"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."
"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"
Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.
Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.
Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.
Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.
"Via... kita mulai dari awal."
"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12.Tatapan yang Telah Hilang
"Eh, Kakak lagi belanja juga?"
Levia langsung mengenali suara itu. Potongan ingatan milik tubuh ini kembali muncul.
Risa Prameswari. Putri seorang jenderal. Wanita yang dulu pernah disukai Vandra. Setahun yang lalu, kabar bahwa Vandra berniat melamar Risa membuat Levia nekat menjebak Vandra hingga terpaksa menikahinya.
Levia hanya berkedip pelan. "Oh... jadi itu Risa."
Di sisi lain, Bram ikut menegang. "Astaga..."
Ia melirik putrinya diam-diam. Dulu, kalau Levia melihat Vandra berbicara dengan perempuan lain, apalagi Risa, pasti akan langsung mengamuk tanpa peduli tempat.
--
Di lorong sebelah...
Vandra menoleh. "Iya. Lagi beli beberapa keperluan. Kamu juga belanja?"
Risa mengangguk sambil tersenyum. "Iya. Lagi beli beberapa kebutuhan di rumah."
Ia kemudian teringat sesuatu. "Oh iya. Aku dengar Kak Vandra jadi Satgas Perdamaian PBB ke Lebanon?"
"Iya." Vandra mengangguk. "Berangkat beberapa hari lagi."
"Wah... selamat ya," ucap Risa antusias.
"Terima kasih." Vandra tersenyum tipis. Ia melanjutkan belanjanya, berpindah ke lorong sebelah.
Risa mengikutinya. "Terus..." Ia menatap Vandra penuh rasa ingin tahu. "Levia gak marah? Gak bikin keributan?"
Belum sempat Vandra menjawab, langkahnya tiba-tiba berhenti. Beberapa meter di depannya, Levia sedang berdiri memilih yogurt di depan lemari pendingin.
Di sampingnya ada Bram Gultom yang sedang memasukkan beberapa botol air mineral ke keranjang.
Vandra sedikit membelalakkan mata.
Risa mengikuti arah pandang pria itu. Senyumnya langsung menghilang. "Levia..."
Refleks ia mengambil satu langkah mundur. Ia masih ingat jelas bagaimana beberapa bulan lalu Levia pernah memakinya hanya karena berbincang lima menit dengan Vandra.
Namun, yang terjadi kali ini justru berbeda. Levia sama sekali tidak menoleh. Ia membaca label kandungan gula pada kemasan yoghurt dengan wajah serius.
"Hm... yang ini gulanya lebih rendah."
Ia memasukkan dua cup ke keranjang. Seolah tidak melihat keberadaan mereka.
Bram yang sejak tadi waswas akhirnya mengembuskan napas lega. Lalu ia memilih menyapa lebih dulu.
"Van, belanja juga?"
Vandra mengangguk sopan. "Iya, Yah."
"Gimana persiapan keberangkatannya?" tanya Gultom.
"Sudah hampir selesai."
"Syukurlah."
Percakapan mereka berlangsung singkat. Namun selama berbicara, tatapan Vandra berkali-kali melirik Levia.
Wanita itu tetap sibuk memilih belanjaan. Tak sekalipun ia menoleh. Tak ada tatapan posesif. Tak ada kecemburuan. Tak ada amarah.
Seolah-olah, Vandra hanyalah orang asing yang kebetulan sedang berbelanja di minimarket yang sama.
Entah mengapa... Perasaan itu justru membuat dada Vandra terasa sedikit ganjil.
Mobil Vandra melaju meninggalkan area minimarket. Tangannya memutar setir secara otomatis, tetapi pikirannya justru masih tertinggal di dalam toko.
Bayangan Levia terus muncul tanpa diminta.
Malam saat ia datang ke rumah keluarga Gultom, Levia tidak menyambutnya. Tidak memeluk lengannya. Tidak menangis.
Bahkan memilih duduk di samping Bram Gultom seolah dirinya hanya tamu biasa.
Lalu sore ini...
Levia melihatnya bersama Risa. Namun wanita itu sama sekali tidak bereaksi. Tidak marah. Tidak cemburu. Bahkan tidak menoleh lebih dari sekilas.
Yang dipedulikannya justru kandungan gula pada yogurt yang sedang dipilih.
Vandra mengembuskan napas panjang.
"Aneh...." Jemarinya mengetuk pelan kemudi. "Kenapa aku malah terus kepikiran?"
Ia kembali mengingat tatapan Levia. Tidak ada lagi sorot mata penuh cinta yang selama ini selalu membuatnya merasa tertekan.
