NovelToon NovelToon
Kebangkitan Prajurit Nomer Satu!

Kebangkitan Prajurit Nomer Satu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:830
Nilai: 5
Nama Author: kabutmalam

Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEREKRUT PARA NAGA NERAKA

Lorong lantai lima gedung Naga Neraka terasa pengap dan sesak. Dinding batu yang dingin seakan menekan dari segala arah, sementara dua puluh tahanan berkumpul di tengah lorong tanpa pengawasan satu pun sipir. Tidak ada yang menjaga karena Ivan Dragos telah meyakinkan mereka semua — ia berkata akan menyusun pertunjukan pertarungan untuk mengisi waktu luang para tahanan, dan para sipir sungguh-sungguh percaya bahwa Ivan berada di pihak mereka, mengawasi Renzo. Padahal kenyataannya, Ivan justru berdiri di samping Renzo, bekerja untuknya, dan para sipir tanpa sadar telah menurunkan kewaspadaan mereka. .

"Saudara Renzo, Saudara Ivan, cepat jelaskan rencana kalian!" ucap Albion, pria yang dikenal sebagai mata-mata di antara mereka, matanya berbinar penuh semangat seakan tak sabar menanti aksi besar itu. Tahanan lain pun mengangguk setuju, menatap keduanya dengan tatapan penuh harap. .

Ivan terkekeh lirih, suaranya rendah namun terdengar jelas di keheningan lorong itu.

"Sebelum membahas rencana kita, ada baiknya kita merekrut beberapa saudara terlebih dahulu."

Renzo tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke matanya.

"Namun sebelum merekrut anggota, bukankah lebih baik menyingkirkan seorang mata-mata terlebih dahulu?" tanyanya, menatap tajam tepat ke arah Albion.

Ivan langsung menyeringai, sepenuhnya mengerti maksud Renzo.

Delapan belas narapidana yang hadir saling berpandangan, kebingungan. Mata-mata? Siapa di antara mereka?

Sementara itu wajah Albion seketika pucat pasi, keringat dingin menetes di keningnya, matanya melebar tak percaya.

"Jangan-jangan..."

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Renzo dan Ivan bergerak bersamaan — cepat, mematikan, dan tanpa ampun. Tinju Ivan menghantam dada kanan Albion dengan kekuatan penuh hingga menembus jantung, sementara Renzo meninju kerongkongan pria itu tepat sasaran. Jeritannya tercekat di tenggorokan, napasnya terhenti seketika.

Hanya dalam hitungan detik, sosok yang tadi masih bersemangat kini terkulai tak bernyawa. Tubuhnya hampir jatuh ke lantai, namun Ivan menahannya. Dengan gerakan kasar dan brutal, ia merobek mulut pria itu, memasukkan jari-jarinya ke dalam mulut, lalu mematahkan rahangnya seolah melampiaskan segala dendam yang selama ini tersimpan.

Kraaaaaakkk...!!!

Suara itu menggema mengerikan di lorong sempit itu. Tujuh belas tahanan yang menyaksikan merinding, merasakan ngilu di sekujur tubuh, namun tak satu pun dari mereka mengeluarkan suara atau berusaha lari. .

Braakk!!

Ivan melempar mayat itu ke sudut lorong seakan hanya sampah tak berguna.

"Haha..." Ivan tertawa lirih, menyeka noda darah di tangannya. "Akhirnya aku berhasil merobek mulut busuknya."

Renzo menyapu pandang ke seluruh wajah yang menatapnya campur takut dan hormat.

"Dengarkan aku. Kita berdua membunuhnya karena ia adalah mata-mata yang sengaja menyusup untuk membocorkan rencana kita kepada atasan sipir. Karena itulah ia harus dihukum mati. Pasti para sipir akan mengintrogasi kalian satu per satu di ruangan berbeda. Jawaban kalian harus sama persis: orang ini mati karena memprovokasi kita semua, dan kita bersama-sama mengeroyoknya hingga tewas. Apakah kalian paham?"

"Paham, Saudara Renzo!" jawab mereka serempak, tegas dan mantap.

"Baiklah. Sekarang perkenalkan diri kalian masing-masing — nama, latar belakang, dan apa yang membawa kalian ke sini. Mulai dari nomor sel 503 secara berurutan."

