NovelToon NovelToon
LEGENDA DEWI KEMATIAN

LEGENDA DEWI KEMATIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: adicipto

Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.

Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.

Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.

Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 12

Tanah di sekitar tempat Cao Yi berpijak mulai bergetar hebat, mengirimkan debu dan kerikil kecil yang melonjak di udara. Sepuluh aura kuat dari para petinggi Perguruan Awan Mengalir menekan dari segala penjuru mata angin, saling bertumpuk dan mengunci satu sama lain hingga membentuk medan pembantaian yang nyaris tak memberi ruang sedikit pun untuk bernapas. Udara di sekeliling mereka terasa memadat, seolah-olah atmosfer itu sendiri telah berubah menjadi beban seberat ribuan ton.

Empat di antara mereka memancarkan tekanan Pendekar Guru Suci yang berat dan dalam, sebuah energi yang mampu meremukkan tulang manusia biasa hanya dengan keberadaannya. Sementara itu, enam lainnya adalah Pendekar Guru biasa yang kekuatannya tidak bisa diremehkan, masing-masing membawa pengalaman tempur selama puluhan tahun.

Di barisan belakang, belasan Pendekar Ahli dan Terlatih bergerak lincah bak bayangan, menutup setiap jalur pelarian yang mungkin diambil oleh gadis di tengah kepungan itu.

“Serang bersama! Jangan beri dia celah untuk memanggil sihir hitamnya!” teriak salah satu tetua dengan suara menggelegar yang membelah keheningan.

Tidak ada lagi ruang untuk negosiasi atau keraguan.

Pedang-pedang panjang terayun serempak, memancarkan kilatan Tenaga Dalam yang menyilaukan. Tombak-tombak panjang menusuk lurus dengan presisi mematikan, dan hujan anak panah melesat seperti badai hitam yang merobek udara. Tenaga Dalam dari berbagai aliran teknik Awan Mengalir bergulung dan bertabrakan, menciptakan dentuman-dentuman rendah yang memekakkan telinga, cukup kuat untuk meruntuhkan bangunan di sekitarnya.

Cao Yi bergerak di tengah badai itu.

Kipas hitamnya berputar cepat di jemarinya, menciptakan pusaran kabut gelap yang berfungsi sebagai perisai dinamis. Denting logam terdengar terus-menerus saat kipas itu menangkis serangan demi serangan. Beberapa pedang terpental dengan percikan api, dan belasan anak panah patah menjadi dua di udara sebelum menyentuh kulitnya.

Namun, menghadapi sepuluh tetua sekaligus adalah sesuatu yang berada di luar batas wajar manusia manapun. Kekuatan angka dan koordinasi serangan mereka mulai menembus pertahanannya.

Sebuah pedang tipis milik seorang tetua berhasil menyelinap di antara celah putaran kipasnya dan menembus bahu kiri Cao Yi. Darah segar menyembur, membasahi jubah hitamnya.

Belum sempat ia membalas, sebuah tombak dari arah belakang menggores sisi perutnya, meninggalkan luka panjang yang mengalirkan darah hangat. Dua anak panah yang dilapisi energi penghancur menancap di pahanya, mengirimkan rasa sakit yang menusuk hingga ke saraf dan membuat langkahnya sedikit goyah.

“Ugh..!” Cao Yi mengerang pelan, giginya beradu menahan perih yang membakar.

“Hahaha! Memangnya kenapa kalau kau disebut Dewi Kematian? Menghadapi serangan sepuluh tetua sekaligus, kau tidak lebih dari seekor tikus yang terjepit! Hari ini adalah akhir dari legenda palsumu!” kata salah satu tetua berkemampuan Pendekar Guru Suci dengan nada sombong yang meluap-luap.

Setiap kali Cao Yi menahan satu serangan dari depan, dua serangan lain datang dari sudut-sudut buta yang tak terduga. Tubuhnya mulai dipenuhi luka-luka baru, nafasnya semakin berat dan pendek, sementara darah terus menetes membasahi tanah yang ia injak.

