"Ya Allah ... tolong izinkan abah lebaran sekali lagi."
Doa seorang anak di tengah kesunyian malam. Tak banyak yang dia inginkan untuk lebaran kali ini, hanya kebersamaan dengan Abah saja yang dipintanya.
Nur, seorang anak kecil dari keluarga sederhana yang tak banyak mengeluh. Kehidupan yang sulit tak menjadikan Nur menjadi anak yang murung. Ia tetap percaya diri pergi ke sekolah meksipun sepatunya telah rusak.
Kisah sebuah keluarga sederhana di era 90-an. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kapal Minta Duit
Pulang dari sekolah saatnya untuk anak-anak sepertiku bermain. Setelah mengganti seragamku dengan baju main, aku segera berlari keluar mendatangi kerumunan anak lain yang sedang mempersiapkan sebuah permainan.
"Woy, ikutan!" seruku seraya ikut berkerumunan untuk menentukan dua kelompok yang akan dibentuk. Pas. Ada delapan orang jadi kami bisa bermain.
"Hayu! Hompipah!" ucap yang lain.
Kami berdiri melingkar untuk melakukan hompipah. Tangan kanan terjulur bersiap menentukan hasil akhir dari hompipah.
"Hompipah alaihum gambreng! Mak Ipah pake baju rombeng!" Kami berucap bersamaan.
Hompipah akan diulang sampai kelompok terbagi dengan adil. Satu kelompok dengan tangan yang telungkup dan satu lagi dengan tangan telentang. Kelompok dengan tangan telentang yang akan main terlebih dahulu.
Gatrik. Permainan itulah yang akan kami mainkan. Sebuah permainan tradisional yang sempat famous di zamannya.
Permainan ini menggunakan dua buah batang kayu atau bambu yang berbeda ukuran. Juga dua buah batu bata sebagai penyangga.
Tim yang akan bermain lebih dulu harus memukul batang kayu kecil menggunakan batang kayu yang panjang.
Potongan kayu kecil itu akan diletakkan di atas dua batu bata sebelum dilempar. Bermain gatrik harus di tempat yang lapang karena permainan ini membutuhkan banyak orang sebagai tim juga tongkat yang dipukul akan melayang jauh.
"Aku yang pukul!" Salah satu dari mereka sudah bersiap memegang potongan kayu yang lebih panjang. Kayu pendek sudah diletakkan di tempatnya dan siap dibuat melayang.
"Ayo! Siap di posisi, siapa saja yang kedatangan kayu itu harus bisa nangkap," seru ketua tim dari timku.
Si pemukul sudah berjongkok bersiap untuk memukul. Dan,
Puk!
Tongkat kecil yang diangkat dari tempatnya mengunakan kayu lalu dipukul dengan kuat dan melayang menghampiri lawan yang sudah bersiap menangkap kedatangan kayu kecil itu.
"Berhasil!" seruku berhasil menangkap tongkat yang melayang ke arahku. Kini, giliran kami yang bermain. Permainan akan sama seperti yang dilakukan lawan.
________"
Lelah bermain gatrik, kami duduk di pinggir tanah lapang tersebut di bawah pohon kecapi.
"Capek, ya?" celetuk salah satu temanku. Kami bermain bersama, laki-laki dan perempuan akan bekerja sama dalam permainan. Aku suka permainan yang menguras tenaga seperti itu.
Seru dan asik. Tubuh juga bergerak dan menjadikanku semakin lincah. Aku pandai segala jenis permainan tradisional kecuali bermain enggrang. Aku ... agak takut. Hehe.
Angin sepoi-sepoi menerpa lembut pada wajah kami yang dipenuhi keringat. Terik matahari tidak begitu menyengat di kampungku karena masih dikelilingi pepohonan yang rimbun.
Lapangan yang kami gunakan sebenarnya adalah kebun milik orang yang sengaja tidak ditanami sebagiannya karena sering kami gunakan untuk bermain.
Tentu saja, karena yang merawat kebun itu adalah pamanku sendiri. Bapaknya Puji. Jadi, kami bebas bermain di sana yang penting tidak merusak lahan yang ditanami paman.
"Kapal ... kapal ...!"
Teriak salah satu temanku. Benar! Suara pesawat terdengar jelas di udara.
Dud ... dud ... dud ... dud
Suara kami yang menirukan pesawat. Kami semua sigap berdiri dan menengadah ke langit. Mulai membaca mantera yang selalu kami nyanyikan saat pesawat melintas.
"Kapal menta duit sarebu lima ratus ....
(kapal minta duit seribu lima ratus)
Bapak ulah ceurik ibuna dina kakus ....
(Bapak jangan nangis ibunya di toilet)"
Dengan kompak kami menyanyikannya. Suara yang lantang berharap dapat didengar oleh pesawat yang melintas itu dan akan menurunkan duit darinya. Konyol!
Namun, itulah pemikiran kami di masa itu.
"Katanya kalau kita ngomong kaya gitu, kapal bakal nurunin duit," celetuk teman laki-laki. Wajahnya tetap menengadah ke langit penuh harap.
"Iya, tapi gak ada turun juga padahal udah diulang-ulang," sahut yang lain menimpali.
