Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.
Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.
Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'
Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Bolos
Bian tiba di minimarket. Ia mengenal mobil sport berwarna putih itu. Segera ia berjalan ke sisi kiri dan membuka pintu penumpang.
"Hai sayang," sapa Bian sambil memasuki mobil.
"Hai, Yang," sahut Theo seraya menarik tengkuk Bian dan mengecup bibir sang pacar.
Mendapat kecupan itu, Bian semakin merasa rindunya membuncah. "Kangen, Yang," ujar Bian dengan manjanya dan memeluk Theo.
"Sama. Aku juga kangen banget sama kamu. Makanya hari ini kita bolos, ya. Aku pengen seharian ini bareng kamu." Theo memeluk erat sang pacar. Dihirupnya wangi parfum Bian yang manis dan menyegarkan. Benar-benar mengobati rasa rindunya.
"Kamu yakin kita mau bolos? Tapi siang nanti aku ada pemotretan. Kamu juga bukannya ada latihan?" Bian mengingatkan.
"Bolos sekali aja gak apa-apa, 'kan? Sekarang tiap weekend aku gak bisa ngajak kamu ketemu. Aku harus ikut Mama ke Singapura kayak kemarin," ucap Theo sedih. Ia masih memeluk Bian dengan eratnya.
Bian sontak menjauh dari Theo. "Kok gitu sih, Yang? Harus banget kamu pergi bareng mama kamu? Biasanya selama ini kamu gak pernah nemenin mama kamu kayak gitu 'kan? Kenapa sekarang tiap weekend kamu jadi harus ikut?" Bian merasa tidak rela. Biasanya selama ini setidaknya Sabtu atau Minggu mereka pasti selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama seharian.
Theo merasa bersalah. Wajahnya muram, nampak sekali ia pun lebih ingin bersama dengan sang kekasih. "Maaf ya, Yang. Aku harap kamu bisa paham. Soalnya mama..." Theo menghela nafas antara kesal, merasa bersalah, dan merasa buntu karena tak ada yang bisa ia lakukan untuk mengubah keadaan yang menjebaknya ini.
"Mama kamu kenapa?" tanya Bian tak sabar.
"Mama... pengen aku belajar buat ngelola bisnis. Jadi aku harus ikut," terang Theo tidak sepenuhnya bohong.
"Kamu emang bakal gantiin mama kamu nanti kalau kamu udah besar?" tanya Bian antara kagum dan khawatir. Bukankah terlalu muda untuk Theo mulai mengelola bisnis? "Terus gimana sama cita-cita kamu buat bikin agensi musik, produksi musik sendiri, dan debut dengan lagu kamu sendiri?"
Selama ini yang Bian tahu Theo begitu menyukai musik. Tak ada alat musik yang tak bisa dimainkannya. Theo juga pandai bernyanyi dan menciptakan lagu sendiri. Bahkan Theo memiliki channel youtube sendiri dan secara rutin memposting video dirinya menyanyi sambil bermain alat musik dan mengcover lagu-lagu terkenal atau pun lagu ciptaannya sendiri. Ia bahkan memiliki cita-cita di dunia musik dan hiburan yang sudah ia rencanakan dengan sangat rapi.
Jika sekarang Theo belajar bisnis, apa ia akan mengubah haluannya?
"Pada akhirnya aku bakal kuliah bisnis, Yang. Mau aku lanjutin usaha mama atau aku mendirikan agensi aku sendiri, aku bakal tetap kuliah di bisnis. Musik bisa aku lakukan bahkan tanpa aku kuliah di bidang musiknya. Justru bisnis yang harus aku pelajari lebih lanjut."
Bian mengangguk paham. "Iya juga sih. Kamu 'kan udah bisa main alat musik apa pun. Gitar, drum, bass, piano, biola, bahkan dj kamu bisa. Kalau bisnis kamu butuh buat nerusin bisnis mama kamu."
"Iya, makanya sekarang kamu ngerti 'kan kenapa penting buat aku belajar bisnis dari sekarang," dusta Theo dengan terpaksa. Padahal ia harus pergi ke Singapura karena Julia yang mengancamnya.
Bian termenung sesaat. Lalu ia meraih tangan Theo dan menggenggamnya erat. "Aku ngerti, Yang. Pokoknya aku bakal selalu dukung kamu."
Theo tersenyum mendengarnya. Ia terharu meskipun di sisi lain hatinya ia merasa bersalah karena sudah membohongi dan mengkhianati kepercayaan Bian. "Makasih, Yang. Kamu bener-bener pacar yang pengertian," ucap Theo penuh rasa syukur sambil mengusap pipi Bian.
"Gak usah makasih segala, Yang. Nah, sekarang kita mau ke mana?" tanya Bian sudah siap untuk berpetualang hari itu.
"Nanti kamu juga tahu. Sekarang biar lebih aman kamu ganti baju dulu. Nih aku bawain baju." Theo meraih sebuah paper bag dari dekat kakinya dan memberikannya pada Bian.
"Kamu persiapan banget sih," ucap Bian tercengang.
"Iya, dong. Kamu ganti di toilet minimarket. Aku juga tadi ganti di sana," saran Theo.
"Ya udah, aku ganti dulu ya," izin Bian. Ia pun keluar dari mobil dan memasuki minimarket.