Seorang pria berotot kekar melangkah maju dari barisan paling depan. Ia membungkuk dua kali kepada Renzo dan Ivan.

"503, Gavien. Dahulu aku adalah algojo kartel. Membunuh orang yang mengganggu bisnis, menghilangkan mayat tanpa jejak, membersihkan segala bukti hingga tak ada yang tersisa. Hingga suatu hari aku berkonflik dengan empat orang di sebuah bar — salah satunya ternyata kerabat pejabat tinggi. Akhirnya aku berakhir di sini." .

"504, Kayden. Aku hanyalah anak jalanan yang tak punya rumah. Hidupku luntang-lantung, tak tahu arah. Yang aku lakukan hanyalah bertarung demi bertahan hidup. Sudah lebih dari dua ratus kali aku berkelahi di jalanan, dan tak satu pun yang membuatku kalah. Orang-orang memanggilku Zombie karena aku tak mudah tumbang. Namun dalam satu pertarungan itu aku membunuh terlalu banyak orang, polisi memburuku, dan aku tertangkap."

Pria berikutnya melangkah maju, wajahnya kusut, matanya kosong seakan tak ada lagi harapan di sana.

"505, Nathan. Teman Kayden, sekaligus anak seorang pengusaha sukses. Aku membunuh enam wanita yang dahulu merundungku waktu kecil. Aku tertangkap karena menyiarkan langsung penyiksaan mereka lewat siaran langsung."

Seorang pria berusia empat puluh empat tahun tampak melangkah maju, wajahnya tegas, matanya tajam. Renzo dan Ivan sedikit terkejut melihatnya. Meski berkebangsaan Jepang, ia fasih berbahasa Indonesia karena telah menetap di negeri ini puluhan tahun.

"506, Takeshi Rengoku. Dahulu aku anggota divisi keamanan Yakuza paling kejam di Osaka. Empat belas tahun lalu aku membantai satu keluarga besar dalam satu malam karena dendam bisnis yang tak terselesaikan. Aku kabur ke Indonesia, lalu membangun sindikat penyelundupan senjata dan perdagangan organ manusia di pelabuhan-pelabuhan. Ahli pedang katana dan senjata api." .

Seorang pria berkulit putih dengan wajah yang memancarkan aura kejeniusan maju ke depan.

"507, Aditya Wijaya. Lulusan ITB, insinyur jenius. Dipecat dari BUMN karena kesalahan kecil yang dibesar-besarkan. Kecewa, aku menjual pengetahuanku kepada kelompok teroris. Aku yang merancang tujuh ledakan di empat kota sekaligus. Ahli perancang bom — meski kekuatannya hanya setara satu truk bahan peledak..."

Seorang pria tak terlalu tinggi dengan wajah datar tanpa senyum, tanpa ekspresi maju.

"508, Riko aku memiliki julukan tangan hantu. Dahulu aku seorang maling kelas kakap, sekaligus ketua kelompok perampok kecil. Dahulu aku pernah membobol brankas paling di cari di asia tenggara. Kemampuanku aku memiliki gerakan tangan yang cepat, aku mampu membobol brankas, sidik jari, bahkan borgol dalam 8 detik. Aku juga mampu bergerak tanpa suara." .

Satu per satu nama mereka disebutkan, kisah-kisah kelam diungkapkan tanpa topeng, alasan-alasan yang membawa mereka ke tempat yang disebut neraka terakhir ini. Tujuh belas orang, tujuh belas kisah, tujuh belas nyawa yang kini terserah kepada Renzo dan Ivan.

Setelah mendengar semuanya, Renzo dan Ivan saling berpandangan, lalu tertawa terbahak-bahak — tawa yang penuh arti, penuh kepuasan.

"Aku sudah memutuskan," ucap Renzo perlahan, suaranya tegas dan berwibawa. "Kita akan membentuk kekuatan sendiri di barisan terpidana mati ini. Nama kelompok kita diambil dari nama gedung ini... Naga Neraka!"

Ia menatap mereka satu per satu.

"Jumlah anggota jangan terlalu banyak agar tak dicurigai — maksimal lima puluh orang. Hanya yang terbaik yang akan dipilih. Dan setiap orang yang bergabung harus bersedia setia sepenuhnya, tanpa keraguan sedikit pun. Jika ada yang berkhianat atau meragukan kesetiaan... aku sendiri yang akan menyingkirkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!