"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."
Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).
Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.
Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Pesan Dalam Sepiring Lasagna Dingin
Jarum jam digital di dashboard mobil menunjukkan pukul 23.15 WIB saat Muhammad Akbar membelokkan setirnya memasuki pelataran carport rumah. Mesin mobil mati, derunya menghilang, menyisakan keheningan malam yang pekat di komplek perumahan itu.
Akbar menyandarkan punggungnya sejenak di jok kulit mobilnya. Matanya terpejam. Lelah. Hari ini benar-benar menguras energi fisiknya hingga titik nol. Tinjauan lapangan di Bogor ternyata jauh lebih rumit dari dugaan. Ada sengketa lahan kecil di jalur akses alat berat yang memaksanya berdebat alot dengan warga setempat dan aparat desa selama berjam-jam di bawah terik matahari yang menyengat.
Pikirannya melayang pada makan siang tadi. Ia makan bersama tim inti dan Annisa. Tidak ada obrolan santai, semua tegang membahas strategi menghadapi warga dan revisi timeline proyek. Akbar nyaris tidak menyentuh makanannya karena pusing memikirkan solusi. Ia merasa bersalah karena mood-nya yang buruk membuat suasana tim jadi tidak nyaman, tapi prioritasnya saat ini hanya satu: pulang. Ia ingin segera merebahkan diri di kasur empuknya.
Akbar turun dari mobil dengan gerakan lambat, menyeret langkah kakinya yang berat menuju pintu utama. Ia merogoh saku celana bahan, mencari kunci rumah.
Klik. Cklek.
Pintu terbuka. Kegelapan menyambutnya. Lampu ruang tamu sengaja dimatikan, hanya menyisakan lampu taman yang bias cahayanya menembus vitrase jendela, menciptakan bayangan panjang di lantai. Sunyi. Tidak ada sambutan hangat, tidak ada senyum Hannah yang biasa menunggunya di balik pintu dengan wajah ceria.
"Assalamualaikum," bisik Akbar pada ruang hampa itu, suaranya parau.
Ia melepas sepatu pantofelnya, meletakkannya di rak. Saat ia melangkah masuk lebih dalam menuju ruang tengah sambil melonggarkan dasi yang terasa mencekik, langkahnya terhenti.
Hidungnya menangkap sesuatu.
Ada aroma samar yang tertinggal di udara. Bukan aroma pewangi ruangan lavender yang biasa Hannah semprotkan. Ini aroma makanan. Campuran keju panggang, daging berbumbu, dan rempah oregano yang cukup kuat. Aroma yang asing untuk dapur mereka yang biasanya berbau bawang goreng atau soto.
Kening Akbar berkerut. Hannah masak malam-malam begini?
Didorong rasa lapar ia baru sadar perutnya keroncongan karena hanya makan sedikit tadi siang Akbar mengubah arah langkahnya menuju ruang makan. Tangannya meraba sakelar dinding.
Klik.
Cahaya lampu dapur menyala terang, menyilaukan mata sejenak. Namun, pemandangan di hadapannya membuatnya terpaku total.
Meja makan itu tidak kosong. Di sana, di tengah meja kayu jati itu, tergeletak sebuah loyang kaca besar (pyrex) yang ditutup tudung saji. Di sebelahnya, ada sebuah piring makan yang isinya baru dimakan satu suap. Sendok dan garpunya tergeletak begitu saja di atas piring, seolah ditinggalkan pemiliknya dengan terburu-buru atau putus asa.
Dan dapur... dapur yang biasanya kinclong karena Hannah sangat apik, kini tampak seperti baru saja terkena badai. Ada tepung terigu yang tumpah di meja racik, kulit bawang bombay yang berserakan di lantai dekat tempat sampah, dan tumpukan panci serta wajan kotor menggunung di wastafel.
Akbar mendekati meja makan dengan langkah pelan. Ia membuka tudung saji itu.
Lasagna.
Mata Akbar membelalak tak percaya. Istrinya, Hannah Humaira, gadis pesantren yang biasa masak soto, sayur asem, atau nasi goreng kampung, membuat Lasagna? Masakan Italia yang rumit, berlapis-lapis, dan butuh waktu berjam-jam untuk membuatnya?
Akbar menyentuh pinggiran loyang kaca itu. Dingin. Sudah berjam-jam masakan ini matang.
Akbar beralih menatap piring kotor di sebelahnya. Piring bekas Hannah. Hanya satu suapan yang hilang di pinggir. Sisanya masih utuh, namun terlihat diaduk-aduk tak bernafsu. Di samping piring, ada gumpalan tisu basah yang sepertinya bekas dipakai mengelap air mata.
Sebuah pemahaman menyakitkan menghantam dada Akbar.
Hannah menunggunya. Hannah tidak ikut ke Bogor bukan karena malas, tapi mungkin karena ingin menyiapkan kejutan ini. Istrinya menyibukkan diri seharian di dapur, bergelut dengan resep sulit ini sendirian, hanya untuk menyambutnya pulang. Tapi ia terlambat. Dan Hannah makan sendirian dengan perasaan kecewa.
"Ya Allah, Dek..." gumam Akbar, rasa bersalahnya membuncah memenuhi rongga dada.
Akbar menarik kursi kayu itu. Ia duduk di tempatnya biasa duduk. Ia tidak memanaskan makanan itu lagi. Ia tidak ingin suara microwave membangunkan Hannah. Ia mengambil piring bersih dari rak, memotong sepotong besar Lasagna dingin itu, dan meletakkannya di piringnya.
Suapan pertama masuk ke mulutnya.
Dingin. Lemak keju mozzarella-nya sudah menggumpal di langit-langit mulut. Saus dagingnya sudah tidak creamy lagi, terasa padat. Tapi bagi Akbar, rasanya luar biasa.