Namun, di tengah penderitaan fisik itu, Dewi Kematian tidak mengucapkan sepatah kata pun. Matanya tetap merah menyala, memancarkan kedinginan yang justru semakin pekat seiring bertambahnya luka di tubuhnya.

Secara mendadak, suasana di medan tempur berubah drastis.

Whusss!

Aura kematian yang tadinya terfokus di sekitar tubuhnya mendadak meledak dan menyebar seperti angin badai yang gelap. Tekanan hitam pekat menyapu seluruh medan pertempuran, membuat udara terasa seberat air di dasar samudra terdalam. Oksigen seolah menghilang, digantikan oleh rasa sesak yang mencekik jiwa.

Dalam sekejap, setiap pendekar yang berada di area itu merasakan tubuh mereka menegang, jantung mereka berdetak tidak beraturan karena ketakutan primordial yang bangkit dari dalam sanubari.

“Aku hanya memiliki waktu kurang dari sepuluh tarikan napas untuk mengambil beberapa nyawa sebelum tubuhku mencapai batasnya,” batin Cao Yi sambil menggertakkan gigi, memperkuat tekanan aura kematiannya hingga ke tingkat maksimal.

Beberapa Pendekar Terlatih di barisan belakang langsung terjatuh berlutut, darah segar keluar dari hidung dan telinga mereka karena tak kuat menahan tekanan spiritual yang begitu mengerikan. Pendekar Ahli yang lebih kuat mencoba bertahan dengan memusatkan seluruh Tenaga Dalam ke jantung, namun lutut mereka gemetar hebat, dan pikiran mereka terasa seperti diremas oleh tangan raksasa yang tak kasatmata.

Inilah momen yang dinantikan Cao Yi.

Kipasnya melesat seperti bayangan hantu. Dalam satu putaran cepat yang hampir tak terlihat oleh mata, dua Pendekar Terlatih roboh dengan leher terpotong bersih. Tanpa jeda, pada putaran kedua, seorang Pendekar Ahli yang mencoba mengangkat pedangnya justru harus menerima kenyataan dadanya terbelah sebelum sempat mengeluarkan teriakan terakhir.

Darah mengalir deras di udara, dan tiga nyawa melayang dalam waktu kurang dari tiga detik.

Namun Cao Yi tidak berhenti. Ia tahu ia harus menyingkirkan ancaman terbesar. Kabut gelap yang keluar dari kipasnya mulai berubah bentuk, menjadi lebih licik dan halus.

“Kabut Ilusi,” gumamnya dengan suara yang terdengar seperti bisikan maut di telinga para tetua.

Kabut hitam itu menyelinap masuk ke dalam panca indera para tetua yang berada di garda terdepan. Dua Pendekar Guru biasa terhenti mendadak dengan tatapan kosong, dan yang mengerikan, seorang Pendekar Guru Suci yang tadi tertawa sombong kini ikut membeku di tempatnya.

Mata mereka terbuka lebar, tubuh mereka berdiri tegak, dan mereka tampak sedang bertarung sengit dengan bayangan-bayangan di dalam kepala mereka. Pedang mereka terayun pelan menghantam udara kosong, napas mereka terengah-engah, dan wajah mereka menunjukkan ekspresi kemenangan seolah-olah mereka baru saja berhasil memenggal kepala Cao Yi.

Namun, semua itu hanyalah tipuan mental yang mematikan.

Di dunia nyata, mereka berdiri mematung layaknya patung batu yang tak berdaya. Cao Yi muncul dengan tenang di hadapan mereka bertiga. Tangannya yang dingin menempel tepat di puncak kepala tetua pertama. Seketika, kabut hitam pekat menyelimuti tubuh tetua itu.

Energi kehidupan, esensi dari segala sel dan jiwa, tersedot keluar seperti air yang ditarik masuk ke dalam pusaran lubang hitam. Tubuh perkasa itu mengering dalam hitungan detik; kulitnya mengeriput menempel pada tulang, matanya menjadi cekung dan kosong, menyisakan kerangka yang dibungkus kulit kusam.

Cao Yi melakukan hal yang sama kepada tetua kedua, lalu yang ketiga dengan kecepatan yang efisien.

