Saat Arsenio Malik (29) memilih untuk menikahi kakak kandung Seraphina Allena (25) yang bernama Kalani Gianna (27), hati Seraphina saat itu benar-benar patah. Dia diberi pengkhianatan ganda dari dua orang yang tak pernah ia sangka akan tega menusuknya dari belakang. Kalani ternyata sudah hamil. Dan, kedua orangtua mereka malah berdiri di sisi Kalani untuk membela kesalahan anak pertama mereka.
Saat Seraphina merasa ditinggal sendirian di dunia ini, datanglah Kaivan Lyonel Marvin (30) yang menjadi obat bagi luka hati Seraphina. Karena kelembutan dan perhatian Kaivan, Seraphina akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran dari pria itu.
Namun, empat tahun setelah pernikahan mereka, Seraphina baru tahu jika ternyata Kaivan menikahinya hanya supaya Seraphina tidak mengusik pernikahan Kalani dan Arsenio.
Pria yang sudah menjadi suaminya itu ternyata juga mencintai Kalani. Dia bahkan rela berkorban dengan menikahi Seraphina hanya demi memastikan agar Sera tidak balas dendam kepada Kalani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Arsenio begitu emosi saat melihat istrinya berciuman dengan pria lain. Harga dirinya seperti diinjak-injak. Apalagi, perselingkuhan itu dilakukan di rumah mertuanya sendiri.
"Berdiri!"
Arsenio memegang kerah kemeja Kaivan. Dia memaksa pria itu berdiri lalu menghajar wajahnya lagi.
Lebih kuat.
Lebih keras.
"Brengsek, kau Kaivan! Berani-beraninya, kamu mencium istriku!" teriak Arsenio yang sudah gelap mata.
Kaivan tak peduli pada amarah Arsenio. Tak juga peduli pada rasa sakit akibat hantaman tinju Arsenio.
Tatapannya hanya terpaku pada satu titik.
Pada sosok Seraphina yang hanya diam memandanginya tanpa perasaan khawatir sama sekali.
"Arsen, berhenti!" pekik Kalani. "Jangan pukul Kaivan."
Wanita itu berlari. Dia berusaha melerai dua pria yang sedang terlibat perkelahian tak seimbang itu.
Masalahnya, Kaivan tak mau melawan. Dia tahu dia salah. Dan, dia merasa pantas untuk dipukuli.
"Kamu..."
Fokus Arsenio teralih kepada istrinya. Dia mendorong kasar Kalani hingga jatuh ke tanah.
"Kamu benar-benar wanita ja lang, Kalani! Aku hanya pergi sebentar dan kamu sudah melangkah sejauh ini?"
Kalani ikut naik pitam. Dia berdiri lalu menampar Arsenio dengan keras.
Plak.
"Aku mencintai Kaivan."
Satu kalimat itu sukses membuat dunia Arsen seolah runtuh. Dia pun menatap Kalani dengan nyalang.
"Apa kamu bilang?"
"Ya, aku mencintai Kaivan. Dari dulu. Sayangnya, aku baru menyadarinya sekarang."
Pengakuan Kalani membuat Arsen semakin sakit hati. Lima tahun pernikahan, dan ini yang dia dapatkan dari wanita yang dulu mengemis-ngemis cintanya?
"Kamu bilang, kamu mencintainya? Lalu, aku bagaimana, Lani?"
Kalani menarik napas panjang. "Sebaiknya, kita bercerai saja."
Langkah Arsenio surut ke belakang. Perkataan Kalani bagai petir yang menyambar di siang bolong.
"Gampang sekali kamu bilang cerai. Apa kamu lupa, bagaimana kerasnya perjuangan kamu dulu untuk merebut aku dari adik kamu sendiri? Kamu bahkan rela merangkak naik ke ranjangku dan memohon agar aku mau menyentuhmu. Tapi, sekarang setelah kamu menemukan pria lain, kamu malah ingin membuangku?"
"Jaga mulutmu, Arsen!"
Kalani memberi peringatan. Tatapannya nyalang.
"Yang aku katakan semuanya benar. Jadi, untuk apa aku harus menjaga mulut ku?"
"Arsen..."
"KAU, DIAM!" hardik Arsenio ke arah Kaivan. "Kau juga tidak tahu malu! Sudah punya istri tapi masih saja mengincar istri orang lain."
Napas Arsenio menderu cepat. Dadanya naik-turun.
Arsenio kembali menyerang Kaivan. Andai boleh memilih, dia ingin sekali membunuh Kaivan detik ini juga.
"BERHENTI!!!"
Suara bariton Romi membuat perkelahian itu akhirnya terhenti secara paksa.
"Ayah, tolong Kaivan," teriak Kalani panik sambil berlari menghampiri Ayahnya. "Arsen... Dia sudah gila."
Wajah Romi tampak memerah karena amarah. Tatapannya tertuju tajam pada Arsenio dan Kaivan lalu berhenti pada Seraphina.
"Kalian semua, ikut Ayah ke dalam!"
Kalani menggandeng tangan Ayahnya. Dibelakang mereka, Arsenio mengikuti sambil mendengkus kasar.
"Sera..." panggil Kaivan lirih.
Dia menahan pergelangan tangan Seraphina yang juga ingin ikut masuk bersama orang-orang.
"Ada apa?" tanya Seraphina. Dia melepaskan pegangan Kaivan dari tangannya dengan gerakan lembut namun terasa tegas.
"Soal tadi, aku minta maaf!" ucap Kaivan dengan penuh rasa bersalah. "Aku tidak tahu apa yang terjadi. Semuanya... semuanya terjadi begitu saja."
