Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HAK SANG PENGUASA
“Takdir tidak berubah dengan sendirinya, Aura. Kamu yang membawanya ke sini dengan keberanianmu.”
Suara berat Hendra bergetar lembut di dekat telinga Aura, begitu dalam dan sarat akan dominasi yang tenang. Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu menatap lurus ke dalam manik mata sang istri. Di dalam kamar utama kediaman Fahreza yang temaram, malam pertama mereka terasa membeku dalam ketegangan yang intim.
Aura tidak memalingkan wajahnya. Meskipun jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, ia tetap mempertahankan tatapan mata yang tenang dan teratur. Di balik gaun tidur sutra berwarna sampanye yang memeluk lembut tubuhnya, ada desiran hangat yang membakar—sebuah rasa tertarik yang murni pada sosok pria tegap di hadapannya.
“Saya hanya mengambil peluang yang ada di depan mata, Hendra,” balas Aura halus, jemari lentiknya menyentuh dada bidang suaminya yang hangat di balik jubah mandi yang terbuka.
“Dan Anda adalah peluang terbaik yang pernah takdir tawarkan.”
Hendra terkekeh rendah—sebuah tawa seksi yang menggetarkan dada bidang berototnya. Jemari kokoh sang taipan yang mengusap lembut dagu Aura perlahan berpindah, menyelusuri garis rahangnya yang tegas hingga mengusap tengkuknya dengan sangat protektif.
“Peluang?” repetisi Hendra seraya mendekatkan wajahnya. Kehangatan napas beraroma mint dan kayu manis menyapu kulit pipi Aura.
“Di dunia bisnis, peluang selalu mengandung risiko besar, Aura. Tapi malam ini, kamu bukan lagi sekadar mitra bisnis yang mempresentasikan draf di meja kerja saya. Kamu adalah istri saya. Nyonya Hendra Fahreza.”
Kehadiran Hendra yang begitu tegap dan tinggi memancarkan aura maskulinitas yang tak terelakkan. Pria matang ini tidak seperti Aris yang selalu bersikap terburu-buru, emosional, dan kekanak-kanakan. Setiap gerakan Hendra begitu penuh perhitungan, tenang, namun memiliki dampak yang sanggup melumpuhkan pertahanan wanita mana pun.
Hendra menundukkan kepalanya, mendaratkan ciuman yang dalam dan hangat tepat di bibir merah Aura. Ciuman yang tidak tergesa-gesa, melainkan sebuah klaim mutlak dari seorang penguasa atas milik bahagianya yang baru.
Aura memejamkan matanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan yang diberikan suaminya. Kedua tangannya merayap naik, melingkar lembut di leher kokoh Hendra. Rasa balas dendam terhadap Aris yang selama satu bulan ini membakar dadanya perlahan tergeser oleh realitas baru yang jauh lebih pekat: ia kini benar-benar terikat dengan pria terkuat yang mampu memanjakannya sekaligus mendominasi hidupnya secara utuh.
Hendra perlahan meregangkan ciumannya, menatap wajah Aura yang sedikit memerah di bawah pendar lampu temaram. Binar ketertarikan di mata cokelat gelap sang taipan begitu membara.
“Kamu tidak menyesali keputusan ini?” bisik Hendra pelan, membelai pipi mulus Aura dengan ibu jarinya.
“Menyesal?” Aura mengukir senyuman tipis yang sangat anggun, menatap tepat ke manik mata suaminya.
“Saya tidak pernah menyesali keputusan yang membawa saya bertekuk lutut pada pria sejati, Hendra.”
Jawaban itu memicu binar kepuasan di wajah tampan Hendra. Pria itu menyunggingkan senyuman menawan, lalu tanpa ragu sedikit pun mengangkat tubuh jenjang Aura ke dalam dekapannya. Aura memekik pelan karena kaget, refleks mempererat pelukannya di leher Hendra saat sang taipan membawanya melangkah menuju ranjang king-size berkanopi yang
megah di tengah ruangan.
