingga suatu ketika, keadaan tiba-tiba tidak berpihak padanya. Cowok dingin itu menyatakan perasaan padanya dengan cara yang sangat memaksa. "Apa nggak ada pilihan lain, selain jadi pacar lo?" tanya Zia mencoba bernegosiasi. "Ada, gue kasih tiga pilihan. Dan lo harus pilih salah satunya!" "Apa aja?" tanya Zia. "Pertama, lo harus jadi pacar gue. Kedua, lo harus jadi istri gue. Dan ketiga, lo harus pilih keduanya!" ucap Heaven dengan penuh penekanan.
lagiiii...