Raut wajah Kaivan terlihat sangat putus asa. Dia sendiri tak mengerti, kenapa perasaannya jadi tak senyaman sekarang saat melihat sosok Seraphina yang tetap tenang meski situasinya sudah separah ini.
"Kamu tidak perlu meminta maaf," timpal Seraphina.
Dia tersenyum.
Kelam di bola matanya tak dapat Kaivan ukur berapa dalamnya.
"Kamu tidak sakit hati?"
"Sakit hati hanya untuk orang yang masih mencintai. Sementara aku, sudah tidak."
Begitu kalimatnya selesai, Seraphina melangkah tenang masuk ke dalam. Dia menggenggam ponselnya erat-erat. Di sana, ada sesuatu yang bisa dia tukarkan dengan hal yang berharga.
Ruang keluarga yang biasanya diisi dengan kehangatan, malam ini berubah menjadi pengadilan dengan kasus berat.
Kalani dan Kaivan duduk di kursi terdakwa. Romi menjadi hakim. Sementara, Seraphina dan Arsenio bertindak sebagai korban.
"Kalian berdua benar-benar memalukan. Kalau sampai hal ini tersebar keluar, nama baik keluarga kita akan tercoreng."
Romi berbicara dengan tegas. Kemarahan tergambar di wajahnya namun tidak benar-benar sampai ke hatinya.
Pengadilan ini hanya formalitas. Sekadar untuk meredam api kemarahan Arsenio yang terlanjur tersulut.
Seraphina tahu itu.
"Ayah..." Kalani tiba-tiba menjatuhkan diri didepan sang Ayah. "Aku dan Kaivan saling mencintai. Tolong restui kami bersama."
"Apa kau bilang?" Netra Romi membulat. Tangannya mengepal, namun masih cukup waras untuk tidak menampar pipi putri kesayangannya.
"Ya, Ayah," angguk Kalani. "Aku dan Kaivan sebenarnya saling mencintai. Jadi... Tolong restui kami."
"Lani, apa yang kamu lakukan?"
Kaivan bertanya panik.
Tidak.
Seharusnya, masalah tidak sampai sebesar ini.
"Kaivan, aku sedang memperjuangkan kita," jawab Kalani. "Dan, kalau sampai kita tidak bisa bersama, maka lebih baik aku mati saja."
"Jangan bicara sembarangan, Kalani."
Sang Ayah menatapnya dengan mata melotot.
"Aku tidak bicara sembarangan. Ayah tahu seberapa nekatnya aku, kan?"
Romi perlahan melunak. Ancaman Kalani sukses membuatnya tak bisa berkutik.
"Jadi, kamu mau apa?"
"Aku ingin menikah dengan Kaivan."
"Lalu, Arsen dan Seraphina, bagaimana?"
"Mereka berdua juga bisa menikah. Bukankah, Arsen awalnya memang calon suami Seraphina?"
"Lani, kamu gila!" seru Kaivan. Dia menatap Seraphina panik. Menggeleng, seolah berusaha menjelaskan bahwa dia tidak terlibat dalam rencana Kalani.
Seraphina sendiri hanya tersenyum sinis. Jadi, lagi-lagi dirinya ingin dijadikan tempat pembuangan sampah?
Disaat Kalani tidak menginginkan sesuatu, maka dia akan dengan entengnya melemparkan barang-barang tak berguna itu kepada Seraphina.
Persis seperti sekarang.
"Baik. Aku setuju!"
Arsenio berkata dengan lantang. Sudah sejak lama dia menyadari kesalahannya.
Sudah sejak lama dia menyesali keputusannya. Menikah dengan Kalani tidak seindah angan Arsenio.
Dan, tetap saja... meski sudah berusaha mempertahankan rumah tangganya dengan Kalani, namun bayang-bayang Seraphina terus membayangi malam-malamnya.
"Apa yang kamu ucapkan, Arsen?"
Kaivan meradang. Dia merasa jika semua orang sudah gila.
"Kau menginginkan istriku, kan?" Arsenio tersenyum mengejek. "Jadi, apa salahnya jika aku juga menginginkan istrimu?"
"Jangan coba-coba, Arsen!"
"Kau mau apa?" balas Arsen. "Menghajarku? Memangnya, kamu bisa?"
Arsenio adalah pemegang sabuk hitam taekwondo dan judo. Jelas, dia bukan tandingan Kaivan yang hanya pria biasa tanpa latar bela diri sama sekali.
"Kaivan, keadaan sudah seperti ini. Sebaiknya, kamu dan Kalani menikah saja."
Sang mertua berusaha memecahkan ketegangan diantara kedua menantunya.
"Ayah, apa Ayah memintaku untuk menceraikan Seraphina juga?" tanya Kaivan tak percaya.
Romi menghela napas panjang. Pusing.
"Ya," angguknya. "Kamu harus menceraikan Seraphina dan menikahi Kalani. Jangan pernah berani berpikir untuk memiliki kedua putriku, Kaivan! Aku tidak akan pernah setuju."
"Tapi, Seraphina..."
"Seperti yang sudah disepakati. Seraphina akan menikah dengan Arsenio."
"Memangnya, aku sudah setuju?"
Seraphina menyela. Dia membuat dirinya terlihat di tengah orang-orang yang sedari tadi sibuk membuat keputusan tanpa melibatkan dirinya.
menyusun rencana merebut lagi
noah & sera kalian keren sekali 🤭🤭🤭🤭