Malam itu, di dalam kamar utama yang terkunci rapat dari dunia luar, batas-batas kesepakatan tertulis di atas kertas perlahan menguap, digantikan oleh ikatan pernikahan yang sesungguhnya.
Keesokan harinya.
Cahaya matahari pagi membias lembut melalui celah tirai sutra besar, menyinari kamar utama yang megah. Aroma kopi hitam segar yang baru diseduh dan wangi harum bunga mawar putih mengisi udara.
Aura terbangun perlahan, merasakan lengan kokoh dan hangat masih melingkar protektif di pinggangnya. Ia menoleh sedikit, mendapati Hendra masih tertidur pulas di sampingnya dengan wajah yang tampak jauh lebih rileks dibandingkan saat pria itu berada di dunia bisnisnya. Sinar matahari pagi menonjolkan garis rahang tegas dan siluet bahu lebarnya yang mengagumkan.
Aura tersenyum tipis, mengusap pelan jemari Hendra yang bertengger di perutnya sebelum bergeser perlahan untuk bangun dari ranjang.
Setelah membersihkan diri dan mengenakan gaun terusan elegan berwarna biru navy yang santai namun sangat memikat, Aura melangkah keluar dari kamar utama menuju area ruang makan di lantai dasar. Rambut hitamnya dibiarkan terurai bergelombang, memancarkan kecantikan alami seorang Nyonya baru di kediaman tersebut.
Langkah kakinya yang anggun di atas tangga marmer menarik perhatian seluruh staf rumah tangga yang sedang sibuk bertugas. Kepala pelayan paruh baya yang melihat kehadiran Aura langsung membungkuk dalam-dalam dengan penuh rasa hormat.
“Selamat pagi, Nyonya Hendra,” sapa kepala pelayan itu dengan suara sangat sopan.
“Apakah Nyonya memerlukan bantuan untuk sarapan pagi ini?”
“Selamat pagi, Pak Biantoro,” sahut Aura dengan suara lembut dan nada yang bersahabat namun tetap memancarkan wibawa.
“Saya hanya ingin mengecek menu sarapan untuk Mas Hendra dan Aris.”
“Semua hidangan sudah disiapkan di meja makan utama, Nyonya. Den Aris juga baru saja turun ke ruang makan,” lapor Pak Biantoro.
Aura mengangguk pelan.
“Terima kasih, Pak. Tolong siapkan cangkir kopi hitam tanpa gula untuk Mas Hendra, ya.”
“Baik, Nyonya.”
Aura merapikan gaun birunya, mengulas senyuman dingin yang mematikan di bibirnya, lalu melangkah menuju ruang makan megah.
Di dalam ruang makan, Aris sedang duduk sendirian di meja mahoni panjang. Pria berusia dua puluh lima tahun itu tampak sangat berantakan. Lingkaran hitam menghiasi bawah matanya—bukti bahwa ia tidak bisa memejamkan mata sekejap pun sepanjang malam membayangkan mantan kekasihnya berada di dalam kamar utama bersama ayahnya. Kemeja kerjanya bahkan belum dikancingkan dengan rapi, dan wajahnya dipenuhi rasa frustrasi yang mendalam.
Denting halus sepatu hak tinggi Aura seketika memecah keheningan ruang makan.
Aris mendongak. Begitu matanya menatap sosok Aura yang melangkah masuk dengan aura kecantikan yang kian memukau dan bercahaya, cangkir kopi di tangan Aris bergetar hebat hingga air hitam di dalamnya terpercik ke atas meja.
“Selamat pagi, Aris,” sapa Aura santai. Suaranya mengalun merdu saat ia menarik kursi di kepala meja makan—posisi yang kini sah menjadi miliknya sebagai pemilik rumah tangga.