Tiga tubuh yang tadinya penuh dengan Tenaga Dalam melimpah kini jatuh ke tanah sebagai mayat kering yang ringan seperti ranting pohon yang sudah mati selama bertahun-tahun. Begitu proses penyedapan selesai, tekanan Aura Kematian yang mencekik itu menghilang seketika.

Sisa tujuh tetua lainnya akhirnya bisa bergerak kembali saat pengaruh ilusi memudar. Namun, apa yang menyambut pandangan mereka membuat darah mereka seolah berhenti mengalir.

“Tiga tetua... mati begitu saja?” salah satu dari mereka meraung dengan suara yang pecah karena rasa tidak percaya.

“Dewi Kematian! Kau iblis! Kau monster!” teriak tetua yang lain, suaranya bergetar hebat antara amarah yang meledak dan kebencian yang mendalam. “Aku akan mencabik-cabik tubuhmu dengan tanganku sendiri!”

Kehilangan dua Pendekar Guru biasa dan satu Pendekar Guru Suci dalam sekejap mata adalah pukulan telak bagi harga diri dan kekuatan Perguruan Awan Mengalir. Amarah mereka meledak melampaui logika. Aura mereka menjadi semakin liar dan brutal, tidak lagi peduli pada strategi formasi yang rapi.

Yang tersisa di pikiran mereka hanyalah satu tujuan: menghancurkan gadis di depan mereka tanpa sisa.

Tujuh tetua yang tersisa menyerbu bersamaan dengan serangan paling mematikan yang mereka miliki. Cao Yi mundur setengah langkah, dadanya naik turun dengan tidak teratur. Darah masih menetes dari luka-luka di bahu, perut, dan pahanya, membasahi tanah kering di bawah kakinya hingga menjadi lumpur merah.

Energi kehidupan dari tiga tetua yang baru saja ia serap masih terasa sangat liar di dalam tubuhnya, bergejolak karena belum sempat dimurnikan sepenuhnya. Energi itu berbenturan dengan luka-lukanya sendiri, menciptakan rasa sakit internal yang luar biasa.

Jika ia terus memaksakan diri untuk bertarung dan menghabisi sisanya, ia tahu resikonya. Ia mungkin menang, tapi ia juga akan mati karena kehabisan darah atau meledaknya pusat energinya sendiri.

Tatapan merah darah itu berkilat tajam di bawah cahaya bulan yang redup. Itu bukan kilatan ketakutan, melainkan perhitungan dingin seorang pembunuh profesional.

“Tiga tetua sudah cukup untuk memulihkan kekuatanku nanti,” batinnya sambil mengukur jarak. “Tidak ada gunanya mati konyol di tempat sepi ini.”

Saat tujuh tetua itu hampir menjangkaunya dengan senjata mereka, Cao Yi menginjak tanah dengan kekuatan penuh yang tersisa. Kabut hitam pekat meledak dari bawah kakinya, menciptakan tabir gelap raksasa yang menghalangi pandangan musuh-musuhnya selama beberapa detik krusial.

Dalam kekacauan visual itu, tubuh Cao Yi melesat mundur dengan teknik pergerakan bayangan, bergerak sangat cepat hingga ia tampak seperti kabut yang tercerai-berai oleh angin.

Saat pandangan para tetua kembali jernih dan kabut menghilang, gadis itu sudah tidak ada di sana.

Yang tersisa hanyalah genangan darah di atas tanah dan tiga mayat kering yang menjadi saksi bisu atas kengerian yang baru saja terjadi.

Hari itu, Perguruan Awan Mengalir tidak hanya kehilangan tetua-tetua hebat mereka. Mereka kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga: keyakinan atas kekuatan mereka sendiri.

Sementara itu, Dewi Kematian, meski dalam kondisi terluka parah, kembali menghilang, membawa serta energi kematian yang kini tertanam semakin dalam dan kuat di dalam jiwanya.

1
Dania
misi
algore
tumben cuma sedikit babnya hehe
Mujib
/Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
😅😅😅😅
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
🤣🤣🤣🤣
Mujib
👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!