NovelToon NovelToon
PENGANTIN YANG DITUKAR

PENGANTIN YANG DITUKAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:13.7k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.

​Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.

​Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGANTIN YANG DITUKAR

​

​Matahari sore menyinari halaman belakang rumah keluarga Pak Bambang dengan pijar keemasan yang hangat. Namun, suasana di meja teras kayu itu justru terasa sangat kontras penuh dengan ambisi, kelegaan yang tak tahu malu, dan api kecil yang siap melahap sisa-sisa masa lalu.

​Waktu menunjukkan tepat H-26 menuju hari pernikahan.

​Di atas meja bundar di bawah payung teras, berserakan ratusan lembar undangan pernikahan berdesain rustic mewah yang sebelumnya telah dicetak atas nama Reno Alamsyah & Kalea Mahika. Undangan-undangan bergemerlap keemasan itu kini kehilangan nilai sakralnya, ditumpuk begitu saja bagaikan tumpukan kertas bekas yang siap dibuang ke tempat sampah.

​Reno duduk di kursi plastik dengan kemeja lengan pendek yang digulung sampai siku. Di sebelah kanannya, Gisella duduk merapat erat. Wajah wanita itu tampak sumringah, memancarkan binar kemenangan yang teramat pekat. Sesekali, Gisel mengelus perutnya yang masih rata dengan senyum manis penuh kepalsuan.

​Di hadapan mereka berdua, sebuah bakaran arang kecil untuk BBQ rumahan sengaja disiapkan menyala di atas lantai semen. Bara api merah menyala-nyala di dalamnya, memancarkan hawa panas yang membakar.

​"Wah, gaun pengantin buat fitting besok sudah dikonfirmasi sama pihak butik, Bu?" tanya Gisel antusias, menoleh ke arah Bu Maya yang baru saja datang membawakan nampan berisi gelas es teh manis.

​Bu Maya meletakkan nampan tersebut di atas meja, lalu mengangguk puas. Senyum lebar terukir tanpa beban di wajah wanita paruh baya itu.

​"Sudah beres semuanya, Gisel," jawab Bu Maya ringan, tanpa ada secercah pun rasa bersalah di raut mukanya. "Ukurannya sudah disesuaikan sama badan kamu. Pokoknya desainer butiknya bilang model gaun itu bakal jauh lebih pas dan mewah di badan kamu ketimbang di badan Mahika yang terlalu kurus kering itu."

​Bagi Bu Maya dan Pak Bambang, kepergian Mahika bukanlah sebuah kehilangan atau duka. Mereka sama sekali tidak peduli pada nasib anak keduanya itu. Sebaliknya, mereka justru merasa sangat bersyukur. Hilangnya Mahika dari rumah berarti mereka tidak perlu lagi bersandiwara, tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi menutupi rasa risih, dan tidak perlu repot-repot memikirkan perasaan adiknya saat tahu perselingkuhan busuk ini. Semuanya kini terasa jauh lebih bersih dan menguntungkan bagi anak kesayangan mereka.

​Pak Bambang yang duduk di kursi seberang meneguk es teh manisnya dengan tenang. "Baguslah kalau si Mahika itu pergi bawa diri. Kalau dia masih di sini, urusannya bakal panjang dan bikin pusing kepala kita buat nutup-nutupi hubungan kamu sama Reno, Gisel."

​"Iya, Pak! Gisel juga bersyukur banget Mahika minggat sendiri dari rumah," timpal Gisella girang, merangkul lengan ibunya manja. "Jadi sekarang Gisel sama Reno enggak perlu lagi sembunyi-sembunyi kalau mau jalan atau ngurusin pernikahan. Semuanya jadi milik Gisel."

​Reno yang mendengar dukungan mutlak dari calon mertuanya itu merasa beban di pundaknya makin terangkat. Pria itu menyunggingkan senyum sinis yang dipenuhi rasa angkuh.

​"Makanya, Mahika itu memang dari dulu enggak pernah cocok sama gaya hidup kita," ujar Reno meremehkan. "Dikasih posisi ratu malah kabur enggak jelas. Ya udah, rezekinya pindah ke Gisel dong!"