Aris menelan ludah, dadanya naik turun oleh napas yang memburu. Pria muda itu meletakkan cangkirnya dengan kasar hingga menimbulkan denting nyaring.
“Kamu... kamu kelihatan puas banget ya, Aura?” bisik Aris dengan suara parau yang sarat akan kebencian dan kefrustrasian. Matanya menatap tajam cincin berlian yang berkilau di jari manis Aura.
Aura menyandarkan punggungnya pada kursi berukir emas tersebut, menatap Aris dengan pandangan santai seolah sedang melihat seorang anak kecil yang sedang merajuk.
“Puas?” Aura tertawa pelan—sebuah tawa anggun yang terdengar begitu merendahkan bagi Aris.
“Tentu saja aku puas, Aris. Suamiku adalah pria sejati yang sangat luar biasa, dewasa, dan tahu cara memperlakukan seorang wanita dengan penuh kehormatan. Sesuatu yang nggak akan pernah bisa kamu pahami.”
Wajah Aris merah padam seketika. Buku-buku jarinya memutih akibat mengepal begitu kuat di atas meja makan.
“Jangan sebut Papa dengan panggilan itu di depan aku!” geram Aris tertahan, matanya memerah.
“Kamu pikir kamu sudah menang, Ra?! Kamu cuma cewek licik yang memanfaatkan kebaikan Papa! Aku bakal cari tahu semua rencana kamu dan ngebongkar semuanya di depan Papa!”
Aura memiringkan kepalanya sedikit, menopang dagunya dengan jemari lentiknya yang dihiasi cincin pernikahan. Tatapan matanya berubah menjadi sangat dingin dan penuh intrik.
“Bongkar saja kalau kamu berani, Aris,” tantang Aura pelan namun tajam.
“Tapi ingat kata-kata Papamu semalam. Kamu mau kehilangan seluruh hak waris dan ditendang keluar dari Fahreza Group cuma gara-gara emosi kekanak-kanakan kamu? Kamu tahu betul seberapa besar Hendra mencintai dan mempercayai aku sekarang.”
Aris terdiam kaku. Kalimat Aura bagaikan hantaman gada berat yang menghancurkan sisa-sisa keberaniannya. Ia tahu posisi Aura saat ini terlindungi sepenuhnya oleh kekuasaan mutlak Hendra Fahreza. Satu bisikan saja dari Aura kepada Hendra bisa menghancurkan masa depannya di perusahaan.
Pada saat ketegangan di antara mereka berdua berada di puncaknya, suara langkah kaki yang tegap dan berwibawa terdengar dari pintu masuk ruang makan.
Hendra melangkah masuk mengenakan setelan jas kerja lengkap berwarna abu-abu gelap yang sangat elegan. Rambutnya tersisir rapi, dan matanya memancarkan kesegaran seorang pria yang sedang berada di puncak kebahagiaannya.
“Selamat pagi, Selamat pagi, Sayang,”
sapa Hendra hangat. Pria matang itu berjalan mendekati Aura, membungkuk sedikit untuk mengecup pelipis istrinya secara mesra di depan mata Aris.
Aura membalasnya dengan senyuman tulus, merapikan dasi suaminya dengan gerakan yang sangat manis.
“Selamat pagi, Hendra. Tidurmu nyenyak?”
“Sangat nyenyak karena ada kamu di sampingku,”
jawab Hendra jujur, menatap Aura dengan binar kasih sayang yang meluap. Pria itu kemudian mengambil posisi duduk di sebelah Aura, lalu melirik ke arah Aris yang duduk kaku di seberang mereka.
Hendra mengerutkan keningnya tipis melihat penampilan putranya yang kusut.
“Aris, kenapa wajahmu pucat sekali? Kamu tidak tidur semalaman?”
Aris cepat-cepat membuang pandangannya, mencoba menguasai suaranya yang gemetar.
“Ah... nggak apa-apa, Pa. Aris cuma... agak kurang enak badan aja dari semalam.”
