Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.
Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.
Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir celaka
Sesosok pria bertubuh kekar dengan jaket serba hitam dan topi kasti yang menutup separuh wajahnya tampak melintas cepat di ambang pintu gudang, memegang sebuah tas kain berwarna hitam yang tampak padat.
"Berhenti!" teriak Raka menggelegar seraya melompat keluar dari dalam gudang.
Pria berjaket hitam itu terkejut. Tanpa membuang waktu, ia langsung berbalik dan berlari kencang menerobos rumput liar di halaman samping menuju ke arah jalan depan.
Raka mengejarnya dengan kecepatan penuh. Otot-otot tubuhnya bekerja maksimal saat melompati tumpukan bata tua di halaman. Dalam beberapa detik saja, Raka berhasil memangkas jarak di antara mereka.
Saat pria asing itu hendak memanjat pagar besi depan, Raka melompat dan menerjang punggung pria itu hingga mereka berdua jatuh bergulingan di atas tanah berumput.
Brak!
Tas kain hitam di tangan pria itu terlempar ke udara dan jatuh di atas tanah.
Pria berjaket hitam itu mengerang, namun ia adalah seorang petarung yang berpengalaman. Dengan cepat, ia melepaskan pukulan mentah ke arah wajah Raka. Raka menangkisnya dengan lengan kirinya, lalu membalas dengan hantaman siku yang keras tepat di rahang lawan hingga pria itu tersungkur ke samping.
Naya berlari keluar dari gudang dengan napas memburu, matanya membelalak melihat perkelahian sengit di halaman depan. "Raka! Hati-hati!"
Pria asing itu, yang menyadari bahwa ia kalah tenaga menghadapi Raka, melihat kesempatan saat Naya muncul. Dengan gerakan licik, ia mencabut sebilah pisau lipat tajam dari dalam saku jaketnya, mengarahkannya tepat ke arah Naya yang berdiri tak jauh darinya.
"Jangan mendekat atau cewek ini gue tebas!" ancam pria itu dengan suara serak yang berat.
Langkah Naya membeku seketika. Tatapan mata pria asing di balik topinya itu tampak begitu kejam dan tanpa rasa iba.
Melihat pisau tajam itu terarah pada Naya, kilatan amarah murni yang membakar seketika meledak di dada Raka. Matanya memerah sempurna. Pria yang biasa tenang dan terkontrol itu mendadak berubah menjadi sosok yang teramat menakutkan.
"Jangan sekali-kali ... kamu sentuh dia!" geram Raka dengan suara bagaikan raungan serigala.
Sebelum pria asing itu sempat bereaksi, Raka menerjang maju tanpa memedulikan ancaman pisau tersebut. Dengan sebuah gerakan beladiri yang sangat cepat dan presisi, Raka mencengkeram pergelangan tangan lawan yang memegang pisau, memutarnya hingga terdengar bunyi klek yang mengerikan.
"AARRGH!" jerit pria itu kesakitan saat pisau lipatnya terlepas dan jatuh ke tanah.
Raka memberikan tendangan memutar yang telak di dada pria itu, membuatnya menghantam pagar besi dengan keras sebelum akhirnya terkapar tak berdaya di atas tanah, memegangi dadanya yang sesak.
Naya bernapas lega, dadanya naik turun dengan cepat. Namun kelegaannya hanya bertahan sekejap.
"Raka! Tanganmu!" jerit Naya histeris.
Di lengan jaket kulit cokelat Raka, tepat di bagian lengan bawah, ada robekan panjang yang mengucurkan darah segar berwarna merah pekat. Rupanya, saat menangkis sabetan pisau tadi, ujung tajam senjata lawan sempat menyayat kulitnya cukup dalam.
Raka tidak mengindahkan rasa sakit di armadanya. Pria itu mengabaikan darah yang menetes ke tanah, lalu melangkah cepat menyambar tas kain hitam yang terlempar tadi.
Raka membuka releting tas itu dengan tangan kirinya yang bebas. Di dalam tas tersebut, terbaring sebuah kotak kayu jati berukir kuno yang dilapisi ukiran gajah—kotak asli milik ayah Naya!
"Kotaknya ..." bisik Naya dengan air mata yang menetes di pipinya karena campuran rasa haru dan rasa cemas melihat luka Raka. "Kamu berhasil mengamankannya..."
