“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”
Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.
Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.
Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.
Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25
Arunika selesai merapikan selimut Nakula, lalu menoleh perlahan ke arah Arjuna yang sejak tadi berdiri diam di dekat jendela.
"Mas," panggil Arunika pelan.
"Hmm?" sahut Arjuna tanpa mengalihkan pandangannya dari luar.
"Bagaimana soal ibu dan kak Wina di rumah? Apa mereka sempat menanyakan keadaan Nakula saat kau temui?" tanya Arunika penasaran.
Arjuna menyelipkan kedua tangan kekarnya ke dalam saku celana. "Sama sekali tidak menanyakan."
Arunika mengerutkan keningnya tidak paham. "Maksudmu bagaimana?"
"Mereka justru sibuk berbohong. Bahkan mereka dengan sengaja menuduh dan menyalahkan mu di hadapanku." sudut bibir Arjuna terangkat tipis sinis.
"Menuduh dan menyalahkan aku? Maksudnya apa-apaan ini, Mas?" Arunika membulatkan matanya tak percaya.
"Mereka bilang kaulah yang sengaja keluyuran jalan-jalan tanpa tahu waktu. Katanya kau sedang bersenang-senang di luar sampai lupa pulang ke rumah."
"Hah?!" Arunika refleks berdiri dari duduknya. "Jadi aku yang ditumbalkan untuk menutupi kesalahan mereka?!"
Arjuna malah mendadak terkekeh pelan. Melihat pria sedingin es itu tertawa lepas, Arunika semakin meluap-luap rasa kesalnya.
"Kok malah ketawa, sih?! Apa ada yang lucu dari penderitaanku difitnah?"
"Tidak ada," jawab Arjuna datar.
"Terus kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri begitu?"
"Pipimu."
"Kenapa memangnya dengan pipiku?!"
"Mengembung mirip ikan buntal," jawab Arjuna singkat.
Arjuna menatap ke arah pipi Arunia. Entah mengapa, di balik wajah marahnya itu, jemari Arjuna mendadak merasa gatal ingin mencubit pipi chubby sang istri. Namun, tentu saja harga diri seorang jenderal militer terlalu tinggi untuk melakukan hal selucu dan sememalukan itu di hadapan anak mereka.
Arjuna berdehem keras untuk menetralkan suasana. "Nanti setelah urusan rumah sakit ini selesai dan kita pulang, kita jalankan rencana kita."
"Rencana apa lagi?"
"Aku akan berpura-pura memarahi dan menghukum mu di depan mereka berdua."
Arunika langsung melipat kedua tangan di dadanya ketus. "Terserah apa katamu saja."
"Nada bicara macam apa itu?"
"Tidak ada apa-apa."
"Kau marah padaku?"
"Tidak."
"Jelas-jelas kau sedang ngambek."
"Bukan ngambek!"
"Kau mirip bocah kalau sedang merajuk."
Arunika langsung mendelik tajam. "Yang mirip bocah itu siapa, hah?! Aku ini hampir semalaman suntuk tidak tidur demi menjaga anakmu di sini!"
"Makanya, sekarang lihatlah wajahmu. Bentuknya sudah mirip panda kelelahan."
"Apa?!"
Arjuna buru-buru membalikkan badannya membelakangi Arunika sebelum senyuman hangatnya terlihat. Sementara Arunika mendengus sebal.
"Dasar Jenderal menyebalkan!"
"Masih jauh lebih baik aku daripada seorang istri yang kalau mengupas buah apel hasilnya pasti berantakan tidak berbentuk," balas Arjuna mengejek.
Dulu, ia pernah sekali bertemu Arunik saat wanita itu menjenguk Alana di rumah sakit. Ia mengupas apel untuk mendiang istrinya.
"Belum juga lihat hasil kupasannya sudah berani mengejek!"
"Itu namanya firasat berdasarkan logika," balas Arjuna tanpa menoleh.
*
*
*
Keesokan paginya, Dokter bersama seorang perawat masuk membawa map rekam medis.
"Selamat pagi, Nakula," sapa dokter ramah.
Nakula yang sudah duduk manis di ranjang mengangguk kecil. "Pagi, Dok."
Dokter tersenyum ramah sambil memeriksa suhu tubuh serta mengecek kondisi lebam anak itu. "Demamnya sudah tuntas hilang semalaman. Luka-lukanya juga menunjukkan proses pemulihan yang sangat baik."
"Syukurlah," ucap Arunika lega.
"Asalkan nanti di rumah rajin minum obat penunjang dan kontrol ulang tepat waktu, hari ini kamu sudah diizinkan pulang ke rumah, Nak."
Nakula menatap dokter dengan mata berbinar penuh harap. "Benarkah aku boleh pulang, Dok?"
