Kisah perjalanan hidup Ratna, seorang istri yang dikhianati oleh adik kandung dan suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRATA_YUDHA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlarian dikegelapan malam
Perasaanku semakin tak enak saat mas Ilyas menatapku seperti itu. Saat itu aku benar-benar merasa takut dan sedikit putus asa karena Ikhsan terus menangis seperti ada hal buruk yang akan terjadi.
"Mana uangnya?!" ucap mas Ilyas tanpa basa-basi.
"Aku belum dapet, lagian buat apa sih kalian ngeburu-buru segala. Kamu kan orang kaya mas, ngapain ngusik hidup aku terus, gak capek kamu?" ucapku setenang mungkin.
"Udah aku duga! perempuan miskin dan gak bisa apa-apa kayak kamu emang gak bisa diandelin! usaha dong, mangkanya jadi perempuan tuh jangan cuma bisanya minta doang!" ucapnya meremehkanku.
"Mau usaha apalagi mas?! aku kerja banting tulang jualan, tapi emang permintaan kalian gak masuk akal! mana bisa aku dapet uang sebanyak itu dalam jangka waktu satu minggu!" ucapku lantang.
"Ya kalau cuma dagang mana bisa, apalagi cuma jualan nasi uduk, mau dikasih waktu 20 tahun juga gak bakal ngumpul tuh duit! Jual diri kan bisa, enggak usah sok suci nyatanya kamu udah gak suci lagi!" ucapnya sinis.
"Kurang aj*r kamu mas!" aku hendak menamparnya namun tangannya dengan secepat kilat menahan tanganku.
"Jangan macem-macem kamu Ratna! aku bisa bun*h kamu sekarang juga kalau aku mau!" ancamnya. Setelah berkata seperti itu dia melepas kasar tanganku.
"Puja mana surat nya" ucap mas Ilyas pada Puja. Puja mengeluarkan kertas yang entah apa isinya lalu memberikannya pada mas Ilyas. Mas Ilyas meletakkan surat itu lengkap dengan pena nya diatas meja.
"Tanda tangan!" ucap mas Ilyas dengan membentak.
"Surat apa itu? Ratna gak mau dibodohin lagi sama kalian!" ucapku nyalang.
"Nurut aja ngapa sih jadi orang!" ucap mas Ilyas sambil menggebrak meja. Tanpa sepengetahuanku Puja dengan secepat kilat merebut Ikhsan dari gendonganku. Aku terperanjat kaget, lalu berusaha mengambilnya kembali, namun dihalangi oleh mas Ilyas.
"Puja balikin Ikhsan!" aku berteriak sambil terus berontak dari cengkraman mas Ilyas.
"Puja bakal balikin, kalau kak Ratna udah tanda tangan, sekarang tanda tangan dulu" ucapnya.
"Itu surat apa? jelasin dulu!" ucapku meminta penjelasan.
"Itu surat kuasa! jadi kak Ratna udah gak punya hak lagi dirumah ini." ucapnya dengan mata mengembun. Aku merasa saat itu Puja seperti menahan tangis, tapi entah kenapa dia seperti menutupinya.
"Kamu tega sama kakak dek? kamu... mau nguasain semuanya sendirian gitu? iya!!!" aku tak habis fikir dengan Puja, kenapa dia jadi sesadis itu pada kakaknya sendiri.
"Iya! aku gak mau hasil penjualan rumah ini dibagi dua, aku mau semuanya untuk aku sendiri tanpa dibagi!" ucapnya dengan lantang.
Aku tersenyum getir mendengar ucapannya.
"Kenapa? apa mas Ilyas gak pernah kasih uang ke kamu? atau uang yang dikasih mas Ilyas kurang, sampai-sampai kamu harus ngusik satu-satunya peninggalan emak sama bapak?" aku sudah menangis saat itu, tak tahan dengan sikap Puja yang sudah keterlaluan. Harusnya malam itu disaat mas Ilyas tak kesakitan, aku bac*k saja sekalian mereka berdua. Ternyata aku sudah salah besar dengan membiarkan mereka hidup, nyatanya mereka juga tega membiarkan aku hidup susah. Aku tak bisa membayangkan, akan seperti apa hidupku kedepan, tak ada rumah, tak ada tujuan. Mereka benar-benar sukses menghancurkan hidupku dan Ikhsan.
"Udah gak usah banyak omong, tanda tangan aja kak! biar cepet beres, ni Ikhsan juga nangis terus, kakak tega sama Ikhsan?!" ucapnya tanpa dosa, padahal dia sendiri yang membuat Ikhsan tak tenang. Mereka memang pintar mencari kelemahanku. Oke, sepertinya aku harus mulai bertindak!
