NovelToon NovelToon
30 Hari Bersama Sang Mafioso

30 Hari Bersama Sang Mafioso

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penikahan Kontrak / Penyesalan Suami / Kontras Takdir / Tamat
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: pitufina

Cassidy tak lagi punya apa-apa untuk diberikan pada dunia. Pernikahannya hancur oleh pengkhianatan, dan seluruh hidupnya kini bertumpu pada satu hal: menyelamatkan putri kecilnya yang sekarat. Ketika biaya operasi menjadi jurang yang mustahil ia seberangi, seorang pria asing bermata dingin datang dengan tawaran gila—satu juta dolar, dengan satu syarat: tiga puluh hari hidup di sisinya.

Pria itu Nicolás Tomasolli, penguasa dunia yang tak boleh disentuh siapa pun. Bagi Cassidy, kesepakatan ini hanyalah jalan keluar. Baginya, ada rencana yang jauh lebih dalam dari sekadar uang.

Tapi tiga puluh hari cukup untuk mengubah segalanya. Cukup untuk membuat dua orang yang seharusnya saling memanfaatkan justru saling jatuh. Cukup untuk membongkar rahasia berdarah tentang siapa Cassidy sebenarnya—rahasia yang bahkan tak pernah ia ketahui, dan yang membuat namanya diperebutkan oleh kerajaan-kerajaan paling berbahaya di dunia.

Dari gemerlap Roma hingga dinginnya Moskow, dari ranjang mewah hingga medan pertumpahan darah, ini kisah tentang cinta yang lahir dari kesepakatan terlarang, tentang perempuan rapuh yang dipaksa takdir menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan dari para pria di sekelilingnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pitufina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Musik yang menggelegar membantuku menahan pikiran agar tak menyeretku melakukan apa yang sudah lama kuinginkan. Tak peduli seberapa banyak alkohol mengalir dalam tubuhku, aku tak juga menemukan kekuatan—atau lebih tepatnya keberanian—untuk mengakhiri penderitaan ini. Maka kupilih meneguk minuman sampai kehilangan kesadaran, setidaknya melupakan sejenak semua yang menyeretku ke titik ini.

Tubuhku terasa kian berat, mataku terpejam, dan aku bahkan tak sanggup menyeret diri ke ranjang. Aku nyaris tertidur ketika sebuah gebrakan—atau tendangan keras di pintu depan—membuatku tersentak takut. Namun tetap saja aku tak mampu bangkit duduk.

Pandanganku kabur. Aku tahu seseorang mendekat, mengangkatku ke dalam dekapannya, mengguncang tubuhku sambil mengucapkan sesuatu yang tak bisa kucerna. Mataku mengkhianatiku dan air mataku pun tumpah. Dengan putus asa aku berteriak agar ia melepaskanku, membiarkanku tenggelam dalam kesengsaraanku sendiri, tapi pelukan itu justru mengerat. Beberapa tetes jatuh membasahi pipiku—mungkinkah orang ini menangisiku? Andai aku punya sedikit saja tenaga untuk mengangkat tangan dan mengusap wajahnya, memintanya berhenti menangis, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja—sekalipun itu kebohongan terbesar yang pernah kuucapkan seumur hidupku.

Aku jatuh ke dalam kegelapan tak sadarkan diri, dan wajahnya muncul dalam ingatanku. Saat-saat terindah di sisinya, tawanya, kepolosan wajahnya. Bagaimana semuanya bisa berakhir seperti ini? Dari mana seseorang menemukan keberanian untuk terus hidup?

Aku mengangkat tanganku mencoba meraihnya, tapi ia begitu jauh. Ia memanggilku dan bulu kudukku meremang; aku ingin berlari ke sisinya, memeluknya, dan menghujaninya dengan ciuman sampai kudengar ia tertawa.

Aku berhasil berdiri dan berlari mengejarnya. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan memimpikan hal yang sama, aku bisa sampai ke tempatnya berada. Kuangkat ia ke dalam dekapanku, dan air mataku mengkhianatiku, jatuh dari mata seperti air mengucur dari keran. Aku merindukannya, dan nyeri di ulu hatiku kembali terasa. Aku tahu ia akan lenyap lagi, dan begitu terbangun aku harus menghadapi kenyataan pahit. Tapi kali ini, setidaknya, aku bisa merasakannya kembali dalam pelukanku—dan itu, sekalipun tak ada yang percaya, menghangatkan hatiku yang terluka.

10 bulan sebelumnya.

Halo semuanya, namaku Cassidy Matzkevich, umurku 24 tahun, dan aku menikah dengan Antony Wilson. Kami tinggal di kota yang indah, Buenos Aires, dan memiliki seorang putri kecil berusia baru empat tahun bernama Hannah—cahaya hidup kami.