"Tentu saja boleh," jawab dokter tersenyum.
Perawat di sampingnya ikut mengangguk. "Tapi ingat, harus cepat sehat ya. Biar lain kali kalau datang ke rumah sakit cuma buat menjenguk orang sakit, bukan jadi pasien lagi."
Nakula mengangguk malu-malu. "Iya, Suster."
Setelah tim medis berlalu, Arunika mengambil sebuah apel merah segar dari atas meja nakas.
"Biar Mama kupas dulu ya, Nak."
Beberapa menit berlalu, kupasan pisau Arunika pada apel itu tampak tebal, bergelombang dan sama sekali tidak beraturan. Nakula yang melihatnya menahan senyum geli. Arunika pura-pura tidak melihat reaksi anak itu. Saat itulah, terdengar suara langkah berat dari arah pintu.
"Kupasan buahmu jelek sekali."
Arunika menoleh cepat. Arjuna berdiri di ambang pintu sambil menenteng beberapa map berkas penting.
Karena masih sedikit kesal dengan ejekan malam tadi, Arunika sengaja memalingkan wajahnya. "Huh!"
Tanpa banyak bicara, Arjuna berjalan mendekat. Ia mengambil sebuah apel lain dari nampan, lalu mengambil pisau kecil dari tangan istrinya.
Pisau kecil itu bergerak sangat lincah di tangan kokoh Arjuna. Kulit apel terkelupas tipis memanjang tanpa terputus sedikit pun dari buahnya. Hasilnya sangat rapi dan hampir menyerupai pita melingkar. Arunika sampai ternganga melihatnya.
"Ternyata seorang Jenderal militer juga jago mengupas apel?" tanya Arunika kagum.
"Tentu saja," jawab Arjuna tenang.
"Belajar dari mana keahlian seperti itu?"
Arjuna terdiam sejenak, manik matanya menerawang jauh. "Dulu Alana yang mengajariku."
Senyum di wajah Arunika seketika memudar perlahan. Ia menggigit bibir bawahnya pelan. "Maaf, Mas, aku tidak bermaksud..."
"Tidak masalah." Arjuna mengembuskan napas pelan. Ia tidak ingin terus-menerus terjebak dalam bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan. Karena itu, ia segera mengangkat apel hasil kupasannya untuk mencairkan suasana.
"Kupasan apel mu tadi sebenarnya cukup kreatif," ujar Arjuna melirik istrinya.
Arunika mengerjap bingung. "Kreatif?"
"Bentuknya menyerupai peta kepulauan Indonesia."
Nakula yang mendengarnya spontan terkekeh kecil.
Arunika memonyongkan bibirnya kesal. "Mas jahat sekali."
"Bukan jahat."
"Lalu apa namanya?"
"Jujur apa adanya."
Arjuna benar-benar melontarkan godaan ringan kepada Arunika. Dan entah mengapa, melihat wanita itu merajuk justru terasa menyenangkan di hatinya. Arjuna lalu beralih menatap putra kandungnya.
"Nakula, kau mau makan apel ini?"
Mendengar ajakan sang ayah, Nakula langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tubuh kecil bocah itu kembali menegang. Ini adalah momen langka pertama kalinya ia duduk sedekat ini berdua dengan ayahnya.
"Kenapa diam saja?" tanya Arjuna mengulurkan sepotong apel rapi di ujung pisaunya ke hadapan Nakula. "Tidak mau?"
Melihat tangan ayahnya perlahan hendak ditarik kembali karena mengira ditolak, Nakula panik.
"Aku mau, Pa!"
Suara kecil yang bergetar itu membuat Arjuna membeku seketika. Nakula buru-buru menyambar potongan apel itu menggunakan kedua tangan kecilnya, seolah takut sang ayah berubah pikiran.
Arjuna menatap wajah pucat putranya lekat-lekat dalam diam. Dadanya tiba-tiba dihantam rasa sesak yang teramat sangat.
"Maafkan Papa." Perlahan, ia meletakkan pisaunya, lalu bergerak maju merengkuh tubuh kecil putranya ke dalam dekapannya dengan sangat hati-hati.
"Papa memelukku?" ucap Nakula dalam hatinya.
dasar parasit gk tau diri...dh d tampung mlh ngelunjak ..merasa jd nyonya besar...tunggu aja hukuman utk kalian parasit..
ya elahhhhhhh..... bner" benalau tak tau diri.... 😄😄😄
Sejak awal penasaran, kemana bapaknya Damar
kl Wina kakak kandung atau kakak tiri Arjuna ya 😇😇😇...lanjut Thorr😘😘😘
Bantai aja Nika, mumpung Arjuna lagi tugas, jadi ga perlu akting2an kalian