Mereka asik memandang langit berharap siapa tahu pesawat yang melintas berbaik hati akan menurunkan hujan duit.
Duduk memeluk lutut sembari diangkatnya sedikit. Berkhayal bagaimana rasanya jika di kampung kami ini turun hujan duit. Wah ... bertapa mengasikan tentunya!
"Yoko-yoko, yuk!" ajakku pada Puji yang duduk tak jauh dariku.
"Hayu!" sambutnya dengan senang.
Kami mulai duduk berhadapan untuk bermain yoko-yoko. Kedua tangan mengatup di dada, kami akan bermain tepuk tangan sembari bernyanyi.
Permainan akan diakhiri dengan suit. Siapa yang menang maka boleh menghukum yang kalah. Dengan memukulkan salah satu jari pada punggung tangan lawan.
Kami berdua mulai bernyanyi sambil menepukkan tangan kanan dan kiri kami bergantian.
"Yoko-yoko
Pacar bibi Lung
Musuh Li Mou Chow
Hakim roda emas
Paman Kweceng
Bibi Kweceng
Ahu memotong tangan kiri Yoko
Yoko membalas dengan pedangnya
Ahu menjerit 'aw!'"
Kutunjukkan jempolku dan Puji telunjuknya saat suit. Itu artinya aku yang menang. Saatnya menghukum.
Puji sudah memasang punggung tangannya menghadapku, ia memalingkan wajah sembari meringus. Matanya terpejam untuk menahan rasa sakit yang akan diterimanya.
Aku memegang jari tengah bagian tangan kiri dengan tangan kanan siap melayangkan hukuman. Dan,
Ctar!
Aku terkekeh saat Puji meringis. Kami mengulangi permainan tadi, bergantian saling menghukum satu sama lain.
Kami menyudahi permainan saat kedua punggung tangan kami sudah memerah karena hukuman.
Di antara kami ada yang bermain saling mencubit. Menggunakan dua jari tangan ibu jari dan telunjuk mereka untuk mencubit tangan temannya. Lalu bernyanyi sambil menggoyang-goyangkan tangan mereka yang saling mencubit.
"Wit-iwit utung-utung
Diciwit sampe tutung!"
Yang tak kuat dengan cubitan temannya boleh menyerah. Begitulah saat kami asik berkumpul, kami selalu melakukan permainan apa saja dengan hati senang.
Gema adzan Dzuhur berkumandang, kami membubarkan diri untuk kembali ke rumah masing-masing.
"Nur, nanti siang sekolah gak?" tanya Puji saat di perjalanan menuju rumah.
"Iya, sebentar lagi sekolah agama libur. Jadi, mau sekolah denger pengumuman," jawabku terus melangkah menuju rumah.
Puji tidak bersekolah agama sepertiku. Dia selalu ikut bapaknya ke kebun hingga sore. Dia anak kedua dari dua bersaudara. Kakaknya perempuan dengan penglihatan yang kurang. Ia tidak bisa melihat di tempat yang gelap. Kami menyebutnya mata kotokeun. Atau mata ayam karena pada saat malam penglihatan ayam akan berkurang.
"Assalamu'alaikum!" ucapku seraya membuka pintu dan masuk ke kamar. Kenapa saat aku pulang ke rumah, Aceng selalu tidur di depan tv. Bukankah tadi dia sedang bermain dengan temannya?
"Wa'alaikumussalaam!" jawab mak dari arah dapur. Mak hanya membalut tubuhnya menggunakan handuk baru saja mandi di sumur dan akan shalat Dzuhur.
Aku bergegas menuju sumur mencuci muka terlebih dahulu, sebelum berwudhu. Ah ... segar rasanya saat air sumur membasahi wajahku. Kuulang beberapa kali hingga benar-benar segar.
Kusudahi bermain air dengan wudu, aku bergegas melaksanakan shalat Dzuhur dan bersiap untuk pergi ke sekolah lagi.
Tas yang terbuat dari kresek yang kedua pegangannya kuikat menggunakan tali plastik untuk dijadikan tas. Tas kresek ini sedang digandrungi oleh anak-anak seperti kami.
Bukan hanya diriku yang menggunakannya, beberapa anak pun ikut menggunakan kresek itu sebagai pengganti tas. Sayang jika harus membawa tas, takut rusak karena bagi kami tas itu mahal harganya.
Rela tidak beli baju baru mendahulukan keinginan anak2nya.
Ah,sungguh indah masa dulu ya author.
Dan aq skrg ngalamin ngedahulukan keinginan anak dan aku mengerti skrg gmn perasaan orgtua hanya utk melihat anaknya tersenyum tulus ketika ngucapkan kata2 "Terimakasih" dan memeluk kita.
Baru tau setelah punya anak itu namanya celana mambo.. hehehe
dan sangat bermanfaat sekali
untuk saya Thor
👍👍🤩🤩🤩🤩🤩
malahan kebalik beliau yang sering kasih uang ke aku kalau datang ke rumah
katanya, ini buat jajan cucu2nya
Alhamdulillah saya juga masih belajar pakai hijab
padahal anak udah 3😥