Tak lama Bian masuk ke dalam mobil lagi dengan menggunakan kaus oversize dan h ot pants yang menampilkan tiga per empat paha mulusnya.
"Udah siap?" tanya Theo saat Bian memasang seatbeltnya.
"Siap. Yuk!" sahut Bian semangat.
Kemudian mobil itu pun mulai meninggalkan parkiran minimarket dan bergabung dengan jalanan yang lumayan ramai. Pertama mereka sarapan di sebuah restoran, mengisi tenaga mereka untuk hari yang akan sangat membutuhkan energi, karena Theo sudah mempersiapkan sejumlah agenda untuk acara mereka membolos ini.
Saat sudah memasuki mobil lagi, ponsel Bian berbunyi. Ada beberapa pesan yang masuk, dari Dinda, Kay, Rere, bahkan Saga. Mereka menanyakan keberadaan Bian. Kemudian ponselnya bergetar, nama Saga muncul di layarnya. Sepertinya ketidakhadiran Bian di sekolah mulai disadari oleh orang-orang.
"Matiin aja HPnya, Yang. Biar kita bisa main tanpa ada yang gangguin. Udah ini kita pasti dapet masalah, tapi ya nanti aja. Sekarang kita seneng-seneng dulu. Karena nanti kita bakal susah ketemu kalau gak di sekolah," saran Theo dengan santainya.
"Bener juga, sih," gumam Bian setuju. Kemudian ia menolak panggilan Saga dan mematikan ponselnya. Ia masukkan ke dalam tasnya dan fokus ke jalanan. "Sekarang kita mau ke mana?"
"Kita bakal seneng-seneng."
Kemudian mereka sudah berada di sebuah tempat wisata yang memang sudah buka sejak pagi hari. Mereka berjalan-jalan sambil bergandengan tangan dengan bahagianya. Sesekali mereka bercanda tawa dan sambil menikmati suasana sekitar.
Kemudian mereka ke bioskop setelah puas bermain dan makan siang. Di sebuah ranjang di ruang velvet room mereka menikmati sajian film sambil saling memeluk di bawah selimut yang memang tersedia. Sesekali mereka menyatukan bibir mereka di tengah-tengah film yang masih diputar.
Setelah itu mobil Theo berhenti di carport rumah milik Luis. Bian langsung berdebar. Ia tahu apa yang Theo inginkan karena ia membawa Bian ke rumah teman mereka itu.
"Yang, kita masuk."
Theo pun keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Bian. Bian pun keluar dan mereka memasuki rumah Luis.
Mereka sudah berada di kamar tamu. Saat sudah mengunci pintu, Theo dengan tidak sabar menyerang Bian dan melucuti pakaian mereka satu per satu.
"Ah..." dsah Bian saat lehernya menjadi sasaran lidah dan bibir Theo.
Tubuh mereka sudah polos sepenuhnya dan Theo pun memasukkan bendanya pada Bian setelah ia memasangkan pengaman. Pinggulnya mulai maju mundur dengan cepat seakan ia ingin meluapkan rasa yang sudah ia tahan sejak lama.
Beberapa posisi mereka coba. Bahkan Bian mencoba untuk menjadi yang mengendalikan permainan. Hingga mereka berhasil mencapai puncak dari segala kenikmatan. Tubuh mereka ambruk dan mereka saling memeluk.
"Aku sayang kamu, Yang," ucap Theo memeluk Bian erat.
"Aku juga, Yang."
Perasaan Bian menghangat. Ini kedua kalinya mereka melakukannya. Bian bahagia dan juga merasa sangat puas karena kali ini karena sudah tidak ada lagi rasa sakit seperti waktu pertama kali melakukannya.
"Udah ini aku anter kamu pulang, ya," ujar Theo.
"Udah waktunya kita pulang ya?" lirih Bian tak rela. Hari itu terasa begitu cepat berlalu.
"Iya, Yang. Dan kita gak bisa bolos lagi kayak gini nanti. Pasti mereka bakal ngasih ancaman sama kita, kalau bolos lagi kita bakal kena hukuman yang lebih dari sekedar dengerin ceramahnya guru BK kita."
"Iya juga, sih..."
"Yang, aku pengen ngomong sesuatu," ujar Theo serius.
Bian menoleh ke arah atas, menatap wajah Theo di tengah-tengah pelukannya. "Ngomong apa? Muka kamu kok serius banget?"
"Aku pengen kamu tahu, apa pun yang terjadi, kamu harus percaya dan yakin ya, perasaan aku cuma buat kamu. Gak ada cewek lain yang aku sayang selain kamu. Sejak pertama kali jatuh cinta sama kamu waktu kita kelas 10, selalu cuma kamu. Tapi kalau misalnya aku bikin kamu sakit hati, itu bukan karena aku sengaja, bukan karena aku pengen, tapi itu karena aku bener-bener gak bisa ngehindarin itu."
Kenapa Theo mengatakan itu? Pikir Bian. Ia sendiri merasa apa yang Theo katakan benar-benar tepat seperti apa yang ia rasakan. Ia pun tak ingin menyakiti Theo, ia tak bermaksud untuk itu, namun keadaannya dengan Saga akan membuat Theo sakit jika Theo mengetahuinya. Dan Bian bukannya tidak mau, tapi ia tidak bisa. Ia tidak kuasa untuk menghindari jebakan yang Saga buat untuknya.