Hendra menyesap kopi hitam yang baru saja disajikan oleh pelayan, lalu mengangguk singkat.
“Kalau kurang sehat, istirahatlah di rumah hari ini. Tapi pastikan kamu siap untuk rapat direksi besok pagi di kantor pusat. Papa ingin mengenalkan Aura secara resmi sebagai jajaran komisaris baru di Fahreza Group.”
BUM!
Aris tersedak air liurnya sendiri. Matanya membelalak tak percaya menatap ayahnya.
“Ko... Komisaris baru, Pa?! Tapi Aura kan nggak ada hubungannya sama saham perusahaan!”
Hendra menatap Aris dengan pandangan dingin dan tegas.
“Aura adalah istri Papa. Dia memiliki sepuluh persen saham pribadi Papa yang sudah Papa alihkan atas namanya pagi ini sebagai hadiah pernikahan. Dia berhak duduk di jajaran komisaris untuk mengawasi kinerja kamu dan direksi lainnya.”
Aris menatap Aura dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Sepuluh persen saham Fahreza Group! Angka itu bernilai triliunan rupiah—sebuah porsi kekuasaan yang bahkan Aris sendiri belum pernah diizinkan memegang bagian sebanyak itu oleh ayahnya!
Aura menyunggingkan senyuman paling mematikan yang pernah ada, menatap mantan kekasihnya itu dengan pandangan kemenangan mutlak.
“Mohon bimbingannya di kantor besok ya, Aris,” ujar Aura halus penuh sindiran terselubung.
“Sebagai komisaris baru, aku akan memantau seluruh hasil kerjamu dengan sangat teliti.”
Aris mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya hampir melukai kulitnya sendiri. Ia merutuki kebodohannya sebulan lalu. Wanita yang dulu ia buang dan hina sebagai 'cewek biasa' kini bukan hanya menjadi ibu tirinya di rumah, tetapi juga menjadi atasan tertingginya di perusahaan!
Satu jam kemudian.
Setelah Hendra berangkat ke kantor pusat dengan pengawalan ketat, Aura memutuskan untuk berjalan-jalan di area taman belakang kediaman Fahreza yang sangat luas. Angin pagi yang sejuk membawa aroma rumput basah dan bunga melati yang bermekaran di sepanjang jalan setapak batu alam.
Aura membuang napas panjang, menikmati ketenangan suasana taman tersebut. Langkah pertamanya telah berhasil melampaui ekspektasinya. Ia kini memegang posisi sah di dalam keluarga dan saham kekuasaan di Fahreza Group.
Namun saat Aura sedang menikmati pemandangan di dekat kolam ikan koi, suara langkah kaki terburu-buru terdengar mendekatinya dari arah belakang.
Aura berbalik perlahan.
Aris berdiri di sana dengan napas terengah-engah. Pria itu tidak lagi mengenakan jas kerjanya. Matanya tampak liar, dipenuhi oleh keputusasaan dan emosi yang meluap-luap yang tak sanggup lagi ia tahan.
“Aura! Stop pura-pura anggun di depan aku!”
bentak Aris seraya melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka di area taman yang sepi itu.
Aura tidak mundur satu senti pun. Ia berdiri tegak, melipat kedua tangannya di dada dengan pandangan dingin.
“Jaga bicaramu, Aris. Di rumah ini, kamu sedang berbicara dengan Nyonya rumah.”
“Masa bodoh sama status Nyonya itu!”
teriak Aris frustrasi. Pria muda itu meraih kedua bahu Aura dengan kasar, mencengkeramnya erat dengan mata yang memerah menahan tangis kehancuran.
“Kamu tahu kamu nggak mencintai Papa, Ra! Kamu ngelakuin semua ini cuma buat hancurin hidup aku, kan?! Kamu mau balas dendam karena aku ninggalin kamu demi Siska?!”
Aura menepis tangan Aris dari bahunya dengan gerakan tajam dan tegas, memberikan tatapan jijik pada mantan kekasihnya itu.
