Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.
Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.
Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Hujan mulai turun tepat saat Zaira memutar kunci di gerendel pintu. Ketukan halus, nyaris malu-malu, yang lalu menderas seolah langit pun butuh menangis. Tetes-tetes tipis bagai jarum meluncur di kaca, meninggalkan garis-garis patah di jendela rumahnya, dan udara lembap membawa aroma pekat tanah basah, seperti kenangan lama yang enggan lenyap.
Zaira mendorong pintu perlahan, berhati-hati agar tak menimbulkan suara. Bunyi alat tenun mekanis adalah satu-satunya yang memecah kesunyian di dalam rumah. Ibunya sedang menenun, seperti tiap sore, duduk di kursi rotan dengan selendang menutupi bahu. Jarum-jarum beradu dalam irama tetap yang menghipnotis, dan aroma samar kayu putih dan rosmari mengepul dari sebatang dupa kecil yang menyala di rak.
Zaira membungkuk untuk mengecup pipi ibunya.
"Selamat malam, Mama."
"Kamu basah kuyup... Kamu baik-baik saja?" tanya ibunya, tanpa meninggikan suara, mata masih terpaku pada benang.
"Iya. Cuma lelah."
Ia naik dalam diam. Setiap derit kayu di bawah kakinya seakan memperbesar beban yang ia panggul di dalam. Ia menutup pintu kamar di belakangnya seolah menyegel sebuah rahasia, seakan seluruh dunia tertinggal di luar keempat dinding itu.
Ia menempelkan dahi ke kayu pintu yang dingin dan akhirnya membiarkan diri melepas napas yang ia tahan. Sebuah embusan panjang dan dalam, yang seakan menyeret serta segala yang tak sempat ia katakan. Ia menjatuhkan tas ke atas meja, sepatunya tercecer di jalan, sementara ia merebahkan diri ke ranjang, dipeluk kasur yang hangat dan aroma familiar seprai lavendernya.
Langit-langit mengawasinya bagai saksi bisu sementara dadanya naik-turun dengan berat.
Ia tak mau memikirkan Leonardo.
Tapi ia memikirkannya.
Pria itu ada di tiap sudut, di tiap bayangan. Pada cara kulit lehernya meremang tanpa alasan, pada tekanan samar di dadanya tiap kali ia berusaha berkonsentrasi. Pada amarah yang menusuknya tiap kali ia teringat, dan pada rindu manis yang langsung menyusul sesudahnya, seperti sebuah pengkhianatan.
Ia membuka laptop, dan cahaya kebiruan menerangi wajahnya, menegaskan garis lingkaran hitam di bawah matanya. Ia memaksa diri menatap catatan, grafik, persamaan. Matematika murni, tanpa emosi. Ia membaca lirih, menggarisbawahi, mengerjakan soal, menenggak kopi setengah hangat yang berasa seperti dini hari yang basi. Namun tetap saja, ia tak mampu memadamkan kegelisahan itu.
Hujan terus turun, melukis sulur-sulur di kaca jendelanya. Di luar, mobil-mobil meninggalkan jejak cahaya di genangan air. Di dalam, Zaira berusaha meyakinkan diri bahwa ia mulai bisa melupakannya.
Setiap kali ponselnya bergetar, sebuah tusukan menembus perutnya. Tubuhnya bereaksi lebih dulu daripada pikirannya. Harapan. Hasrat. Kekecewaan.
Bukan dia. Tak pernah dia.
"Kamu gila, Zaira," gumamnya dengan senyum getir, mendorong ponsel ke bawah tumpukan buku seakan itu bisa melindunginya dari dirinya sendiri.
Berkilo-kilometer jauhnya, di sebuah menara kaca dan baja, Leonardo berdiri tegak di hadapan meja rapat minimalis, dikelilingi layar-layar yang menyala dan wajah-wajah asing. Cahaya putih dari langit-langit menyinari tanpa jiwa, dan kaca memantulkan bayangannya sendiri bagai hantu yang terperangkap di antara keputusan-keputusan.
Ia berbicara dalam bahasa Inggris yang lancar, suaranya berat, terukur, seolah tiap kata ditimbang dengan pas.
"Yes, the contract will be signed Monday. I'll send the final draft tomorrow morning. Thank you for your patience."
Klik.
Panggilan video itu berakhir. Kesunyian menyelimutinya bagai kain kafan. Leonardo bersandar ke belakang, memejamkan mata, dan mengusap wajahnya. Dasinya terasa mencekik. Wiski menunggu di meja samping, tak tersentuh, dengan bongkahan es yang mulai mencair.
