Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.
Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan di gua yang dingin
Kegelapan di kedalaman tambang itu bukan sekadar ketiadaan cahaya ia adalah entitas yang hidup, merayap di sela-sela bebatuan, dan menghisap harapan dari setiap tarikan napas para pekerjanya. Di sana, di mana matahari hanyalah dongeng pengantar tidur yang mulai terlupakan, Zhou Yu menghabiskan masa kecil nya. Suara dentuman palu yang menghantam dinding mineral menjadi detak jantung kesehariannya. Debu-debu tajam beterbangan, melapisi paru-parunya dengan sisa-sisa bumi yang dingin.
Namun, di tengah kesuraman yang menyesakkan itu, ada satu titik terang yang membuat Zhou Yu tetap bertahan: Su Ling’er.
Gadis kecil itu adalah cahaya di tempat terkutuk ini. Wajahnya yang mungil, meski seringkali belepotan debu hitam, selalu memancarkan binar yang tak sanggup dipadamkan oleh kegelapan gua. Ling’er bukan sekadar teman ia adalah alasan Zhou Yu untuk tidak menyerah pada keputusasaan. Saat Zhou Yu kelelahan, Ling’er akan mendekat, tangan kecilnya mencoba membantu mengangkat serpihan batu, atau sekadar menyanyikan senandung kecil yang bergema di lorong-lorong sempit. Kehadirannya bagaikan pelangi yang muncul di tengah badai bawah tanah yang abadi.
Hari itu, Zhou Yu bekerja lebih keras dari biasanya. Otot-otot lengannya bergetar hebat, namun pikirannya tertuju pada hadiah kecil yang ingin ia beli. Dengan hasil tambang ekstra, ia berhasil menukarkan bongkahan mineralnya dengan dua buah roti gandum kering. Di tempat ini, roti adalah kemewahan yang setara dengan emas. Ia membayangkan binar di mata Ling’er saat mencicipi tekstur roti itu nanti.
Sambil menggenggam erat bungkusan roti yang masih sedikit hangat, Zhou Yu melangkah pulang menuju area pemukiman pekerja deretan gubuk reyot yang lebih mirip kandang daripada hunian manusia.
"Ling’er! Lihat apa yang kubawa!" seru Zhou Yu dengan napas terengah-engah saat mendekati gubuknya.
Namun, tidak ada jawaban. Keheningan yang janggal menyambutnya.
Langkahnya seketika membeku. Di depan pintu gubuk yang miring, ia melihat sesosok tubuh kecil terkapar di atas tanah yang kotor. Itu Ling’er. Gadis itu tergeletak diam, wajahnya sepucat kertas, dan napasnya terdengar tipis, hampir tidak ada.
Deg!!.
Jantung Zhou Yu seakan berhenti berdetak. Dunia di sekitarnya mendadak sunyi. Roti kering yang ia perjuangkan mati-matian terlepas dari genggamannya, jatuh ke tanah, terinjak debu dan terlupakan. Pikirannya kosong, hanya ada rasa sakit yang menghujam ulu hati. Ia berlari, menjatuhkan lututnya ke tanah, dan merengkuh tubuh dingin Ling’er ke dalam pelukannya.
"Ling’er? Ling’er, bangun! Ini aku..aku kembali.." suaranya parau, pecah oleh kepanikan yang luar biasa.
Tanpa membuang waktu, Zhou Yu menggendong tubuh mungil itu di punggungnya. Ia berlari sekuat tenaga menembus lorong-lorong tambang yang remang-remang. Ia menggedor setiap pintu gubuk yang ia lewati.
"Tolong! Siapa pun, tolong adikku!" teriaknya histeris.
Namun, dunia ini terlalu kejam bagi mereka yang lemah. Pintu-pintu itu tetap tertutup rapat. Beberapa orang hanya mengintip dari balik celah, lalu memalingkan wajah dengan dingin. Di tambang ini, nyawa seorang anak kecil hanyalah angka yang tidak berarti. Kepedulian adalah beban yang tak sanggup mereka tanggung.
Putus asa, Zhou Yu terus berlari hingga ia mencapai area terbuka di bawah celah langit-langit gua yang besar. Hujan deras turun dari atas sana, membasahi tubuhnya yang kecil. Zhou Yu terjatuh lemas, terduduk di tengah guyuran air yang dingin. Ia mendekap Ling’er erat-erat di pangkuannya, menangis sejadi-jadinya di bawah langit yang hitam. Ia merasa Tuhan telah benar-benar meninggalkan mereka.
Tiba-tiba, suara rintik hujan yang menghantam tanah sedikit meredup. Sesuatu menaungi kepalanya. Zhou Yu mendongak dan melihat sebuah payung tua yang kusam. Di baliknya, berdiri seorang wanita paruh baya dengan gurat wajah yang keras namun matanya menyimpan kedalaman yang tak terlukiskan.
"Hei nak, berhenti menangis. Bawa dia kemari," ucap wanita itu. Suaranya dingin, namun ada nada perhatian yang memberikan secercah harapan di tengah kegelapan.
Zhou Yu terpaku sejenak. Belajar dari kerasnya kehidupan di tambang, ia sempat ragu. Namun, saat melihat bibir Ling’er yang mulai membiru, ia tahu ia tidak punya pilihan lain. Ia mengikuti wanita itu masuk lebih jauh ke dalam lorong yang bahkan belum pernah ia jelajahi.
