Zivanya Aurelia Wardana (20) pergaulan bebas membuatnya mengalami mimpi terburuk dalam hidup. Menjadi ibu diusia yang masih begitu muda
Amarah Keluarga membuatnya mengambil keputusan besar untuk mengakhiri hidupnya. Namun hal itu bisa dicegah oleh seorang dokter tampan bernama Zionathan (24)
Ziva memberontak, memberi syarat pada Zio untuk mencarikan ayah bagi bayinya, menggantikan sang kekasih yang pergi entah kemana
Tak disangka jika Zionathan menjadikan dirinya sendiri sebagai ayah untuk bayi itu sekaligus suami untuk Zivanya
Bagaimana pernikahan atas dasar tanggung jawab itu dapat bertahan? dan bagaimana Zio bertindak saat ayah kandung bayi itu datang dan meminta Zivanya serta anaknya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengunjungi Mertua
Hari berlalu dengan begitu cepatnya, beberapa tahun telah berlalu dan Zena kecil telah menginjak usia empat tahun
Gadis itu tumbuh ceria dalam kasih sayang kedua orang tuanya. Tak ada yang tau jika dia bukanlah putri kandung dokter Zionathan
"Papa!"
Seperti biasa, Zena akan menjadi orang pertama yang menyambut kedatangan sang ayah
"Hay princess nya Papa!" Zio membawa gadis kecil itu dalam gendongannya lalu melangkah masuk
"Kakak!" Ziva datang, lalu Zio mengecup mesra kening wanita cantik itu
"Bagaimana hari ini?"
"Kak Zio bersih-bersih dulu setelah itu kita makan, hari ini aku yang masak!" Ziva tersenyum bangga
"Yup, masakan Mama yang paling enak!" Celetuk Zena yang masih dalam gendongan sang ayah
Zio yang gemas mencium pipi sang putri. Zena adalah bagian terpenting dalam hidupnya
Setelah menidurkan putri kecilnya di kamar, Zio menghampiri sang istri yang telah menunggu dengan gaun malam berwarna maroon
Zio bersiul, godaan didepannya memang sayang untuk dilewatkan "Kamu pasti sengaja!"
Ziva tertawa, melangkah mendekati sang suami yang berdiri dengan tangan terlipat didepan dada
"Gimana? Aku cantik gak?" Tanya Ziva, tangannya telah melingkar indah dileher sang suami
"Kamu gak pernah jelek sayang!"
Wajah keduanya mendekat, saling bertaut hingga Zio memilih untuk membawa istri kecilnya itu keatas tempat tidur
"Sayang!"
"Hmmm"
Setelah pergulatan panas itu, kini sepasang suami istri itu tengah bersantai. Ziva menyamankan dirinya dalam dekapan sang suami sementara Zio mengelus rambut panjang istrinya itu
"Tadi Papa telepon, katanya Papa minta kita kerumah. Papa lagi gak enak badan katanya!"
Ziva mendongak, menatap wajah tampan suaminya "Papa sakit?"
"Iya, katanya Papa pengen ketemu Zena!" Ujar Zio "Gimana? Kamu mau kan?"
Sebenarnya Zio ragu, mengingat sampai hari ini Mala tak kunjung menerima Ziva sebagai menantu
"Kalau kamu gak mau, biar nanti aku bilang sama Papa! Atau sekalian minta Papa yang datang kesini!"
"Gak usah kak, Papa kan lagi sakit! Ziva gak pa-pa kok kalau kerumah Papa Akbar!" Jawab Zivanya
"Tapi kalau kamu gak nyaman gak pa-pa kok sayang! Aku gak akan maksa!" Zio mengerti jika ini pasti sangat berat bagi istrinya
"Udahlah, Ziva janji akan baik-baik aja!" Keduanya tersenyum, Zio mengecup kening wanitanya itu dengan lembut
Satu hal yang ia syukuri dalam hidup, adalah mengambil keputusan besar dengan menikahi Ziva empat tahun lalu
"Lanjut ronde dua?"
Wanita cantik itu menggeleng cepat "Enggak, aku capek banget kak!"
"Bercanda" Zio terkekeh "Ayo tidur!"
***
Mobil mewah dokter tampan itu telah berhenti disebuah rumah dua lantai minimalis milik Akbar
Hari ini sesuai janji, Zio akan mengajak anak serta istrinya untuk bertemu sang Papa karena kesehatan pria itu sedikit menurun
"Mas Zio!" Sapa seorang wanita paruh baya yang merupakan asisten rumah tangga
"Dimana Papa?" Tanya Zio
"Bapak ada diruang tengah, tadi katanya nungguin mas Zio!"