Tatapan itu... Benar-benar hilang.
"Mungkin ini cuma akting." Vandra mengangguk pelan, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri. "Iya. Pasti begitu."
Kalau selama ini terus mengejar tidak berhasil, mungkin sekarang Levia sedang mencoba cara lain.
Berpura-pura tidak peduli. Berharap dirinya penasaran.
Sudut bibir Vandra sempat terangkat tipis. "Hampir saja berhasil."
Namun senyum itu perlahan menghilang. Kalau memang hanya akting...
Kenapa semuanya terlihat begitu alami?
Cara Levia berbicara. Cara Levia menatapnya. Bahkan caranya memperlakukan Bram Gultom terasa jauh lebih hangat daripada saat bersamanya.
Ia kembali teringat surat persetujuan cerai yang ditinggalkannya.
"Paling beberapa hari lagi dia bakal bilang suratnya hilang. Atau sengaja disobek. Atau pura-pura lupa."
Bukankah selama ini Levia selalu melakukan apa saja agar perceraian batal?
Logikanya, kali ini pun pasti sama.
"Tapi..." Vandra tanpa sadar menggenggam setir sedikit lebih erat. "Kenapa aku sama sekali gak melihat harapan itu di matanya?"
Padahal selama ini, tatapan penuh cinta itulah yang paling membuatnya risih. Sekarang tatapan itu menghilang.
Bukankah seharusnya ia merasa lega?
Ia mengusap wajahnya pelan. "Kenapa malah jadi begini?"
Bukankah ini yang selama ini ia inginkan? Levia berhenti mengejarnya. Berhenti mengganggunya. Berhenti membuat keributan.
Namun entah kenapa, justru perubahan itulah yang terus memenuhi pikirannya.
***
Beberapa menit setelah kembali dari minimarket, Levia menuruni anak tangga menuju dapur.
Begitu melihatnya, Ninis yang sedang membantu menata bahan makanan langsung tersenyum.
"Nona."
Di dekat kompor, Bu Sari, juru masak keluarga Gultom yang sudah bekerja lebih dari dua puluh tahun ikut menoleh.
"Nona mau makan apa? Saya masakin."
Levia menggeleng pelan. "Mulai hari ini, aku mau minta tolong."
"Tolong apa, Non?" tanya Ninis.
Levia menyapu pandangan ke meja dapur yang dipenuhi mentega, krim, keju, cokelat, dan berbagai bahan makanan tinggi kalori.
"Mulai sekarang jangan masak makanan yang terlalu manis, terlalu berminyak, atau terlalu banyak santan."
Bu Sari tampak bingung. "Kalau menu Bapak bagaimana, Non?"
"Untuk Ayah juga dikurangi minyak dan garamnya," jawab Levia. "Dokter bilang tekanan darah dan kolesterol Ayah harus dijaga."
Bu Sari langsung mengangguk. "Baik, Nona."
Namun senyum Ninis sedikit memudar. "Non..." ucapnya pelan. "Diet itu gak boleh dipaksain. Nanti Nona malah stres."
Levia menoleh.
Ninis melanjutkan dengan nada lembut. "Lagian selama ini Nona paling bahagia kalau makan black forest, donat, atau es krim. Kata orang, makanan manis bisa memperbaiki suasana hati."
Ia tersenyum seolah benar-benar peduli. "Kalau Nona lagi sedih karena Kak Vandra, jangan sampai malah nyiksa diri."
Levia hanya menatapnya beberapa detik. "Lucu juga."
Ninis berkedip. "Hah?"
"Dokter bilang aku harus mengurangi gula." Levia tersenyum tipis. "Sedangkan kamu malah nyuruh aku makan lebih banyak."
"T-tapi maksudku...."
"Apa?"
...✨"Saat seseorang memilih mencintai dirinya sendiri, ia tak lagi mudah dikendalikan oleh masa lalu."...
..."Musuh yang paling berbahaya bukan selalu yang terang-terangan membenci, melainkan yang tampak paling peduli."...
..."Ada perhatian yang menguatkan, ada pula perhatian yang diam-diam membuat seseorang tetap terpuruk."✨...
.
To be continued
ayo Bu Sari ceritakan kalo si Ninis masuk kamar Bu Sari tanpa izin.
baru kenal dengan Levia sudah menawarkan delapan Gerai,itupun penawaran Awal..
maju terus Via...kamu tambah Sukses dan di belakangmu si Ninis tambah iri.
syukurin tuh si Ninis misinya gagal terus😄