Masa kecilku tidak mudah. Di usia sembilan tahun aku kehilangan kedua orang tuaku dalam kecelakaan mobil, dan aku harus pindah tinggal bersama nenekku. Aku tak bisa mengeluhkan itu—beliau wanita yang luar biasa dan membesarkanku seolah aku anak kandungnya sendiri. Bahkan bisa kukatakan beliau mencintaiku melebihi ayahku. Namun beliau meninggalkanku beberapa minggu setelah aku berusia sembilan belas tahun. Saat itu aku sudah menjalin hubungan dengan Antony dan kami berencana menikah begitu genap dua puluh, tapi beliau tak sempat melihatku bergaun putih, tak pula sempat mengenal Hannah yang lahir tak lama kemudian. Mungkin andai beliau masih di sisiku, aku bisa bertanya bagaimana menghadapi apa yang terjadi setelahnya. Tapi hidup memang selalu bertekad menyusahkanku.

Ketika Hannah berusia dua tahun, dalam satu musim panas di pesisir, kondisinya tiba-tiba menurun drastis, dan di situlah petaka bermula. Dari dokter ke dokter, sampai akhirnya mereka menemukan kelainan pada jantung kecilnya. Pada dua operasi pertama, kukira ia akan meninggal di ruang tunggu. Keluarga Antony selalu ada mendampingi kami, tapi aku merasa sendirian. Semua orang berkata semuanya akan baik-baik saja, namun tak seorang pun memahami ketakutanku.

Setelah hampir enam bulan di rumah sakit anak, kami akhirnya diperbolehkan pulang. Tentu saja sepanjang waktu itu aku tinggal di dalam sana bersamanya. Aku bahkan tak pergi sekadar untuk mandi, sebab kamar mandi di dalam kamarnya memungkinkanku melakukannya tanpa harus meninggalkannya.

Pulang ke rumah terasa aneh. Awalnya aku tak begitu memedulikan keadaan, sampai suatu malam aku tak sengaja mendapati bahwa cinta dalam hidupku mengkhianatiku—dengan ibu baptis putriku sekaligus sahabatku sendiri. Aku takkan berbohong pada siapa pun: kondisiku, baik secara psikologis maupun emosional, tak cukup baik untuk bertengkar atau berpisah. Maka aku berpura-pura tak tahu apa-apa dan membiarkan mereka melanjutkan permainan mereka.

Aku bahkan sempat mendengar dari saudari-saudari Antony bahwa hal semacam itu wajar terjadi ketika salah satu pasangan terabaikan. Tapi—sialan, yang benar saja? Aku menghabiskan hari-hari di rumah sakit bersama putri kami. Memang benar, sejak kami tahu kondisinya, seks nyaris lenyap dari ranjang kami. Tapi apa yang mereka harapkan kulakukan? Pikiranku tertuju pada putriku, bukan pada kenikmatanku sendiri—meski tampaknya, bagi Antony, hal itu ternyata sangat penting.

Kami tak pernah duduk membicarakan hal itu. Aku tahu ia menyadari—atau setidaknya menduga—bahwa aku sudah mengetahui perselingkuhannya, tapi ia tak pernah punya nyali untuk bertanya, dan sejujurnya aku pun tak cukup baik untuk membahasnya. Hannah adalah prioritasku, dan untuk saat ini ia membutuhkan kami berdua dalam keadaan utuh. Setidaknya begitulah selama hampir setahun, sampai suatu hari di TK kondisinya kembali menurun drastis. Dokter tak membawa kabar baik untuk kami: katup yang dulu dipasang tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, dan Hannah membutuhkan transplantasi jantung. Ada seorang kardiolog anak ternama di Amerika Serikat dengan tingkat keberhasilan sembilan puluh persen, dan mendapatkan jadwal dengannya nyaris mustahil. Namun berkat relasiku dan relasi mertuaku, Hannah bisa dioperasi setelah genap empat tahun—mereka akan memasang jantung buatan bila donor tak kunjung ditemukan.

Aku seorang desainer gaun pengantin. Selama menemani putriku di rumah sakit, aku masih bisa bekerja lewat komputerku, mengirimkan rancangan ke rekan bisnisku, yang lalu mereproduksinya persis dan menjualnya dengan harga sangat baik. Untungnya merek kami dikenal di seluruh dunia, dan lewat itulah aku berkenalan dengan banyak orang dari luar negeri.

Mertuaku menghadiahi kami perjalanan ke Italia—tepatnya ke Roma—agar Sri Paus sendiri memberikan berkat untuk operasi yang akan dihadapi putri kecil kami. Perjalanan itu akan berlangsung sepuluh hari, sekaligus untuk beristirahat dari semua yang telah kami lalui dan memulihkan tenaga menghadapi apa yang menanti. Setelah itu kami akan pulang untuk bersiap ke Amerika Serikat, lalu tinggal di sana sebulan sebelum tanggal yang dijadwalkan dan sebulan sesudahnya—kira-kira selama itulah, kata mereka, pemulihan Hannah akan berlangsung bila tak ada komplikasi.

Besok kami akan berangkat ke bandara. Sejujurnya kami memang membutuhkan perjalanan ini, meski aku tahu mertuaku melakukannya dengan harapan kami bisa menyelamatkan pernikahan kami. Padahal aku sendiri sudah yakin: begitu kami pulang dari Amerika Serikat, perceraian adalah langkah berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!