Marcelo masuk dengan langkah pelan, seolah paham beban suasana di ruangan itu.
"Panggilan video dengan Korea dua puluh menit lagi," katanya, menyerahkan tablet berisi data. "Mau makan sesuatu?"
"Tidak. Cukup wiski," jawab Leonardo tanpa menoleh.
Ia mengambil gelas dan memutarnya perlahan. Es beradu dengan kaca, berdenting kering, seolah menandai hitung mundur atas sesuatu yang belum ia pahami.
"Ponselku?"
"Sunyi total," lapor Marcelo dengan wajah datar. "Dia belum membalas pesan suaramu. Tak satu pun telepon. Tidak ada."
Leonardo tak langsung menjawab. Ia meneguk habis dalam sekali tenggak dan meletakkan gelas ke meja dengan bunyi tumpul.
"Dia masih saja mengabaikanku..."
"Dan itu mengganggumu?" tanya Marcelo, satu alis terangkat.
Leonardo mengatupkan bibir, dan sekilat cahaya melintas di matanya.
"Dia membingungkanku. Rasanya seperti dia sengaja memancingku. Seolah dia ingin menantangku."
"Wah. Leonardo Santos yang agung, dibuat kacau oleh seorang perempuan. Siapa yang menyangka?" canda Marcelo.
Seulas senyum tanpa tawa menyapu bibir sang taipan. Tapi ia tak berkata apa-apa.
Ia menatap ke luar jendela. Kota berkilau di bawah hujan, seekor binatang buas yang tak bisa tidur, terbungkus lampu merah dan putih, acuh pada ketidakpuasannya.
Di sebuah gang sempit di Bogotá, gelap dan tergenang, pemuda yang terluka itu menyeret langkah menuju sebuah bangunan mengelupas. Ia menaiki tangga tanpa pegangan, tempat lumut hidup berdampingan dengan retakan. Tangannya yang dibalut merembes darah menembus kain.
Ia mendorong pintu yang tak tertutup rapat dan masuk ke sebuah ruangan yang nyaris tanpa cahaya. Satu-satunya sinar berasal dari jendela terbuka tempat seorang pria merokok dalam diam. Asap mengambang dalam pusaran lambat, membawa bau tembakau apak dan hujan.
"Bagaimana tadi?" tanya pria itu tanpa berbalik.
Pemuda itu menurunkan tudung kepalanya. Wajahnya berkeringat, pucat. Ia mengangkat tangannya yang cacat dengan gemetar.
"Dia memotongnya. Dia mengiris jariku tanpa ragu... lalu melepasku. Tapi katanya aku harus menyampaikan sebuah pesan."
Pria itu berbalik perlahan. Usianya sekitar lima puluh tahun, berjanggut tipis, dan sepasang matanya kelam bagai sumur tanpa dasar.
"Khas Santos. Dia pikir kekuasaan ditegakkan dengan pisau dan diam."
Ia melangkah mendekat, mengamati sang pemuda tanpa tergesa.
"Dia menanyaiku soal aku?"
"Ya. Dia ingin tahu siapa yang mengirimku."
"Dan apa persisnya jawabanmu?"
"Tidak ada. Hanya yang sudah kita sepakati."
Pria itu mengangguk perlahan tanda puas. Ia menghampiri meja dan mematikan rokok di asbak logam.
"Kalau begitu kita berjalan baik. Dia tahu ada seseorang yang mengintainya. Tapi dia belum tahu siapa. Dan ketidaktahuan itu... akan membuatnya paranoid."
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
"Seperti biasa. Awasi. Dengarkan. Temukan titik lemahnya. Tumit Achilles-nya."
"Dan kalau dia tidak punya?"
Pria itu tersenyum. Sebuah senyum lambat, kejam, seperti mata pisau yang baru menyentuh kulit.
"Semua orang punya sesuatu untuk dilindungi. Seorang simpanan. Sebuah rahasia. Bahkan iblis sekalipun... punya hati. Sekadar untuk menyembunyikannya."
Guruh meledak murka di kejauhan, mengguncang kaca-kaca jendela.
Malam menelan percakapan itu. Di luar, kota berbau bahaya. Dan sementara Zaira berusaha melupakannya, sementara Leonardo menelan harga dirinya di antara deretan angka, seseorang sudah mulai menuliskan kejatuhannya.