Di balik dinginnya makanan itu, ia bisa merasakan effort Hannah yang tulus. Ia bisa merasakan tekstur pasta yang direbus dengan pas, bumbu bolognese yang diracik dengan takaran hati-hati, dan saus bechamel yang gurih. Ini bukan sekadar makanan pengisi perut. Ini adalah surat cinta yang ditulis Hannah dengan bahasa kuliner, sekaligus jeritan kesepiannya yang ingin didengar.
Akbar makan dengan lahap dalam kesunyian dapur yang remang. Setiap kunyahan membawanya pada refleksi diri.
Ia merasa bodoh. Di luar sana, ia merasa hebat sebagai pemimpin proyek yang dihormati. Tapi di sini, di istananya sendiri, ia gagal membaca perasaan ratunya. Ia membiarkan Hannah berjuang sendirian melawan rasa insecure dengan memasak makanan mewah, hanya untuk membuktikan bahwa gadis itu layak bersanding dengannya.
"Maaf..." rutuk Akbar pada dirinya sendiri di sela suapan terakhir.
Akbar menghabiskan potongan besar itu sampai piringnya bersih tak bersisa. Setelah itu, ia tidak langsung pergi mandi atau tidur. Ia berdiri, menggulung lengan kemeja batiknya sampai siku.
Dengan sisa tenaga yang ada, Akbar mulai membereskan dapur yang berantakan.
Ia mencuci tumpukan piring kotor, menggosok kerak keju di loyang, mengelap meja yang penuh tepung hingga bersih, dan menyapu lantai dari kulit bawang. Ia melakukan semuanya tanpa suara, sepelan mungkin. Ini adalah bahasa cintanya. Act of service. Ia ingin saat Hannah bangun besok, istrinya tidak perlu lagi melihat kekacauan ini. Ia ingin Hannah tahu bahwa lelahnya dihargai.
Tiga puluh menit kemudian, dapur sudah kembali bersih mengkilap seperti sedia kala.
Akbar mematikan lampu dapur. Langkah kakinya membawanya menuju lorong kamar. Ia berhenti di depan pintu kamar Hannah. Pintu itu tertutup rapat.
Akbar memegang gagang pintu dengan ragu. Jantungnya berdebar. Apakah dikunci lagi seperti semalam? Apakah Hannah benar-benar menutup akses baginya?
Perlahan, ia memutar gagang pintu.
Cklek.
Terbuka. Tidak dikunci.
Hati Akbar menghangat seketika. Hannah tidak menguncinya. Mungkin istrinya lupa karena terlalu lelah menangis, atau mungkin... jauh di alam bawah sadarnya, Hannah masih berharap Akbar akan datang menengoknya malam ini.
Akbar melangkah masuk. Cahaya lampu jalan dari jendela kamar yang tirainya terbuka sedikit memberikan penerangan remang-remang.
Di atas kasur dusty pink, Hannah tertidur meringkuk memeluk guling. Wajahnya sembab, jejak air mata terlihat jelas di pipinya. Napasnya terdengar sedikit berat, sisa-sisa isak tangis yang terbawa tidur.
Akbar mendekat, lalu duduk bersimpuh di lantai karpet, tepat di samping tempat tidur Hannah. Ia menatap wajah istrinya lekat-lekat. Wajah yang masih sangat muda, namun harus menanggung beban perasaan yang rumit.
Tangan besar Akbar terulur, mengusap sisa air mata yang mengering di pipi Hannah dengan ibu jarinya. Sangat lembut. Jari-jarinya kemudian merapikan anak rambut yang menempel di dahi istrinya.
"Maafin Mas, ya," bisik Akbar lirih, nyaris tak terdengar. "Mas telat pulang. Masakannya enak banget, Dek. Beneran. Mas abisin tadi satu piring besar."
Hannah bergerak sedikit dalam tidurnya, mengerang pelan, lalu kembali tenang saat merasakan sentuhan hangat tangan Akbar di kepalanya. Naluri istri mengenali sentuhan suaminya meski dalam lelap.
Akbar menunduk, mencium kening Hannah lama sekali. Menyalurkan rasa sayang, rasa maaf, dan janji bisu bahwa ia akan berusaha lebih peka lagi.
"Mimpi indah, Humaira," bisik Akbar.
Akbar kemudian berdiri. Ia membetulkan selimut Hannah sebatas dada, memastikan istrinya hangat. Sebelum keluar, matanya tertumbuk pada nakas di samping tempat tidur. Di sana, ada buku resep yang terbuka lebar pada halaman Lasagna, penuh dengan coretan tangan Hannah yang merevisi takaran bumbu.
Akbar tersenyum tipis. Ia mengambil pulpen yang tergeletak di sana, lalu menulis sesuatu di sudut halaman buku resep itu. Sebuah pesan kecil untuk pagi hari.
Setelah itu, Akbar keluar dari kamar, menutup pintu perlahan tanpa menguncinya. Ia menyeberang ke kamarnya sendiri dengan hati yang jauh lebih ringan meski tubuhnya remuk redam.
Malam itu, meski mereka tidur terpisah dinding, Akbar merasa jarak di antara mereka sudah tidak sejauh semalam. Ada jembatan yang dibangun lewat sepiring makanan dingin dan dapur yang kembali bersih.
Dan besok pagi, saat Hannah bangun dan melihat tulisan tangan Akbar di buku resepnya, Akbar berharap senyum istrinya akan kembali mekar.
(Tulisan di buku resep: "Rasanya bintang lima. Terima kasih sudah masak susah-susah buat Mas. Masakannya enak, tapi Mas lebih suka senyum kamu. I love you.")