Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Adam mendorong pintu perlahan, memperlihatkan Gia yang masih berdiri dengan wajah basah oleh air mata. Begitu melihat pria itu, Gia langsung menegakkan tubuhnya. Ada harapan kecil yang muncul di matanya.
Namun, harapan itu segera memudar ketika ia melihat tatapan Adam yang begitu dingin.
"Tuan Adam..." panggilnya pelan.
Adam melangkah masuk, lalu berhenti beberapa meter di hadapannya.
"Kau rupanya masih memiliki banyak tenaga untuk berteriak."
Gia menggeleng cepat.
"Aku hanya ingin pulang, Tuan. Aku ingin bertemu keluarga ku dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi."
"Menjelaskan?" Adam mengulang kata itu dengan nada mengejek. "Apa yang perlu kau jelaskan? Bahwa kau sudah merenggut nyawa calon istriku dariku?"
"Aku tidak melakukannya!" Gia memberanikan diri menatapnya. "Aku tidak mengemudikan mobil itu! Aku juga tidak tau bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi. Tolong, percayalah kepada ku!"
Adam menatapnya lekat-lekat, seolah berusaha menemukan kebohongan di balik wajah pucat wanita tersebut. Namun, ia tidak mencari kebenaran. Adam sudah kehilangan kesabarannya.
"Berhenti membela diri!" bentaknya, lalu mencengkeram leher Gia dengan kasar dan mendorong wanita itu ke arah tempat tidur.
"Ah!"
Tubuh Gia terhempas ke atas kasur. Adam segera menekan tubuhnya, membuat Gia kesulitan untuk bangkit. Wajah wanita itu seketika pucat. Ia tidak pernah membayangkan akan mengalami hal mengerikan seperti ini, terlebih pada hari yang seharusnya menjadi hari pernikahannya dengan Ricardo.
"Tuan Adam, lepaskan aku!" Gia meronta panik. Kedua tangannya berusaha mendorong dada pria itu. "Aku mohon, jangan sakiti aku!"
Ia hanya ingin Gia mengakui kesalahan yang sudah diyakininya sejak awal. Adam kemudian mendekat satu langkah.
"Dengarkan aku baik-baik, Gia."
Gia spontan mundur.
"Mulai hari ini, kau tidak akan pergi ke mana pun tanpa izinku. Kau tidak akan menghubungi keluargamu, tidak akan menemui siapa pun, dan tidak akan meninggalkan kamar ini jika aku belum mengizinkannya."
"Tapi, Tuan Adam—"
"Dan berhenti mengatakan bahwa kau tidak bersalah!" Bentakannya membuat Gia terdiam. Adam menatapnya dengan kebencian yang begitu dalam.
"Kalau kau ingin terus menyangkal, silakan. Aku punya banyak waktu untuk membuatmu mengerti apa artinya kehilangan seseorang yang paling kau cintai."
Wajah Gia seketika memucat. Ia tidak tahu hukuman apa yang menantinya. Namun, dari tatapan pria di hadapannya, ia menyadari satu hal. Adam tidak datang untuk mendengarkan penjelasannya. Pria itu datang untuk memastikan bahwa penderitaannya belum berakhir.
Adam masih berdiri di hadapan Gia dengan tatapan gelap. Amarah yang bercampur dengan kegelisahan membuatnya sulit berpikir jernih. Ia tidak menyukai perasaan asing yang muncul setiap kali berada dekat wanita itu, dan ia semakin membenci kenyataan bahwa Gia seolah mampu mengusik kendali dirinya.
"Jangan mendekat!" Gia segera mundur ketika Adam melangkah ke arahnya. Lututnya naik ke atas ranjang, namun tak membuat Gia berhenti mundur.
Dalam sekejap, tangannya meraih gaun pengantin yang dikenakan Gia. Ia menariknya dengan kasar hingga terdengar suara kain yang terkoyak.
"Jangan! Tuan Adam, jangan lakukan ini!" Gia menjerit ketakutan. Ia berusaha menahan gaunnya dengan kedua tangan, sementara air matanya mengalir deras. "Aku mohon, lepaskan aku! Aku tidak melakukan kesalahan apa pun!"
"Aku sudah memperingatkanmu untuk berhenti menyangkal!" bentaknya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, Tuan Adam!" Gia menggeleng ketakutan. "Aku tidak membunuh Nona Veronika. Aku bahkan tidak tau bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi!"
Ucapan itu membuat Adam semakin murka. Ia mencengkeram gaun pengantin Gia, lalu menariknya lagi dengan kasar hingga kain putih itu kembali terkoyak.
"Ah!" Gia menjerit dan berusaha mempertahankan gaunnya dengan kedua tangan.
"Jangan, Tuan Adam! Aku mohon, lepaskan aku!"
Namun, Adam tidak menghiraukan permohonannya. Ia menekan tubuh Gia ke atas tempat tidur, membuat wanita itu segera berusaha menjauh sambil menangis ketakutan.
"Tolong! Jangan lakukan ini kepada ku!"
Gia meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Adam. Akan tetapi, pria itu jauh lebih kuat darinya. Ketika Adam melepaskan jas panjangnya yang basah kuyup oleh hujan dan melemparkannya ke lantai, Gia tersentak hebat.
ap Dy punya rencana sendri???
Qta semua membelanya,, mendukung nya...,, eh malah dia yg nawarin diri utk bertahan d rumahnya Sadam. Kecuali kalo dirimu kuat,, d jahatin bisa balas,, d pukul bisa balas memukul,, bisa mu hanya menangis saja...,, Qta perempuan memang makhluk lemah....,, tapi jangan melemahkan dirimu kayak gitu juga Gia. Kau berharap ayahmu Sadam akan terharu....,, hingga akhirnya menyayangimu....,, seperti berharap salju turun d tengah hutan yang terbakar....,, mustahil.
ngapain nyari amerda dirumah Adam GK langsung tempat mertuanya 🤔
berharap Adam membuka jati diri siapa amerda siih ,,