Jalan yang mereka lalui semakin sempit dan curam, seolah-olah mereka menuju ke jantung bumi yang paling dalam. Namun, saat mereka mencapai ujung lorong, pemandangan di depan matanya membuat Zhou Yu terperangah. Di balik labirin bebatuan itu, tersembunyi sebuah pemukiman kecil yang tertata rapi. Lampu-lampu minyak menerangi deretan rumah kayu sederhana, menciptakan suasana hangat yang sangat kontras dengan kekejaman dunia luar.
"Ada apa, Nyonya Liu?" tanya seorang warga yang melihat mereka datang. Kerumunan mulai terbentuk, mata mereka penuh dengan kekhawatiran yang tulus, bukan tatapan dingin yang biasa Zhou Yu terima.
"Siapkan tempat tidur dan air hangat! Cepat!" perintah wanita tua itu.
Zhou Yu menyerahkan tubuh Ling’er kepada wanita itu dengan berat hati. Ia ingin terus berada di sampingnya, namun Nyonya Liu menyuruhnya menunggu di luar. Zhou Yu duduk di sebuah bangku kayu, tubuhnya menggigil hebat karena basah kuyup dan trauma yang masih segar.
"Hei nak, pakailah ini," seorang pria tua mendekat dan menyampirkan sehelai handuk kering ke bahu Zhou Yu.
"Kau terlihat sangat lapar. Kemarilah, aku baru saja memasak sup hangat," ajak seorang wanita dari rumah sebelah.
Seorang pria muda bertubuh kekar menghampirinya, matanya menatap Zhou Yu dengan penuh rasa ingin tahu yang ramah. "Bocah... siapa namamu?"
"Nama... namaku Zhou Yu," jawabnya dengan bibir yang masih gemetar.
"Aku Zhang. Baiklah, istirahatlah dulu di rumah ibuku. Biar Nyonya Liu merawat adikmu," ucap pria itu sambil menepuk bahunya pelan.
Malam itu, rumah kecil tersebut dipenuhi oleh bisik-bisik warga yang ikut bersimpati. Setelah dipaksa memakan sedikit sup, rasa lelah yang luar biasa akhirnya mengalahkan kesadaran Zhou Yu. Ia jatuh tertidur di sebuah kamar kecil yang terasa begitu aman, sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Keesokan paginya, cahaya lampu minyak yang lembut membangunkan Zhou Yu. Saat ia membuka mata, ia mendapati beberapa warga sedang duduk di sekitarnya, menunggu dengan sabar.
"Hei... dia sudah sadar!" seru salah satu warga dengan nada lega.
Wanita yang menyelamatkannya semalam masuk membawa segelas teh hangat yang mengepul. "Nak, beristirahatlah dulu di sini. Nanti, ketika kau dan temanmu sudah benar-benar pulih, kau harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada kalian, ya?" ucapnya dengan nada yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.
Mendengar kata 'teman', ingatan Zhou Yu tentang Ling’er meledak kembali. Tanpa mempedulikan rasa pening di kepalanya atau luka di kakinya yang tergores bebatuan kemarin, ia langsung melompat dari tempat tidur.
"Ling’er! Di mana Ling’er?!" teriaknya kalap.
Warga mencoba menahannya, tapi Zhou Yu dengan kegesitan anak tambang berhasil menyelinap keluar. Ia berlari dengan kaki terpincang-pincang menuju bangunan di sebelahnya di mana Ling’er dirawat. Napasnya memburu saat ia mendorong pintu gubuk itu.
Di sana, di atas tempat tidur yang bersih, Ling’er terbaring. Napasnya kini sudah teratur, dan semu merah mulai kembali ke pipinya yang mungil. Zhou Yu menghela napas lega, namun ia terkejut saat melihat sebuah bayangan berdiri di sudut ruangan.
"Dasar bocah nakal... siapa yang mengizinkanmu menerobos masuk tanpa mengetuk pintu?" Nyonya Liu muncul dari balik bayang-bayang, tangannya membawa mangkuk berisi ramuan herbal. Meski kata-katanya terdengar memarahi, ada senyum tipis yang tersembunyi di sudut bibirnya. Ia mendekati Ling’er dan memeriksa denyut nadinya sekali lagi.
Zhou Yu tidak mempedulikan teguran itu. Ia segera duduk di tepi tempat tidur, meraih tangan kecil Ling’er, dan menggenggamnya erat. Sangat erat. Seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, gadis itu akan menguap dan kembali hilang ke dalam kegelapan yang kejam.
Beberapa warga yang mengintip dari ambang pintu merasa dada mereka sesak melihat pemandangan itu. Seorang anak laki-laki yang rela melakukan apa saja demi melindungi satu-satunya cahaya dalam hidupnya.
Hari itu, Zhou Yu menyadari satu hal yang tak akan pernah ia lupakan. Di dunia yang paling gelap sekalipun, di tempat di mana manusia diperlakukan seperti alat, masih ada secercah kemanusiaan yang tersembunyi. Ia telah menemukan sebuah rumah di tempat yang paling tidak terduga. Dan saat ia memandang wajah Ling’er yang mulai tenang, Zhou Yu tahu bahwa mulai saat ini, mereka tidak akan lagi menghadapi kegelapan itu sendirian.
Bersambung....