“Lepaskan tanganmu!” geram Aura rendah, suaranya sarat akan ancaman. “Jangan berani-berani menyentuhku lagi dengan tangan kotormu itu, Aris!”
Aris terkekeh parau—sebuah tawa frustrasi yang menyedihkan.
“Tangan kotor? Tiga tahun aku pegang tangan kamu, Ra! Tiga tahun kita lewati sama-sama! Kamu pikir kamu bisa hapus semua kenangan itu cuma dalam waktu satu bulan karena uang dan kekuasaan Papa?!”
Aura melangkah satu titik mendekati Aris, mendongak menatap lurus ke dalam mata pria yang dulu pernah sangat ia cintai namun kini ia benci setinggi langit.
“Kenangan tiga tahun itu sudah mati di hari kamu bilang aku cewek biasa yang nggak selevel sama keluarga kamu, Aris,” bisik Aura dengan suara dingin yang menusuk tulang.
“Kamu sendiri yang buang aku ke tempat sampah. Jadi jangan cengeng kalau sekarang aku kembali sebagai pemilik tempat kamu berdiri.”
Aris berlutut pelan di atas rumput taman, mengepalkan tangannya di tanah. Kesombongan dan keangkuhan yang selama ini menyelimutinya runtuh menjadi puing-puing tak berharga.
“Aku salah, Ra... Aku ngaku aku salah!” bisik Aris parau, mendongak menatap Aura dengan mata memohon.
“Aku nyesel udah ninggalin kamu demi Siska... Aku nyesel udah ngomong jahat sama kamu. Please, Ra... ceraikan Papa. Aku bakal lepasin Siska, aku bakal kenalin kamu ke semua orang sebagai pacar aku, aku bakal kasih kamu segalanya asal kamu balik sama aku!”
Aura menatap Aris yang berlutut di depannya dengan tatapan paling dingin yang pernah ada. Tidak ada sedikit pun rasa iba di hatinya—yang ada hanyalah kepuasan atas pembalasan dendam yang sempurna.
“Kembali sama kamu?” Aura tersenyum sinis, menggelengkan kepalanya perlahan.
“Kenapa aku harus mau jadi pacar rahasia dari seorang anak manja yang penakut... kalau aku bisa jadi Ratu dari pria sejati yang memiliki seluruh kekayaan keluarga ini?”
Aris membeku. Kata-kata Aura bagaikan pisau tajam yang menghujam tepat ke pusat jantungnya.
Aura merapikan gaun birunya, lalu berbalik membelakangi Aris untuk kembali melangkah ke dalam rumah utama. Namun baru beberapa langkah berjalan, sebuah suara langkah kaki lain yang sangat familiar terdengar berdiri kaku di ujung lorong taman.
Aura menghentikan langkahnya seketika. Matanya membelalak lebar.
Di bawah naungan pilar taman, Hendra Fahreza berdiri tegap mengenakan jas mewahnya. Pria matang itu ternyata belum berangkat ke kantor—ia berbalik untuk mengambil berkasnya yang tertinggal.
Mata cokelat gelap milik sang taipan menatap lurus ke arah Aris yang masih berlutut di atas rumput dan Aura yang berdiri di dekatnya. Wajah Hendra begitu datar, dingin, dan memancarkan aura ancaman yang sangat mematikan.
Hendra melangkah pelan mendekati mereka berdua, suara pantulan sepatunya di atas batu alam terdengar seperti detak lonceng kematian.
Hendra menghentikan langkahnya di depan Aura dan Aris, menatap putranya yang gemetar ketakutan di tanah sebelum beralih menatap istrinya dengan pandangan yang tak tertebak.
“Aris...” panggil Hendra dengan suara rendahnya yang membuat bulu kuduk berdiri. “Apa maksud kalimatmu baru saja... tentang kenangan bersama calon ibumu?”