Di khianati, adalah satu kata yang paling menyakitkan. Bagaimana pria yang tak lagi punya rasa cinta itu bisa menjerat para wanita dalam pesonanya?
Ketulusannya terhadap Echa putri tirinya membuat Arfian menjadi pria paling di idamkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rniehamizan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Rada menggenggam tangan kecil Echa yang terkulai lemas tak berdaya. Hatinya merasa sangat sakit melihat gadis kecil yang tak tahu apa-apa itu harus mengalami hal semenyakitkan ini. Pukulan yang dia dapat tepat di belakang kepalanya, menimbulkan retakan yang cukup parah di tengkoraknya juga mengakibatkan pendarahan didalam.
Echa baru saja selesai di operasi, tapi masih belum keluar dari masa kritisnya. Matanya yang selalu memancarkan kepolosan itu kini terpejam rapat. Wajahnya pun begitu pucat.
"sayang..." Mengelus rambutnya yang hitam dengan hati-hati. "bangunlah, nenek merindukan suaramu."
Dan di luar, Arfian dengan kesal menyeret tubuh Rena. Dia tak ingin melihat wajahnya lagi. Rihanna tentu saja merasa sangat puas dengan apa yang terjadi. Membuat Rena marah dan memukulnya, hingga Arfian pun sangat murka pada wanita itu.
"jangan pernah menunjukkan wajah mu di hadapanku lagi. kau sungguh tak tahu malu."
"Arfian, jangan lakukan ini padaku. ku mohon.. cabut dulu tuntutanmu terhadap Ben." Pintanya membuat Arfian semakin kesal.
Rena tak tahu jika Ben sudah dibebaskan oleh Rihanna. Arfian pun tak mengetahui hal itu, dia berpikir jika Ben masih mendekam di penjara.
Rihanna pura-pura menyentuh pipinya yang tadi di tampar keras oleh Rena. Memasang wajah hendak menangis saat melihat Arfian kembali. Rega dan Sena pun saling pandang, mereka merasa ada yang tak beres dengan wanita itu.
"sepertinya dia sengaja membuat kakakmu marah." Bisik Sena.
Rega mengangguk setuju. "sudahlah, biarkan saja. kita pergi saja tinggalkan mereka."
Sena tersentak saat Rega menggenggam tangannya. Tanpa sadar pria itu terus menggenggam jemari tangan Sena hingga keluar dari rumah sakit.
"euhmm...kau bisa lepaskan ini?" Sena mengangkat tangannya.
"ahh..i..iya. maaf." Rega melepaskannya dengan cepat lalu segera berjalan mendahului Sena. Wajah pria itu memerah karena malu.
"cepatlah, kita pulang. kak Arfian dan mamah butuh baju ganti." Teriaknya dari dalam mobil.
Sena pun tersenyum, berlari menyusul Rega. Mereka memang berniat pulang dari tadi untuk mengambil baju ganti Arfian dan Rada. Juga untuk mengambil barang-barang lainnya yang di butuh saat mereka di rumah sakit.
Beralih pada Arfian. Pria itu sungguh merasa tak enak pada Rihanna. Kelakuan Rena sungguh memalukan.
"bagaimana pipimu?" Tanya Arfian.
"ini hanya sedikit perih." Jawab Rihanna.
Dia rela melukai dirinya demi bisa lebih dekat dan lama lagi dengan Arfian. Wanita berambut panjang ini sepertinya sungguh ingin menjerat Arfian kedalam pelukannya.
"Rena sudah sangat keterlaluan. dia menamparmu karena kau memintaku untuk menuntut Ben." Lirih Arfian. "tapi, kenapa kau tak membela kakakmu?"
Rihanna menggeleng pelan. Aktingnya sungguh sempurna, dia terlihat sangat mendukung Arfian dan peduli terhadap Echa. Padahal di belakang dia sendiri yang telah membebas Ben, dengan menyogok beberapa petugas di sana.
"orangtuaku selalu mengajariku. jika kita salah maka akui kesalahan kita, jadi manusia yang bermartabat dan junjung kebenaran." Rihanna mengatakan itu sambil tersenyum tipis.
Arfian ikut tersenyum. Rihanna terlihat begitu baik di matanya. Dia sama sekali tak memiliki perasaan curiga sedikitpun terhadap wanita itu.
"boleh aku melihat putrimu?" Tanya Rihanna.
"tentu saja. mari." Arfian mengajak Rihanna untuk melihat Echa.
...*****************...
Rena tak percaya begitu melihat Ben duduk di kursi ruang tamu. Dia baru saja pulang untuk berganti baju dan berniat untuk kembali ke kantor polisi.