Aku berpura-pura mengambil pena dan saat hendak membubuhkan tanda tangan dikertas itu dengan secepat kilat aku menendang kemal*an mas Ilyas dengan kencang sampai dia merintih kesakitan. Setelah itu dengan kuat aku merebut paksa Ikhsan dari tangan Puja, tapi anehnya Puja tidak berusaha melawan, dia seperti suka rela memberikan Ikhsan kepadaku dengan tatapan yang sulit di artikan.
Aku tidak begitu memperdulikannya, saat itu yang ku fikirkan hanyalah berlari keluar dari rumah itu untuk segera menjauh dari mereka. Aku memasuki perkebunan karet yang sangat gelap agar mereka kesusahan mencariku, aku yakin mas Ilyas pasti tidak akan menyerah sebelum mendapatkan tanda tanganku.
Malam itu, ditengah perkebunan karet yang gelap, aku berjuang berlari sambil menggendong Ikhsan yang tak henti-hentinya menangis. Tak ada rasa lelah, aku terus berlari dari kejaran mas Ilyas. Dengan nafas terengah-engah aku berhenti didekat pohon karet yang berukuran cukup besar, namun karena melihat kilauan cahaya senter handphone aku kembali berlari, aku yakin itu pasti mas Ilyas karena aku mendengar teriakannya.
Entah sudah seberapa jauh aku berlari yang jelas rasanya kakiku sudah sangat sakit, karena aku tak memakai alas kaki. Mas Ilyas juga seperti tak mengenal lelah dengan terus-terusan mengejarku tanpa ampun. Ikhsan yang sudah lelah menagis akhirnya hanya diam dengan sesegukan. Aku sakit saat itu, sakit sekali merasakan badan Ikhsan yang bergetar karena ketakutan. Belum lagi banyaknya nyamuk yang hinggap dikulitku, rasanya sudah tak terhitung.
Aku sudah sangat lelah dan lemas, rasanya aku sudah tidak kuat, tapi aku terus berlari dengan sisa tenaga yang tersisa. Lagi-lagi aku merutuki kebodohanku karena kabur ke kampung halamanku, yang sudah jelas mas Ilyas tahu keberadaanku. Seharusnya aku pergi ketempat lain saja saat itu.
"Ratna, dimana kamu! huh hah huh hah" aku mendengar teriakan mas Ilyas yang sepertinya juga sama lelahnya denganku.
Aku kembali berlari setelah sebelumnya berhenti sejenak menetralkan nafasku yang terengah-engah karena lelah. Dari kejauhan aku melihat sebuah cahaya, sepertinya itu sebuah pabrik karet. Dengan semangat aku berlari menuju cahaya itu, berharap aku mendapat bantuan dari orang-orang yang ada disana.
"Aww!!" aku meringis kesakitan, saat kakiku terasa tertusuk sesuatu yang tajam, karena gelapnya malam membuatku sulit sekali melihat jalan. Dengan tertatih karena menahan sakit dan juga rasa lelah yang membuat tubuhku kian lemas aku terus berusaha sampai ke pabrik itu. Mas Ilyas sendiri terus-terusan memanggil namaku seperti sudah merasa geram karena belum kunjung berhasil menangkapku.
Akhirnya aku sampai ke pabrik itu, aku sangat bersyukur saat itu, namun kondisi pabrik yang sepi karena suasana malam membuatku kembali merasa takut. Aku takut mas Ilyas berhasil menangkapku. Ketakutanku bertambah saat mendengar suara mas Ilyas yang semakin mendekat.
'Apa mas Ilyas akan menemukanku? Ya Allah, aku sudah tak punya tenaga lagi' aku menagis lirih saat itu karena merasa putus asa.
Pabrik ini sepi, hanya lampu penerangan diluar saja yang menyala, ternyata didalam pabrik itu kosong dan gelap, tidak ada orang yang bisa diminta bantuan. Disaat kebingunganku aku mendengar suara mas Ilyas yang semakin dekat, buru-buru aku masuk kesuatu ruangan yang sepertinya sebuah gudang. Aku menutup pintunya rapat-rapat. Aku bersembunyi disudut ruangan, dibalik tumpukkan barang-barang tak terpakai.
Tidak lama setelah itu aku mendengar suara langkah kaki seseorang, dan juga hembusan nafas kasar, orang itu seperti ngos-ngosan. Aku yakin sekali itu mas Ilyas, aku takut sekali saat itu, Ikhsan yang hampir menangis sampai ku bekap mulutnya agar tak mengeluarkan suara.
'Maafin mama Ikhsan'
Pintu itu mulai bergerak-gerak seperti dipaksa hendak dibuka.
"Ratna, keluar kamu! kamu pasti sembunyi di dalam!"
sok berhati malaikat.