​Pak Bambang mengangguk setuju. Pria paruh baya itu menunjuk kardus besar berisi sisa stok undangan lama yang belum sempat disebar. "Sudah, cepat selesaikan pembakaran undangan lama ini. Undangan yang baru dengan nama Gisel sudah dicetak kilat dan besok lusa sudah siap disebar."

​Reno mengambil setumpuk undangan lama yang bertuliskan nama Reno & Mahika, lalu melemparkannya langsung ke dalam bara api yang menyala di bawah.

​Fushhh!

​Kertas tebal berlapis hot print emas itu langsung tersambar api. Lidah api menjilat-jilat cepat, melahap nama Kalea Mahika baris demi baris, mengubah lembaran undangan mahal itu menjadi abu hitam yang beterbangan di udara sore.

​Gisella bertepuk tangan kecil, matanya berbinar-binar penuh kepuasan melihat kertas-kertas itu terbakar habis.

​"Rasain tuh, Mahika," gumam Gisel penuh kebencian. "Nama kamu, posisi kamu, hidup kamu... semuanya sekarang sudah lenyap dibakar api. Enggak ada lagi sisa buat kamu di sini."

​Reno ikut tersenyum melihat abu undangan yang berserakan. Bagi Reno, pembakaran undangan ini adalah simbol pembersihan masa lalu. Ia merasa telah berhasil membuang wanita yang selama ini dianggapnya lurus dan membosankan, digantikan oleh Gisella yang lebih sefrekuensi dalam kelicikan.

​"Bagus," ujar Reno dingin. "Biar orang-orang tahu, di hari pernikahan nanti, mempelai wanitanya adalah Gisella Aurora, bukan Kalea Mahika."

​Sementara di dalam rumah, suasana terasa sangat kontras dengan riuhnya tawa tanpa dosa di teras belakang.

​Di sudut kamar depan yang dulu ditempati Mahika, Bu Maya membereskan sisa barang-barang adiknya yang tertinggal di dalam lemari. Pakaian kerja, buku catatan sketsa, dan beberapa pernak-pernik kecil dikumpulkan begitu saja ke dalam kotak kardus mi instan.

​Meskipun tadi Bu Maya sempat merasa sedikit cemas saat pertama kali Mahika pergi, rasa cemas itu kini sudah sepenuhnya lenyap tertutup oleh euforia pernikahan Gisella. Di kepala Bu Maya, tidak ada ruang sedikit pun untuk memikirkan di mana Mahika tidur atau bagaimana nasib anak itu di luar sana.

​"Ah, paling anak itu cuma numpang di kosan temannya sebentar lalu nanti balik lagi minta uang," gumam Bu Maya acuh tak acuh pada kesunyian kamar, melakban kardus barang-barang Mahika dengan kasar. "Yang penting sekarang Gisel senang, anak dalam kandungan Gisel punya Ayah yang jelas dan keluarga kita enggak jadi bahan gunjingan tetangga."

​Bu Maya mengangkat kotak kardus itu, menyeretnya ke dekat pintu luar agar besok bisa langsung dibuang atau diberikan ke pemulung. Ia sama sekali tidak peduli bahwa di dalam kardus itu terdapat kenangan dan kerja keras bertahun-tahun dari anak yang telah ia sia-siakan.

​Tok! Tok! Tok!

​Suara ketukan pintu depan mendadak terdengar dari arah ruang tamu.

​Bu Maya menghentikan pekerjaannya, melangkah keluar menyambut tamu sore itu. Begitu pintu dibuka, tampak seorang kurir paket pengiriman kilat berdiri membawa map besar berlogo butik pengantin terkenal di pusat kota.

​"Atas nama Ibu Maya atau Neng Gisella?" tanya kurir itu ramah.

​"Saya sendiri, Mas," jawab Bu Maya girang, menerima paket tersebut. "Wah, pasti sampel gaun pengantin buat Gisel ya?"

​"Betul, Bu. Silakan dicek," balas kurir itu sebelum pamit pergi.

​Bu Maya buru-buru menutup pintu, membawa map besar itu ke ruang tengah di mana Pak Bambang, Reno, dan Gisella sedang berkumpul setelah selesai membakar undangan lama di teras.

​"Pak, Reno, Gisel! Lihat nih! Paket dari butik pengantin sudah datang!" seru Bu Maya antusias.