Pria asing yang terkapar di dekat pagar menggunakan sisa tenaganya untuk bangkit secara tiba-tiba. Ia melompati pagar besi yang rendah, lalu menghambur masuk ke dalam sebuah mobil minibus silver yang sudah menunggu di luar dengan mesin menyala, melesat pergi meninggalkan kepulan asap tipis.
Raka tidak mengejar mobil itu. Ia tahu prioritas utamanya saat ini ada di tangannya.
Raka berjalan menghampiri Naya, lalu berlutut di depan wanita itu. Pria itu menyodorkan kotak kayu tua yang masih utuh itu ke dalam pangkuan Naya, menatap wajah Naya dengan tatapan yang amat lembut meski napasnya masih terengah-engah dan bajunya bersimbah darah.
"Aku sudah janjikan..." bisik Raka pelan, menyunggingkan senyum tipis di antara rasa nyeri yang mulai menjalar di tangannya. "...aku tidak akan biarkan siapa pun mengambil kehormatan ayahmu."
Naya tidak tahan lagi. Ia menjatuhkan dirinya, memeluk leher Raka dengan erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu seraya menangis sesenggukan.
"Dasar bodoh!" tangis Naya pecah. "Kenapa harus nekat seperti itu?! Tanganmu berdarah banyak sekali! Kalau kamu kenapa-napa bagaimana?!"
Raka tertegun sejenak menerima pelukan hangat yang tiba-tiba itu. Perlahan, tangan kiri Raka yang tidak terluka melingkar di pinggang Naya, mengelus punggung wanita itu dengan lembut, menikmati kehangatan yang menjalar ke dalam jiwanya yang selama ini dingin dan hampa.
"Aku tidak apa-apa, Naya," bisik Raka di telinga Naya, aromanya yang khas bercampur bau tanah dan kehangatan membikin hati Naya luluh sepenuhnya.
"Selama kamu selamat ... luka sekecil ini tidak ada artinya."
Naya semakin erat memeluk Raka, tetapi pria itu perlahan melepaskan pelukannya.
"Sudah, jangan menangis. Aku masih hidup, kan?" Raka berusaha tersenyum, meskipun wajahnya mulai pucat menahan nyeri.
Naya segera mengusap air matanya, lalu memegang lengan Raka dengan sangat hati-hati.
"Jangan banyak bicara! Kita harus segera ke rumah sakit."
"Aku bisa menyetir sendiri."
"Raka!" Naya membentak dengan mata berkaca-kaca. "Kamu sudah terluka seperti ini masih saja keras kepala!"
Raka terdiam. Alih-alih marah, ia justru tersenyum kecil melihat kepanikan perempuan itu.
"Baiklah, Nyonya. Aku menurut."
Naya tertegun mendengar panggilan itu. Namun, ia tidak sempat memikirkannya karena darah masih merembes dari luka di lengan Raka.
Setelah memastikan kotak kayu itu aman, Naya mengambil saputangan dari tasnya dan menekan luka Raka perlahan untuk membantu mengendalikan perdarahan.
Raka meringis kecil.
"Maaf," bisik Naya panik.
"Tidak apa-apa. Asalkan kamu tidak menangis lagi."
Naya menatapnya tajam. "Jangan menyuruh saya berhenti menangis kalau kamu sendiri terus membuat saya takut!"
Kali ini, Raka tidak membalas. Ia hanya menatap Naya dengan sorot mata lembut, lalu menggenggam tangan perempuan itu menggunakan tangan kirinya.
Dalam hati, Raka menyadari sesuatu yang tak lagi bisa disangkalnya.
Melihat Naya menangis karena dirinya terasa jauh lebih menyakitkan daripada luka di lengannya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya, ia takut kehilangan seseorang bukan karena dendam atau masa lalu, melainkan karena perempuan itu telah menjadi begitu berarti baginya.
Di bawah naungan pohon rindang rumah tua Bogor, di antara cucuran darah dan kotak kayu tua yang berhasil diselamatkan, dinding-dinding kepalsuan di antara mereka benar-benar runtuh tak berbekas.
Mereka bukan lagi dua orang yang terjebak dalam perjanjian kontrak palsu, melainkan dua jiwa yang telah saling memilih untuk saling melindungi di tengah badai rahasia yang kian membesar.