Menikah karena kemauan sendiri dan dengan pilihan sendiri tidak selamanya berbuah kebahagiaan.
Benazir adalah buktinya.
Menikah selama beberapa tahun dengan pria yang berusaha diperjuangkannya, malah menimbulkan luka dan kecewa berkepanjangan. Suaminya bahkan menganggapnya istri yang memalukan dan tak pantas dihargai.
Haruskah Benazir bertahan atau pergi.
Kisah ini akan sedikit menguras air mata.
Berminat ?
ikuti kisahnya yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17 ( Talak dan Cerai )
Arjuna nampak gemetar ketakutan saat mengetahui siapa yang telah memukulnya tadi. Perlahan ia bangkit sambil mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah. Rupanya pukulan Gama tadi telah berhasil membuat bibir Arjuna sobek dan berdarah.
Benazir hanya melengos saat melihat keadaan Arjuna. Tak ada lagi rasa iba di hatinya. Ia merasa Arjuna pantas mendapatkannya bahkan lebih.
" Dasar breng**k. Ini yang Lo lakuin sama Adik Gue hah. Gue udah pernah bilang, sekali Lo bikin Benaz nangis dan terluka, Lo tanggung sendiri akibatnya...," kata Gama sambil menatap tajam kearah Arjuna.
Arjuna lalu bangkit dan melangkah mendekati Benazir, tapi Benazir langsung bersembunyi di balik tubuh Gama seolah meminta perlindungan pada sang kakak. Melihat sikap Benazir membuat Gama dan Awan makin yakin kalo selama ini Benazir sudah sangat terluka. Saat tangan Arjuna terulur ingin menggapai Benazir, Gama langsung menepisnya.
" Sayang, dengerin Aku dulu. Ini ga kaya yang Kamu pikir. Sayang...," panggil Arjuna lirih mencoba membujuk Benazir.
Benazir menggeleng sebagai jawaban. Sedangkan Paula terlihat tak terima saat melihat Arjuna berusaha meraih hati Benazir kembali. Dengan sigap Paula berdiri dan memegangi Arjuna. Paula dan Arjuna saling menatap sejenak. Dan hal itu membuat Benazir terluka. Ia menangis melihat suaminya terlihat begitu patuh pada perempuan lain di hadapannya.
Lalu Awan memeluk Benazir untuk menenangkannya. Benazir nampak menyembunyikan tangisnya di pelukan Awan dengan perasaan hancur. Sedangkan Gama masih berdiri menatap Arjuna seolah menunggu apa yang akan diucapkan oleh Arjuna yang tengah kebingungan menentukan pilihan.
Tiba-tiba suasana di tempat itu sedikit gaduh dengan kehadiran rombongan pria berjas hitam. Mereka nampak merangsek maju mendekati tempat dimana sedang terjadi ketegangan antara Arjuna dan Benazir.
Para pria itu menepi seolah memberi jalan pada pria lainnya yang terlihat gagah dan berwibawa di usianya yang tak lagi muda. Pria yang dipastikan adalah atasan atau bos dari para pria berjas hitam itu nampak melangkah tenang sambil menatap lurus kearah Paula. Paula yang mengenali siapa pria yang baru saja datang itu, segera melepaskan cekalan tangannya dari lengan Arjuna. Terlihat wajah Paula yang memucat saat berhadapan dengan pria itu.
" Ba, Bapak...," panggil Paula dengan suara gemetar.
" Hmm. Jadi begini kelakuanmu selama Aku ga di sini Sayang...?" tanya bos para pria berjas hitam itu sambil menatap tajam kearah Paula dan Arjuna bergantian.
" Mmm, Bapak salah paham. Aku lagi cek kesehatan aja kok...," sahut Paula gugup.
" Cek kesehatan atau cek kehamilan...?" tanya pria itu sambil menatap ke perut Paula.
" Ini, Aku...," ucapan Paula terputus.
" Padahal sudah hampir setengah tahun Kita ga ketemu. Jadi artinya Kamu selingkuh, karena sudah pasti itu bukan Anakku...!" bentak pria itu marah.
Suara bentakan pria itu membuat semua orang termasuk Awan, Gama dan Benazir terkejut. Paula menjatuhkan diri di hadapan pria berwibawa itu. Ia bersimpuh memohon ampun sambil menangis.
" Ampun Pak. Aku salah. Tolong ampuni Aku...," rengek Paula sambil menangis memegangi kedua kaki pria itu.
Arjuna nampak menatap nanar kearah Paula. Perempuan yang terkenal sombong dan angkuh itu kini merengek menangis meminta belas kasihan dari seorang pria tua. Arjuna mengepalkan tangannya menahan marah melihat kejadian itu.