Ketiganya masuk, bertepatan dengan Akbar yang turun bersama sang istri. Ziva berusaha tersenyum walaupun wajah ibu mertuanya terlihat tak bersahabat
"Mah, Pah" Zio lebih dulu menyalami kedua orang tuanya disusul oleh Ziva. Walaupun wajahnya di tekuk tapi Mala tetap menerima uluran tangan dari menantunya itu
"Assalamualaikum Opa" Bocah empat tahun itu menyalami Akbar membuat pria paruh baya itu tersenyum
"Walaikumsalam cantiknya Opa"
"Assalamualaikum Oma!" Tangan kecil itu terulur dan Mala menerimanya tanpa membalas "Oma kok gak jawab, kata Papa salam itu harus dijawab!"
Mala tercengang, bisa-bisanya anak empat tahun mengatakan itu "Walaikumsalam!"
"Pintel!" Akbar tak dapat menyembunyikan tawanya, tak peduli dengan tatapan maut dari sang istri
"Cucu opa ini memang pinter!" Akbar meraih cucu perempuannya itu dalam gendongannya
"Kata Papa, opa lagi sakit?"
"Iya nih sayang! Kepala opa lagi pusing! Kamu tolong periksa yaa!"
Zena mengangguk, Akbar tak tahan dan mengecup pipi gembul sang cucu saking gemasnya
"Zena bawa alat-alatnya!" Ujarnya seraya memperlihatkan tas punggung berbentuk lebah miliknya
"Bagus! Ayo" Akbar berjalan lebih dulu dengan Zenata berada dalam gendongannya
Melihat sang suami pergi, Mala memilih untuk menyusul meninggalkan sepasang suami istri itu disana
"Terus kita kemana kak?" Tanya Ziva, mereka bahkan tak dipersilahkan untuk duduk, Akbar hanya sibuk dengan Zena sementara Mala memang tak ingin bertegur sapa
"Kita ke kamar aku aja!"
"Jangan aneh-aneh deh! Nanti kalau Mama sama Papa curiga gimana?" Ziva tau apa yang akan suaminya ini lakukan jika sudah berada dikamar
"Emangnya mereka bakal mikir apa? Lagian mereka gak akan peduli sayang!" Zio melancarkan rayuannya
"Gak! Nanti kalau Zena nyariin gimana?"
"Kalau udah sama Opanya, Zena gak akan inget sama Mama dan Papanya!"
Zio benar, putrinya itu memang tidak akan mencari kedua orang tuanya jika telah bersama sang Opa. Karena hal itu juga berlaku jika Zenata bersama Jefry dan Zalika
Melihat sang istri yang diam saja, Zio mengangkat tubuhnya lalu membawanya ke kamar
Zio memang nyaris tak pernah datang lagi kerumah kedua orang tuanya, tapi lihatlah! Kamar ini tak sedikitpun berubah. Semua penataan barangnya masih sama
***
Akbar main bersama sang cucu diruang tengah, Akbar duduk diatas karpet bulu sementara Zena melakukan apa yang menurutnya benar
Mala yang berada tak jauh dari sana tanpa sadar menarik sudut bibirnya. Zena terlihat menggemaskan dengan stetoskop yang berada dileher
"Jadi gimana dokter? Opa sakit apa?" Akbar bertanya sambil sesekali berpura-pura batuk
"Opa sakit palah!" Lihatlah bagaimana bocah menggemaskan itu bertindak bak dokter profesional
"Sakit apa?"
"Emm.. batuk!"
"Kalau itu Opa juga tau!" Akbar mengusap puncak kepala sang cucu dengan gemas. Sementara Mala yang sejak tadi menyaksikan interaksi itu mulai tersenyum lebih lebar
"Oma kenapa gak kesini? Siapa tau Oma sakit juga!" Tanya Zena dengan polosnya
"Oma itu dokter, jadi gak perlu diperiksa!" Ujar Akbar
Mala yang tersadar segera beranjak dari duduknya, memilih untuk pergi dari sana
"Oma gak suka sama Zena yaa opa?"
"Enggak kok, Oma juga sayang sama Zena!" Akbar memeluk tubuh mungil cucunya itu
"Tapi kok Oma gak mau bicala sama Zena?"
"Itu karena.. Oma lagi sakit gigi!" Jawab Akbar asal "Oh iya, karena dokter Zena udah bikin Opa sembuh, Opa punya hadiah untuk dokter Zena!"
Akbar mengeluarkan sebuah lolipop berukuran cukup besar dengan bentuk bulat. Melihat itu mata bulat Zena seketika berbinar
"Tapi kata Papa, Zena gak boleh makan pelmen!" Bocah perempuan itu menunduk sedih
"Gak pa-pa, ini kan bayaran untuk Zena. Lagian Papa nya Zena kan gak tau!" Ujar Akbar