​Gisella langsung melompat girang dari sofa, merebut map tersebut dari tangan ibunya. Begitu dibuka, selembar foto katalog gaun pengantin bergaya Korea modern yang elegan dengan taburan permata sintetis terpampang nyata di hadapan mereka.

​"Wah... cantik banget!" jerit Gisel histeris kegirangan. "Ibu lihat deh mutiaranya. Ini model impian Gisel banget."

​Reno ikut mendekat, merangkul pinggang Gisella dari belakang dan mencium pipi wanita itu lembut. "Cantik, Sayang. Pasti nanti pas kamu pakai di pelataran gedung, semua mata tamu undangan bakal terpesona."

​Pak Bambang mengangguk-angguk bangga melihat kemesraan anak dan calon menantunya. "Sudah pas memang takdirnya begini. Gisel yang pantas jadi nyonya rumah, bukan adiknya yang tukang ngambek itu."

​Di ruang tamu yang hangat oleh gelak tawa keluarga kecil itu, mereka kembali merayakan kebahagiaan di atas reruntuhan hidup Mahika. Bu Maya, Pak Bambang, Reno, dan Gisella sama sekali tidak menyadari bahwa setiap detik tawa yang mereka lepaskan sore ini adalah hitung mundur menuju detik-detik kehancuran yang paling mutlak.

​Di belahan kota Bandung yang sejuk, di dalam studio privatnya di Dago Atas, Kalea Mahika sedang berdiri di depan manekin mengenakan gaun pengantin rancangan terbarunya yang jauh lebih megah, anggun, dan berkelas tinggi.

​Mahika menatap pantulan gaun itu di cermin besar dengan senyum tipis yang amat dingin.

​Tertawalah sepuas kalian hari ini, Ibu, Bapak, Kak Gisel, dan Reno, bisik Mahika pelan pada bayangannya sendiri di cermin. Karena panggung sandiwara yang kalian bangun di atas penderitaan orang lain... sebentar lagi bakal runtuh berkeping-keping di hari di mana kalian mengira kemenangan itu sudah jadi milik kalian.

1
sutiasih kasih
gmn rasanya... klean jdi gembel😅😅
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
Ernaaaaa
makasih Thor
merry
jdi gelandangan dech klian
merry
bisa gk hdp tnp mahika dan kluarga mu reno dan untuk cari krj susah nama mu dh terkenal 🤭🤭🤭🤭
sutiasih kasih
smpe sana.... rumah udh di jual😂😂😂😂😂😂
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
Lee Mba Young
selamat menikmati jd gembel
Mundri Astuti
mang dah bener ma pas ya, si Reno ma keluarga si sel ..sel..
Mundri Astuti
owh ortunya Reno org ada toh, tapi ko anaknya dompleng mahika yak🤔
sutiasih kasih: knaoa mndompleng mahika yg dri kalangan biasa....
mmbingungkn🤔🤔🤔
total 2 replies
Lee Mba Young
tanpa harta selamat mnikmati
Mundri Astuti
mang bisa tuh anak kesayangannya bangun atap aja, jangan bangun rumah dah
sutiasih kasih
di bangun lgi dunk rumah yg sdh runtuh.....
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
Tining Revi
bukanya mahika berhijab thor. kok "puji Tuhan"
merry
pdhl tdi mau bongkar ditmpt mrk resepsi dihotel tau ya mrk cm resepsi di tanah kosong dan mahika lewat live ig buat mrk maluu 🤭🤭🤭🤭se kanoha pd tau lhh
Mundri Astuti
sekali tepok ....jatuh semua .... gayanya mahika kereeennnn....Badas....😂😂😂
sutiasih kasih
tamatlah sudah riwayat para pmbohong & penghianat......
😂😂😂😂😂😂
Heni Setiyaningsih
Mahika,,,,,,, KEREN!! gk perlu teriak teriak cuma tunjukkan hasil dari kerja kamu, siapa itu Reno dan klrg toxic, hempaskan😂😂
Agunk Setyawan
bacanya deg"an banget🤣
Humay Uum
dtunggu bomy KK Thor 💪💪💪💪
falea sezi
kelamaan bertele tele 🤣
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!