"Ben..kau.. bagaimana bisa? apa arfian..."
"kau tak perlu tahu." Ben melemparkan lembaran foto dirinya dan Liliana.
"apa ini? apa maksud dari foto ini?"
"dia kekasih ku, aku berjanji akan menikahinya tahun depan. setelah kita menikah." Ujarnya santai sambil bertumpu kaki.
Rena merobek foto-foto itu, melemparnya kearah Ben. Sungguh dia tak bisa terima ini semua. Ben sudah mempermainkan dirinya.
"kau keterlaluan. aku sudah meninggalkan keluarga ku demi dirimu. kenapa kau tega?" Teriaknya. "sejak kapan kalian berhubungan?"
Ben berdiri, berjalan mendekati Rena. Dengan cepat menarik tangan Rena lalu menghempaskannya keatas kursi.
"aku berpacaran dengannya sejak kita putus. Tapi, saat aku kembali bertemu dengan mu..." Ben menggantungkan kalimatnya.
Rena mengepalkan tangannya erat. Dia merasa sungguh di permainkan.
"kau mengaku masih sendiri karena tak bisa melupakan ku? cuiiihhh...." Meludahi wajah Ben dengan jijik.
Pria itu menjadi sangat marah. Mencengkram dagu Rena keras. Dia tak pernah bisa melepaskan Rena karena wanita ini cinta pertamanya, sementara Liliana adalah wanita yang sangat dia butuhkan untuk menopang kehidupannya. Liliana seorang pengusaha muda juga memiliki harta kekayaan di atas dirinya. Katakan saja, Ben mendekati wanita itu hanya untuk mendapatkan keuntungan.
Itulah sebabnya kenapa dia tak ingin putus dengannya dan berencana untuk mendapatkan kembali cintanya.
"dengar...kau hanya wanita tak berguna yang aku cintai. jadi...apapun yang aku lakukan seharusnya kau diam saja."
"aahh..." Pekik Rena. Dia terus berontak saat lehernya dicekik kuat oleh Ben.
Airmata dan keringat bercampur jadi satu. Rena terus berontak, memukul tangan dan tubuh Ben.
"bagaimana?" Tanya Ben tanpa rasa bersalah. Melepaskan cekikannya lalu duduk di samping Rena yang terengah-engah hampir kehabisan oksigen.
Wanita itu melirik Ben dengan takut. Ben sangat berbeda dengan dulu, dia sangat menakutkan dan susah sekali di tebak. Pria ini seolah bukan dirinya, dia berubah 90 derajat. Ben yang selalu perhatian dan selalu mengelus pipinya dengan lembut justru kini berubah kasar. Bahkan berani menyakitinya.
"sudahlah, aku harus menemui liliana. kau dia di sini. jangan berani kabur atau aku akan lebih menyakiti mu." Ancam Ben.
Rena menyentuh lehernya, terlihat jelas bekas jemari juga sedikit lecet.
Ceklek...
Mendengar suara pintu di kunci dari luar, Rena langsung berlarian untuk memastikan.
"Ben..ya..Ben..." Teriaknya.
Ben benar-benar menguncinya dari luar. Tubuh Rena merosot. Dia menangis sambil terus meneriaki nama Ben.
...******************...
Sena lagi-lagi harus menahan senyumnya kala memergoki Rega yang tengah memandang dirinya. Pria itu gelagapan, pura-pura menepuk sesuatu di udara.
"kenapa siang begini ada nyamuk." Serunya sambil terus menepuk tangannya seolah tengah menangkap mahkluk kecil itu.
"benarkah? oh..ya. kau tak benci lagi padaku?" Pertanyaan Sena membuat Rega melirik nya.
"maksudnya?"
Sena menghela nafas.
"kau selalu ketus dan galak padaku. kau benci padaku kan...aahhh..." Sena hampir saja tergelincir saat kaki nya tak sengaja tersandung kaki meja.
Rega berlari, segera menangkap tubuh Sena dengan cepat. Posisi mereka yang berhadapan membuatnya saling berpandangan. Rega mau pun Sena hanya diam, saling memandang.
Tanpa sadar Rega mendekatkan wajahnya. Kehilangan akalnya hanya karena terpesona oleh kecantikan Sena yang begitu alami.
Sret...Brug...
"ooouucchh..." Ringisan keduanya terdengar saat tubuh mereka terhempas ke lantai.
Rupanya Rega tak kuat lagi menopang tubuh Sena hingga hilang keseimbangan.
"Umm...hahhahaa..." Tawa Sena pecah.
"hahahaha..." Rega pun ikut tertawa.
Keduanya tertawa. Seolah lupa jika mereka sama sekali tak sedekat dulu.
...*****************...