" Aku udah pernah bilang. Kamu bebas melakukan apa pun kecuali selingkuh. Sekarang Kamu bahkan berani hamil Anak dari laki-laki lain. Dasar pela**r murahan...!" teriak laki-laki itu sambil menjambak rambut Paula kasar hingga membuat wajah Paula mendongak karena saking kerasnya jambakan pria itu.
" Ampun Pak. Maafin Aku. Aku khilaf...," kata Paula sambil menangis.
Pria itu melepaskan rambut Paula dengan kasar. Lalu salah seorang pria berjas hitam maju menyerahkan selembar tisu basah untuk mengelap tangannya. Paula dan semua orang melihat sikap jijik pria itu setelah menyentuh Paula. Paula makin terisak dengan tubuh gemetar saat menyadari suami sirinya itu tak akan lagi mau menyentuhnya.
" Aku tak bisa mentolerir kelakuanmu ini Paula. Mulai detik ini, keluar dari rumahku. Kau hanya seorang gembel sebelum Aku menikahimu. Maka sekarang kembali lah menjadi gembel. Pergi dan jangan datang lagi ke hadapanku. Mulai detik ini Aku talak Kamu Paula...," kata pria itu dingin lalu melangkah meninggalkan Paula yang meraung seperti orang gi*a.
" Ga mau. Jangan talak Aku Pak. Aku cinta sama Bapak. Aku cuma kesepian karena Bapak ga pernah datang nemuin Aku. Bapak tunggu...," panggil Paula sambil menangis dan berlari mengejar pria itu.
Arjuna mencoba menghalangi, namun Paula tetap bersikeras berlari mengejar pria itu. Para pria berjas hitam itu dengan sigap menghalau Paula dan melindungi bos mereka dari sentuhan Paula yang menangis mengejarnya. Pria itu terlihat tenang, ia tak peduli meski Paula memanggil namanya dan meminta pengampunan darinya. Hingga sebuah mobil berhenti tepat di hadapan pria itu dan membawa pria itu pergi meninggalkan Paula yang menjerit histeris.
Para pria berjas hitam itu membubarkan diri satu per satu dan kembali masuk ke dalam mobil. Dalam hitungan detik semuanya pergi meninggalkan tempat itu dengan cepat.
Paula masih menangis di depan pintu loby Rumah Sakit. Tak ada yang berani mendekat dan menghiburnya. Arjuna datang dan membantu Paula berdiri lalu membawanya masuk ke dalam Rumah Sakit untuk menjalani pemeriksaan kandungan.
Semua perbuatan Arjuna dilakukan tepat di hadapan Benazir. Benazir menghapus air matanya dan melepaskan pelukan Awan. Lalu tanpa aba-aba, Benazir maju mendekati Arjuna dan menamparnya berkali-kali.
Plakk, plakk !
" Aku mau Kita cerai Mas. Cerai...!" kata Benazir dengan air mata yang menganak sungai di pipinya.
Arjuna tertegun. Ia nampak terkejut. Ia juga tak menyangka jika Benazir masih ada di tempat itu dan melihat semuanya. Saat mulut Arjuna terbuka untuk menjawab permintaan Benazir, bersamaan dengan itu terdengar Paula menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya. Terlihat ada darah yang mengalir keluar dari organ int*mnya. Rupanya terjadi pendarahan pada kandungannya. Arjuna panik dan segera memanggil perawat yang dengan sigap langsung membantu Paula. Keadaan kembali kacau, apalagi jeritan Paula membuat suasana kembali memanas.
" Anakku, Aku mau Anakku. Bapak, jangan pergi. Bapak...!" jerit Paula histeris.
" Sabar ya Bu. Tolong jangan banyak bergerak, ini berbahaya buat kandungan Ibu...," kata seorang perawat dengan sabar.
Paula terlihat lebih tenang saat mendengar ucapan perawat itu. Ia menurut saja saat dibaringkan di atas brankar. Setelahnya para perawat segera melarikan Paula ke ruang UGD. Arjuna menatap bingung kearah Paula. Saat menoleh kembali kearah Benazir, Arjuna melihat istrinya itu sudah dibawa pergi oleh Awan dan Gama.
" Maafkan Aku Benazir...," gumam Arjuna sambil mengusap bibirnya yang terasa berdenyut akibat pukulan Gama tadi.
Arjuna melangkah gontai menuju ruang UGD. Ia memilih mendampingi Paula dibanding menjelaskan semuanya kepada Benazir. Dan ini adalah kesalahan fatal Arjuna yang akan disesalinya sepanjang sisa hidupnya kelak.
\=\=\=\=\=